Patah (Jadi 2)

Siang ini mentari asyik bercumbu dengan langit, membiaskan warna-warna yang begitu megah. Tak beraturan sangat, namun mahal terasa. Serbuan angin pun tak hentinya mengajak daun-daun tebu ini berdansa, mereka kembali melenggok, meliuk beriringan.


Ah, masih pula kulihat para pipit itu menyanyikan kicauannya, mereka turut menari mengikuti arus angin. Tak jarang mereka berbisik, menertawakanku yang tak bisa berlari mengejar mereka.
Sungguh nakal.
Sengat mentari masih saja menghujam mataku yang tertutup debu di pembaringan. Gesekan dedaun tebu yang tak jua putus asa mengantarkan mimpi-mimpi untukku. Angin sedikit menggertak dengan menamparkan diri pada pintu-pintu di bangunan ini, aku hanya tersenyum.
Kiranya kau marah, Angin. Aku tak ingin berdiri dan enyah dari peraduan ini. Pun sang mentari akhirnya ikut memancarkan panasnya ke tubuh tak berdaya ini. Aku berpindah arah, memanjakan diriku dengan sombongku, tak kulihat apa-apa dalam selimut mungilku.
"Prakk...", aku tersentak dari pembaringanku, kacamata hitam yang menemani lelapku menangis, tak ku sadari, aku melukainya, memecahkannya. Oh Tuhan, kacamata tak berdosa ini menjadi korbanku. Ia terbagi menjadi 2 bagian, tak mungkin ku satukan. Ku tak akan mampu, meski dengan perekat apapun.
Ah, penyesalan ini selalu datang terlambat. mungkin memang sudah saatnya aku pulang. grin emotikon

Post a Comment

0 Comments