"Bertemu Maut-Mu"

Sepagi ini aku hampir bertemu dengan maut-Mu, Tuhan. Fajar masih menyambutku ketika sendi-sendi kaki berusaha ku kayuhkan dengan lamban, sembari menunggu jiwa ini benar-benar tersadar. Masih sangat pagi ketika raga ini mengambil alih mimpi yang tak sempat terangkai berkat bercangkir-cangkir kopi di malam yang tadi.
Ku kayuh sepeda biru ini melaju, menyusuri embun yang singgah di dedaun taman kampusku. Ku kayuh perlahan sembari kunikmati udara pagi yang begitu segar dan asri. Ku lenggokkan sepeda mungilku dengan manja, sembari ku syukuri nikmat-Mu yang tak henti Kau beri pada diri yang kecil ini. Hingga ku sampai pada gerbang putih, laksana aku akan keluar dari singgahsana suarga yang megah, berhiaskan pahatan gading yang gagah.


Aku susuri jalan panjang ini sendiri. Diantara rasa takut dan bersalah, ditengah rasa kantuk yang mendera. Ku masih asyik menikmati kabut putih yang hinggap bagai fatamorgana.
Ku gerayangi sisa jalan hingga sampailah pada kayuhan terakir sebelum ku mampu sebrangi jalan besar ini.
Begitu sepi ku menengok kanan dan kiri, namun ketika ku telah sampai ditengah jalan yang sepi itu, Tuhan... Kau hadirkan kendaraan lain yang begitu siap menyantapku, menggulingkanku, seakan ingin menggerogoti tubuh kecil ini.
Andai Kau tak menghentikanku, andai Kau tak mempersilakanku menengok, andai Kau diam atas maut yang siap merenggutku, tiadalah tau seperti apa aku kala itu.
Tuhan, Engkau tau siapa aku, begitu dekatnya maut terhadapku. Tuhan, jika aku telah mencintai-Mu sebagai Tuhanku, maka ku serahkan jiwa raga ini, seluruhnya untuk-Mu. Karena ku tau bahwa cintaku pada-Mu tak kan membohongiku sebagaimana cinta hamba-Mu terhadapku.
TA, 0504, 05:30
‪#‎Morfo_Biru‬

Post a Comment

0 Comments