Sastra Lama

Kabut masih turun ketika mata ini berusaha membelalakkan diri. Aku seperti putri tidur yang begitu enggan tuk terbangun. Bahkan aku hampir melupakan kewajiban utamaku terhadap cinta pertamaku, Tuhan.


Seperti sajak-sajak yang sebelumnya, aku tak ingin mengisahkan diri terlalu pagi. Aku hanya ingin memberitahumu tentang keindahan yang kutemukan di sisa senja. Keindahan yang hampir tak terjamah olehku, bahkan dirimu. Keindahan ini bukan lahir dari apa yang ku lihat, bukan dari apa yang ku dengar, dan bukan terlahir sekarang. Ia telah terlahir jauh sebelum aku diciptakan. Dan keindahan itu ialah, "Sastra Jawa".
Terketuk berkat buku "Serat Kalatidha" yang mengulas kekecewaan Sang Pujangga Jawa terakhir yakni Ronggo Warsito. Namun disini aku tak akan mengulas ulang cerita dalam buku itu.
Aku berterimakasih pada sang pujangga, berkatnya aku mampu mencintai diriku, dalam sastra klasik yang tak mengenalku, namun aku akan mengenalnya. Ia tak besar karena sering di elu-elukan orang, tapi dia akan besar kembali dalam sanubari. Keindahan sastra lama yang akan membangkitkan kembali kejayaannya sendiri. Keindahan itu akan bangkit seiring melodi-melodi suarga yang mulai berdenting diantara kita.
Aku dan dirimu, dalam ketiadaan yang nyata. Kita akan bangun dalam kekalutan dan kerinduan pada masa lalu. Kita akan tertunduk pada keindahan yang kini mulai mengisi relung. Keindahan sastra jawa yang mulai menggeliati diri, ingin segera dicari. Aku dan dirimu, dalam kepiluan yang mendalam, mulai mengenal sastra lama jawa yang kini kelam.
10 April 2015

Post a Comment

0 Comments