"Kerat-kerat Rasa"

Siang menjelang ketika awan kelabu mulai mengisi kekosongan sang langit. Tibalah pada gubuk kecil saat tubuh yang membengkak ini tak kuasa menahan dahaganya. terketuk pintu gubuk olehku, mengharap pemilik menghadiahiku secawan madu, meski lisan berkata sedemikian, "Bolehkan kupinta setetes air tuk hilangkan dahagaku?".


Sang pemilik datang membawa buah manis dan segelas susu untukku. Sungguh tegunan yang tak dapat aku percayai. Anganku berteriak kegirangan, dan bibirku menyunggingkan senyumnya malu. Kemudian gadis ini kembali berjalan dan ia masih dalam buaian buah dan susu.
Ku menengok kearah langit, meski masih abu-abu. Kau tahu pasti siapa aku, yang tak bisa berhenti mengagumimu meski langit serasa pilu jika ikut merasakan rasaku. Di persimpan jalan ini, aku rasa rindu menggebu, nyata kau justru tak akan rasakan itu. Di sepanjang keramaian ini, aku rasa ingin bertemu, namun kau justru ingin berpaling dariku.
Ku kira cinta menyapa, namun kau kata benci mendera kita. Seperti persangkaanku bahwa gerimis turun saat kau tiba, namun kau rasa sebaliknya. Dan masihlah ku sangka rindu, nyata sekedar bait-bait palsu. Ku sangka cinta, nyata hanya ungkapan suka tak bermakna.
Rasa macam apa yang mampu kita arungi bersama? Jika ku tak pernah tau siapa kau, meski kau selalu tau siapa aku. Kau tak mampu rasa apa yang ingin ku ungkapkan, bahkan jika ku memohon kepadamu untuk itu.
Kau enggan melihat meski sekedar melirik kearahku. Rasamu enggan memiliki rasaku dalam cinta dan rindu. Sementara aku hanya mampu melilitkan rasaku pada kata harap dan tunggu.
Jika kau telah sudi, maka kemarilah dan hibur gadis ini seperti mimpi yang kau janjikan tempo hari. Jika kau telah sudi, maka beritakan pada gadis ini untuk pergi, agar tiada lagi rasa yang berduri, agar tak pernah ada buai tangis dan luka yang menganga meski kerat-kerat rasa menusuk menyiksanya.
0304/2015

Post a Comment

0 Comments