Dear, Ibu

 

Dear, Ibu

Bu, apa kabar?

Ini habis tahun pertama, tapi momen ramadhan ke-2 untuk tidak lagi merasakan menu buka dan sahur hasil olahan tanganmu.


Rasanya baru kemarin aku minta kau memasak ikan Semar pedas bumbu kuning, atau lodeh nangka muda, lalu esok harinya sesuap demi sesuap langsung bisa kunikmati, dengan lahapnya.


Rasanya baru kemarin, aku benci berada di dapur menemanimu mengolah aneka jajanan lebaran yang tak ada habisnya, rengginang, rempeyek, kembang goyang, kacang telur, tape ketan, kue satu.


Rasanya baru kemarin aku merasai keriput tanganmu yang membelai kaki dan membangunkanku untuk sahur. Hah, betapa malasnya membuka mata yang lengket, bergegas mengekor mengambil menu.


Rasanya baru kemarin kau mencium kening dan pipiku, seolah memaafkan semua kesalahan-kesalahanku yang lalu-lalu. Sedikit sesenggukan dan tawa kecil malu-malu, sebab kita jarang melakukan itu.


Rasanya baru kemarin, aku berani menceritakan sosok laki-laki yang kucintai, mengenalkanmu diam-diam lewat telepon singkat. Sementara di belakang aku meringis mendengar perbincangan kaku kalian berdua.


Rasanya baru kemarin, kau mencicipi sambal tomat buatanku yang tentu jauh dari buatan tanganmu. Tapi kau menyukainya, tanpa lauk tanpa kerupuk. Hanya nasi dan sambal saja.


Rasanya baru kemarin, kau membuatkanku berbagai olahan makanan yang tak perlu lagi kubeli di warung makan seberang jalan, mie ayam, rujak sayur, dan soto kesukaan kita berdua.


Rasanya baru kemarin aku membencimu setengah mati, mengingat-ingat kalimat-kalimat tajam yang kau sampaikan, tapi begitu rindu malam-malam yang hening di depan ruang keluarga itu.


Rasanya baru kemarin kau membelaku mati-matian di depan suamimu, memberikan restu tanpa pernah bertanya kepada siapa hati bungsumu berlabuh.


Rasanya baru kemarin, bu

Tapi aku sudah begitu rindu.

jasmine - pixabay/ignartonosbg

Dear, Ibu... 

Kau tahu? Ada banyak hal yang berubah dari anak bungsumu ini

Sekarang aku sudah bisa bangun untuk sahur. Meski aku tidak tidur, tentu

Aku bisa membuat menu berbuka dan sahur tanpa megandalkan orang lain

Aku bisa mengurus jemuran dan melipatnya tanpa menunggu habis untuk kucuci lagi

Aku bisa ke kamar mandi sendiri, tanpa membangunkan siapa-siapa

Aku bisa makan tanpa minta disuapi

Aku bisa menangis karena merinduimu, bukan hanya lelah karena perlakukan yang tidak kusukai

Aku sudah bisa mencintai orang lain dengan tulus, tanpa pamrih

    bahkan, aku sudah bisa berempati pada orang lain.



Tapi maaf,

Aku makin berat untuk pulang dan kembali ke rumah itu

Bukan karena tidak menaruh hormat pada suamimu, ayahku

    atau kenangan demi kenangan masa kecil dan jejak keluarga besar kita

Tapi rumah itu sudah bukan tempat pulang buatku


Aku tidak akan lari,

Selain hanya untuk menjaga kewarasanku.


Maafkan aku, bu

Mungkin aku terlalu egois.

Belum bisa berdamai dengan seluruh pemakluman atas apa-apa yang ada di rumah itu.


Semoga kau melihatku tumbuh lebih baik,

Tenang-tenang kau di sisi-Nya dan bahagia di sana.

Maafkan kedurhakaan dan kebencian yang selama ini kulimpahkan padamu.


Aku menyayangimu, selalu.

Ramadhan, 1445



Bungsu

Post a Comment

4 Comments

  1. Pada akhir nya kau jatuh cinta pada ibumu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, akhirnya aku bisa mencintai ibuku. 🦋

      Delete
  2. Puisi ini terlalu serius untuk dibercandai.
    Engkau tetap membara, tentu saja, beberapa helai daun lagi sebagai bahan bakar untuk kau menyala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa bantu saya mengisi bahan bakar yang hampir usang ini?

      Delete