Mau Cari Apa?

Sebongkah Rasa


Mata yang coba membantu melihat kedalam jurang itu, tergores sudah
Bibir yang coba tetap berdzikir menyebut nama-Nya tatkala di tepian jurang itu, tergores sudah
Sementara perlindungan diri makin runtuh tiap detiknya di tepian jurang itu
Merasakan ketakutan jikalau terjatuh
Ketakutan jikalau terpelosok
Ketakutan jikalau goresan-goresan itu tak hilang
Ketakutan jikalau tak mampu kembali.

Kencan Pertama

"Kencan Pertama"
Kemarin, tepatnya hari senin tanggal 25 Mei 2015, aku memulai hari dengan sedikit "malas". Tahulah, karena sakit masih dengan nyamannya hinggap di tubuhku. Tapi aku harus bangun, ada tumpukan tugas kuliah yang melambai-lambai meminta untuk kukerjakan dengan segera. Akhirnya kuniatkan untuk pergi menuju ke tumpukan buku-buku yang ada di kampus. Ya mana lagi kalau bukan perpus. Hanya di situ setidaknya ada beragam macam buku yang bisa dijadikan referensi makalah mahasiswa. Biarpun, banyak yang mengeluh dengan kurangnya koleksi buku di perpus kampus, tapi ya setidaknya masih ada.
Ah, bukan itu yang sebenarnya ingin aku ceritakan. Kembali lagi pada "malas"nya seninku. Kurang lebih 2 jam aku berkutat dengan rak-rak buku di perpus demi mencari referensi untuk tugas salah satu mata kuliah. Mungkin kali ini aku termasuk anak yang rajin (karena mau ke perpus). Setelah ku dapat apa yang kubutuhkan, akhirnya aku duduk dengan manis di sisi pojok perpus. Dan sedihnya, aku sendirian di ruangan itu, seperti mayat hidup penunggu perpus kampus.

"Kenapa harus Olahraga?"

Semangat minggu pagi sahabat semua. Hari ini agenda pertama penghuni ma'had al-Jami'ah IAIN Tulungagung setelah sholat subuh adalah bugar pagi. Berbeda dengan minggu lalu ketika bukan minggu perpulangan, para mahasantri diwajibkan mengikuti jalan sehat yang diselenggarakan oleh pihak kampus, karena saat itu bertepatan dengan acara PSKM.

Patah (Jadi 2)

Siang ini mentari asyik bercumbu dengan langit, membiaskan warna-warna yang begitu megah. Tak beraturan sangat, namun mahal terasa. Serbuan angin pun tak hentinya mengajak daun-daun tebu ini berdansa, mereka kembali melenggok, meliuk beriringan.

"Kerat-kerat Rasa"

Siang menjelang ketika awan kelabu mulai mengisi kekosongan sang langit. Tibalah pada gubuk kecil saat tubuh yang membengkak ini tak kuasa menahan dahaganya. terketuk pintu gubuk olehku, mengharap pemilik menghadiahiku secawan madu, meski lisan berkata sedemikian, "Bolehkan kupinta setetes air tuk hilangkan dahagaku?".

"Bertemu Maut-Mu"

Sepagi ini aku hampir bertemu dengan maut-Mu, Tuhan. Fajar masih menyambutku ketika sendi-sendi kaki berusaha ku kayuhkan dengan lamban, sembari menunggu jiwa ini benar-benar tersadar. Masih sangat pagi ketika raga ini mengambil alih mimpi yang tak sempat terangkai berkat bercangkir-cangkir kopi di malam yang tadi.
Ku kayuh sepeda biru ini melaju, menyusuri embun yang singgah di dedaun taman kampusku. Ku kayuh perlahan sembari kunikmati udara pagi yang begitu segar dan asri. Ku lenggokkan sepeda mungilku dengan manja, sembari ku syukuri nikmat-Mu yang tak henti Kau beri pada diri yang kecil ini. Hingga ku sampai pada gerbang putih, laksana aku akan keluar dari singgahsana suarga yang megah, berhiaskan pahatan gading yang gagah.

Sastra Lama

Kabut masih turun ketika mata ini berusaha membelalakkan diri. Aku seperti putri tidur yang begitu enggan tuk terbangun. Bahkan aku hampir melupakan kewajiban utamaku terhadap cinta pertamaku, Tuhan.

silhoutte

Di atas silhouette, aku bagai terancam. Tak mampu melukiskan emosi lewat kertas-kertas lusuh ini. Anganku tertahan, tak mampu memecahkan diri, masih tak mampu mengurai makna sepi yang mengiringi.
Sepanjang hari, aku masih memandang langit hingga jatuh pada kerumunan daun yang gugur perlahan. Namun sekedar itu, hanya selayang pandang tak berkelanjutan.

Lirik Lagu by: Dedy Mulyadi



LUNGSE

Peuting tingtrim ku poekna
Beurang merenah ku caangna
Leumpang muru katangtuan
Asih nu jadi harepan

Siram cai semu nyeuri
Bingung lemah pangbalikan
Rongkah jiga nu amarah
Dimana kaasih gusti
Leungeun menggaskeun lamunan

Di Balik Karir Kontroversi Madonna___resensi 2013

DIBALIK KARIR KONTROVERSI SANG MADONNA

Identifikasi Buku
Judul              : Madona Penyanyi Penuh Kontroversi
Pengarang      : Tim Nuansa (Penyadur)
Penerbit          : Nuansa Cendekia, Bandung
Tahun terbit   : Cetakan 1, Januari 2009
Tebal buku     : 120 Halaman
Harga buku   : 22.500

PENDAHULUAN
Nuansa bergiat dalam urusan perbukuan untuk sebuah tujuan esensial menyebarkan nilai-nilai keilmuan sebagai basis pencerahan masyarakat. Nuansa bisa berarti variasi, warna atau corak. Tetapi terdapat makna lain, yaitu substansi, atau makna kontekstualnya yaitu “kepekaan” atas nilai kecendekiawanan. “Nuansa Cendekia” dianggap sebagai spirit hidup yang berpijak pada gagasan mewujudkan manusia Indonesia modern yang memiliki kecerdasan membedakan tentang variasi dari setiap perbedaan atas kemajemukan disertai kepekaan merespon perubahan zaman untuk meraih derajat manusia Indonesia yang bermutu. Melalui buku, nuansa melakukan penyebaran gagasan, aktivitas bisnis, dan aktivitas sosial dengan berbagai pihak baik secara kelembagaan maupun personal. Tim nuansa adalah sebutan untuk para anggota baik penulis, maupun bagian penerbitan. Selain menulis dan menerbitkan buku, tim nuansa juga bergerak sebagai distributor buku yang menyalurkan buku-buku terbitkan sendiri maupun dari penerbit lain. Jaringan distribusi buku nuansa beredar luas di berbagai toko di seluruh tanah air. Untuk kategori buku non fiksi tim nuansa memakai nama penerbit Nuansa Cendekia.

Gerimis S_B

13 Januari 2015
Kamu tahu kenapa gerimis romantis?
Karena setiap tetesnya,
Memaksa kita merangkai kata-kata puitis.
Gemerciknya meminta jiwa
Melukis senja,
Meraba makna, dalam dunia kata.

Mato Kopi, 13 Januari 2015, 17:59 WIB
Meski setiap gerimis aku harus merangkai kata-kata puitis,
Yakinlah, bahwa kata-kataku tak akan pernah habis.
Gerimis ini menyediakan ribuan kata
Untuk aku rangkai menjadi serpihan makna.
Bila gerimis ini tak kunjung berhenti
Percayalah bahwa di setiap tetesnya mengisyaratkan arti.
Aku berjanji, disini,
Bersama secangkir kopi,
Tetes gerimis ini akan menjadi saksi.

Bolu, Tulungagung. 20 Januari 2015, 22:03 WIB
Aku bertemu gerimis dikotamu,
Menyapaku dengan malu.
Aku sapa, aku raba, dia hanya tersenyum manja.
Gerimis itu menghilang.
Meninggalkan kenangan terindah
Dikota kita tersayang.
Gerimis ini semakin menjauh,
Meninggalkanku yang semakin rapuh.

Bolu, Tulungagung. 21 Januari 2015, 17:57 WIB
Gerimis ini datang saat hatiku bimbang.
Aku menikmatinya meski hati sedang terluka.
Tetesnya menyayat hati,
Merobek pilu,
Memaksaku terpaku.

Paiton, 22 Januari 2015, 18:00 WIB
Tak kutemui apa-apa dalam gerimis itu,
Selain rasa pilu,
Karena aku tak lagi di kotamu.
Tetap semangat menyapa senja,
Meski indahnya tak lagi dirasa.
Kurekam pertemuan kita dalam secangkir kopi penuh makna.
Selamat datang gerimis,
Tetesmu membuatku menangis.

By: S_B



Kisah Si Anak Desa

Sebersit Asa Si Anak Desa
Oleh: Rizka Hidayatul Umami

Kehidupan yang kita jalani terkadang memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Banyak kerikil-kerikil tajam yang siap menghadang dan melukai kita kapanpun, bahkan ketika kita masih memulai untuk melangkah. Pasang surutnya hidup juga memaksa kita berbuat lebih banyak dari yang lain, menuntut kita bekerja dan berjuang lebih keras agar dapat merasakan kehidupan yang layak, nyaman, dan bahagia. Tentunya dalam mencapai kebahagiaan itu, kita membutuhkan orang lain. Tidak mungkin dalam kehidupan yang nyaris kejam ini kita mampu melakukan segalanya sendiri. Adakalanya kita membutuhkan peran orang lain dalam mencapai suatu hal yang sering kita sebut sebagai kebahagiaan. Entah itu sekedar untuk memotivasi kita atau bahkan sekedar mendengarkan celotehan disaat kita berada pada keadaan terburuk. Meskipun, terkadang orang lain jugalah yang mengharuskan langkah kita terhenti dan membuat kita berfikir ulang jika harus melanjutkan perjuangan hidup kita selama ini.

Pageviews