Kopi lelet cangkir bercampur susu selesai diantar, bersanding dengan es jeruk pesanananmu. Malam ini setelah lewat satu bulan lalu, kita...

Capaian yang Abu-abu


Kopi lelet cangkir bercampur susu selesai diantar, bersanding dengan es jeruk pesanananmu. Malam ini setelah lewat satu bulan lalu, kita kembali duduk di kedai kopi yang sama. Lagi-lagi tanpa banyak bicara. Kau sibuk dengan desain pesanan karibmu, dan aku sibuk mencari kalimat pertama untuk naskah pesanan seorang klien dari tanah Gayatri moksa. Seperti biasa, kita haus capaian untuk menandai kemandirian diri sendiri.


Harusnya semua jelas.

Tidak bisa, mana mungkin kita minta jatah sebelum semua pekerjaan selesai?

Bukan minta jatah. Setidaknya ada pembicaraan soal berapa yang kamu dapat. Kita kerja profesional, kan?

Yaa, kau benar. pekerjaan ini tidak segampang yang mereka pikirkan. Sayangnya aku tidak seberani itu bicara soal harga.

Perbincangan mengenai ‘harga’ memang jadi masalah semua orang. Apalagi ketika berurusan dengan mereka yang lebih sepuh, kita yang merasa punya hutang budi, sehingga takut menciderai kepercayaan yang pernah dilimpahkan. Masalah krusial yang harus sedari awal disepakati ini pun menjadi boomerang bagi bocah-bocah yang baru memulai usaha mandiri macam kita, mendedikasikan diri sebagai freelancer, tapi selalu canggung ketika harus menentukan harga.

Walhasil, kita terpaksa riweuh sendiri. Terpaksa mengerjakan semua tanggungjawab yang dibebankan oleh klien, demi mendapatkan bayaran sesuai ekspektasi. Belum lagi jika bertemu klien yang punya banyak kemauan tingkat dewa, perfeksionis? Bisa jadi akan membuat pekerjaan kita makin lama selesai. Sementara bayaran hanya akan kita dapat, jika semua pekerjaan tuntas diterima oleh klien tersebut.

Yaa, begitu. Malam ini kita mengeluh lagi perkara yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Beberapa bentar balasan chat karibmu yang ingin tambahan desain ini dan itu jadi guyonan yang menyebalkan. Kukira hal itu juga yang kualami siang tadi. Beberapa pesan yang kuabaikan sedari pagi, lama-lama menggunung. Kuputuskan membukanya satu persatu.

Lalu kutemukan pesan dari seorang dosen yang meminta dibuatkan narasi soal perempuan. Tanpa basa-basi ia bertanya, kapan tulisannya selesai? Sementara sebelumnya sudah kujanjikan akhir Januari naskah bab dua itu kukirimkan. Tapi sampai cerita ini selesai, satu halaman naskah itu belum juga kukerjakan. Berdosa? Anggap saja tidak ada dosa di antara kita. Sebab menulis tidak semudah itu, bu… Rasanya ingin kukatakan demikian, tapi tak berani. Akhirnya kubalas pesan singkat itu dengan meyakinkannya, bahwa naskah bab dua akan segera selesai, tepat waktu.

***
Kau mau membantuku?

Tidak lihat aku sedang apa? (ketus seperti biasanya)

Sibuk, aku tahu… Tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu.

Jangan sekarang! maksudku kita bicarakan setelah desain ini selesai, bagaimana?

Kalau tidak mau membantuku, bilang!

Bukan begitu, bocah.
Baik aku minta maaf. Setelah ini, pasti kubantu.

Lalu kita diam beberapa bentar, menatap laptop masing-masing. Sesekali menyeruput kopi Temanggung Arabica yang kau bawa sendiri dalam termos mini. Mengabaikan sekeliling. Bahkan baru sadar musik kedai sudah lama berhenti. Lagu terakhir yang diputar pun kita lupakan. Hanya selingan gitar dari meja sebelah yang terdengar, ditambah beberapa tawa dari segerombol orang di sisi barat.

Tak lama berselang, pesan kembali muncul. Kali ini dari seorang ibu, meminta dibuatkan naskah puisi untuk gadis kecilnya yang duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Sekali lagi tanpa basa-basi.

Mba, bisa ya buatkan adek puisi soal perjuangan seorang ibu?
Adek lusa disuruh ikut lomba baca puisi. Temanya soal ibu.
Ditunggu yaa, mbaa. Terimakasih.

Aku hafal benar, ibu ini tidak pernah memberikan apa-apa selain rasa terimakasih yang mendalam. Menolak pun tidak mungkin, karena relasi yang kami jalin sejak satu tahun lalu membuatku tidak berjarak dengan keluarganya, terutama gadis berkacamata yang selalu didoakan oleh sang ibu, mengikuti jejak sebagai penyiar radio.

Siap, bunda. Nanti segera kakak kirimkan yaa, bund.

Akhirnya satu tugas gratis meminta dikerjakan secepat mungkin. Tanpa tahu berapa banyak pekerjaan yang antre untuk segera diselesaikan. Setidaknya aku masih berkecimpung di dunia yang sama, perkara menulis yang hampir tidak ada harganya sama sekali. Setidaknya aku menyukai pekerjaan ini, sebagai profesi dan bukan sekedar hobi.

Aku tidak tau, bagaimana denganmu?

Yaa, hampir sama. Mungkin perkara menulis dan desain tak ada bedanya.

Atau kita yang kurang tegas dan tidak profesional?

Mungkin, bisa jadi begitu. Lagipula, kita masih merintis.

Kurang sabar apa kita?

Aku sabar, kamu aja yang nggak sabaran. Ngadepin gitu aja ngeluh.


Aku diam lagi. Sebab kau mulai menyebalkan seperti sebelumnya. Menjadi karib baru yang anti mendengarkan keluhan. Padahal kita punya nasib buruk yang sama. Menjadi pekerja tidak tetap dengan bayaran yang tidak tepat pula. Mungkin kau merasa lebih beruntung, sebab ada tambahan amunisi dari berjualan kopi. Tapi dari sisi lain, aku juga merasa lebih beruntung sebab ada tambahan amunisi dari menjual diri…?! []

0 komentar:

Setiap persidangan itu digelar, tiap-tiap warga harus menyetor uang. Lebih dari satu juta rupiah untuk satu kali menghadiri sidang. Biay...

Kabar Murung Kaligede


Setiap persidangan itu digelar, tiap-tiap warga harus menyetor uang. Lebih dari satu juta rupiah untuk satu kali menghadiri sidang. Biaya sewa pengacara kondang dari ibukota memang tidak murah. Maka mau tidak mau mereka harus iuran, demi hak-hak mereka terwakili saat berhadapan dengan pihak TNI. Belum lagi iuran buat sewa tiga sampai empat kendaraan untuk bisa ke tempat persidangan yang memakan waktu sepersekian jam. Berapa biaya yang harus mereka keluarkan jika dalam kurun satu bulan sidang digelar 3-5 kali?


Tapi bagi warga Kaligede, keluar uang akan lebih baik daripada kehilangan rumah yang sudah mereka tempati berpuluh-puluh tahun, yang diwariskan oleh moyang sejak babat pertama dusun itu. Ganti rugi dan rumah yang rencananya disediakan oleh pihak lawan dianggap abang-abang lambe oleh warga. Sedang Bu Kepala Desa pilih main aman.

Sejak awal, hubungan kepala desa dengan warga Kaligede memang tidak harmonis. Dari tiga dusun yang dibawahinya, Ia dan suami –yang masing-masing sudah menjabat dua periode– menganggap warga Kaligede teramat kolot dan susah diatur. Sementara itu, warga Kaligede yang selama ini merasa dianaktirikan, karena tidak pernah mendapat jatah kursi perwakilan sebagai perangkat desa, pilih mengambil jarak.

Kegeraman warga Kaligede semakin memuncak tatkala mengetahui kepala desa beserta beberapa perangkat justru menjalin kerjasama dengan pihak yang ingin mengambil tanah warga, dengan alasan dijadikan markas tetap. Kerjasama kali ketiga itu terjadi satu bulan lalu. Tidak ada warga yang dilibatkan, kecuali ketua karangtaruna. Tidak hanya warga Kaligede yang bersungut-sungut, tapi beberapa warga dari dusun Panggungkalak dan Dlodo, yang notabene membela saudara-saudaranya yang tinggal di Kaligede juga ikut geram.

Kalau terus begini, tidak cuma nepotisme lagi, kita bakal diombang-ambingkan ndak jelas, mereka terus yang untung, kita bakal tetap kehilangan tanah ini.

antaranews.com

***
Auf, pemuda Kaligede. Baru saja pulang merantau dari Hongkong. Sejak tiga tahun meninggalkan rumah sampai kembali, ia merasa tidak ada perubahan. Tanah di dusun tetangga tetap menjadi sengketa, posisi kepala desa tetap dipegang oleh keluarga yang sama, perangkat-perangkat desa juga dipilih dari kerabat dekat si kepala desa. Ia merasa dipecundangi, tapi pemuda-pemuda seumurannya belum pada kembali dari merantau. Hanya Auf dan tiga perempuan yang kembali di waktu bersamaan.

Lalu kita mesti apa, Auf?

Kita harus bicara dengan ketua karang taruna sialan itu. Setidaknya dia bisa kita paksa menceritakan apa yang kemarin dia dengar waktu pertemuan.

Baik, setelah itu baru kita susun rencana, begitu?

Bisa jadi, Ro.

Rokis menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan Sulung, ketua karang taruna. Atas permintaan Auf, Rokislah yang bertugas mengajak Sulung bertemu di sebuah warung kopi di sisi timur pantai Dlodo. Tak perlu waktu lama, Sulung mengiyakan ajakan singkat pagi itu dan memutuskan berangkat menuju pantai sekitar pukul 14.30.  

Di sana sudah ada Auf dan Kisan. Mereka menunggu-nunggu kehadiran Sulung, tanpa berharap banyak. Mengingat Sulung seringkali tidak bisa mengutarakan semua hal yang ia ketahui pada karib-karibnya secara jujur. Apalagi antara Sulung dan Auf juga tidak pernah punya riwayat hubungan baik.

asapua.com

Aku sudah tau kalian di sini. Sulung datang lebih awal sepersekian menit.

Kau datang, akhirnya. Rokis persilakan tamu kehormatan kita untuk duduk dengan nyaman.

Kau jangan mulai, Auf. Duduklah, bang. Kau kan hapal siapa yang suka bikin onar. Pandang yang bikin kau rindu saja, misal aku, bang. Oh, biar kupesankan kopi dan gorengan dulu. Rokis berusaha mencairkan ketegangan antara Auf dan Sulung.

Sekembalinya Rokis, tiga orang itu masih belum bicara. Hanya saling memandang ke arah laut, entah canggung atau memang berusaha mendengar kalut yang dibawa tiap debur.

Bang, aku tidak suka bertele-tele. Tentu kau paham, kita semua di sini ingin tau apa yang kemarin kau dengar dari ibu kepala desa dan antek-antek TNI itu.

Hmmm… Aku sulit memulainya. Tapi aku sudah punya niat untuk menyampaikan kabar ini secepat-cepatnya.

Lalu kenapa tidak kau sampaikan setelah pertemuan itu selesai? dasar muka dua.

Auf, kau selalu menuduhku yang bukan-bukan. Sudah kubilang aku sulit memulainya. Lebih takut ketemu kalian.

Sul… kita teman dari kecil, kan? Anggap saja seperti itu. Lupakan dulu perseteruan yang pernah terjadi. Sekarang kau bisa menceritakan detailnya. Biar kami dan orang-orang Kaligede bisa segera ambil sikap.

Kisan, mulai cemas. Rumah orangtuanya adalah satu dari beberapa puluh rumah yang akan digusur jika pengadilan memenangkan pihak lawan. Sementara ia sendiri menyadari kekuatan lawan jauh lebih mengerikan, sebab ia punya apa-apa yang tidak dipunyai orang-orang dusunnya, terutama kekuasaan.

Kisan, maafkan aku. Setelah ini kau bisa kabarkan ke seluruh warga. Pengacara yang selama ini membantu warga Kaligede, sudah dipastikan bakal menerima suap. Jika itu benar terjadi, dalam waktu dekat kalian sudah pasti kalah.

Kenapa bisa? Pengacara itu sudah 8 tahun lebih membantu warga. Sudah banyak uang yang kami keluarkan, sul… Anjing semua ini.

Bang, apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Kau punya banyak kenalan kan? Mereka bisa membantu kita dan warga…

Auf, Ro… maafkan aku, setelah pertemuan kemarin, aku sudah berusaha menghubungi kawan-kawan di ibukota. Masalahnya beberapa warga Kaligede sudah menerima uang ganti rugi dan siap direlokasi ke perumahan atas. Dan masalah sengketa tanah, kau tentu tau siapa yang bakal dimenangkan pengadilan.

Tinggal tiga bulan lagi, untuk sidang terakhir, Kis… ini kabar buruk untuk kita.

haluanriau.com

***
Kelopak mata Kisan tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia segera berlari, memacu kendaraannya dan pulang menemui bapak ibunya. Mendengar apa yang disampaikan anak perempuannya, Sunaryo memukul kentongan di depan rumah. beberapa sandi yang sudah sangat hafal di telinga warga membuat beberapa warga langsung berkumpul di pelataran rumah Sunaryo.

Dengan muka muram, Sunaryo berusaha mengatakan apa yang didengarnya kepada warga lain. Masing-masing yang mendengar kabar itu menundukkan muka, menganggap perjuangan mereka selama beberapa tahun terakhir akan segera sampai pada kesia-siaan. Sementara ibu-ibu mulai mengutuk kepala desanya dan perangkat-perangkat yang dianggap sudah mencerabut hak-hak warga Kaligede atas tanah yang mereka tinggali.

Auf, Sulung dan Rokis buru-buru menyusul ke rumah Kisan. Mereka kaget melihat warga Kaligede sudah mengerubungi rumah Kisan dengan wajah murung yang marah. Mereka bertiga paham sumber kemurungan dan kemarahan itu. Tapi tak bisa berbuat banyak. Sebelum mereka sempat masuk ke rumah Kisan, tiba-tiba kerumunan warga itu bubar. Ternyata mereka sudah lebih dulu menyepakati sesuatu tepat sebelum ketiga bocah itu sampai di depan pekarangan.

Terimakasih sudah memberitahu kami. Setelah ini urusan orang-orang tua Kaligede. Kalian pulanglah. Sunaryo berbicara dengan lebih tenang daripada sebelumnya.

Tapi maaf pak. Boleh tau apa yang barusan kalian sepakati dengan warga?

Hanya sedikit rencana, untuk membuat orang yang gila kekuasaan jera.

Tanpa bertanya lagi, ketiga pemuda itu akhirnya pilih kembali ke rumah masing-masing. Mereka sadar diri bukan bagian dari Kaligede, tak boleh terlibat dalam rencana, sama sekali. Mereka hanya harus menyusun strategi untuk menggagalkan pembebasan lahan Kaligede, atau setidaknya mengulur waktu.


Dua hari berikutnya sesuatu yang aneh terjadi. Tak ada seorang perangkat pun yang datang ke balai desa. Padahal masih Selasa dan bukan tanggal merah. Tapi tak ada kegiatan apapun yang dilakukan. Setelah dicaritahu, ternyata semua perangkat yang kemarin menghadiri pertemuan menderita cacar dan diare secara bersamaan, termasuk kepala desa dan segenap keluarga besarnya. Hanya Sulung, anak terakhir kepala desa yang terbebas dari cacar. Sebab ia lebih dulu pergi ke Dlodo menemani kedua karibnya menyusun strategi. []

0 komentar:

  Kamu ngga bosan? Kenapa mesti bosan, Koes? Aku pernah bosan, tapi bakal lebih banyak amunisi setelahnya. Dua remaja itu ma...

Di Perjalanan Pulang


 Kamu ngga bosan?

Kenapa mesti bosan, Koes? Aku pernah bosan, tapi bakal lebih banyak amunisi setelahnya.


Dua remaja itu masih berjalan menyisir pasir hitam di bibir pantai Dlodo. Pasir bekas tambang yang gagal dibawa paksa oleh orang-orang kota. Sekarang pasir pantai itu jadi gunungan, spot selfie terbaik yang juga sempat mengundang sengketa. Mungkin sengketa kepemilikan lahan pantai ini adalah bentuk paling minimalis dari konflik Blok Barat dan Blok Timur.

Masyarakat dusun Dlodo dan dusun tetangga di kecamatan berbeda saling mendaku yang paling berhak mengelola pariwisata. Sampai pada akhirnya, pengelolaan dibagi dua. Jalan menuju bibir pantai juga jadi bercabang dua. Warga yang berjualan, beberapa terpaksa memindah warung atau mendirikan di dua sisi sekaligus. Beberapa kawan wisatawan hanya berharap, kisah mereka yang berkunjung ke pantai itu, tidak berakhir mengenaskan dengan mendua atau diduakan (bagian ini sebenarnya tidak penting).

Sore itu, sudah dua jam lebih Koesno dan Rukmini mondar mandir di sepanjang pantai. Sedikit perbincangan, seperti biasa. Tidak banyak hal yang bisa keduanya ungkapkan. Kadang hanya saling sindir, menceritakan kegagalan relasi yang dibangun masing-masing. Bahkan relasi pertemanan yang mereka jalin juga mulai anyep, sepah, kering. Seperti dua orang yang baru saja bertemu, kurang lepas dan cenderung banyak canggungnya. Hanya suara sapi-sapi yang kebetulan sedang dilepaskan dari kandang, mengisi kekosongan ruang antara mereka.

travelingyuk.com

Waktu yang masih setia di angka 17 lewat sekian, membuat sapi-sapi babon dan anak-anaknya belum dipaksa pulang oleh sang pemilik, malah dibiarkan ikut menikmati datangnya senja –tai anjing– di ufuk barat. Sementara para pemilik sapi seringkali tidak terlihat sliweran di sekitar ternaknya. Mereka pilih pulang, menyiapkan pakan bagi hewan ternak yang lain. Cukup percaya saja bahwa hewan-hewan mereka tidak akan hilang atau dicuri orang, sebab untuk bisa membawa kabur sapi-sapi itu, mereka harus melewati perkampungan masyarakat Dlodo.

Tempat ini terlalu sepi dan tidak menghasilkan banyak keuntungan kalo mau buka usaha. Mending kita keluar.

Keluar ke mana, Koes?

Malang, Surabaya atau ke kota-kota besar lain yang lebih menjanjikan.

Koes… kita punya segalanya di sini. Air dan tanah kita tak perlu beli. Kita punya hewan ternak dan lahan perkebunan kelapa masih subur. Buat apa merantau?

Banyak hal yang bisa kita temukan di luar sana, Ruk. Capaian-capaian baru, orang-orang baru dan tentunya usaha yang tidak akan mungkin bisa berkembang kalau kita hanya tinggal di sini.

Apa setelah kita dapat pencapaian yang banyak itu, kita bisa kembali ke tengah-tengah masyarakat. Atau capaian itu hanya berlaku untuk diri sendiri?



***
Beberapa bulan kemudian Koesno pamit. Ia memilih melanjutkan studi di luar kota. Berharap apa yang ia cita-citakan bisa segera terwujud, termasuk keinginannya untuk bisa studi ke Jepang, kemudian pulang, mendirikan usaha mandiri dan sukses tanpa harus terikat menjadi karyawan atau pegawai di industri orang lain (aku yakin pikiran semacam itu muncul karena dulu ia sering membaca buku-buku Andrea Hirata atau yang sejenis, atau menonton Laskar Pelangi? Mungkin, tapi entahlah).

Sementara karibnya, Rukmini pilih melanjutkan studi di kampus yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pilihan yang bersebrangan dengan ekspektasinya. Ia memilih tinggal sebab sampai hari terakhir pendaftaran, tak kunjung mendapat restu dari orangtua. Namun ada hal yang ia syukuri dari pilihannya untuk tetap melanjutkan studi meski tidak di luar kota. Gadis itu bisa lebih sering berkunjung ke pantai Dlodo seorang diri, demi menghilangkan penat atau remuk yang mengoyak akal sehatnya.

kompasiana.com

Laut memang selalu punya cara menghantam ego dan mendamaikan diri sendiri.
Tak peduli berapa juta ton sampah yang terus dibuang manusia
Laut tetap memberi apa-apa
Menjadi yang paling bijak mengobati kemelut dan sengketa
Membalut setiap jenis luka

Tak ada laut tanpa gemuruh
Tapi tiap-tiap debur ombaknya mampu mengikis pikiranku yang kisruh.

Sampai pada satu waktu, ketika Rukmini berkunjung ke Dlodo, wajah pantai tiba-tiba berubah. Merah muda yang kemerlap atau hitam manis tak lagi dijumpainya. Hanya bangunan-bangunan bekas warung, roboh. Tempat parkir kehilangan atap jeraminya dan di ujung barat, beberapa puluh tanaman bakau mati kering.

Ia pergi ke perkebunan kelapa, tempat biasa beberapa paman yang dikenalnya bersantai sambil meminum air kelapa muda yang baru dipanjat langsung dari pohonnya. Tapi di sana kosong. Tak ada sapi-sapi yang diikat, tak ada manusia yang bisa ia mintai jawaban atas apa yang terjadi. Akhirnya Rukmini pergi ke pemukiman warga Dlodo di RT.10, yang naik ke area perbukitan. Di sana, 11 rumah yang biasanya ramai oleh suara ibu-ibu dan bocah-bocah berusia 4 sampai 7 tahun, tertutup rapat, seperti sudah sangat lama tak dihuni. Lalu ia berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir kali menjejakkan kaki dan menemui masyarakat Dlodo.


Beberapa bentar kemudian baru ia sadari, kota telah membiusnya selama hampir 10 tahun. Studi strata satu yang ia jalani di semester kedua hingga ia diwisuda, membuat Rukmini kalang kabut membagi waktu untuk sekedar bersua dengan debur ombak yang setia menemani kekalutannya. Pekerjaan yang ia dapatkan satu bulan setelah resmi mendapatkan gelar juga membuatnya semakin tak punya waktu. Keinginannya menyusul sang karib yang berada jauh di kota tetangga juga membuatnya lupa dengan rumah dan karib-karibnya di pesisir Dlodo.

Sekembalinya ia dan Koesno ke kampung halaman, yang mereka dapati hanya sisa-sisa ampas yang tak berbentuk. Kesibukan kota besar membuat mereka tak sempat mendengar desir mesiu yang bercampur darah melumuri dusun kecil itu. Dlodo telah raib, bersama dengan kemelut sengketa yang tak berujung. Sedang anak-anak muda yang bosan hidup di pesisir dan dusun kecil itu, tak pernah sudi kembali ke rumah-rumah lama, tempat mereka semasa kecil menunggangi sapi-sapi di pinggir pantai.


Nanti, ketika mereka memutuskan untuk kembali, rumah-rumah yang sempat Koesno dan Rukmini singgahi hari ini –yang sudah tanpa penghuni– bakal membuat jantung mereka berhenti beroperasi. Nanti, mungkin kita akan menyadari betapa tempat terakhir kita pulang, yakni rumah adalah kenangan yang paling abadi.[]

0 komentar:

Kehilangan itu nyata. Aku merasakannya. Setelah semua sudut tubuhku digadaikan, menjadi penghasil kapital, aku hilang. Aku bukan lagi bung...

Aku Setelah Otoritasku

Kehilangan itu nyata. Aku merasakannya. Setelah semua sudut tubuhku digadaikan, menjadi penghasil kapital, aku hilang. Aku bukan lagi bunga sedap malam atau wijaya kusuma. Mungkin masih bagian keduanya, yang berhenti memproduksi wewangian. Yang tertinggal hanya mahkota-mahkota kering lusuh, siap gugur dan mati perlahan. Aku adalah sekam yang ditaburi tinta masa depan, penuh ketidakpastian dan mutlak fana. Yaa, harusnya aku tinggal telentang, berbaring di kasur empuk sembari menunggu izrael menyenggamai ruhku lalu menariknya perlahan, menuju Tuhan atau buru-buru digiring ke lembah curam, Jahannam.


Kehilangan itu nyata. Aku berulang kali merasainya selama menjalani hidup sebagai manusia di bumi Tuhan. Aku mulai kehilangan zona nyaman ketika keluar dari rahim ibu. Dipaksa menangis sesegera mungkin agar orang-orang dewasa di sekeliling ibu percaya, aku tidak terlahir bisu. Beberapa tahun setelahnya aku kehilangan kedua payudara ibu, aku tak boleh lagi menyusu. Betapa jahatnya mereka meminta ibu mengoleskan ramuan-ramuan khusus agar ketika aku mulai memaksa menyusu, dua puting yang mulai sepuh itu bisa bereaksi menolak kulumanku.

Lalu aku akan benar-benar dijauhkan dari tubuh perempuan yang mengandungku. Katanya, nanti ketika aku sudah menikah. Laki-laki yang disebutkan sebagai suami punya banyak hak untuk mengatur wilayah-wilayah kerjaku, termasuk urusan-urusan dengan ibu bapak, relasi pertemanan dan kepada siapa aku boleh jatuh cinta –yang kemudian kutahu, bahwa tak mungkin aku bisa jatuh cinta ribuan kali setelah menjalani rumah tangga. Aku membayangkan betapa menyiksanya memendam sesuatu seumur hidup, yang jika diungkapkan justru tampak sebagai aib, sesuatu yang tidak pantas, menyalahi tata nilai dan norma yang ada di masyarakat.

“tapi kan bisa ada kesepakatan?”

Kesepakatan? Aku yakin itu adalah mitos paling langgeng untuk menutupi banyak ketimpangan. Pada akhirnya perempuan akan memilih, sekadar mengalah. Ia kehilangan otoritas atas tubuhnya sekaligus pikiran dan perasaannya. Tak ada beda dengan patung pemuas, cukup dipajang demi memuaskan hasrat majikan. Kiranya nasib buruk demikian selalu ditimpakan pada perempuan-perempuan. Bahkan pada mereka yang sudah mengukuhkan bhaktinya, tetap saja mendapat stigma semena-mena.


Tapi aku coba menolak pisah dari ketiak ibu. Cukup dari rahimnya aku dikeluarkan paksa. Aku tidak mau menjadi budak atas nama mufakat. Pernikahan yang kutemui dalam perjalanan singkatku di bumi Tuhan, toh terbukti sama abu-abunya. Tidak menjamin apa-apa kecuali hanya berbagi kesusahan, mungkin beberapa bentar kerjasama bisa dilakukan. Tapi selebihnya, pembagian peran yang asu, palsu. Lebih-lebih jika bertemu dengan relasi suami-istri yang melakukan perjamuan toxic pada tiap-tiap kesempatan.

Aku berpikir sangat keras. Bagaimana bisa lari dari cerita klasik perjodohan, pernikahan dan tetek bengeknya. Bagaimana bisa membuat cerita di masa depan tentang perempuan yang merdeka lahir, batin dan pikirannya. Bagaimana bisa menjangkau seluruh cita-cita luhur perempuan yang ingin bebas dari kungkungan, jerat-jerat masyarakat moralis atau sederhananya, bebas menentukan apa yang menjadi jalan hidupnya saja.

Hingga pada suatu waktu, aku bertemu perempuan dari daerah selatan, Rokis. Di sebuah warung makan sederhana yang menjual soto, dengan porsi kuli. Pertemuan itu terjadi saat kami semeja dan berhadapan. Bagiku, ia gadis lulusan SMA yang biasa saja. Menjual bunga di pasar siang hari, menjual gorengan dan nasi kucing di sore hari dan menjual tubuhnya di malam hingga dini hari. Sementara ketika toa masjid mulai menggetarkan telinga, dari ufuk timur semburat keemasan mulai tampak malu-malu, Rokis beranjak merebahkan diri, lelap dalam kepayahannya.

“demi apa melakukan semua itu?”

“demi hidup. jelas hanya demi merasa hidup, bulek.”

“memangnya kalau tidak melakukan itu, tidak bisa merasa hidup?”

“yaa saya hanya hidup, tapi tidak benar-benar merasa bahwa saya hidup. haha, ah saya sendiri juga bingung.”

“kenapa tidak cari pekerjaan tetap yang lebih menjanjikan? Atau melanjutkan studi?”

“yaa, tentu. Saya bisa melakukan itu kapanpun saya ingin. Saya bahkan punya cukup biaya untuk mendirikan usaha mandiri selain toko bunga itu. Kuliah? dulu saya sangat ingin, bulek. Tapi saya tidak mau menghabiskan sisa usia dengan mengambil jarak dari diri saya sendiri.”



“kenapa harus menjual tubuh?”

“sebenarnya tanpa saya jual, orang-orang telah lebih dulu menjadikan tubuh perempuan komoditas. Jadi daripada mereka sendiri yang untung, lebih baik saya yang mengambil keuntungan mereka.”

“tapi kan tidak mesti harus menjual diri, nduk.”

“bulek, dengarkan saya. Kita sudah kehilangan otoritas tubuh kita sejak kita terlahir sebagai perempuan. selagi saya punya kuasa menjalankan otoritas pada tubuh saya, saya akan melakukan apapun untuk menjadikannya berharga.”

“harusnya ada cara lain untuk menghargai tubuhmu, nduk.”

“masing-masing kita punya cara. Saya yang lebih tau apa yang terbaik untuk diri saya. Tidak ada yang lebih tau diri saya, selain saya sendiri. lagipula, bulek, saya hanya tidur dengan orang yang benar-benar membuat saya nyaman dan saya mencintainya. Saya bukan pekerja yang butuh suntikan biaya agar asap dapur terus mengepul. Dan saya pastikan tidak akan tunduk pada sesuatu di luar diri saya.”


Percakapan panjang itu berhenti tiba-tiba ketika beberapa pengamen cilik masuk ke warung dan mendekat ke meja kami. Ternyata Rokis mengenal baik ke-8 bocah yang kutaksir masih berusia antara 9-12 tahun itu. Rokis memesankan masing-masing satu mangkuk soto ayam dan es teh. Mereka tampak akrab dan saling bercerita pengalaman yang didapat ketika di jalanan.

Kudengar baru saja, Rokis juga menceritakan apa yang malam sebelumnya ia kerjakan, hingga tidak sempat mampir untuk mendongengi bocah-bocah itu. Ia bilang, semalam tidur di studio foto milik salah seorang rekan kerjanya. Ia juga tidak malu mengumbar bahwa ia diminta berpose tanpa busana alias telanjang bulat di depan kamera.

“itu nggak dingin, Ro?” Tanya seorang bocah perempuan yang rambutnya dikepang rapi.

“mereka punya ruangan yang keren, jadi suhunya sudah diatur. Tapi kalian harus ingat, kita boleh telanjang bulat hanya saat kita merasa aman dan tidak dipaksa atau terpaksa. Kalau ada orang di luar lingkaran kita, orang asing, memaksa kita melepas baju atau berani menyentuh kita, kalian tau harus apa?”

“Siap laksanakan, Ro…” pekik ke-8 bocah dengan wajah penuh keyakinan bahwa mereka aman di bawah perlindungan Rokis.

Sambil cekikikan, Rokis kembali ke mengambil mangkuk soto dan menyeruput sisa kuah yang tertinggal, hampir dingin. Setelah makanan yang ia pesan habis, Rokis ijin pamit dari hadapanku.

“aku punya sedikit saran, bulek. Bisa kau pakai bisa juga tidak. Kukira kau yang lebih tau apa-apa yang harus dilakukan saat ini.”

“bicaralah, aku akan pertimbangkan nanti.”



“pertama, belajarlah memahami tubuhmu sendiri dan cari tahu apa yang ia butuhkan. Kedua, bisakah tidak bercita-cita yang muluk-muluk, ingin mengubah sistem? Patriarki tetap patriarki, bulek. Ia bakal tetap bercokol di otak semua orang. bahkan juga kita. Ketiga, lakukan sesuatu yang bisa membuatmu benar-benar merasai hidup, biar tidak sekadar hidup dan menunggu mati. Keempat, kalau bulek tidak bisa mencintai orang di luar diri bulek, maka bulek harus mencintai tubuh bulek sendiri, sepenuh-penuhnya. Tapi jangan lupa, bulek. Kita punya hutang budi sama alam. Jadi bagilah cinta itu dengan semesta yang mewujud menjadi tanaman-tanaman, hewan-hewan peliharaan di sekitarmu. Cobalah menyenangi mereka agar kesepian kita bermartabat sedikit.”

“itu…. Itu masuk akal, nduk… akan kucoba pahami satu-satu. Dan kamu sendiri, akan apa setelah ini?”

“saya punya banyak PR untuk menyenangkan tubuh saya, bulek. Sebab tubuh ini adalah kekasih saya. Saya pernah menyia-nyiakan, maka sudah waktunya saya memberikan cinta yang sepenuh-penuhnya.”

Di akhir pertemuanku dengan gadis itu, ia berpesan, bahwa sebagai subjek yang punya daya untuk melakukan sesuatu, aku adalah yang paling otoritatif memperlakukan tubuh sebagai tempat pulang, tempat berbagi, berdebat, menampung aspirasi, dan saling mencintai. Bahwa setelah itu, kita akan punya tanggungjawab yang lebih besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa terlunta.



Aku setelah otoritasku adalah keadilan, yang hingga kini masih diperkosa bandit-bandit sok perkasa. Aku setelah otoritasku adalah cinta, yang hingga kini masih berkutat pada novel-novel mellow-drama. Aku setelah otoritasku punya pekerjaan rumah bertumpuk, menguras tenaga dan waktu. Aku harus sedia badan, menggantikan peran-peran perempuan atas nama kesetaraan, kemanusiaan. Tapi adanya aku setelah otoritasku tak pernah selesai melawan kekuasaan, menjadi cerita klasik paling pesimistis, dan selalu berakhir kehilangan dan pengingkaran. []

0 komentar:

Koesno merasa punya hutang budi pada setiap daun yang merisak. Entah angin, ranting kering atau tetes hujan yang membuatnya jatuh, Koesno ...

Lelaki yang Membuang Topeng

Koesno merasa punya hutang budi pada setiap daun yang merisak. Entah angin, ranting kering atau tetes hujan yang membuatnya jatuh, Koesno selalu berpikir bahwa tiap-tiap daun manyimpan satu nyawa manusia. Jika semua daun jatuh, maka manusia juga akan terpapas, habis. Oksigen yang ia hirup tiap sepersekian detik seakan punya daya magis yang mengingatkannya pada proses panjang pohon-pohon, untuk bisa memproduksi apa-apa yang dibutuhkan manusia. Sejak kesadarannya penuh untuk mencintai pohon-pohon, ia tak pernah lagi absen menanam, meninggalkan pekerjaannya di kampung sebelah, nyenso. Sebab ia tak mau berurusan dengan penebangan pohon. Ia anggap itu adalah agenda kotor dan hanya menyakiti kekasihnya, aneka jenis pohon-pohon.


Hingga kini, Ia masih merasa bersalah karena sekawanannya kerap menebang habis tanpa menyisakan pohon-pohon muda. Hampir tak ada pertimbangan serius ketika mereka akan mulai menebang. Mereka tak peduli berapa diameter apalagi usia lingkaran tahun pada batang-batang yang mereka tebang. Hal utama yang ada di dalam pikiran masing-masing hanya mendapatkan banyak pohon dalam waktu sesingkat mungkin, untuk bisa meraup keuntungan berlebih. Masa bodoh dengan hewan-hewan yang menggantungkan hidup pada dahan-dahan pohon itu. Masa bodoh dengan dampak jangka panjang dari penebangan yang mereka lakukan. Masa bodoh dengan murka alam yang bisa berwujud banyak wajah bencana.

Dan seperti yang lain, Anwar juga tak menaruh peduli sama sekali. Sebagai penebang pohon paruh waktu yang merasa dirinya paling profesional, Anwar hanya akan menuruti apa yang diminta klien, mengambil semua pohon yang ada di hutan untuk ditebang –tanpa ijin resmi. Lalu atas apa yang dilakukannya, harga yang diminta telah dikalkulasi sedemikian rupa, termasuk upaya kongkalikong, dengan tambahan uang kopi dan rokok untuk beberapa preman kampung.

“besok dini hari, ambil jam tiga di jalan Mayor Sujadi. Nanti titik persisnya aku kirimkan.” Ucap Sodikin kepada pengepul kayu-kayu langka via telpon.

“kau sudah sepakat harganya, Kin?”

“sudah jangan kuatir, ini orang berani bayar mahal. Udah DP jadi pasti bisa dipercaya.”

“bisa ruwet lagi kalo urusannya ketauan petinggi kabupaten.”

“yang satu ini kita aman, War. Bos besar sudah kasih kode ke Ibuk. Amanlah kalo sudah sama Ibuk. Kita tinggal jalanin rencana.”

Sadikin masih berusaha meyakinkan Anwar, kalau ‘Operasi Fajar’ esok hari tidak akan menimbulkan masalah yang menyulitkan mereka. Tapi meski sudah dijelaskan panjang lebar, Anwar masih saja was-was. Khawatir kejadian 5 tahun silam kembali menimpanya. Kekhawatiran bocah 28 tahun itu beralasan, sebab di operasi sebelumnya Koesno melaporkan illegal logging yang dilakukan oleh Bos besar dan sekawanannya, termasuk membeberkan keterlibatan Anwar dan Sadikin dalam operasi fajar.


Akan tetapi kasus itu ditutup begitu saja tanpa tindak lanjut. Berkat pertolongan salah satu calon dewan perwakilan rakyat yang lebih sering mereka panggil dengan sebutan ‘Ibuk’. Mereka semua selamat dari jerat hukum, tanpa kehilangan anggota. Hanya saja, keuntungan ekspor kayu-kayu langka saat itu harus rela dibagi tiga dengan pihak-pihak yang sudah bisa diajak kompromi.

***
Koesno mendatangi Anwar di kontrakan lama mereka, bekas kantor salah satu radio kenamaan di kota plat AG. Di sana, ia memberanikan diri bicara dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh saudaranya itu keliru. Percakapan yang sangat dingin terjadi beberapa bentar, sebelum akhirnya Sadikin datang dan langsung menghujani Koesno dengan bogemnya.

“kau ini tolol, tidak punya otak, bodoh. Apa maksudmu melaporkan kita?”

“kalian yang goblok. Mau-maunya jadi budak orang-orang yang makan uang rakyat. Sudah gitu kalian masih mau diperalat.”

“kowe kudu inget, Le. Di perutmu itu juga ada duit hasil kerja kita semua di sini. Kowe ndak usah sok suci. Kerjamu yo tau di sini. Banyak bacot.”

Dan beberapa bogeman lagi mendarat sempurna di kedua pipi Koesno. Membuat muka tirus lusuh itu makin tak karuan bentuknya. Baru ketika darah segar mulai mengalir dari lubang hidung sebelah kiri, Sadikin menghentikan tinjunya. Anwar yang tidak tega melihat adik semata wayangnya hampir tak sadarkan diri sesegera mungkin mengangkat tubuh Koesno dan memindahkannya ke kursi ruang tamu.


Dengan cepat ia juga mengontak dokter Eko yang membuka praktik tidak jauh dari kontrakan mereka. Namun karena sedang tidak begitu sehat, dokter sepuh itu tidak bisa datang memenuhi panggilan Anwar. Ia hanya memberi saran agar Anwar mencari daun sirih untuk membantu menyumbat aliran darah dari hidung Koesno. Dengan gugup ia minta tolong Sadikin untuk mencarikan daun sirih dan apapun yang bisa membuat adiknya merasa lebih baik.

“kau berlebihan. Dia adikku satu-satunya, Kin.”

“dia yang mulai. Kita hampir membusuk di penjara gara-gara kekonyolan adikmu.”

“tapi kita ndak dipenjara kan?”

“iyaa tapi anak ini bahaya, War. Dia tega melaporkanmu, kakaknya sendiri.”

“wes-wes… iyaa Koesno salah. Biar nanti aku yang kasih pelajaran ke dia. Tolong carikan apapun biar dia cepet pulih, cepet sadar.”

Sadikin masih mengomel sembari keluar mencari daun sirih. Ia setengah marah, setengah menyesal telah memukul Koesno dan bertindak keterlaluan. Tapi 75% di dalam pikirannya, Koesno harusnya dihabisi. Sedangkan beberapa menit kemudian ia berubah pikiran dan merasa masih punya kesadaran dan nurani untuk tidak berlaku sembrono.

Setelah berjalan 150 meter ia menemukan daun sirih. Dipetiklah daun itu sejumlah ganjil dan langsung membawanya kembali ke kontrakan. Lagi-lagi tanpa mendapatkan ijin dari si empunya tanaman. Sementara di kontrakan, Koesno tak bisa bangun. Ia masih merengek, merintih dan cengar cengir menahan sakit di sekujur wajahnya. Tinju-tinju Sadikin nampak membuat bekas lebam keunguan di bagian pelipis dan di kedua batas bibir. Baru pada waktu Sadikin kembali, Koesno mulai bisa membuka mata dan berbicara pada keduanya, tersengal-sengal.


Koesno meminta Anwar dan Sadikin berhenti menebang dan melakukan operasi fajar. Sudah cukup banyak kerugian yang keduanya alami hanya karena mati-matian membela pejabat kabupaten yang terbukti ikut dalam operasi fajar tersebut. Lalu ia menceritakan mimpi-mimpinya tentang tangisan manusia yang bersujud di bawah pohon-pohon memohon ampun pada alam yang telah mereka rusak dan telah mereka ambil semena-mena. Dari mimpi berulang itulah beberapa tahun sebelum pelaporan, Koesno memutuskan berhenti dan meletakkan topengnya. Topeng yang sudah diwariskan oleh mendiang bapak, agar adik kakak itu bisa bertahan hidup. Topeng itu, sebagai penanda bahwa dulunya, Koesno, Anwar dan Sadikin adalah remaja yang dipaksa dewasa sebelum usia membuatnya dewasa. Lewat topeng itu mereka bisa mengubah jati diri dan leluasa menebang pohon-pohon dan menjual atau mendistribusikannya tanpa diketahui orang-orang yang hidup satu lingkungan dengan ketiganya.

***
Jam 02.45 WIB Anwar dan Sadikin mulai bersiap menjalankan aksinya. Kali ini Sonokeling, di mana kayunya memang dicari-cari untuk bahan properti berkualitas tinggi. Dua minggu sebelumnya mereka berhasil menebang 59 pohon Sonokeling tanpa perlawanan berarti dari masyarakat. Sekarang saatnya mereka membawa kayu gelondongan itu keluar Jawa, sesuai pesanan Ibuk dan Bapak Bos.

Anwar masih gusar, takut kalau apa yang sudah lama tidak mereka lakukan ini tercium celahnya. Meski sudah tidak mencurigai Koesno, akan tetapi tetap saja nurani Anwar berkata lain. Sementara Sadikin sudah memberi arahan di mana mereka harus bertemu dengan pengepul kayu yang berasal dari kawasan Lombok itu. Setelah lokasi terkirim, mereka mulai ke belakang, membuka bagasi dan mengeluarkan dua truk berisi Sonokeling berbagai usia.

Tepat jam tiga dini hari, pertemuan itu terjadi antara calon pembeli, Anwar dan Sadikin. Semua berjalan lancar, bahkan Ibuk dan Bos besar ditelfon segera oleh Sadikin setelah menerima upah sesuai dengan kesepakatan. Anwar yang sempat waswas segera bisa mengendalikan diri dan tenang. Tapi tidak berselang lama, dari kejauhan tampak beberapa orang memegang parang datang menghampiri tiga orang yang mulai kehilangan canggung satu sama lain.


Tanpa basa basi parang itu disabetkan dan mengenai tubuh Sadikin. Anwar yang berdiri agak jauh dari Sadikin karena harus mengangkat telfon dari Koesno, membuang topeng dan langsung berlari menghampiri tubuh Sadikin. Darah segar kehitaman menyeruak memunculkan bau anyir, menyengat. Belum sempat beranjak dari tempatnya memangku Sadikin, parang itu menyentuh dada bidang Anwar.


Toa masjid lamat-lamat mulai sedikit mengusik gendang telinga orang-orang yang lelap. Deru truk yang membawa gelondongan Sonokeling segera dikemudikan oleh pembawa parang, meninggalkan dua mayat yang masih menganga luka bekas sabetannya. Lalu angin membawa beberapa daun terpisah dari rantingnya. Terbang menjauh dari inang dan entah menuju ke mana. []

0 komentar:

Kenalin_

My photo
Gadis yang Ingin Mati Muda. Sedang Menempuh Pendidikan S2 di UIN Sunan Kalijaga. Konsentrasi Islam dan Kajian Gender.