Mau Cari Apa?

Lalu Mereka Berpikir Bunuh Diri


Seekor burung yang kau kubur tempo hari mendatangiku, persis ketika hujan mulai turun jam 11 malam. Ia dan kaki kiri yang masih setia dengan perban berjalan mendekati jendela, mengetuk kaca dengan paruhnya beberapa kali. Rokis yang pertama kali mendengar buru-buru menuju jendela di ruang tamu dan membukanya.

Kau sendiri menyusul di belakang. Tidak yakin dengan kabar yang dibawa angin tentang seekor burung yang bangkit dari kubur hanya untuk membawa berita kematian bagi manusia. Aku sudah memperingatkan kalian berdua. Tapi rupanya usahaku sia-sia. Dalam semua cerita yang kita buat, kukira memang aku yang paling pantas diabaikan. Pun malam itu, ketika Rokis mengijinkannya masuk dan kalian berbincang begitu lama di ruang tamu.

NusantaraNews

Meskipun seekor burung, bukankah tidak sopan bertamu malam-malam begitu, Ruk?

Bagaimana seekor burung harus berpikir tentang sopan dan tidak sopan dan soal adab bertamu yang hanya berlaku bagi manusia? Dalam cerita kali ini, semua tata kesopanan tidak berlaku. Lagipula kenapa harus membuat semua lakon memiliki kesan yang santun dan sesuai moral masyarakat?

Terlepas kepercayaan yang ada di alam bawah sadar mereka, Rokis dan Koesno buktinya tetap memaklumi kedatangan burung itu dan mereka bersesumbar soal kematian sampai lupa pada larut dan fajar. Lalu jam dinding tua yang tidak pernah tepat dentingnya itu memekik ketika jarumnya menyentuh tumpuan yang sama, tanda tengah malam.

Aku membawa kabar
tapi tugasku bukan penyampai pesan-pesan
pun kalau ada Jahim dan Firdaus di pangkal takdir masing-masing
aku belum sampai menyebrang diri menembus jantung Bumi

keras sekali manusia berpikir soal kapling-kapling itu
sementara yang sungguh-sungguh mereka kerjakan cuma pengabaian
bagaimana manusia dan kalkulasinya bekerja
membawa setumpuk nota belanja keperluan surga?

Sebenarnya ketika Rokis memanggilmu, burung itu sudah lebih dulu lenyap dari ruang tamu. Kau tidak pernah melihat rupa wajah dan paruhnya yang hampir patah itu. Semua yang kau ceritakan hari ini tidak lain berasal dari mulut kedua, dari Rokis dan tidak pernah sempat kau dengar sendiri dari ‘hantu burung’ –itu juga kalau kau percaya dengan hantu-hantu yang menyamar jadi malaikat atau makanan lezat yang menggoda keyakinanmu.

Tapi kemudian Koesno bangun. Masih tengah malam dan lagi-lagi sama persis dengan situasi terakhir dalam mimpinya yang tertidur di ruang tamu. Bedanya ia hanya sendiri, tidak sedang bercengkrama dengan karib-karibnya. Ruang tamu itu lengang dan angin lirih berselancar melewati sela-sela jendela yang belum tertutup sempurna.

***
Beberapa orang tengah serius menakar beras untuk diberikan pada delapan golongan. Sedang yang lain lebih serius lagi memilih baju-baju baru, berebut barang-barang diskon, memenuhi isi kulkas, menghabiskan jatah tabungan dan berkerumun menunggu bantuan sembako atau shodaqoh atau infaq, memenuhi undangan pasar-pasar murah dan menyiapkan menu-menu balas dendam setelah seharian menahan ego.

Hari ini, ada juga bagian dari orang-orang di sekelilingnya yang memilih mengadakan jamuan makan malam sembari mematikan lilin, tanda peringatan kenaikan sang juru selamat.  Jamuan makan malam yang mengundang banyak orang-orang dan juga para kolega dari luar kota. Pesta yang tidak sudi disebut pesta meski esensinya sama saja.

Gabriel_Isak

Koesno sendiri pilih menepi di sudut kamar kontrakannya, memenuhi protokol kesehatan untuk sementara waktu, lebih ketat. Ia mengkhawatirkan banyak hal, membuat daya tahan tubuhnya sering tidak stabil. Tapi ia tak menemukan hal yang sama dilakukan oleh karib-karibnya. Rutinitas masih berjalan seperti biasa. Baginya tidak ada yang berubah dari ritual tahunan yang lamat-lamat ia saksikan semakin palsu, pura-pura.

Jam 19.45 Rokis bertamu, mengetuk pintu dan dari tangannya penuh sepiring jajan tradisional. Tapi bukan sebab takut karibnya kelaparan maka ia sempatkan datang, sekadar untuk memberi ganjalan perut. Tapi ia datang dengan maksud lain, menceritakan mimpinya yang berulang.

Sebenarnya aku takut mati, Koes. Aku mimpi burung yang kau kuburkan waktu itu datang menemui kita.

Kau yakin memimpikan itu, Ro?

Jelas aku yakin sekali. Aku juga bertemu banyak orang dalam mimpi menyebalkan itu.

Kau boleh tidak percaya. Tapi aku punya mimpi yang sama. Dalam mimpiku ada yang memperingatkan kita soal kedatangan burung itu. Kau juga?

Bagimana bisa?

Dan kau mesti percaya, setelah mimpi pertama, aku mendengar berita kematian 128 orang. Setelah mimpi kedua, bertambah 256 orang dan aku takut setelah mimpi ketiga, berapa orang lagi.

Dalam satu kelurahan?

Musim wabah dan pengabaian adalah dua hal yang sekarang berteman akrab. Orang-orang mulai bosan mengungkung diri dan jengah dengan rutinitas semunya. Kenikmatan meramaikan jalan-jalan dan berduyun-duyun mengambil sisa dana ‘untuk kebaikan’ membuat rentetan kematian semakin tak terkendali.

Orang-orang yang dipaksa menyudahi kebebalannya mengambil hati sekawanan yang lain dan memberontak. Mereka merobohkan pagar-pagar pembatas dan berpesta lagi, di lapangan terbuka. Sedang mereka yang terlanjur kehilangan orang-orang terkasih, remuk dan sengkarut hatinya mendengar berita kematian yang urung berkurang, kehilangan pekerjaan dan diasingkan, lagi-lagi memilih bunuh diri.

Berita bunuh diri dari satu keluarga memarakkan kekalutan di dada orang-orang yang merasa memiliki nasib buruk yang sama. Mereka terpecut melakoni keputusan yang mereka anggap paling bijak. Keputusan untuk berakhir dengan baik-baik. Setidaknya mereka masih dapat memandang kepada nanar mata masing-masing dan saling memeluk untuk yang terakhir kali. Bulan-bulan nahas yang menghabiskan banyak minyak tanah untuk membakar jasad-jasad putus asa itu belum berakhir sampai awal tahun yang baru.

Anehnya setiap mimpi itu berulang, berita kematian yang mereka dengar akan bertambah dua kali lipat. Sampai mimpi kesekian itu datang lagi, mereka telah kehilangan 3.840 orang. Mereka berpikir keras, mencoba mencari sebab mimpi itu datang berulang kali dan menimpa keduanya.

Keesokan harinya, Koesno sampai pada kesepakatan konyol itu. Ia sampaikan pada karibnya. Mereka menganggap mimpi buruk itulah yang membuat musim wabah semakin tak terkendali. Mereka berdua akhirnya berpikir untuk bunuh diri, memupuk harap agar kematian-kematian tak datang lagi. []


 Tulungagung, 21 Mei 2020

Bagaimana Mungkin?



Bagaimana mungkin?
mustahil fulan naikkan iuran
biaya lagi? Ada banyak orang tidak kenal musibah

PxHere

O-ya, mustahil orang-orang bijak itu membuat agenda-agenda rapat
mengesahkan undang-undang melulu
jangan tanya bagaimana si bijak memandang mereka yang kecil dan nahas

Bagaimana mungkin?
dan apa yang tidak mungkin bagi seorang fulan?
fulan bijak dan pandai mendongeng meyakinkan kaum-kaum yang papa

Keserbapasrahan itu api
dan apa lagi yang bisa dilakukan manusia-manusia yang bertaklid
kepercayaan yang membuta itu lembah curam, menenggelamkan

Lalu,
apa yang membuat apa-apanya tidak mungkin? []

Tulungagung, 14 Mei 2020


Mengais dan Menangis

Mari kita mengais
yang masih sisa di jalan-jalan bekas demonstrasi
dan di teras pertokoan, emper-emper pasar
yang sudah lebih dulu sepi penjual

Mari mengais
bukannya kita masih harus percaya ada setia dan pura-pura
yang mereka menggugat kuasa dan mengisi amunisi dan aksi-aksi
dan mereka masih tidak sudi, tunduk pada korporasi-korporasi

historiasquenocontariaamimadre.com
Lalu jalan pikirmu jadi ambigu
hidup di dalam pilihan-pilihan semu
aturan-aturan dibuat, ditolak, diperbarui, dirayakan
diselap-selip dan dicetak-edarkan

Hei, tunggu sebentar…
lalu kapan waktumu menangis?
menunggu mereka yang mengais sisa-sisa di jalan-jalan itu mati dulu,
atau suara-suara yang koyak di masa lalu kembali bungkam dan hilang ditelan waktu?

Belum, katamu
tapi berbaik sangkalah
dan mari menangisi kebijakan-kebijakan sontoloyo
yang menuntut terlalu banyak kematian dan abadinya perjuangan itu. []

Tulungagung, 13 Mei 2020






Maleman

Malam dengung
dan toa-toa menganga dari mushala
membising
riuh suka dan bocah-bocah yang cekikikan

Riau1.com

Kaki-kaki kecil berlarian
berhenti
tepat iqamah dikumandangkan

Lalu gerakan semi khusyuk
dan kekenyangan
menunggu maleman di malam-malam ganjil
sepuluh terakhir

Biar kita tak saling bersalam-salaman
memberi punggung tangan pada bocah-bocah
tapi sekiranya lupa
kita tengah dihimpit susah.

Tulungagung, 13 Mei 2020

Revolusi Seksual dan Polemik Tak Berkesudahan


Membincang politik tubuh dan seksualitas tidak akan lengkap tanpa membaca pemikiran seorang Katherin Murray Millett –atau yang lebih dikenal dengan Kate Millett, penulis sekaligus feminis Amerika. Dalam bukunya yang fenomenal berjudul Sexual Politics, Kate Millett secara detail membahas apa yang dimaksud dengan politik seksual, lengkap dengan teori dan aspek-aspek yang meliputinya.

Kate Millett via Jacobin

Pembahasan itu ia paparkan lewat analisisnya terhadap teks sastra (novel) dalam dua sub-bab di bagian pertama. Perlu diketahui
dalam mengawali pembahasannya mengenai politik seksual, Millett mencuplik sepenggal narasi dari Sexus, novel terbitan 1965 karya Henry Miller yang terkenal di Paris. Narasi tersebut berisi cerita pengalaman seksual tokoh laki-laki bernama Val ketika berhubungan intim dengan perempuan bernama Ida. Dalam penggalan narasi yang disodorkan oleh Millett tersebut, bisa dibaca bagaimana perempuan, ketubuhan dan seksualitasnya dikuasai, dikondisikan lewat imajinasi pengarang laki-laki (Millett, 2000).

Kemudian pada bagian kedua, Kate Millet fokus pada Historical Background. Setidaknya ada dua sub-bab juga yang ia bahas, terkait the Sexual Revolution, First Phase: 1830-1930 dan the Counterrevolution: 1930-60. Di sini Millett juga menggunakan beberapa contoh novel untuk membuktikan bahwa seksualitas perempuan masih terus dikondisikan, selain juga menjabarkan gerakan-gerakan perempuan awal yang–setidaknya sedikit berhasil–menuntut kesamaan hak dan politik. Adapun dalam tulisan ini, saya hanya akan fokus pada isi buku bagian kedua mengenai revolusi seksual.

Revolusi seksual jika dilihat dalam konteks politik seksual merupakan sebuah perubahan yang terjadi secara revolusioner, yang secara langsung berkaitan dengan relasi politik dengan jenis kelamin atau sex (Millett, 2000). Perubahan (revolusi seksual) yang terjadi bisa dibilang sangat drastis, mengingat sebelumnya Negara telah begitu lama melanggengkan sistem patriarkhi bagi seluruh masyarakatnya. Jadi bayangan untuk merubah sistem yang demikian telah melekat di masing-masing individu, tentu merupakan hal yang hampir mustahil. Tapi tidak bisa dipungkiri, langgengnya sistem yang patriarkhal tersebut juga telah membawa perlawanan dari banyak pihak.

Revolusi seksual menghendaki berakhirnya ketabuan akan seksualitas, termasuk pikiran-pikiran yang tradisional. Standar ganda, prostitusi dan aura negatif lain yang dihubungkan dengan seksualitas harus dihilangkan. Adapun tujuan dari revolusi yakni adanya standar tunggal mengenai kebebasan seksual yang permisif yang tidak ditunggangi oleh basis ekonomi dari seksualitas tradisional yang eksploitatif. Bagaimanapun, revolusi seksual dikatakan dapat mengakhiri institusi patriarkhi, menghapus ideologi supremasi laki-laki dan peran-peran tradisional yang berhubungan dengan status dan peran.

Hadirnya revolusi seksual di sini juga menandai adanya integrasi subkultur dan proses asimilasi dari pengalaman dan sifat-sifat laki-laki serta perempuan yang seringkali dikategorikan dalam konsep ‘maskulin’ dan ‘feminin’. Misalkan laki-laki selalu berkaitan dengan kekerasan dan perempuan lebih pasif. Konstruk semacam ini yang dibaca atau diperiksa ulang.

Dikatakan oleh Millett, kisaran tiga dekade terakhir abad ke-19 sampai tiga dekade awal abad k-20 menandai masa kebebasan seksual laki-laki dan perempuan. Dibuktikan dengan adanya kelompok perempuan yang berusaha mencapai standar moralitas tunggal. Mereka hadir di periode pertama menandai revolusi seksual dengan memecahkan masalah standar ganda dan prostitusi yang tidak manusiawi.

Intinya di fase pertama, masalah yang ditentang adalah struktur patriarkhal dan transformasi peran serta status. Hal penting yang perlu diperhatikan bahwa pembahasan revolusi seksual condong pada kesadaran individu manusia, bukan sekadar pada area institusi. Konstruk patriarkhi yang tertanam pada masing-masing individu sampai pada kondisi memengaruhi sifat dan karakter laki-laki dan perempuan dalam kebiasaan sehari-hari, cenderung pada cara hidup ketimbang sistem politik.

Tujuan utamanya lebih pada perubahan yang signifikan pada kualitas hidup, bersifat kultural, menyasar pola hidup individu dalam masyarakat. Kate Millet memandang, the first phase of revolusi seksual like a moving object arrested mid-course, could not proceed even to the expenditure of its initial momentum. Dan bukan berarti persoalan tersebut selesai dan tanpa eksploitasi lagi. Justru pada fase pertama ini, posisi perempuan masih sangat rentan tumbang dan menciptakan ruang atau karakter eksploitatif tersendiri.

Mungkin baru pada periode 1930-60-an, mulai banyak perubahan yang terjadi karena di fase ini teknologi lebih banyak berperan, seperti adanya alat kontrasepsi berbentuk pil yang didistribusikan secara luas. Sebelumnya pada dekade 1830, kita melihat ada gerakan reformasi di Inggris dan pada 1837 digelar konvensi anti perbudakan wanita pertama di Amerika. Kemudian pada 1848 pertemuan di Seneca Falls, New York, menandai dimulainya organisasi politik perempuan atas nama para perempuan sendiri. Agitasi perempuan di Inggris juga dimulai pada tahun 60-an.

Dalam tulisan Millet, diterangkan terdapat Gerakan Abolisionis yang merupakan salah satu gerakan perempuan pertama yang memberikan kesempatan kepada para anggotanya –perempuan Amerika, untuk melakukan aksi dan organisasi politik. Adapun generasi pertama feminis yang aktif dan berdedikasi di Abolisionis antara lain, Grimke Sisters, Lucy Stone, Elizabet Cady, Susan Anthony dan Lucretia Mott. Selain itu, urusan pekerjaan juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan perempuan. Persoalan perempuan yang masuk dalam wilayah profesi / industri is a spectacular case of the contradiction in the chivalrous mentality.

Paradoks dan Polemik Tak Berkesudahan
Meskipun perjuangan gerakan dan agitasi yang dilakukan oleh para feminis selama fase pertama telah mampu mereformasi status hukum perempuan –yang dianggap hina, akan tetapi sistem hukum patriarki belum bisa hilang sama sekali. Seperti ketika perempuan telah menikah, secara hukum umum ia akan kehilangan separuh haknya, bahkan lebih –tidak punya kendali atas penghasilan, tidak diijinkan memilih domisili, menandatangani surat dan menjadi saksi. Pada masyarakat feodal juga berlaku demikian. Suami memiliki hak dan kontrol penuh atas istri dan anaknya, industri yang dimiliki istri, dan hak atas harta warisan yang sepenuhnya jika istri meninggal. Tapi tidak berlaku sebaliknya, dsb.

Pada awal hadirnya revolusi seksual, dorongan agar perempuan dapat menempuh pendidikan sangat tegas disuarakan. Tapi fase setelahnya, dorongan agar perempuan diberikan kesempatan berpendidikan tinggi, agak redup. Pendidikan yang bernafaskan kesetaraan pun urung didapatkan. Tapi meski demikian, keresahan-keresahan yang dirasakan oleh para pemimpin gerakan perempuan di masa setelah fase pertama tersebut cukup besar untuk menggerakkan perempuan dalam mendapatkan edukasinya. Selain edukasi, aspek penting yang dituntut untuk diberikan kepada perempuan adalah pengetahuan soal organisasi dan apa itu politik organisasi dan mengenai ketenagakerjaan.

Millet juga sempat membandingkan dokumen sentral pada masa Victorian, yakni The Subjection of Women karya John Stuart Mill dengan Of Queen’s Garden karya John Ruskin, di mana Stuart Mill menggambarkan bagaimana realisme politik seksual dipandang secara aktual. Sementara Ruskin menggambarkan romansa dan aspek-aspek berupa mitos, yang mana beberapa bagian mitos seksual Victoria dimasukkan dalam sastra oleh Ruskin, untuk melengkapi fantasi sastra yang dikotomis.

Diibaratkan dengan dua kelas wanita –istri dengan pelacur, yang harus bertanggungjawab atas pembagian sosio-seksual di bawah standar ganda yang di konstruksikan. The Subjection of Women yang dilahirkan Stuart Mill pada akhirnya menjadi semacam penyataan yang cukup beralasan, mengingat posisi perempuan saat itu sangat penuh dengan keterbatasan, terutama dibatasi oleh hukum, pendidikan yang melemahkan, dikungkung oleh etika dan norma masyarakat dan ditundukkan sebagai istri.

John Stuart Mill memandang bahwa pengondisian (tubuh) yang dilakukan menghasilkan sifat tempramen seksual yang kemudian dinormalisasi sehingga sesuai dengan peran seksual yang ada. Ia memahami bahwa perempuan menjadi produk dalam sistem yang selama ini menekannya. Pendidikan yang selama ini diperoleh turut berkontribusi melanggengkan pengondisian perempuan.

Adanya perbedaan mental antara perempuan dan laki-laki juga merupakan dampak dari pendidikan yang dilalui keduanya. Adapun untuk persoalan rumah dan domestifikasi, baginya rumah merupakan pusat dari sistem yang mirip perbudakan domestik, karena di dalamnya perempuan hidup di bawah kekuasaan –ayah, suami, anak laki-laki, dalam sejarah tirani. Perempuan tidak lebih dari sebuah pengikat dalam pernikahan. Pernyataan / asumsi yang absurd mengenai perempuan yang tidak menyukai seks juga tentu bersifat patriarkhis.

Pada dasarnya revolusi seksual dan gerakan perempuan yang memimpinnya diharapkan berani membuka kedok-kedok sistem patriarkhal dan mengekspos segala bentuk manipulasi yang dilakukan selama ini. Para perempuan yang bergerak di dalamnya juga mesti menyasar seluruh kelas dan merangkul perempuan-perempuan yang bekerja di pabrik dan lain sebagainya. Gerakan perempuan ada untuk mengedukasi para perempuan mengenai sistem politik, ekonomi, keadilan sosial yang harus diberikan tidak hanya pada laki-laki tapi juga perempuan.

Agar revolusi seksual bisa melangkah lebih jauh, maka transformasi yang dilakukan juga harus secara radikal, yakni dengan merubah tatanan pernikahan dan konsep keluarga yang telah ada selama ini. Sementara itu, revolusi seksual yang komplit juga mengandaikan berakhir atau selesainya seluruh sistem yang patriarkhal, yakni dengan penghapusan ideologinya. Dengan begitu tidak bisa menyerang celah-celah seperti bidang pekerjaan, peran dan status.

Tapi bukankah Negara dan pemimpin Negara yang memiliki sifat otoriter cenderung menyukai langgengnya budaya patriarkhi? Terutama pemimpin-pemimpin yang diktator, kekuasaannya juga ditentukan atau bergantung pada karakter patriarkhalnya. Jadi, tidak ada yang salah jika saya mengatakan apa-apanya serba paradox dan semua urung selesai. Begitu.


Analisis Harvard dan Contoh Penerapan

Studi Kasus Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung

Pengertian:
Analisis Harvard merupakan kerangka analisis yang berasal dari Harvard Institute. Pertama kali dikembangkan pada 1985, ketika gencarnya Women in Development. Tujuan dari kerangka analisis ini lebih pada adanya alokasi sumberdaya ditinjau dari sektor ekonomi, baik pada laki-laki maupun perempuan.

Desain dan pemetaan peran yang dilakukan dalam analisis ini dianggap bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja maisng-masing individu yang terlibat di dalamnya. Adapun dalam proses analisisnya, ada beberapa tahapan yang menjadi komponen utama, mencakup profil kegiatan (produksi, reproduksi dan sosial), akses, kontrol, ketersediaan sumber dan manfaatnya, faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan peran gender, dan yang keempat adalah ceklist berupa pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan untuk menganalisis siklus suatu proyek.

publikreport.com
Contoh kasus:
Desa Kiping merupakan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Di desa ini, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, pande dan kerajinan rumah tangga. Hampir di setiap rumah ditemukan berbagai jenis hasil kerajinan seperti tompo, tumbu, tampah, sapu, keset, kemoceng, dan lain sebagainya. Sektor pande besi sendiri menghasilkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, pertanian dan perkebunan seperti cangkul, pisau berbagai ukuran dan fungsi dan lain-lain. Sementara di sektor pertanian, masyarakat Kiping memiliki kelompok tani dengan jumlah anggota hampir seluruh warga gabungan beberapa RT dan RW.

Dari segi perekonomian, bisa dibilang masyarakat Kiping merupakan contoh masyarakat yang mandiri dan berdaya dengan hasil usaha turun-temurun sejak 80-an. Adapun untuk lingkup yang lebih kecil, yakni dalam keluarga, biasanya pekerjaan bertani akan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan (ayah dan ibu) secara bersama-sama. Kemudian untuk pande, kebanyakan dilakukan oleh laki-laki, dan beberapa perempuan usia di atas 50 tahun.


Sementara membuat kerajinan lebih banyak dilakukan oleh ibu-ibu dan remaja-remaja perempuan –jika mereka tidak bekerja di luar tiga sektor dominan di desa tersebut. Dalam satu keluarga di Kiping memiliki dua sampai empat anak dengan total jumlah anggota keluarga yang berada di dalam satu rumah bisa lima sampai tujuh orang. Adapun bagi warga yang tidak memiliki unit usaha mandiri di rumah, maka akan ikut bergabung atau bekerja di rumah / sentra pande tempat produksi alat-alat rumah tangga dalam skala besar dan atau menjadi buruh tani ketika musim tanam hingga panen tiba.

Analisis Harvard 01
Profil Kegiatan

Kegiatan
Perempuan
Laki-laki
Publik


Memanaskan logam

x
Menempa bijih besi

x
Membuat aneka jenis perkakas

x
Membajak sawah

x
Proses Penanaman
x
x
Pemupukan

x
Perawatan
x
x
Panen
x
x
Penjualan

x
Menganyam rotan
x
x
Membuat Sapu
x

Membuat Perkakas Dapur
x

Membuat Kemoceng, dll
x

Domestik
Memasak
x

Mengurus anak
x

Menyiapkan bekal
x

Membersihkan rumah
x

Berbelanja
x

Mencuci
x

Mengisi gentong air
x
x
Sosial
PKK
x

Rapat RT/RW

x
Agenda Kelompok Tani

x

Analisis Harvard 02: Profil Akses dan Kontrol terhadap Sumberdaya dan Manfaat

Bentuk
Akses
Kontrol
Sumber Daya
Pr
Lk
Pr
Lk
Tanah
x
x

x
Alat Produksi

x

x
Uang
x
x
x
x
Tenaga Kerja
x
x

x
Tabungan
x
x
x
x
Manfaat
Pendapatan dari Luar
x
x
x
x
Akses Kepemilikan

x

x
Akses Kesehatan
x
x
x
x
Akses Pendidikan
x
x
x
x
Pemenuhan Kebutuhan Dasar
x
x
x
x

Analisis Harvard 03: Faktor yang Berpengaruh
Faktor
Hambatan
Kesempatan
Norma Masyarakat
x

Hierarki Sosial
x

Struktur Kelembagaan
x

Sikap masyarakat terhadap Intervensi dari Luar (LSM, dll)

x
Faktor demografi

x

Analisis Harvard 04: Ceklist untuk Analisis Siklus Proyek
Di dalam analisis keempat ini biasanya akan diisi dengan ceklist pertanyaan yang diajukan dan berhubungan dengan proyek yang tengah dikerjakan –dengan menggunakan perspektif gender. Setelah list pertanyaan dilengkapi, kita akan bisa mengetahui ada tidaknya ketimpangan gender di dalam proyek yang digagas.

Hal yang kemudian menjadi kekurangan dari jenis analisis ini adalah, karena sifatnya yang netral gender, sehingga tidak sampai melihat kompleksitas persoalan yang dialami oleh perempuan. Kemudian perihal perempuan yang bisa mendapatkan akses dan kontrol juga tidak dilihat apakah dari kelompok perempuan tertentukah –misal yang memiliki previllese sebelumnya, dan lain sebagainya. Maka dari itu di samping menggunakan analisis Havard ini, diperlukan juga menambahkan People-Oriented Planning Framework (POP Framework).

Kerangka ini POP memang banyak mengadaptasi Harvard dengan tujuan yang lebih spesifik dan efisien, utamanya yang berhubungan dengan ketepatan target bantuan pembangunan dan penggunaan sumberdaya. Selain itu, POP Framework juga memiliki tujuan untuk memastikan bahwa jarak antara laki-laki dan perempuan  bisa berkurang. Adapun tiga komponen penting dalam kerangka analisis POP adalah, 1). Terdapat analisis determinasi (meliputi profil populasi dan analisis terhadap konteks). 2) Analisis Aktivitas. 3) Penggunaan dan Pengendalian Analisis Sumberdaya.

Bersambung…

Pageviews