Namaku cermin rias datar. Memantulkan aneka wajah terekam. Pribadiku dingin, diam dan angkuh. Aku punya segalanya, kartu As milik man...

Cermin Manusia



Namaku cermin rias datar. Memantulkan aneka wajah terekam. Pribadiku dingin, diam dan angkuh. Aku punya segalanya, kartu As milik manusia yang mengencaniku dengan buta. Setiap pagi akan ada dua orang menghadapku diam-diam, lewat pukul 02.00 WIB.

Biasanya mereka datang tergopoh-gopoh, setengah mabuk, hingga tak sadar adanya aku, menggantikan tugas dua malaikat, menukar tambah amal dan pahala.

Ibuku di kamar sebelah dengan ranjang empuk mirip sofa. Nyawanya kadang hadir tapi lebih banyak mati suri atau melayang-layang di atas dipan. Bajunya, sudah seperti saringan tahu bahkan bulu ketiak yang ia cukur habis masih terlihat sisanya. Ia sudah tua, tapi ceritanya tak pernah habis untuk didongengkan padaku.

Di hari-hari selanjutnya ketika ia senja masih disisipkannya narasi mitologi ke alam bawah sadarku. Aku mengingatnya dan nada-nada di penghujung surup tak berhinggga. Pada akhirnya ia senja dan kembali manja.

Secara biologis mungkin aku punya benda tumpul, tapi tak nampak jantan bagiku. Aku berharap memiliki benda itu sebagai salah satu anggota lunak tubuhku. Kata orang, ia punya kuasa menusuk. Perempuan-perempuan yang menatap lamat-lamat sembari membenarkan gincu atau sekedar menyapukan bedak sering membayangkan tertusuk dari belakang.

Aku yakin itu menyakitkan, tapi orang-orang ini menikmatinya, aneh saja. Perempuan-perempuan itu lalu mati muda. Kematian seperti goa-goa yang gelap menuju sorga dan kelipatannya.

Secara naluriah aku adalah lobang-lobang itu. Sangat feminin untuk ukuran sesuatu yang tanpa benjolan, gundukan bertubi-tubi, sedikitpun. Tapi tak nampak aku yang seperti perempuan bergincu atau alis tebal yang lalu lalang menatapku memperlihatkan kemolekannya, kesempurnaannya. Kadang hanya ibu-ibu paruh baya, bernada sumbang mengalunkan tembang lawas, nafas cekak, nada sumbang, dan lembek, tak keset lagi.

Tapi mereka tak berkelit sedikitpun dari pertanyaan-pertanyaanku tempo hari. Mereka menjawab sekenanya, tapi mengena. Hidup untuk cari makan, sedang jika tak ingin cari makan, yaa jangan hidup. mereka berkelit jika sesungguhnya butuh uang, bukan sekedar buat penyambung hidup. tapi uang banyak, berlimpah-limpah biar dihormati, biar punya harga, biar tak lagi diremeh rendahkan orang.

0 komentar:

Menulis masih menjadi salah satu media untuk menjadi abadi.  Dengan terus menerus menelurkan atau melahirkan karya, seorang penulis...

Penulis dan Takdir Sebuah Tulisan




Menulis masih menjadi salah satu media untuk menjadi abadi.  Dengan terus menerus menelurkan atau melahirkan karya, seorang penulis memiliki harapan besar untuk bisa dikenang oleh dunia. Banyaknya karya yang dilemparkan ke publik memang akan mendatangkan beragam bentuk apresiasi, kritik dan lain sebagainya. Namun bagaimanapun bentuknya, tulisan tersebut memang secara berangsur akan ikut mengabadikan nama penulisnya.


Selain itu, penulis juga bisa mendapatkan banyak keuntungan dari hasil kerja intelektualnya. Tidak sedikit penulis yang kemudian melacurkan diri dengan terus menerus menulis hanya agar mendapatkan royalti, fee, benefit, atau istilah yang lain lagi. Yaa, tidak sedikit (mungkin juga termasuk yang sedang menuliskan ocehan ini).

Saya rasa hal demikian bukan sebuah kenistaan, bukan cara yang licik, bukan sesuatu hal yang buruk, sehingga mendatangkan kemudharatan bagi yang lain. Betapapun niat menulis yang demikian sangat materialistik, akan tetapi saya mulai menganggapnya wajar saja, manusiawi. Mengingat juga, menulis tidak memperhitungkan bagaimana niat si penulis, sama sekali. Pembaca kebanyakan hanya tahu tulisan yang jadi, lalu membacanya. 

Jika itu berupa motivasi, merasuk ke hati, maka diterapkannya. Jika itu menyoal tips dan trik yang juga dirasa sesuai dengan keadaan pembaca, mereka mengaplikasikannya. Sesimpel itu, dan jarang sekali orang Indonesia yang sampai mendalam menyerap sebuah isi tulisan.

Para akademisi? Saya pun bisa menghitungnya dengan jari beberapa kali saja. Tulisan-tulisan hasil jerih payah atau hasil pemikiran, pencarian ide yang menggebu-gebu, hingga lupa tidur, buang air, dan makan, pada akhirnya hanya menjadi tulisan sampah yang hanya bertahan beberapa minggu saja. Setelah itu dilupakan, tertumpuk oleh tulisan-tulisan selanjutnya yang lagi-lagi tidak begitu mengindahkan kualitas isi atau niat si penulis dalam melahirkannya.

Pada akhirnya, penulis memang sudah mati ketika sebuah tulisannya dilemparkan ke wajah publik. Ia tidak akan lagi memiliki daya untuk sekedar menyampaikan gagasan utama dari apa yang dituliskannya, karena pembaca sudah lebih dulu segan menerima kehadirannya, loh...

Betapapun tulisan itu diniatkan menjadi luhur pada waktunya, jika publik tidak menghendakinya, maka sia-sialah ia. Begitu juga dengan tulisan dengan niat yang biasa-biasa saja, atau menulis saja, untuk benefit dan lain sebagainya. Tulisan tersebut akan diperhitungkan sesuai harga pasar. Kehendak tertinggi yang menjadi takdir terakhir tulisan adalah pada pangsa pasar. 

Jadi penulis sudah tidak punya kuasa apapun atas tulisan-tulisannya. Bukan penulis yang membuatnya (tulisan) bisa terus hidup atau mati.  Ia memang akan abadi, namun dengan takdirnya sendiri. 


Akan tetapi sebagai penulis yang punya misi kemanusiaan, baiknya ada harga yang pantas untuk tiap tulisan yang dilahirkan. Bukan semata ingin atau butuh. Lebih dari itu, untuk tetap menjunjung harga kemanusiaan yang mulai dikikis banyak kepentingan. Karena sebaik-baik manusia adalah ia yang mampu bermanfaat bagi sesamanya. Jika hal yang bisa kamu lakukan untuk menjadi manfaat adalah menulis, maka menulislah untuk kemanusiaan. [] 

0 komentar:

“Ada banyak tragedi terjadi di masa itu. Banyak darah yang tercerai dari tubuh pemiliknya. Hujan daun, hujan ranting, gempa, dan hujan air...

Kertas Buram yang Berdarah

“Ada banyak tragedi terjadi di masa itu. Banyak darah yang tercerai dari tubuh pemiliknya. Hujan daun, hujan ranting, gempa, dan hujan air mata. Ada tragedi mencekam terjadi kala itu untuk satu kebutuhan yang tak terkira, untuk ia yang katanya manusia.”


Tidak ingat kapan pertama kali aku dilahirkan menjadi sedemikian kejam. Aku tidak punya ingatan tentang bagaimana menjadi sebuah alat yang menguntungkan, tapi kejam. Di sisi lain aku terbuang sia-sia, terinjak-injak seperti sampah. “Atau memang aku hanya alat untuk menjadi sampah?

Malam itu seorang pemuda membuka kelambu tempatku bersemayam. Kau menggoreskan pena di kosongnya dawaian. Kau membuatku memutar ingatan yang tidak pernah kumiliki. Kau menuliskan ‘Bumi Tuhan, 2016’ dengan tanggal yang tidak jelas antara simbol 14 atau 19 di pojok kanan atas. Lalu kau mengeluh, menuliskan keluhan dalam larik bermetafor yang tak kumengerti maknanya. Kau juga keluhkan ketidakmampuanmu mengatasi kegelisahan yang sesungguhnya kau ciptakan sendiri.

Aku rasakan benar tekanan pada pena yang kau tumpukan. Benar-benar gelisah, kacau, tidak stabil. Marahkah? Sayangnya aku buta, tak mampu menerka ekspresi wajah laki-laki mudaku. Gerat-gerat tinta yang kau torehkan, membuatku berpikir kau sedang kesal. Sayangnya lagi, aku tuli. Tidak bisa mendengarmu menggerutu. Tidak mampu juga mendengar batinnya bergemuruh mengutuki kehidupan yang kau jalani. Kau juga mengutuki para penguasa yang tidak lagi mampu transparan dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Sial benar hidup menggantung nasib. Tidak pasti.”

“Jancuk… seharusnya aku tidak lahir saja.”

Atau mungkin, “Keparat mereka. laik broker kelas menengah.”

Lalu kembali mengutuk dirimu atas ketidakbecusanmu melakukan sesuatu, setidaknya untuk merubah takdirmu sendiri, kau tidak mampu. Ah, sayangnya aku benar-benar tuli, sehingga hanya bisa menerka-nerka, mencari tahu sendiri. Lewat semilir angin yang membawa uap api, lewat emosi tiap detik, tiap menit, jam kemudian tahun-tahun berganti, dalam tiap paragraf yang berusaha kau rangkaikan.

“Kemarin aku melihat film dokumenter berjudul Green.

Kalimat pertama di paragraf kedua sangat mudah kutebak, tanpa harus menafsiri pucuk pena yang kau tekankan. Kau menuliskannya tepat di tengah dengan huruf balok. Lalu memberi warna merah pada awal kata kalimat tersebut.

Aku mulai tertarik dengan kata ‘Green’. Aku membayangkan sebuah padang rumput hijau di awal musim semi, sebagaimana yang kerap dilukiskan oleh anak-anak di bangku sekolah dasar kala itu.

Mereka sering membuat sket berlatar sebuah padang rumput dengan beberapa pohon berusia senja, sehingga mampu tampil dengan daun-daun lebat, batang besar dan kokoh, akar tunggangnya menyembul, dengan banyak ranting memenuhi tiap sisinya. Cabang-cabang memanjang membentuk formasi melingkar, sehingga dapat menjadi pelindung makhluk-makhluk yang menetap di bawahnya.

Sementara aku tengah membayangkan tergeletak di padang, di bawah pohon itu lalu angin membolak-balik bagian tubuhku yang rapuh, dengan ketukan yang terarah. Berapa berartinya ketika mengimajinasikan segenap peristiwa yang mereka, para manusia itu tuliskan, dapat terekam sampai akhir napas mereka, dalam lembar-lembar lusuhku ini? Aku merasa perlu berbangga diri atas hal itu.

Tapi tidak lama berselang, imajinasiku berubah saat kau mulai menulis lebih banyak, tentang segala yang kau saksikan dalam pemutaran film documenter tersebut. Tentang para binatang yang kehilangan tempat tinggalnya, tentang monyet yang kau sebut berulang-ulang dengan kucuran air mata, dan hutan-hutan yang beralih fungsi menjadi ladang sawit.

Barulah aku sadar bahwa ‘Green’ yang kau maksud dengan tekanan warna merah itu hanyalah imaji kosong yang timggal kenangan. Bahwa atas dasar pemenuhan pangan dan pemanfaatan sumber daya alam, makhluk sejenismu di luar sana telah mencerabut hak-hak makhluk hidup lain. Naasnya ini telah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, bahkan saat ruhmu belum tentu memiliki jasad seperti saat ini.

Di tengah pergumulanmu, tiba-tiba kau mencengkeramku kuat-kuat. Melupakan apa-apa yang telah berhasil kau tuangkan dengan amarah. Kau hampir saja mencabutku dari saudara-saudaraku.

“kenapa aku bisa menikmati tanpa tahu sejarah pembuatanmu yang penuh tragedi?” Tulismu di akhir halaman pertama malam itu. Membuatku semakin tidak paham atas apa yang terjadi.

“Ini hidupku menggantung padamu, hanya kertas buram. Berarti aku telah berkontribusi membunuh habitat mereka.”

Kalimat itu kau pasang pada saudara mudaku, halaman ketiga. Aku mencoba paham, mungkin kau sedang tidak percaya dengan sesuatu. Kau menyebutku pada baris itu menandakan kau tengah mencoba berdamai dengan kemelut sejarah kelahiranku, hingga sampai di tanganmu.

 Kau menulis, tapi aku rasai basah dan saudaraku hampir sobek karena itu. Tapi ini bukan air. Cairan pekat, merah padam, anyir. “Ada banyak tragedi terjadi di masa itu. Banyak darah yang tercerai dari tubuh pemiliknya. Hujan daun, hujan ranting, gempa, dan hujan air mata. Ada tragedi mencekam terjadi kala itu untuk satu kebutuhan yang tak terkira, untuk ia yang katanya manusia.”

Kau berdarah sembari menuliskan ‘banyak darah tercerai dari tubuh pemiliknya’. Aku atau kau yang kejam melukai dirimu sendiri dengan menjadikan aku dan saudara-saudaraku sebagai alas? Nyatanya tidak. Kau ingin aku ingat bahwa kelahiranku penuh tragedi pemusnahan, pohon tumbang dan daun-daun jadi lugur, para binatang jadi janda, yatim, yatim piatu, dan mati tak tersisa. []

0 komentar:

Aku bertemu dengan Anthony enam bulan lalu. Seorang cilik mengantarkannya dengan wajah khawatir, takut aku akan merendahkan sang tokoh uta...

Wallis, Kopi, dan Perjalanan Ragam Wajah

Aku bertemu dengan Anthony enam bulan lalu. Seorang cilik mengantarkannya dengan wajah khawatir, takut aku akan merendahkan sang tokoh utama. Padahal tidak, kurasai benar ketertarikanku padanya, dan 678 halaman selanjutnya. Aku mengaku, butuh waktu panjang untuk menyelami apa yang diinginkan oleh seorang Anthony Capella dari novel yang ia beri judul The Various Flavours of Coffee –diterjemahkan oleh Gita Yuliani dengan judul Rasa Cinta dalam Kopi.

Di awal percumbuan, ia memperkenalkan Robert Wallis, laki-laki 22 tahun, pengangguran, punya harapan besar menjadi penyair kelas atas. Kisah dimulai dari pertemuan singkat di kedai kopi antara seorang Wallis dengan Samuel Pinker, pemilik Castle Coffee. Pertemuan yang membuat kehidupan seorang Wallis berubah 180 derajat. Narasiku memang klasik, tapi tolong bersabarlah sampai tulisan ini selesai.

Pinker kemudian mempekerjakan Wallis, menyuruhnya membuat buku pedoman cita rasa kopi, lewat pencicipan yang dilakukannya bersama Emily, putri sulung Pinker. Petualangan seorang penyair gagal yang kemudian terjun menjadi pegawai di perusahaan kopi baru di mulai, ketika Pinker meminta Robert Wallis ke dataran Afrika, untuk membuka lahan dan menanam kopi. Bersama Hector –orang kepercayaan Pinker, Robert menyusuri pelabuhan demi pelabuhan, melakukan pelobian, kerjasama, dan bertemu dengan banyak manusia yang benar-benar baru baginya.

Anthony, lewat perjalanan Wallis berusaha memberikan gambaran yang kompleks tentang keadaan pada saat itu. Seperti persaingan dagang, perebutan lahan, dan perbudakan yang dikata sudah dihapuskan, tapi tampil dengan wajah baru. Sungguh aku ingin menceritakan ulang detailnya, menceritakan bagaimana Wallis menjadi pelancong sejati, lalu putus asa, dibutakan cinta, dan kembali dengan hampa. Tapi akan lebih mudah menceritakan apa yang Anthony bisikkan padaku pada jarak sekian tahun cahaya.

Persaingan dagang dan keyakinan Pinker akan dapat menyaingi Brazil dalam menanam kopi akhirnya membuat Wallis benar-benar pergi ke Abyssinia. Di sana ia bertemu dengan Ibrahim, seorang Arab yang memiliki budak bernama Fikre. Perjalanan Hecktor dan Wallis memang seperti tanpa kendala dengan bantuan Ibrahim. Mereka berdua sampai ke tempat yang dituju, bertemu dengan pribumi dan melakukan basa-basi. Mungkin ini penjajahan dengan aksen yang sangat halus. Sehingga pribumi sudi menebang jutaan pohon, membakar sisanya, dan kemudian menanami lahan tersebut dengan kopi.

Singkat cerita perkebunan itu gagal panen. Meski berusaha menyelamatkan sebagian kecil, tetap tidak mampu mengembalikan keadaan. Wallis yang menyukai Fikre benar-benar dibutakan oleh cinta. Sehingga semua uang yang seharusnya bisa digunakan untuk perkebunan, digunakan untuk menebus perbudakan Ibrahim atas Fikre. Kisah cinta itupun sesungguhnya tak ada, sebab Fikre kabur setelah terbebas dari Ibrahim. Wallis memang digambarkan sangat malang. Kemudian oleh penduduk asli ia diminta pulang, kembali ke asalnya. Dan semua yang telah diberikan almarhum Hector kepada pribumi, dikembalikan oleh mereka, hanya agar Wallis bisa pulang.

Sementara di London, riuh dengan gerakan yang tengah memperjuangkan hak suara perempuan. Golongan liberal yang pada awalnya membela keberadaan gerakan tersebut justru bungkam dan abai setelah mereka memenangkan kursi parlemen. Anthony juga menjelaskan tragedi pengurungan salah satu pejuang dengan apik.

Ditampilkannya Emily sebagai sosok yang militan tapi tak bisa berbuat banyak karena kungkungan sang suami, yang menjadi orang paling berpengaruh di partainya. “Tetapi bagi Arthur, istri yang senang berdebat adalah tantangan bagi kewibawaannya. Arthur menghendaki kebungkaman, keteraturan, dan penerimaan...” (hlm. 472)

Pada saat itu, posisi perempuan memang sangat jauh dari setara. Di tempatnya berdiri penuh dengan keteraturan yang dibuat oleh pihak laki-laki. Posisinya sebagai perempuan sekaligus istri menjadi sangat formal dan anteng. Anthony sempat memberitahuku bahwa pada saat itu, perempuan yang memiliki semangat memberontak sedikit saja, bisa dikata terkena histeria. Di mana hal tersebut membuatnya harus menjalani serangkaian perawatan untuk kemudian menjadi tenang beberapa saat.

Sekembalinya Wallis,  Castle Coffee telah berubah menjadi perusahaan besar dengan keuntungan yang terus meningkat. Demi membangun sejarah namanya, Pinker bekerjasama dengan Howell, pemilik perkebunan kopi terbesar di Brazil sekaligus pesaingnya. Robert Wallis sempat menjadi kaki tangan keduanya. Tapi kemudian ia memilih tidak ikut campur, ketika tahu bahwa apa yang akan dilakukan oleh Pinker dan Howell dapat mematikan produsen-produsen kecil. Pinker ingin memenangkan bursa saham dengan cara apapun. Termasuk menciptakan segala resiko dan kerugian bagi yang lain.

Hal-hal yang diceritakan Anthony memang membuatku melongo dan tidak mampu mencerna makanan dengan baik. Akan tetapi membuatku memahami bahwa ambisi akan membuat kita menjadi bukan manusia. Ah, aku mulai nglantur. Setidaknya aku butuh waktu enam bulan untuk bisa mengenal Robert Wallis yang diceritakan oleh Anthony.

Bagian kelima atau lembar-lembar terakhir dari novel ini baru kuselesaikan tiga hari yang lalu. Akhirnya memang sangat suram. Bursa saham memang dimenangkan oleh Pinker. Gerakan perempuan akhirnya mendapat tempat yang pantas, lama setelah kematian Emily. Sementara Robert Wallis, ia kembali menulis, menjadi penyair sebagaimana keinginan di waktu muda. Namun ia juga adalah seorang pedagang kopi, yang jujur dalam menyajikan tiap cangkirnya. “… Bagiku sesuatu harus terasa sebagai apa adanya, dan bukan apa yang kau inginkan. Kekurangan kopi sama juga menjadi bagian dari sifatnya seperti kebaikannya, dan aku tidak mau menutupinya.” (hlm. 677)


Anthony Capella memberi kesan yang mendalam. Kompleksitas yang ia hadirkan dalam novelnya tidak main-main. Ia menggunakan data dari banyak sumber untuk membuat fiksinya menjadi sangat realis. Jika membacanya ulang, akan ada sentuhan lain selain soal kopi, persaingan dagang, cinta, perempuan, dan politik. Anthony juga membahas perubahan-perubahan yang tidak bisa diberhentikan. Soal kekuatan ayyana, ruh pohon yang masih diyakini oleh masyarakat Afrika di pedalaman, soal deforestasi hutan dalam lingkup yang sangat kecil, dan soal kemanusiaan, yang selalu hadir dengan ragam wajah.

0 komentar:

Apa yang salah dari debur ombak sepanjang hari? Tidak ada. Tidak ada yang salah, sudah garisnya setiap ombak lalu lalang. Datang per...

Di Tegur Debur Sehari



Apa yang salah dari debur ombak sepanjang hari? Tidak ada. Tidak ada yang salah, sudah garisnya setiap ombak lalu lalang. Datang pergi, bukan sesuka hati. Dan mereka masih diam menyaksikan kekalutan ombak yang entah membawa kenangan atau impian atau kegelapan masa depan.

“Ini adalah salah satu impianku, duduk memandang segara tanpa sepatah kata pun kita ucapkan.”
Merci…

Mereka kembali diam. Mendengar suara angin ribut di pelepasan senja menuju mega. Memandang laut yang tak kenal tenang. Sembari menyaksikan suami istri meminta sang anak –kutaksir usianya baru menginjak 7 tahun– diminta mengambil gambar kedua orangtuanya.

“Sekarang sudah beda masa. Orang tua pun ingin tampil eksis di media.”
 “Yaa.. ini bukan masamu yang hanya bisa memegang handphone dengan permainan ular yang tak bisa menembus dinding.” Sreno hanya tersenyum kecut.

Masing-masing mata masih memandang ke arah segara lepas. Dengan cerutu di masing-masing mulut yang dihisap perlahan, tapi pasti ia akan segera mangkat dari jemari-jemari itu.

“Ah… tentang segara, aku jadi teringat dengan Segara Alam, putra Hananto Prawiro. Kau ingat, Sre?”
“Tentu, Ruk… bagaimana aku lupa dengan novel yang memberikan sejarah lain di balik perusuhan yang terjadi sejak Soekarno turun tahta?”
“Kita tidak sedang membahas siapa pemegang kemudi segala sejarah, kan?”
“Sudahlah, Ruk… kau bebas diam hari ini, dan aku tidak akan meminta apapun darimu.”

Tentang ombak, siapa yang menyangka mereka merekam segala kejadikan mengerikan yang di alami semesta? Oleh sesamanya, tentang manusia-manusia yang punya banyak rupa dan tingkah.

Ini tentang ombak yang kita lihat selama ini menderu penuh kecaman. Ada orang kencing sampai segara, darah-darah bersahutan reuni di segara, dan ratap tangis meregang di segara. Semua hal menjadi satu di batas segara dengan ombak sebagai replika dari perasaan yang pancaroba. Lalu apa yang salah dari debur yang kian jalang sampai tak kenal pasang dan surut?

Rukmini dan Sreno masih saja canggung sebagaimana awal pertemuan mereka tempo hari. Padahal seandainya mereka masih sempat, hari itu banyak hal yang akan dapat mereka saling utarakan. Tidak sekedar menyoal ombak, termasuk kegelisahan terkait sengketa.

Tanah adat yang sedesa dengan ombak kemudian membuat masyarakat satu dusun enggan hormat kepada ulil amrinya. Tanah-tanah yang diakui milik pihak Perhutani, akan diminta pihak TNI untuk markas dan tempat latihan. Sementara kami tidak punya sertifikat tanah. Aku tidak menyesal menyebut kami, meski Sreno dan Rukmini enggan mengerti alur, latar dan sebab sengketa terjadi.

Mereka berdua malah melamun. Mengarang cerita dalam imaji masing-masing. Tidak ada satu kata, dehempun sama sekali. Batin yang penuh kemelut hanya dirasai sendiri, tanpa sudi berbagi.


“Dummmb.. Byuuur… Duuumb… Byuur…” Lamunan itu berhenti. Mereka basah oleh teguran ombak. Ia tidak izinkan dua orang itu berkecamuk sendiri-sendiri. []

0 komentar:

Mencintai NKRI Tapi Absen Toleransi? Jangan bilang cinta NKRI Tapi sering absen toleransi Tidak mau saling menghargai Innalil...

Naskah Da'i Tema Pemuda dan Toleransi

Mencintai NKRI Tapi Absen Toleransi?


Jangan bilang cinta NKRI
Tapi sering absen toleransi
Tidak mau saling menghargai
Innalillah innalillah

Pemuda yang cinta Indonesia
Menjunjung Bhineka Tunggal Ika
Dasar negaranya lima sila
Pancasila, itu kita
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Toleransi adalah menahan diri, berhati lapang, sabar. Toleransi adalah sikap mau menerima perbedaan, tenggang rasa, sikap saling menghargai, baik antar individu maupun kelompok dalam suatu tatanan masyarakat. Toleransi menjadi begitu penting, terlebih jika diterapkan pada negara kesatuan kita, Indonesia, yang notabene sarat akan keberagamannya, kebhinekaannya. Dengan mengedepankan sikap toleransi, maka akan tercipta suatu keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Toleransi dalam beragama juga diartikan sebagai sikap saling menghargai antar pemeluk agama, tidak mencampuri urusan agama lain, dan tidak memaksakan kehendak terhadap agama lain dengan tujuan apapun. Membiarkan agama lain melaksanakan ibadah keagamaannya dan tidak mengganggu ritual peribadatannya. Dengan menjunjung sikap toleransi, maka tidak akan ada golongan yang merasa paling benar sendiri, tidak ada yang merasa paling berkuasa, dan tidak ada lagi kesenjangan antar agama dalam kaitannya dengan hubungan sosial.

Sebagaimana dalam QS. Yunus: 99

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Dan jika Rabbmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

            Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang berhak mengadili atas keimanan atau kekufuran seorang manusia hanyalah Allah SWT, bukan kehendak manusia. Tidak ada manusia yang bisa memaksakan kehendaknya kepada manusia lain untuk memasuki suatu agama yang tidak dikehendaki hatinya. Sesungguhnya jika Allah menghendaki makhluknya untuk beriman, maka ia akan beriman, dan jika Allah tidak memberikan hidayah kepada makhluknya untuk beriman, maka ia tidak akan beriman.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah…
Belakangan ini kita sering sekali mendengar berita intoleransi, baik di media massa maupun media televisi. Selesai dengan satu kasus, muncul kasus-kasus baru yang tidak kalah menghebohkan dan membuat masyarakat Indonesia kocar kacir. Diawali dengan santernya kasus penistaan agama yang dilakukan oleh bapak Basuki T. Purnama sampai yang baru-baru ini kasus puisi ibu Sukmawati yang geger dan penuh dengan kontroversi.

Di lain itu ada beberapa kasus pelanggaran dalam kebebasan beragama yang juga terjadi di beberapa kota. Seperti pembubaran kegiatan bhakti sosial Gereja Katolik St Paulus di Bantul Yogyakarta dan juga kasus pengusiran biksu di wilayah Tangerang, serta kasus penyerangan yang bertempat di Gereja Katolik St. Lidwina di Sleman. Itu hanya di tahun 2018 ini saja, belum di tahun-tahun sebelumnya. Pada 2017 yang lalu, bahkan tercatat 155 bentuk pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di 29 provinsi di Indonesia (Setara Institute).

Indonesia saat ini seperti tengah berada pada suatu kondisi yang memprihatinkan. Permasalahannya semakin hari semakin kompleks. Mulai dari isu radikalisme, isu-isu sektarianisme, sampai memunculkan sikap-sikap intoleransi dalam beragama yang kemudian mengusik ideologi bangsa dan kebhinekaan yang dimilikinya. Imbasnya adalah terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat, tidak hanya di wilayah-wilayah yang rawan konflik, akan tetapi hampir di seluruh wilayah NKRI.

Kira-kira, kenapa hal-hal semacam itu bisa terjadi? Apa yang salah dengan negara dengan keberagamannya ini, sehingga begitu banyak kasus intoleransi terjadi secara berkesinambungan? Kemana pemuda-pemuda bangsa yang seharusnya bisa menjadi penengah dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi? Apakah pemuda bangsa ini sudah melupakan tugasnya sebagai khalifah fil ardhi untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa? Atau justru pemuda jaman ini justru latah dan malah ikut serta membela serta melanggengkan ketidakadilan dan tindakan main hakim sendiri, yang dilakukan oleh segolongan kelompok, yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini? Hilangkah sikap saling menghargai dalam diri kita?

Mari kita mundur ke belakang dan melihat kembali perjuangan K.H. Abdurrahman Wahid. Selama masa kepemimpinannya, Gus Dur senantiasa mengajarkan pentingnya mengedepankan kebhinekaan dalam menjaga NKRI. Ajaran yang saat ini lebih populer dengan nonsektarian ini mengajak seluruh pemuda, tanpa membawa SARA turut serta berdiskusi membincangkan masa depan NKRI dengan sikap yang terbuka (tidak eksklusif).

Selain nonsektarian, Gusdur juga mengedepankan humanisme dalam berbangsa da bernegara. Bahkan ada quote menarik yang sampai sekarang masih mendengung di telinga kita bersama, “Agama jangan jauh dari kemanusiaan.” Dari pesan itu saja sudah jelas bagaimana Gus Dur ingin memahamkan kita bahwa agama-agama yang kita miliki tidak boleh sampai membuat kita lupa, bahwa kita adalah makhluk sosial yang harus bersatu atas nama bangsa.

Pembelajaran sikap toleransi juga diajarkan oleh Gus Mus. Bagi Gus Mus, seseorang yang memiliki jiwa besar akan melahirkan sikap ksatria dan toleran, sementara seseorang yang jiwanya kerdil akan melahirkan sikap dendam dan kebencian. Pesan-pesan sederhana yang diungkapkan oleh kedua tokoh besar tersebut tentunya harus selalu menjadi pijakan kita sebagai pemuda untuk senantiasa menjunjung tinggi toleransi.

Dan yang ketiga adalah yang sering kita dendangkan tapi absen untuk kita aplikasikan. Yakni teladan Hubbul Wathan Minal Iman dari Kiai Wahab Chasbullah. Dalam syiir tersebut menegaskan bahwa mencintai negeri adalah sebagian dari iman. Tentunya ketika kita sudah mendeklarasikan diri untuk mencintai Indonesia, sama artinya dengan mencintai keberagaman atau kebhinekaan yang ada di dalamnya. Jika mencintai Indonesia tapi absen mencintai keberagaman Indonesia, maka cintanya adalah cinta yang belum hakiki, cinta yang masih setengah-setengah. Betul apa betul???

Dalam kitab Ahmad, bernomor 2003, terdapat sebuah hadits yang berbunyi:

حَدَّثَنِي يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ 
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ
Telah menceritakan kepada kami Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; "Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?" maka beliau bersabda: "Al Hanifiyyah As Samhah (yang lurus lagi toleran)"

Sikap toleransi itu seperti tanaman di dalam pot. Jika terus menerus atau rutin dirabuk, disiram, disesuaikan dalam mendapatkan panas matahari, maka akan dapat tumbuh subur. Toleransi antar umat beragama pun demikian. Jika antara mayoritas dengan minoritas bisa saling menghargai, meskipun berbeda suku dan budaya bisa saling tenggang rasa, maka sikap-sikap dangkal seperti eksklusivisme, sektarianisme, bahkan radikalisme pasti tidak akan tumbuh lama di Indonesia.

Jika masing-masing pihak mau untuk saling menjunjung tinggi toleransi, maka tidak akan ada lagi sengat sengit antar agama, suku, maupun ras. Jika sudah begitu maka dampak baiknya adalah tidak aka nada lagi kekerasan yang mengatas namakan SARA. Tidak akan ada lagi tindakan main hakim sendiri, fitnah-fitnah, maupun perusakan tempat ibadah. Dan jika semua elemen masyarakat mau mengedepankan sikap toleransi, maka keamanan dan ketertiban masyarakat tentu akan selalu terjaga. Semua harus dimulai oleh para pemuda-pemuda yang akan menjadi generasi penerus perjuangan bangsa ini. Jadi… sebagai pemuda kita harus berani memulai, mengukuhkan sikap toleransi untuk menjaga kesatuan dan persatuan NKRI.

Semoga sedikit yang bisa tersampaikan ini dapat bermanfaat di kemudian hari... aamiin aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


0 komentar:

Di bulan penuh kasih sayang, Februari yang telah lalu, akhirnya ibu kos saya memutuskan berpisah dengan suaminya. Pernikahan yang ...

Jangan Salahkan Perempuan Jika Akhirnya Memilih Sologami


Di bulan penuh kasih sayang, Februari yang telah lalu, akhirnya ibu kos saya memutuskan berpisah dengan suaminya. Pernikahan yang berjalan hampir sepuluh tahun dan nyaris tanpa masalah itu, nyatanya menyembunyikan banyak kemelut. Selama itu ibu kos saya, panggil saja Ros, memilih diam dan tidak bercerita pada siapapun, termasuk ibundanya, tentang apa-apa yang janggal selama pernikahan.

Jika dalam bahtera rumah tangga umumnya menganut asas suami harus menafkahi istri, bahkan sepeserpun ia tak pernah diberi. Jika keluarga itu menganut asas keterbukaan, bahkan struk gaji dan kemana larinya penghasilan suami saja ia terpaksa abai atau memilih tidak mengerti.

Bagi ibu kos saya, pernikahan tak lebih sebagai ruang bertemu antara dua manusia yang tak punya kesempatan mendapat cinta. Pernikahan sebatas rumah kontrakan yang menjadi tempat pulang sewaktu-waktu, setelah lelah berkencan dengan dunia, setiap hari.

Janda dan duda itu menikah dengan tanpa cinta. Entah bagaimana awalnya, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan mereka dalam pernikahan kedua. Ibu kos yang ringkih sudah beranak satu, kala ia menikah dengan pegawai negeri di kantor pemerintahan sebuah kabupaten di Jawa Timur. 
"Kamu itu beruntung, punya suami pegawai negeri." kata-kata sang ibu menancap kuat di hati perempuan 30 tahun itu.

Demi menjaga pernikahan keduanya bisa nampak harmonis, di tahun ketiga bu Ros membangun rumah megah, mengangsur segala kebutuhan, sampai membeli seperangkat emas, hanya agar terlihat mendapat nafkah dari suami tercinta. Kalau saya boleh ikut bicara, “Kau adalah perempuan romantis, bu. Berderma dengan banyak luka demi sembunyi dari sindiran orang atas bobroknya keluarga.

Perasaan bu Ros saat itu memang carut marut. Lelah dan kecewa dengan perlakuan sang suami, ia tutupi selama 10 tahun demi anak-anak yang bahkan hanya bu Ros seorang yang menafkahi. Ia biarkan suami yang dibangga-banggakan orang itu pergi sendiri, menyusuri kegilaannya pada rumah bilyard dan judi. Mengeluh? Menegur? Bahkan anak dalam kandungan pun mengerti kemana bapaknya sering lari. 

Saya ingat bu Ros pernah cerita ketika lelaki yang perutnya mulai buncit itu punya hutang di sana sini. Bu Ros rela dengan manutnya menegak baigon karena disuruh oleh suaminya. Setelah sang istri meminumnya, alih-alih pak Pras (nama samaran) ikut minum, ia justru lari.

Tapi bu Ros menutupinya dari keresahan tetangga, hanya agar tidak semakin mengancam 'keharmonisan' keluarga. Padahal semua tahu, bahwa keharmonisan yang diidamkan itu tak pernah ada, bahkan sekedar mampir mlipir di depan pintu istana megah itu tak sempat.

Bu Ros bekerja pagi hingga malam, menghidupi sendiri ketiga anak, tanpa pernah minta sedekah dari suami yang bahkan tidur seranjang berdua pun, tak pernah sudi lagi. Pengabaian demi mempertahankan sesuatu yang tak banyak menguntungkan itu memang layak disebut pernikahan palsu.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, pekerjaan suami yang mapan tidak menjamin keharmonisan. Di desa saya, menjadi pegawai negeri memang impian tertinggi. Ketika bisa mencapainya, maka derajat keluarga akan langsung terangkat. Tapi hal itu ternyata memang bukan jaminan gaess… Banyak pegawai negeri yang khilaf terus selingkuh, de el-el. Alih-alih harmonis, nyesek iyaaa…!

 Kedua, kungkung patriarkisme ternyata membawa dampak pada sikap perempuan yang lebih memilih diam. Buktinya demi tawadu’ kepada suami, bu Ros mengharuskan dirinya sendiri menyimpan uneg-uneg. Karena baginya, istri yang shalehah adalah istri yang manut kepada suami. Ibaratnya, “my husband is king of my life…” preettt…

Ketiga, pernikahan bukan jalan menuju surga. Imajinasi banyak perempuan itu masih berkutat pada pernikahan sama dengan kebahagiaan, dan surga akan mudah dicapai jika sudah menikah. Faktanya sangat kontradiktif. Masih ingat film Surga yang Tak Dirindukan? Nah… Salah satunya bisa berkaca lewat film itu. Bahwa kebahagiaan tidak selalu berbanding lurus dengan pernikahan, dan perempuan lagi-lagi menjadi pihak yang tidak diuntungkan.

Kisah pahit bu Ros yang dua kali gagal berumah tangga membuat saya pribadi menjadi semakin enggan untuk menikah. Jika Ayu Utami pernah mendeklarasikan dirinya sebagai parasit lajang, maka saya lebih memilih cara lain, yakni bersologami.

Bagaimana tidak? Sekarang hampir tiap hari saya mendengar berita perceraian di televisi, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya sendiri. Jadi jangan salahkan saya atau perempuan lain ketika memilih untuk bersologami.

Berita-berita tersebut membuat saya meyakini bahwa sologami adalah alternatif paling mungkin yang bisa dilakukan oleh perempuan. Selain untuk melindungi hak-hak perempuan, setidaknya dengan sologami saya belajar untuk lebih mencintai diri saya sendiri.


Bagi saya, adagium mencegah lebih baik daripada mengobati akan tetap berlaku. Sebagai perempuan yang sadar, tentu mencegah hati saya agar tidak terluka hukumnya wajib ‘ain daripada mengobati hati yang sudah pecah belah, karena akan tetap menimbulkan bekas dan bisa menganga sewaktu-waktu. []

1 komentar:

Kenalin_

My photo
Gadis yang Ingin Mati Muda. Sedang Menempuh Pendidikan S2 di UIN Sunan Kalijaga. Konsentrasi Islam dan Kajian Gender.