Mau Cari Apa?

Sastra di Tengah Pandemi: Peluang dan Tantangan

Rangkuman Diskusi

Pandemi Covid-19 telah merumahkan hampir semua aktivitas manusia. Kehadirannya berdampak pada banyak aspek, mulai pendidikan, ekonomi, kesehatan, politik maupun sosial dan budaya. Pandemi memaksa kita menunda temu, dan lusinan kegiatan pun diselenggarakan dengan cara lain, daring misalnya. Termasuk ketika Komunitas Pecinta Sastra Tulungagung (KPST) berniat menyelenggarakan diskusi sastra perdananya pada 19 Juni 2020 lalu. Muhammad Da’i Robbi sempat berucap, “Kita dipaksa berkompromi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa berdamai dengan manusia.”

Berbicara mengenai sastra di tengah pandemi, kita mesti mengklasifikasikan terlebih dulu konteks sastra tersebut, sebagai komoditas yang diperjual-belikan atau sebagai salah satu aspek dalam kehidupan kita yang sublim, menuju spiritualitas. Akan berbeda ketika sastra yang dimaksud adalah sebagai komoditas, sebab akan berkaitan dengan aspek ekonomi dan bisnis penerbitan atau penjualan karya.  Sementara ketika berbicara sastra sebagai sublimitas manusia, maka proses yang dilakukan tidak perlu tuntutan atau dengan banyak orang. Ketika bergiat di dalam sastra juga tidak butuh mobilisasi karena sastra telah dimanifestasikan dalam ritme hidup sehari-hari.

Bagi Da’i Robbi, adanya pandemi Covid-19 tidak harus dipahami sebagai bencana dan kerugian, terlebih bagi para pegiat sastra. Dalam aspek ketahanan mental, pegiat sastra sudah sangat mafhum dengan segala jenis krisis yang terjadi, sehingga bisa membaca tantangan dan kesulitan selama pandemi. Hal tersebut mestinya bisa jadi pemantik, menjadikan kebijakan #dirumahsaja sebagai peluang untuk tetap melakoni proses kreatif dan menghasilkan karya sastra dalam beragam bentuk. Mestinya, banyak karya sastra yang bisa lahir ketika musibah atau bencana terjadi, sebagai penanda zaman sebagaimana karya-karya yang terdahulu.

Bbc.com

Pertanyaan yang harusnya diajukan adalah mengenai ada tidaknya implikasi etik ketika menjadikan pandemi sebagai tonggak lahirnya sebuah karya sastra. Mengingat kita tidak bisa lepas dari anggapan dan persepsi. Misalnya ketika menjadikan pandemi sebagai topik utama karya sastra, seakan-akan pengarang atau penulis telah mengeksploitasi tragedi dan di lain hal dianggap tidak sensitif terhadap musibah yang terjadi, dan lain sebagainya.

Inilah yang perlu diperhatikan oleh pegiat sastra, bahwa terdapat koridor yang tidak bisa begitu saja diterjang. Meski sastra sendiri bebas nilai, akan tetapi ada norma masyarakat, nilai-nilai dan realitas yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para sastrawan. Dengan demikian, para pegiat sastra tetap harus memerhatikan realitas zaman agar dapat memberi dampak pada karya yang dibuatnya, sastra yang manusiawi, misalnya.

Dalam konteks pandemi Covid-19, sastrawan bisa mengalokasikan waktunya lebih banyak untuk melakukan proses perenungan atau kontemplasi. Hal ini sebagaimana disampaikan pemateri kedua, Zelfeni Wimra bahwa pandemi sesungguhnya menguntungkan para sastrawan karena membuat mereka bisa mengeksplorasi ide-ide atau gagasan baru serta melakukan kerja kreatif dalam waktu yang lebih panjang.

Pandemi, bagi seorang pegiat sastra tidak akan menjadi soal. Ketika melihat sastra sebagai ilmu, segala jenis penelitian, kritik terhadap kebijakan dan pembacaan terhadap sastra tetap bisa dilakukan. Sebagai pandangan hidup, sastra dapat membuat pegiatnya merawat optimisme dan memberikan resonansi pada pecintanya. Sementara sebagai sebuah gerakan, sastra akan terus berkembang sesuai arah juang atau konteks yang diperjuangkan, brgantung pada idealisasi kelompok –meski sangat mungkin dipolitisasi, dikapitalisasi dan lain sebagainya.

 

Pertanyaan I:

Apakah sastra memang identik dengan seksis dan vulgar?

 Jawaban:

Kualitas dan isi karya tentu bergantung pada pengetahuan yang dimiliki penulis, dipengaruhi oleh budaya dan ideologi yang melekat pada dirinya. Bagi Wimra, setiap penulis memiliki karakter dalam karya-karyanya dan pembacalah yang menentukan ke arah mana makna sebuah karya tersebut digiring. Otoritas memaknai karya sastra sudah bukan milik penulis, tapi tergantung pada tafsir mana yang digunakan oleh pembaca. Kapasitas pengetahuan dan kecenderungan seorang pembaca juga sangat menentukan pemahamannya terhadap sebuah karya.  Perjalanan spiritual dalam memaknai metafora dalam sastra tidak tunggal, tidak satu pintu, sehingga pemaknaannya pun sangat mungkin beragam.

Sementara menurut Da’i Robbi, di masa ini orang sangat mudah terjebak pada bungkus dan melupakan substansi sebuah karya. Padahal lumrah jika dalam karya-karya sastra banyak terdapat simbol-simbol dan atau metafor yang sejatinya sekadar wasilah, memberi ruang pada pembaca untuk menemukan makna sesuai kapasitasnya masing-masing. Hal ini berlaku pada pembaca sastra yang memiliki kepentingan maupun pembaca sastra tanpa kepentingan. Selain itu, meski kerap disampaikan dengan kalimat-kalimat yang vulgar dan sarkas, substansi sebuah karya sastra hampir-hampir tidak pernah mengabaikan kebenaran.

Pertanyaan II:

Bagaimana menulis sastra, sehingga bahasanya bisa mudah dipahami?

 Jawaban:
Bagi Wimra dan Da’i, aspek penting untuk bisa menulis dengan bahasa yang mudah dipahami adalah dengan terus menulis dan membaca. Penulis perlu membaca untuk dapat mengasah kemampuannya memahami bahasa dan memperbanyak kosa kata.

Pertanyaan III:

Penanya sering sekali mengalami ritme menulis yang kacau. Mood menulis bisa sangat baik pada suatu hari dan bisa sangat buruk untuk waktu yang lama, sehingga proses menulis tidak konsisten. Bagaimana menyembuhkannya?

Jawaban:
Wimra dan Da’i berpendapat, ritme menulis yang pasang surut merupakan hal yang lumrah terjadi pada setiap penulis. Ketidakadaan ide pada suatu waktu juga wajar terjadi. Bisa jadi tidak adanya ide menulis, karena bacaan atau bahan untuk menulis juga kurang. Hal itu bisa diakali dengan mencari topik tulisan yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, merangsang atau mengupayakan untuk tetap menulis dengan topik-topik yang sederhana.

Salah satu trik menjaga stamina menulis yang diberikan Wimra adalah dengan memiliki diksi khusus yang paling disukai. Misalkan Wimra sangat menyukai ‘kucing’ maka segala sesuatu bisa dikaitkan dengan kata tersebut. Taruhlah itu menjadi sebuah kata kunci, maka penulis bisa mengaitkannya dengan laku kehidupan sehari-hari yang bersinggungan dengan kata kunci tersebut.

Wimra juga menyampaikan bahwa seseorang harus menemukan dan memiliki setidaknya satu alasan untuk tetap menciptakan sebuah karya. Misalkan, seseorang membuat suatu karya agar dapat hidup di hari selanjutnya, semacam ada pertarungan hidup dan mati. Jika tidak ada cerita hari ini, maka ia mati, dan sebagainya. Baik Wimra maupun Da’i tidak menganjurkan seorang penulis menunggu mood menulis muncul, sebab itu akan memakan banyak waktu dan tidak akan membuat tulisan kita selesai.

Rangkuman diskusi ini ditutup dengan pembacaan puisi oleh Muhammad Da’i Robbi dan Zelfeni Wimra. Satu kalimat terakhir yang saya ingat dalam diskusi ini, yang membuat saya terpacu untuk terus menulis, “Jika pun esok kiamat, ketika kau masih punya jemari, maka menulislah.”

 

Sabtu, 19 Juni 2020

 

Moderator,
Rizka Hidayatul Umami


Puisi-puisi Mat Toyu

Air Kebeningan

Dari sudut matamu, dapat kulihat bulir-bulir kecemasan
Kau tetap pada pendirianmu, menangis di sudut waktu
Melenguh panjang, merasakan ngilu, tulang sumsum rontok

Dari redup sinar matamu, kau biaskan reributan waktu
Ada butiran-butiran debu yang menggeragas dalam dirinya
Kau seperti tak sadar, debu-debu itu membuatmu ganjil
Mencipta tanya tentang segala yang rongsok

Kau biaskan segala yang luruh
Kau hendak melerai jatuhnya air mata, tapi sayang
Air mata berjalan linglung, terhuyung-huyung menopang gendutnya sendiri 

Kau mencoba pasrah pada segala kondisi
Rapuh tubuhmu kau paksa tegak
Menenggak air yang ditapis dari kebeningan malam
Kau cipta keheningan pada keping-keping waktu.

Ketiak Sayap Ayam

Aku berlindung di ketiak ayam

Sedang, sekawanan macan
Tengah menghadapi peluru anjing-anjing
Yang menjaga hutan-hutan dan istana 

Maaf kawan, ketiak ayam membuatku kelilipan
Aku buta, aku terlena, aku ternganga
Aku lumpuh, aku buntu. 

Kebumen, Agustus 2016


Ia Bermake Up

Pada wajahnya ia bedakkan warna pucat kecemasan
Pada bibirnya ia oleskan lipstick kegetiran
di pipinya ada warna lebam kecoklatan

Pada punggung matanya, ia oleskan warna biru kelesuan
di garis-garis matanya, ia tarik pagar tanggul tumpahnya air mata
Pada alisnya, ia arsirkan hitam kemarahan
Pada rambutnya, ia sembunyikan rinai-rinai kesunyian

Ia berjalan, menawarkan kelaparan, mempromosikan kematian.

Kebumen, 21 Agustus 2016


Kelahiran Sumenep, Madura.
Sedang menempuh pendidikan di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dua Antologi Cerpen karyanya berbahasa Madura; Embi’ Celleng Ji Monentar (2016) & Kerrong Ka Omba’ (2019)



Pertanda

Oleh: Vima Naila Ulfina

“Kung, kok dipasangnya di sini? Harusnya kan ini di langgar.” Sahut gadis kecil saat kakung hendak memberikan sebuah pertanda untuk orang-orang yang ada di ladang. Tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang sudah keriput, dan menggapit rokok bikinannya sendiri. Kakung hanya menjawab dengan senyum sembari mengusap kepala cucu kesayangannya.

Namaku Lisa, cucu pertama dari kakung. Usia kakung sudah cukup renta. Tapi persoalan bekerja, tenaganya masih sangat muda. Tubuhnya kurus, kulitnya sudah keriput di mana-mana, menunjukkan bahwa usianya sudah tak lagi muda. Ia jangkung, putih bersih, meski lebih lama terpapar sinar matahari pun tak menunjukkan tanda-tanda kulitnya akan menghitam. Sosok yang tak banyak ngomong dan rajin beribadah, kata kebanyakan tetangga. Ya, aku memanggilnya, kakung.

Ketika usiaku masih sangat belia, kira-kira kelas 5 SD, aku sering mendapatinya menjemur kulit jagung. Tak banyak, tapi setiap hari selalu ada kulit jagung yang dijemur. Aku tak tahu sebetulnya itu untuk apa. Pikirku untuk jamu, kalau tidak begitu mungkin dipakai…

“Kung, mau dipakek embok ya? Dipakek cethik geni?”

Embok, istri kakung, nenek buyutku. Kala itu, embok masih menggunakan tungku untuk memasak. Jadi membutuhkan sesuatu yang mudah terbakar untuk mempermudah menyalakan api. Zaman dulu memang hampir semua tetanggaku menggunakan tungku untuk memasak. Jadi tidak heran kalau setiap sore menjelang, para perempuan mencari ranting-ranting kering di kebun-kebun mereka.

Ada juga yang mengindit –menggendong kayu dipunggung dengan menggunakan jarit– kayu-kayu lapuk dari pekarangan orang. Tidak beli, apalagi mencuri, tapi saling berbagi. Sedang laki-lakinya, baru pulang dari sawah atau tegalan yang tak jauh dari rumah.

“Tolong angkatin klobot itu, nduk. Taruh di kotak kayu diatas dipan kakung.”

Ya, kakung menyebut kulit jagung itu dengan sebutan klobot. Terkadang sepulang sekolah, kakung menyuruhku mengangkat kulit jagung yang ia jemur setelah sarapan. Tidak cukup lama menjemurnya, 4-5 jam saja sehari. Kalau dirasa cukup, biasanya segera diangkat. Lagi-lagi aku masih saja tak mengerti untuk apa kulit jagung milik kakung itu.

metmuseum.org

Masa kecil adalah masa di mana anak-anak mulai kritis dan sering bertanya sesuatu yang dianggap asing menurutnya. Hampir setiap benda ditanyakan nama dan fungsinya. Terkadang membuat orang dewasa kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. Bukan berarti orang dewasa tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Tetapi takut jika anak-anak salah menafsirkan maksud dari jawaban itu. Sehingga mereka lebih memilih jawaban yang simpel dan nyelimur dengan sesuatu yang lain.

Begitu juga aku waktu kecil. Sesuatu yang tidak pada tempatnya aku tanyakan pada kakung. Aku memang lebih dekat dengan kakung daripada orangtuaku. Dan jarak rumahku dengan rumah kakung juga tidak jauh, masih dalam satu halaman. Orangtuaku cukup sibuk dengan rutinitas yang menuntutnya setiap hari mencari uang. Alasannya untuk mencukupi kebutuhan sekolahku dan kebutuhan sehari-hari keluarga. Aku tak peduli dengan itu, saat itu yang aku tahu adalah saat pulang sekolah ada makanan di bawah tudung saji di dapur.

Selepas itu, aku ikut kakung ke ladang. Meskipun hanya main-main saja di sana, terkadang juga ikut membantu mengumpulkan hasil panen. Tidak banyak memang tanaman di ladang belakang rumah. Hanya ada kacang panjang, terong dan cabai. Tak jarang juga berganti tanaman yang lain, seperti labu, mentimun dan kangkung. Betapa pun hanya ada 3 jenis tanaman, setiap panen bisa sampai 8 karung setiap jenisnya. Senang bisa membantu kakung yang usianya sudah lebih dari tiga perempat abad. Namun masih kuat dan sehat layaknya bapak temanku yang usianya masih setengah abad, kebetulan juga seorang petani.

“Nduk, tanyakan ke si mbok mu. Sarapannya sudah matang atau belum?”

“Iya, kung.”

Aku berlari menuju dapur si mbok memastikan kalau sarapan sudah siap. Jarak ladang dan dapur tidak jauh, hanya 500 meter. Kepulan asap terlihat dari balik genteng yang sudah berwarna pudar itu. Tandanya si mbok memang lagi masak. Kepulan asap itu dari tungku yang digunakan sebagai media memasak. Belum sempat aku bertanya pada si mbok, kakung sudah di belakangku dan bertanya sendiri ke si mbok. Cepat juga jalannya kakung, pikirku.

“Kung, masakannya sudah matang. Panggil yang lain juga.” Ucap si mbok sambil menunjuk keluar pintu.

Aku bergegas mengikuti kakung keluar dapur. Tapi kakung berhenti di sebelah WC mencari pemukul kentongan yang disimpan di antara angin-angin WC. Di rumah kakungku, WC dan kamar mandinya memang di luar rumah, tidak seperti di rumahku yang menempatkannya di dalam rumah. Kata ayah, konsep rumah modern ya seperti ini.

“Loh kung mau ngapain? Kok mau mukul kentongan? Kan tadi disuruh si mbok manggil tukang yang lain.” Protesku pada kakung yang hendak memukul kentongan.

“Pakai ini saja. Biasanya kan juga pakai ini.”

“Ini kan harusnya di langgar, kok ditaruh dekat WC sih kung?”

“Kentongan tidak harus di langgar, nduk. Dia fungsinya sebagai tanda. Kalo ditaruh di langgar, tandanya waktu sholat sudah manjing, atau sholat jamaah segera dimulai. Kalau ditaruh di rumah kayak punya kakung gini, biasanya buat manggil kamu pas lagi main dan belum pulang.” Kakung terkekeh.

“Ish kakung, kan aku selalu pulang tepat waktu.” Aku cemberut menanggapi jawaban kakung.

Terdengar suara kentongan dipukul 3 kali. Selang beberapa menit, tukang-tukang itu datang berduyun-duyun ke arah dapur. Ada tiga orang yang hampir seumuran, yang pasti usinya jauh di bawah kakung. Mas bokir, setelah lulus Aliyah memilih ikut kerja bapaknya di ladang orang. Kang Korik, kakaknya mas bokir yang baru saja menikah setengah tahun yang lalu. Dan Pak Kasirin, bapak dari kedua pemuda itu.

youngorold

Mula-mula, hari ini akan menjadi seperti biasanya. Seperti hari-hari yang jauh sudah terlampaui. Aku dibangunkan cahaya lampu yang menyilaukan kelopak mataku, dan mengawali hariku dengan desiran lembut. Sebiasa pagi di hari-hari sebelumnya, namun perasaanku hari ini tidak seperti biasa.

Genap 1000 hari kakung meninggalkanku. Hanya meninggalkan sepetak tanah yang ditempati dan berhektar-hektar sawah untuk masing-masing cucunya. Kakung cukup kaya dan terpandang di desa, sebab ayah dari kakung, yang juga masih canggah, seorang mantan kepala desa. Begitu cerita dari para tetanggaku acapkali bertemu.

Kentongan yang kerap dipakai kakung entah disimpan atau malah sudah dibuang. Sejak aku memilih sekolah SMA di luar kota, kentongan itu sudah tidak pernah nampak. Kentongan yang kerap kali aku pukul untuk sekedar mainan atau menjahili para tukang di ladang. Kemudian kakung akan meneriaki aku untuk berhenti memainkannya. Terakhir kali yang aku ingat dari saat aku bermain kentongan dan memukulnya berkali-kali dengan cukup keras, sehari sebelum kakung mangkat, beliau hanya melihatku dengan senyum penuh kasih sayang.

“Kamu sudah besar, nduk.”

Waktu itu aku memang akan masuk SMA, tapi terkadang kelakuanku masih sama seperti masih SD. Tapi aku hanya membatin saja, tumben kakung tidak marah dan teriak-teriak.

Ladang di belakang rumah yang sering menjadi tempatku berlarian dan membantu kakung mengumpulkan hasil panen, kini sudah menjadi ladang taik ayam milik ayah dan pakdeku. Kandang-kandang ayam sudah berjajar di sana, bau menyengat tak jarang pula memaksa menyelinap di hidung.

Di ladang, mataku hanya melihat gundukan tai ayam dan pepohonan yang mulai jarang. Tidak ada kentongan, tidak ada ladang, dan tidak ada bau-bau tanah basah bercampur aroma tanaman. Dan tidak ada lagi pertanda lain, selain kematian waktu itu. []

Member diskusi di sarang Forum Perempuan Filsafat.

Bisa bertahan hidup bukan dengan menjual ginjal. Dan percaya bahwa “ide tulisan muncul menjelang tidur.”

Bisa disapa di Instagram @vimafim__ dan twitter @pimahtralala




Hantu

Ia datang ke dalam mimpi saya, membawa cerita seram mengenai dirinya sendiri. Saya dapat rasakan detak jantungnya yang rumpang,  samar, dan seolah-olah hendak mengatakan bahwa ia sudah bosan melintasi labirin yang gelap nan panjang. Saya kemudian mafhum, bahwa apa yang menimpanya adalah cerminan simetris dari hidup saya, hidupmu, dan hidup mereka. Singkatnya, ia ingin menerangkan pada saya bahwa sejak dulu ia ingin mengeluh, atau lebih dari itu, ia bermaksud menjelaskan betapa tidak menyenangkan menjadi dirinya. Kata-kata “tidak menyenangkan” kemudian saya cetak tebal, saya pikirkan, saya renungkan, lalu di suatu kesempatan yang baik saya tanyakan kepadanya.

Brilio.net

“Tidak menyenangkan itu artinya menyebalkan?” tanya saya.

“Bukan begitu. Tidak menyenangkan bisa juga berarti hampa.”
jawabnya sembari murung.

Saya kemudian mafhum bahwa perkara dalam hidup ini tidak bisa begitu saja disederhanakan, bukan sekadar soal pro-kontra, benar-salah, ya-tidak, jelas-samar, maupun ini-itu. Bukan oposisi biner, ringkasnya. Lalu pelan-pelan ia mendongengi saya banyak hal, sebelum kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri: tidakkah ia sedang mencoba meracuni pikiran saya?

“Tidak. Saya tidak meracuni pikiranmu. Saya bukan iblis. Kamu harus bisa bedakan antara hantu dan iblis.” jawabnya seperti telah membaca pikiran saya.
Saya biarkan ia mendongeng lebih panjang, menguraikan apa saja yang jadi sengkarut di dada dan kepalanya. Tapi kemudian saya merasa harus bangun dari mimpi ini, menunda ia bercerita hingga nanti malam saat saya tertidur lagi.

“Cerita saya masih panjang. Jangan bangun dulu.”
cegahnya.

“Saya harus pergi bekerja. Tundalah dulu ceritamu sampai saya tidur lagi.”

“Tidak. Sekali-dua kamu perlu membolos. Bekerja melulu, apalagi di kantor yang mengurusi pendidikan orang banyak, justru tidak akan membikin otakmu cerdas.”

Saya tak peduli dengan kata-katanya. Saya paksa diri saya meninggalkannya dalam beberapa langkah, namun kemudian ia menarik paksa lengan saya, mendudukkan saya, lalu menggaplok jidat saya sebagai hukuman karena saya teramat bandel. Saya tak bisa membantah lagi. Dengan demikian saya bermimpi lebih panjang lagi.

“Saya minta rokokmu.” ucapnya dengan mulut sudah tersumpal sebatang rokok yang menyala ujungnya.

Sambil menarik-hembus asap rokok ia mendongeng dengan penuh semangat. Saya yang tak mengenal batas tata krama di dalam mimpi ini kemudian menyeduh kopi begitu saja, sementara ia masih nyerocos tanpa dapat saya hentikan.

“Kamu dengarkan saya?” tanyanya sebagai tanda minta perhatian.

Saya hanya mengangguk selagi menyeduh kopi.

“Boleh juga kalau kamu mau bikinkan satu. Gulanya setengah sendok makan saja.”

Dengan berat hati saya bikinkan ia kopi. Saya bisa saja mencampurkan racun dalam kopinya selagi ia tak tahu. Tapi, untuk apa? Lagipula ia hantu. Racun sekeras apa pun kiranya tak akan mempan bagi tubuhnya.

Ia buru-buru meghirup kopi bikinan saya begitu saya menaruhnya di atas meja. Ia tersenyum sebentar, lalu menyeruputnya dalam-dalam hingga terdengar bunyi sesuatu di kerongkongannya. Ia tampak lega, dan ia mendongengi saya lagi.

“Jadi, sampai mana dongeng saya barusan?” tanyanya sesaat setelah dilenakan seseruput kopi.

“Kata-kata pembuka dalam Manifesto Komunis.”

“Baiklah. ‘Ada hantu sedang membayangi Eropa: hantu Komunis’, kurang lebih begitu katanya. Tapi persetan dengan itu. Kali ini saya mau bercerita mengenai hantu yang lebih hantu dari itu, yakni hantu yang bernama Partai S. Hantu berwujud manusia.”

“Partai S?”
tanya saya dalam ketidaktahuan yang sungguh-sungguh fatal.

“Partai S adalah bentukan paling menakutkan yang menghantui negerimu. Saya rasa sudah saatnya kamu tahu, agar kamu tidak melulu jadi korban sejarah yang timpang dan beku.”

“Baiklah. Teruskan.”

“Kamu masih ingat dengan peristiwa September Tiga Puluh? Di sanalah Partai S memainkan peran mengacak-acak dan memporak-porandakan negerimu dengan cara yang sangat halus. Perlahan-lahan mereka menciptakan adu domba, menyita perhatian seluruh negeri sambil mengatakan bahwa Komunis benar-benar jahat.”

“Bukankah Komunis memang benar-benar jahat?”


Brilio

“Tidak seluruhnya. Kebanyakan orang yang berada di jajaran pimpinan lah yang jahat. Mereka itu sesungguhnya kader Partai S yang diam-diam menyamar. Sementara orang-orang akar rumput, yang ikut masuk dalam daftar Komunis, hanyalah orang-orang lugu yang kemudian mesti ditumpas tanpa tahu kesalahannya. Di luar itu, pemberontakan-pemberontakan alot yang menimpa negerimu juga pernah didalangi oleh orang-orang Partai S.”

“Miris memang.”

“Lebih miris lagi, hal itu tidak dimuat dalam buku pelajaran sekolah.”

“Benar. Lalu, apakah Partai S masih ada?”

“Tentu saja sudah tak ada,”
ia menyeruput kopi lagi, “tapi ideologi penghancurannya masih berjalan.”

“Bagaimana bisa?”

“Ideologinya berkembangbiak, dan ada banyak kadernya yang tersempal, yang kemudian menempati sektor-sektor strategis. Mereka semua sejatinya pengisruh ulung. Ada di antara mereka yang menjadi menteri luar negeri, menteri keuangan, anggota dewan, pemilik media massa, dirjen kebudayaan, bahkan budayawan. Ada juga yang pernah menjadi wakil presiden, bahkan satu lagi menjadi presiden.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Saya hantu. Saya sering bergentayangan mencari-cari informasi.”

“Apa lagi yang kamu ketahui mengenai mereka?”

“Mereka cerdas dan pandai menciptakan dalih, tentu saja. Mereka bisa bergerak licin dan sluman-slumun menyerupai siluman. Mereka bisa begitu lancar berbicara, hingga banyak orang-orang yang tertipu. Mereka juga dapat dengan mudah menjelaskan makna harga diri. Sementara kau tahu, orang yang tak dapat menjelaskan makna harga diri belum tentu ia tak punya harga diri.”

Saya mengangguk menyetujui kalimatnya yang penghabisan. Tak lama kemudian ia mengambil sebatang rokok kepunyaan saya lagi, menyulutnya, dan memain-mainkan pemantik api seraya bersiul-siul.

“Ngomong-ngomong, saya belum tahu dari mana asalmu.” ucap saya kemudian.

Sambil menikmati sebatang rokok yang tinggal setengah, ia menjawab, “Saya hanyalah hantu. Saya lahir dari pikiran orang-orang kalah yang sejatinya lebih layak menjadi pemenang. Saya telah melalui berbagai peristiwa besar di negerimu, dan ada banyak hal yang menurut saya mesti diperbaiki. Saya muak dengan kredo ‘sejarah adalah milik para pemenang’, saya ingin mematahkannya. Dengan demikian saya bermaksud menciptakan kredo ‘sejarah mesti diungkap dan diluruskan’.”

“Tapi itu mendekati mustahil.”

“Tapi tidak mustahil secara absolut. Waktu yang akan menjawab.”

Ia habiskan kopi bikinan saya. Lalu tak berapa lama ia menyuruh saya bangun dari mimpi ini. Saya masih mau bertanya lebih banyak hal padanya, tapi ia buru-buru pergi mengayuh sepedanya melintasi kebun anggur di depan rumah saya, bertemu dengan jalan menanjak, dan tak lama kemudian ia mengayuh sepedanya naik ke langit yang nyaris berwarna merah seluruhnya.

Saya terbangun, mendapati diri telah tertidur selama tiga hari tiga malam. Itu artinya saya telah membolos kerja selama tiga hari. Atasan saya memarahi saya habis-habisan pada keesokan harinya, tapi saya tak peduli, alih-alih pergi meninggalkannya hingga kemudian ia hanya memarahi gambar wajah saya di monitor komputer.

Dalam bolos saya yang keempat ini saya sempatkan diri mampir ke kantor Badan Bahasa untuk sekadar memberi saran agar kosakata “hantu” di Kamus Besar ditambah pengertiannya: yakni, makhluk yang mendatangimu dalam mimpi dan memberimu kuliah sejarah selama tiga hari tiga malam. Demikianlah. Sekali lagi, itu hanya saran. Mudah-mudahan pihak Badan Bahasa sudi mempertimbangkannya.[]

00:02
24 Nopember 2019

Hari Niskala, asal Tulungagung. Ngopi, berceloteh dan menjadi pengamen di gubuk maya, Sadha. Mencoba sepenuh hati menggemari tim sepakbola Liverpool dan di waktu yang lebih luang menjadi pengagum tim sepakbola Juventus.

Puisi-puisi Maulidan Rahman Siregar

LAGU IBU

Ibu, aku ingin pulang
ke rumahMu
sebab, surga yang dibilang
orang-orang diam, di kakimu
telah diambil seorang tentara
soekarno-hatta, yang sering dititip ayah
di sakunya

dan beberapa kenangan
telah selesai
ditulis orang-orang
jadi puisi, di jalan raya

ibu, aku rindu
aku pulang dong
sip? 

2019

LAGU IBU /2/

Banyak restoran Amerika di jantung
laju kencang doa-doa di kepala
satu ciuman saja, ibu
atau apa pun
agar ngilu hilang
dari badan.

2019

LAGU IBU /3/

Kau adalah lagu riang
di mulut siapa saja
yang selalu
ingin pulang. 

2019

LAGU IBU /6/

Kutemukan dirimu
dalam lagu orang Korea
yang datang dan hilang
dalam sebuah kamus
seseorang, isi kepalanya isi bumi
mengirim kat-kata yang ditulisnya
dengan telepon pintar
dia bertanya, ‘kau apa kabar?’
kubilang, aku sedang merapal
doa yang sama
yang itu-itu melulu
hanya saja, agar keren sedikit
dan tidak pending dong
aku memulai doa
dengan bahasa Inggris UK

2019

LAGU IBU /10/

Aku pulang ke rahim-Mu
dan malas bertarung
Biarkan aku malas-malasan di situ, Ibu
Negeri penuh kecamuk
Tiada makna segala goyangan
Luput segala biduan
Muntah-muntah aku melihat segala dosa visual, Ibu

Biarkan aku malas-malasan, Ibu
Tidur seribu tahun
Di rahim-Mu
Di segala cahaya menuju rumah-Mu 

Ibu, aku selalu pulang
Letih seluruh goyangku
Patah sekujur urat-urat
Aku istirah, Ibu. 

2018

BILA RINDU BENAR PELURU

                                    untuk: Puput Amiranti

Bila rindu benar peluru
remuk tubuhku, Ibu
sebab seluruhku
tak mau diatur waktu
bungkam busukku, Ibu
tenggelamkan aku dalam baik matamu: kata-kata tak setajam itu! 

cabut nyawaku, Ibu
hadiahi aku puisi-puisi jelek
ayah, yang lari, yang mati: meninggalkanmu

Juli, 2018

Maulidan Rahman Siregar. Lahir di Padang, 03 Februari 1991.
Menulis puisi, cerita pendek, dan artikel musik.
Buku yang terbit; Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018)
dan 
Menyembah Lampu Jalan (2019)


Patah

1/

Hasil lukisan itu ia bingkai rapi. Ia letakkan di dinding ruang tamu dan mengelapnya seminggu sekali. Perempuan Jepang dengan kimono merah, tengah duduk dengan wajah tegas, memperlihatkan sorot matanya yang sayu, sedikit berat menahan sanggul. Lukisan yang merangkum seluruh perjalanan si empunya, menjadi satu-satunya alasan bertahan hidup dan menciptakan sejarahnya sendiri.

2/

Dua tahun setelah pesta wabah berakhir, tidak ada lagi yang mendapat kabar kematian dalam jumlah besar. Semua rumahsakit darurat resmi ditutup. Dokter dan perawat magang kembali ke kotanya masing-masing. Dan laki-laki itu ikut pergi bersama Alma. Tanpa kalimat perpisahan, surat atau pesan singkat. Mereka menutup semua akun media sosial dan mengganti nomor ponselnya. Tidak ada yang ingin tahu, tidak sempat mencari dan mereka cepat dilupakan.

Brilio.net

3/

Bagaimana rasanya patah berkali-kali? Mencari keberadaan Alma dan laki-laki yang seharusnya telah mendapat gelar dokter spesialis ortopedi itu membuatmu tidak waras. Mereka berdua tidak memberi petunjuk apapun. Dan pertemuan terakhir yang diharapkan, tidak pernah terjadi. Hanya membuatmu menambah dosa sebab menyumpah serapah pada bayang-bayang keduanya. Obsesi sering membuat orang tidak sadar, sekat antara hasrat keterpenuhan dan sesuatu yang mereka sebut dengan cinta, makin samar.

4/

Sabtu sore di bulan kelahirannya, kau mencari nomor ponsel kakak perempuan laki-laki yang menghilang bersama Alma. Senin pagi mendapatkannya dan menuju rumah perempuan itu dua jam kemudian. 16.30 kalian saling memeluk dan menangis. Kenapa tidak kau lakukan jauh sebelum laki-laki itu memperkenalkan Alma pada keluarganya? Tapi perempuan itu mengerti. Ia tentu mengenalmu lebih dulu, seusia putra pertamanya.  Ia memberimu selembar kertas berisi alamat, daerah Wonocolo, lengkap dengan nama jalan dan nomor rumah.

5/

Ini adalah saat-saat Rukmini kehilangan Tendean atau seseorang lain yang kehilangan orang terkasihnya karena tragedi 65. Cerita kehilangan dan ditinggalkan yang paling niscaya dari laku hidup manusia, setidaknya itu yang kau yakini. Jika bisa mencintai, kau beruntung. Jika bisa menunggu sekaligus berjalan dengan kakimu sendiri, kau sangat beruntung. Jika bisa mencintai dan dicintai sampai akhir, kau patut bersyukur. Meski kesalingan itu harus tamat karena tragedi dan kematian, kau masih beruntung dan bisa sesekali bersyukur. Tapi di mana letak keberuntunganmu ketika hanya patah berkali-kali?

Wallhere

6/

Rumah kosong. Penghuninya seperti menghilang dua bulan lalu. Beberapa tetangga sempat melihat seorang perempuan berkacamata keluar rumah membawa koper dan satu tas ransel berwarna kuning. Lalu si laki-laki? Apa perempuan itu bersama seorang laki-laki yang juga berkacamata? Kau pasti ingin bertanya, tapi tidak ada kalimat tanya lain yang keluar dari mulutmu, selain pertanyaan pertama yang telah dijawab. Seperti cerita yang sering kau tonton, hari ini kau mengalaminya. Merasa putus asa dan terduduk di teras depan rumah tanpa penghuni. Beberapa jam menuju petang. Seorang tetangga yang tadi kau tanyai, kembali. Ia telah bertanya pada beberapa tetangga lain dan menemukan alamat praktik seorang dokter laki-laki.
 

7/

“Sebelum kita bertemu, aku sudah patah berkali-kali, Dok.”

“Bagaimana rasanya patah berkali-kali?”

“Andai yang cedera itu tulang, apa yang dokter sarankan?”

“Perbaikan atau peremajaan tulang. Jika parah, amputasi."

“Bagaimana dengan hati?”

“Apa ada yang melukaimu?”

“Dokter, aku pernah menunggu empat tahun untuk kepulangan seorang teman. Selebihnya aku menunggu kepulangan seorang kekasih. Lalu untuk kenangan sebelas tahun, aku menunggu sesuatu yang sia-sia. Bagaimana kabar Alma?”

“Ia baik, sedang menjalankan beberapa riset di luar kota.”
 

8/

Tempat ini adalah sebenar-benarnya rumah. Ruang pertemuanmu dengan Alma, tempatmu menunggu kepulangannya, berbagi cerita masing-masing setelah jengah bekerja dan akan menjadi tempat terakhirmu menghabiskan masa. Sekarang aku melihatnya sendiri, lukisan yang kau unggah di media sosial itu buatan Alma. Terpajang rapi di dinding ruang tamu. Kau kata seminggu sekali mengelapnya. Alma membubuhkan tanda tangan di pojok bawah bagian kanan lukisannya. Manis sekali, tapi menyakitkan. Aku ingat, nasib ini seperti cokelat pemberianku yang kau biarkan meleleh di dalam jok motormu di masa-masa sekolah menengah pertama.
 

9/

Pertemuan terakhir itu akhirnya terjadi. Tepat di malam ke-28 ia mengantarmu ke stasiun Sepanjang. Tidak ada janji kelingking yang bisa diucapkan atau kata-kata perpisahan dengan harap-harap temu seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Ini adalah cerita yang mesti selesai dengan singkat dan sederhana, tentang seorang penulis yang gagal membuat ceritanya sendiri atau seorang perempuan yang harus merasai patah untuk kesekian kali. []


Marto

Ada sebuah rasa pedih yang teramat menyayat hati, terlebih saat kau melabeli aku ini laki-laki. Adalah kehidupan yang sebenarnya biasa saja namun ia telah lama merenggut keadilan yang seharusnya aku terima. Tercatat aku terlahir sebagai seorang manusia, laki-laki pada umumnya; yang punya harapan, pun keadaan yang berbentur keinginan sekitar. Aku seorang laki-laki, yang rupawan, terberkati karunia atas kasih sekeliling, namun anugerahku dianggap kecil karena aku, Marto.

Lalu dengan alasan yang diperinci, ada satu hal yang membuatku tak layak atas pilihan paling besar kala itu, aku gagal meminang kekasihku, “aku pemuda miskin menurut pandangan orang tua dan perhitungan matematika dunia”. Aku terlampau terhina, hingga sakit hati  memilih jalan panjang perlawanan.

Kita Kini News

Ningsih adalah sajak-sajak semesta yang hadir menghadiahi diriku kebahagiaan agung sekalipun aku hanya laki-laki biasa. Ia hadir tidak sekadar hadir, ia ada tak sekadar ada, ia berarti. Ningsih sejak lama menjadi nyawa atas jiwa rapuh yang tak berpenghuni, ia bagaikan oase di kegersangan hati. Sejak menjalin kasih dengan Ningsih, aku seperti memiliki harapan lebih untuk hidup, tenaga lebih untuk bekerja, dan kebahagiaan yang tak perlu diperjelas alasannya. Dan kini aku punya alasan mengapa harus lebih giat dalam bekerja, tak lebih sebagai bekal membahagiakannya. Iya, Ningsih tidak hanya mendapat kebahagiaan, tapi ia harus bangga hidup denganku.

Banyak yang memuji kecocokan kami, wajah yang mirip, kondisi ekonomi keluarga yang tidak jauh beda, serta kebiasaan kami di desa yang hampir sama sering dipadukan dalam kegiatan bersama-sama. Lama-lama kami makin berani menunjukkan relasi asmara, orang-orang desa yang mudah mengenali gerak muda segera tahu bahwa kami pasangan kekasih. Cerita ini sampai pada keluarga Ningsih, ia yang menghendaki anaknya hidup sejahtera tak begitu terbuka dengan hubungan kami.

“Wes ora usah diterusne Le, lek pancen ora direstui.” Ujar ibu kala itu. Jiwa muda yang menyala, menganggap segala nasehat adalah bentuk lain dari ketidakpercayaan diri. Aku abai pada nasehat ibu.

“Ibu ra usah khawatir, najan wong tuane ora ngrestui, piye-piye kui panggah bocah e.” Jawabku dengan percaya diri.

Mendung menggelayut di atas bukit pedesaan, gerimis tipis berteman cuaca sejuk memperjelas nuansa khas pedesaan. Kulihat di atas pohon, dua tiga tupai nampak melompat antar ranting. Lalu di ranting yang lain, beberapa daun kering gugur dari dahan. Tak banyak yang dapat kunikmati sore ini, selain tumpukan dedaunan kering yang sebagian membusuk bercampur tanah di bawah pohon. Ia berserak dan nampak tak berguna. Lalu aku ingat kata-kata guru IPA, daun yang membusuk dapat terurai menjadi pupuk organik. Aku tertawa terbahak.

Dedaunan gugur mengingatkanku pada Ningsih, tentang hatiku yang selalu jatuh bangun meneguhkan tekad, mengenai kisah cinta yang belum menemukan gerbang restu. Setumpuk harapan yang kokoh terangkai kerapkali berhambur menjadi asap yang mengudara, tak lain saat kutemukan wajah Ningsih tak ceria, mata ia sembab karena tangis.

Tapi bukan cinta jika tak gila, semua aku anggap alasan untuk membuktikan bahwa kami berdua sama-sama bahagia dan menaruh harapan untuk masa depan yang saling membahagiakan. Jika dikira aku tanpa perjuangan, mereka keliru. Sebagai laki-laki aku tak hanya sedang melawan takut tak diterima, tapi aku sedang belajar melawan keraguan sekeliling dengan terus hadir sebagai laki-laki yang mampu melampaui diriku sendiri. Esuk aku akan bangun pagi, menambah porsi kerja, dan memberanikan diri melamar Ningsih.

Solopos.com

Keraguan orang tuanya itu benar adanya, keraguan sekeliling itu wajah hadirnya, terlebih untuk aku, Marto. Seorang lelaki yang menurut sekeliling tak memiliki masa depan pasti, terlebih untuk berdamping dengan perempuan yang banyak diharapkan lelaki. Ningsih adalah perempuan baik-baik dan setiap inci tubuhnya adalah nilai, di sini tak menjadi perlu perempuan punya masa depan dengan kerja-kerjanya. Tapi laki-laki soal lain, yang diperhitung adalah setiap ruas perjuangan, kami dihitung lewat tenaga sekalipun tubuh tak dinilai berarti.Tapi dan tapi apa peduliku, Ningsih sejak semula menerimaku. Soal orang tua bisa kami upayakan, dengan pembuktian bahwa aku layak dititipi anak orang.

Dua muda mudi yang saling menyayangi, memiliki wajah yang memiliki kemiripan, pun punya alasan sederhana untuk bahagia. Namun perhitungan dunia tidak sesederhana harapan diri sendiri, kebutuhan lain di luar memiliki porsi untuk membatasi kesenangan sebagian yang lain. Aku teramat menyayangi Ningsih sebagai kekasih yang dengan tulus menerima diriku tanpa tuntutan melainkan dengan harapan. Tak ada yang bisa kuhadiahkan untuk Ningsih kecuali kesediaanku menyayanginya dengan syukur, dan kuharap dia menyayangiku dengan sabar.

Berbulan-bulan lewat, hubungan yang sejak semula dibatasi dengan diam-diam kini menjadi semakin jelas. Tak lain semenjak kedatangan orang kaya yang hendak memperistri Ningsih, aku semakin tersisih. Orang tua Ningsih mempertegas larangannya untuk berhubungan  denganku secara serius, sementara orang-orang sekitar yang kadung akrab dengan cerita asmara kami saling menebak akhir cerita yang bagaimana. Aku dan Ningsih lalu memutuskan bertemu. Ia hadir dengan air mata tak hanya menggenang. Lalu ia jatuh, mengalir dengan deras, dengan jerit hati yang tidak tertahan.

Mas Marto, hubungane awak e cukup sampek kene wae. Sampean oleh loro ati, tapi aku ra iso dadi anak durhaka.” Ucap Ningsih.

Tidak ada yang lebih menyiksa perasaan anak gadis kecuali pilihan antara bakti dan perasaan cinta sebagai tabiat manusia. Lalu aku tawari dia kabur, ke kota yang jauh, mengundi nasib, menjelaskan penolakan atas ketetapan orang lain, membuktikan bahwa cinta memiliki jalan lain. Ningsih diam.

Bagiku tak ada beda antara diam dan penghianatan. Seperti tak jelas mana ketidaksiapan memperjuangkan tekad dengan keteguhan pada bakti orang tua. Aku kecewa. Dan diamnya mengakhiri usahaku, dan diamnya memperjelas semua telah usai.  Aku pergi meninggalkan dia mematung bersama tangis dan ketidakmampuan melawan kehendak di luar kedirian.

Minggu ini Ningsih akan menikah, entah terpaksa atau dia menyadari kekuranganku sebagai manusia, toh sama saja. Dia akhirnya menikah dengan pria pilihan keluarganya. Tak berselang lama dari lamaran, tanggal baik ditentukan, pernikahan digelar. Pesta dihelat dengan suka-cita keluarga, tamu hadir menyaksikan kebahagiaan bersama wajah Ningsih yang samar-samar menghadirkan bahagia. Tapi di sini aku terlampau sakit.

Di sudut kamar, mataku kosong. Pernikahan Ningsih dengan orang yang dipilih orang tuanya tak ubahnya bom waktu yang telah meletus. Ia tak hanya menghancurkan tubuh tempat jiwaku bersemayam, tapi bom itu membunuh kemungkinan-kemungkinan yang aku upayakan. Hancur tanpa sisa. Tak ada gambaran masa depan yang ingin aku tapaki dengan diri sendiri atau orang lain sesudahnya. Dunia seakan mencampakanku dengan getir yang teramat. Aku hampir mati, aku menghendaki mati.

Hai-online.com / Grid.com

Kuhantamkan tangan mengepalku berulang kali dinding rumah, aku jambak rambutku lalu aku benturkan kepalaku pada benda keras. Semua gelap, aku tergolek di ujung meja. Masa depan kini hanya mimpi yang tidak akan mungkin, sementara kenangan menjadi bayangan yang menghantui. Ialah kenangan, ialah masa depan sesungguhnya.

Seminggu lewat, sebulan berlalu. Tak ada yang berubah dari cara pandangku memaknai dunia. Tatanan feodal tak pernah menghargai kasih sayang, ia hanya menghargai kehadiran yang punya nilai saat dikapitalkan; uang, jabatan, kedudukan. Ningsih menjadi satu wajah yang membuat rasa benci yang teramat dalam. Ia bersama yang lain menjadi tumpukan resah yang menghadiahiku rasa sakit yang teramat.

“Kasian Marto, wes pirang-pirang ndino ora gelem mangan, adus yo ora, nik kamar ngebleng, pisan pindo tak rungokne bengok bengok, misah-misuh.” Ujar bapak Marto.

Ibunya yang sejak awal menyiapkan kelapangan hati atas segala kemungkinan hanya bisa menangis. Rasa cinta yang teramat hanya melahirkan ketidaklogisan dalam berfikir, ia tidak hanya membodohkan tapi merugikan.

“Yuh piye, Pak? lek anak e awak e dewe dadi edan? Wiwit mbiyen wes tak kandhani demen kui ojo nganti kepati-pati. Njur kedadean ngene iki saiki.” Sahut ibunya sambil mengusap air mata.

Kepedihan yang menyelimuti hati Marto tak hanya membuahkan sesal keluarga, tapi melahirkan kepedihan lain. Marto tidak hanya patah hati, tapi ia dibuat gila oleh perasaan dan harapannya.

Setelah lama mengurung diri, kini Marto membawa bunga rampai dari beraneka jenis bunga yang ia ambil dari taman kecilnya di rumah. Rangkaian bunga yang ia susun menyerupai kalung, lalu ia kalungkan pada lehernya. Lalu dengannya ia menandai diri serupa manusia yang memiliki kehormatan paling agung karena dia tak hanyut pada tuntutan sekitar, pada tuntutan feodalistik.

“Hanya menjadi gila aku bisa melawan pandangan yang kadung menggurita. Tapi aku tidak gila, aku terhormat,” teriak Marto sambil tertawa terbahak-bahak, sampai akhirnya diam dan menangis sejadi-jadinya di depan rumah. []

Cerpen Pernah Dimuat Di Majalah Sastragama 2020 dengan Judul 'Bunga Rampai'


Dian Meiningtias
Perempuan yang Bercita-cita Jadi Dukun
bisa disapa via fb: Dian Meiningtias


Pageviews