Mau Cari Apa?

Kesalehan Bapak



Kita meneguk secangkir. Malam kemarin lebih singkat, sedikit manusia, banyak karbo, dan semesta menyapa tepat di menit ke 18. Katanya ini bakal sulit. Lebih sulit dari menceritakan apa-apa yang pernah. Ini cerita antara bapak dan ragil, di mana karena kesalehan bapak, ragil lantas memanggilnya abah. Dan kisah itu menjadi panjang. tak seperti saat aku memanggil orang tua laki-lakiku dengan bapak. Karena nyatanya, antara bapak dan abah, punya sekat.

**
Aku bertemu bapak 15 tahun lalu. Kata manusia di sekeliling rumah, tiap pagi bapak menggendong ragil dengan jarik coklat lusuh, ada robek di beberapa sisi sebab kena amuk tikus. Tapi bapak tak suka pakai selain yang ia gunakan buat menggendong tubuh mungil dengan berat tak lebih dari 7,8 kg itu. Setahun, dua tahun, sampai lewat 3 tahun, rutinitas itu masih dilakukan. Semacam jadi dosa jika bapak tak menggendong ragil dengan jarik coklat lusuh dan berjalan ke arah selatan menuju taman kanak-kanak Dharma Wanita.

“Sok lek wes wayae sekolah, kudu gelem budhal dewe, cah wedok kuwi kendhel.” Bisik bapak dan kukira ragil tak mengerti apa-apa. Hanya manggut-manggut mengikuti gerak kepala bapak.

Kita masih meneguk dan dwarapala menyepahkan lagi kalimat-kalimat sukar itu. Katanya, ragil tak seharusnya memanggil bapak dengan abah, jika tidak ingin kisahnya jadi serumit sekarang. Memang apa yang terjadi pada ragil? Tak ada. Seperti anak gadis pada umumnya, ia berkepang dua. Mulai bersekolah di TK Dharma Wanita, berteman dengan anak perempuan lain, bermain bola bekel, rumah-rumahan dari tanah, bongkar pasang, Barbie bekas –dipungut dari tukang sampah atau pengepul barang-barang bekas, dan tentunya masak masakan.



Jauh sebelum ragil lahir, bapak dan warga masyarakat sedusun berbondong-bondong membangun surau. Surau itu diletakkan tepat di depan rumah pak lurah, kakek bapak. Mau tak mau anak laki-laki keturunan keluarga itu harus jadi penerus, mengurus surau. Tak terkecuali bapak yang pada masa mudanya masih giat ikut pencak silat. Sebelum menginjak dewasa, bapak dikirim ke pondok pesantren dan belajar banyak soal agama. Alhasil bapak jadi pendekar sekaligus santri, ditakuti dan disegani, di dusun itu.

Waktu ragil berusia 5, bapak masih melatih calon-calon pendekar di pelataran surau. Tapi karena perang antar kelompok pencak silat, rumah bapak disterilkan. Tak ada kegiatan malam atau latihan-latihan bela diri. Berbulan-bulan rumah dan surau sepi, tak ada pemuda yang berani sekedar jaga malam di surau. Sampai pada akhirnya ibu ragil berinisiatif membuka taman baca al-qur’an untuk anak-anak seusia ragil sampai 12 tahun. Rumah dan surau jadi ramai, ragil kembali punya teman bermain dan belajar.


Setelah kematian ayah bapak, penerus imam surau dan pengajaran ngaji anak-anak dusun adalah bapak dan ibu. bertahun-tahun kemudian, derajat kesalehan bapak meningkat. Buku-buku dan kitab-kitab kuning terkumpul sealmari penuh. Kakak kedua ragil pun diberangkatkan ke pondok. Tujuannya tentu sama, menjadi penerus ketika bapak sudah tiada nanti. Sebagaimana bapak, selama di pondok kakak kedua juga mempelajari banyak ilmu agama, sampai pada nahwu-sharf-balaghah, dari imriti sampai katam alfiyah, hingga akhirnya memutuskan pulang. Semua berjalan sesuai dengan apa-apa yang sudah digariskan oleh para pendahulu. Tak ada yang memesan takdir lain.


Cerita berubah ketika ragil lulus sekolah dasar. Bapak tak mengijinkan ragil ke SMP. Sebab bagi bapak, ragil sudah waktunya mempelajari ilmu agama yang lebih banyak, dan ragil juga harus membiasakan menutup aurat. “Ngelawan bapak itu Allah ndak redho. Lek wes kewanen (berani, red) ngelawan, keluar!!!” bentak bapak buat pertama kali. Ragil pun sekolah sesuai keinginan bapak dan ibu, tanpa perlawanan.  Setahun, dua, tiga, ragil jadi pribadi dewasa sebelum masa dewasa tiba. Menjadi gadis penurut, pendiam, menerima segala kehendak bapak.

“Agama itu nomor satu. Biar Gusti redho. Wes titik iku.”
“Agama itu penyelamat dari nerakane Gusti. Ndak iso setengah-setengah, ndak iso nego-nego. Sing wis baligh iku wajib hukume ngerti.” Tambah Abah.

Di usia 15 tahun, panggilan bapak secara tak disadari berubah, jadi abah. Sebab usia semakin sepuh dan hampir semua masyarakat sedusun memanggilnya abah. Kesalehan pun bertambah seiring bergantinya panggilan. Abah juga jadi lebih sering puasa mutih, senin kamis, qiyam al-lail, dan segenap ritual atau amalan-amalan dalam basis agama.


Kesalehan pribadi itu merambah ke lingkungan masyarakat sedusun. Abah jadi tokoh agama, tempat merujuk. Kata-katanya jadi fatwa, pesan-pesan sehabis melakoni ibadah pun laik ketentuan yang harus dijalankan oleh masyarakat sedusun. Tak bisa tidak. Jika ada yang menentang, ia bakal dapat masalah, sebab abah juga jadi provokator, menyeru pada kelompok mayor, tak memberikan tempat pada penentangnya. Kesalehan itu berbuntut panjang pada hal-hal privat yang mestinya tak diurusi oleh abah. Seperti bab ibadah individu, abah pula yang ikut jadi hakimnya.



Kita tinggal meneguk botol terakhir. Sedang perbincangan soal ragil jadi semacam guyonan lalu. Tanggapan ragil soal bapak yang jadi abah tambah bikin suasana malam itu riuh.

“Bedalah… ketika kamu bicara dengan abahmu, ada tatanan yang mengharuskanmu berlelaku lebih sopan. Sedang ketika aku bicara dengan bapak, biasa saja, kita bisa kekancan.” Seloki mengarah pada mulut dwarapala pertama. Kuhitung ia menenggak lebih dari selusin anggur dalam seloki.

Giliran dwarapala kedua, lebih tak punya nyali bicara. Tapi seperti biasa, anggur membuatnya hilang kendali. Dan demi apapun, aku lebih suka melihat mulut manisnya itu tak terkontrol. “Nilai yang dihadirkan bapak dan abah beda, Ra… Perbedaan itu nyata dan di-aamiin-i banyak orang. Dan dari kanca-kanca yang tak kenal, 3 anak yang manggil bapak dengan abah, pasti akan punya tatanan laku dan  bahasa rumit. Harus lebih halus, harus lebih ini dan itu. Tak boleh melakoni apa-apa yang bisa dilakoni anak bapak semau udel. Yaaa to? Makanya jangan panggil bapak dengan abah. ah, tapi bapakku toh sama saja, pikirannya tak mau terbuka, melihat dari satu sudut, dan menyalahkan selainnya. Manusia-manusia…”

“Bapakku itu orang yang shaleh. Aku dihormati ya berkat bapak.”

“Oh, iya jelas, kamu mulai gila rasa hormat.”

“Bapak itu kadang bener, anak gadis ndak boleh kayak gini. Ndak punya urat malu.”

“Oh, wis punya malu juga toh…”

“Kesalehan bapakku itu ada untungnya juga. Aku ndak perlu repot-repot minta tempat di hati masyarakat sedusunku.”

“Kau gila jabatan juga ternyata…”

“Tapi aku ndak menemukan bapak dalam kesalehannya. Itu bukan bapakku. Itu cuma abah sedusun, bukan bapakku. Bapak tak punya tangan dingin, bapak selalu menyuruh anak-anaknya mandiri, teliti, ngati-ngati, waspada. Itu ya bukan abah… Yang menyuruh ibadah-ibadah-ibadah, taat-taat-taat, tapi tak menaruh percaya sama sekali pada anak gadisnya.”

“Aku itu bisa berbuat lebih banyak. aku ini perempuan, kudu kendhel. Gitu kata bapakku, sebelum kesalehan bapak bikin pesanan takdir buatku dicancel. Ah mungkin aku sudah lama tak punya bapak…”


Seloki terakhir di tangan ragil. Seloki berisi anggur dari botol terakhir, bukan lagi cap orang tua. Sebab baginya orang tua tak bisa memberi kebebasan sebagaimana yang sering ia mimpikan dalam gendongan bapak. []

Perjamuan Kaum Toxic




Para toxic berangkat menjinjing nasib karibnya masing-masing
Beriring murottal an-Nisa' 81 di sisa malam ke 10 bulan suci
Tahun berulang hari tak lagi punya ganti
Sedang para toxic masih berulah menjinjing nasib karib-karib
Tak punya sadar, tak kuasa berpikir, tak lagi rasai apa-apa.

Para karib masih berjalan mundur
Menapak jarak makin jauh dari riuh
Enggan menengok sekitar mencari-cari setapak yang benar
Menuju luhur si pembawa tujuan
Sebab percaya karib tak akan menyalahi karib,
Menaruh segenap iman pada para toxic
Pun iman jadi gadai paling menarik 

Malam berganti pekat menyandingi para karib membuang segala cemas
Kolom-kolom pertanyaan senik disulap jadi optimisme golongan
"Selama belum bertemu si tujuan, jangan balik badan. Bukankah ini perjuangan panjang menuju perjamuan surga?" 

Para toxic membungkus keyakinan karib kian tebal janji-janji
Menuju bahagia di ujung jalan beriring murottal an-Nisa 81
Laik sirep sedang para karib hanya manggut-manggut
Menandai kediriannya pandai memahami

Malam-malam selanjutnya tak pernah ada kecemasan
Iman seluruhnya menuju para toxic tanpa ada keraguan
Sedang karib tak segan mengundi sendiri nasib buruknya
Dijamu oleh tujuan kosong para toxic
Menuju bahagia dengan alunan murottal 81 an-Nisa di perjamuan pertama.


Okt 2018

Di Pasar


Ia tak hanya jadi terdakwa, tapi jadi orang paling dipersalahkan pagi itu
Di pasar ia melihat kebutaan
Segala jadi serba abu-abu, tak ada yang berarti

Waja-wajah dipasang sedemikian remuk
Tak ingin dilahirkan dengan keadaan itu
Lalu melihat kerusuhan di gang-gang pasar
Tak menawar apa-apa

Sesungging kesadaran palsu laik dipupuk
Disiram kegetiran
Tumbuh di kenyataan 
Tampak lebih kejam, sering tak berpihak

Tapi, coba jelaskan padaku geliat itu
Jika tak ada sama sekali?

Jika pergulatan macam ini tak dilakukan mereka
Bukankah kematian bertubi pula yang dirasai, juga olehmu?
Sedang kita masih menikmati rutinitas saklek, menjemukan

Melihat transaksi semu antar manusia
Beberapa pilih pasang lebih banyak topeng dari yang lain
Beberapa menurunkan lengkung bibirnya

Ini seperti tradisi yang tak banyak orang sudi melakoni lagi
Sebab terlalu sedikit keuntungan
Sedang terlalu banyak peluh menunggu diteteskan
Segera...


Wlingi, Nop 2018

Gendhisku (Maria Zaitun)



Gendhis bercita jadi Maria Zaitun
Lebih mulia dari cita-cita
Jadi dokter atau milyarder

Maria zaitun lebih santun berdoa
Pada sang Hyang-nya
Meski ia kena raja singa
Meski ia tak sesuci perawan Maria

Gendhis pilih jadi pendosa
dosa manusia di mata manusia
Aku?

Aku pilih ikut Gendhis
Menjadi lacur bagi sebagian lain
Menjadi Maria Zaitun kesekian
Menjadi liyan...!

Give Away @widiyahusein
07 Desember 2018

Mencari Keadilan; #HearMeToo



“Bahkan mereka yang udah nglonthok soal gender, paham soal latar belakang dan semangat yang dibawa kaum feminist, udah sering belajar soal HAM, justru bisa jadi yang paling dominan melakukan tindak pelecehan. Bukan karena kesadaran palsu, pengetahuan mereka “seakan-akan” jadi alibi untuk mendapatkan lebih banyak ruang tanpa mendapat penghakiman.”

***
Koes, kita lanjutkan. Maaf kamu tadi bicara soal?

Nur belum kembali. Berita terakhir yang kudapat, ia bahkan belum mendapat keadilan. Ini waktu sudah tak cukup buat kehidupan, lebih buruk soal napas lanjutan. Aku usulkan, bagaimana kalau kau yang menangani putusan itu? Biar Nurku bisa pulang, Ruk. Kita sudahi perseteruan kita yang tak penting ini.

Aku bisa saja. Tapi siapa aku? Yang tanpa pembesar-pembesar bukan apa-apa. Hubungan baik mudah saja, Koes. Tapi urusan ini jelas beda soal. Jagad media terlampau oportunis untuk bisa kita percayai sepenuhnya. Tapi mungkin ditempatku tak semengerikan itu. Kau bisa. Hanya satu hal, kau sepakat?

Kau mau mulai dari siapa, Ruk? Di sini aku jadi gagap teori, tidak punya lebih banyak ruang untuk bisa menjelaskan keadaan tak menyenangkan ini. Aku hanya sepakat ini terlalu disepelekan. Mereka abai. Bagaimana mungkin aku menyangkal tanpa bukti yang sudah "diberangus?"

Akan kuurus itu nanti. Selebihnya kita harus menaruh banyak ranjau, untuk mengelak dari tuduhan menggunjing. Ah, kita harus siap-siap menerima tudingan melecehkan, atau bisa-bisa kita juga dapat pasal pencemaran nama baik. Hati-hati kau, Koes. . .

Aku tidak kemana-mana, Ruk...

Manusia harus selalu berhati-hati, Koes. Terutama jika berhadapan dengan pikiran dan perbuatan sendiri. Bukannya aku tidak percaya padamu, cah bagus. Tapi sesiapa saja, bisa memiliki kemungkinan yang sama, melakukan pelecehan. Sebab pelecehan ada banyak rupa, termasuk kata-katamu tempo hari yang seksis, tanganmu yang tidak berhenti menyentuh perempuan-perempuan tanpa ijin.

‘Kan kita temen’ …

Kebanyakan perempuan, termasuk aku, Koes lebih banyak diam dan menerima (seakan pasrah) ketika mendapatkan perlakuan-perlakuan yang melecehkan. Bukan karena kami tidak tau itu adalah bentuk pelecehan, tapi karena kami (lebih seringnya) tidak mendapat ruang untuk mengatakan itu pelecehan, kemudian mendapat perlindungan.

Alih-alih mendapat perlindungan, banyak dari kami justru menjadi korban untuk yang kesekian kali. Dengan banyaknya pertanyaan rasis atau malah seksis yang ditujukan. Selain itu, ketika berada pada posisi dilecehkan, pikiran berontak yang selalu hadir dengan terpaksa kami tutup karena rasa takut  dan putus asa yang terlalu besar. Dominasi lagi-lagi membuat kami merasa tidak punya daya untuk melawan.

Itu tidak hanya kami alami satu dua kali, Koes. Berulang-ulang kali, bukan dengan orang baru. Bahkan kebanyakan yang melakukan pelecehan kepada kami adalah orang-orang yang dekat dan sudah mengenal kami bertahun-tahun. Mereka menganggap itu hal biasa. Dan yaa... Seperti katamu, atas dasar 'kita kan temen' semua seakan wajar-wajar saja tanpa bertanya terlebih dulu, tanpa kesepakatan apapun.

Aku tidak tau bagaimana jaring-jaring mulai menyelinap
Sangat tipis dan kamu tidak akan menyangka itu sewarna kelam
Hari-hari berikutnya kita tenggelam bersama

Kita menikmati keadaan lain
Melupakan pelajaran lain dan hari-hari jadi sependek itu
Mungkin, menjadi sangat intim

Katamu, dan kala itu tak satupun hal kutolak
Katamu, dan satu-satu mulai kuperdebatkan
Kau mulai jadi penguasaku

Kita beranjak kehilangan seluruh ruang
Tak sedapatnya bicara
Hari-hari jadi kian buruk

Tamparan demi tamparan atas ketidaksetujuan
Apa-apa kau layangkan sebagai kewajaran ujaran
Ini salah ... Ini salah ... Tapi ini jadi benar

Tapi tak semudah itu berkata TIDAK
Dan belenggu? jadi punya banyak sudut
Tempat para pesakitan dikurung, dikungkung

Ini ruang jadi makin pengap
Sial ! Tak bisa teriak, tak bisa meraung, tak bisa menyepah apa-apa
Tak ada yang tau, sesiapa

Bagimu dan sekawananmu jadi kuasa mutlak
Ini laik sangkar 
Dan tak ada yang bisa selamat dari jerujinya

Tapi, Koes... Kalau kau ingin selamatkan Nurmu, harusnya kau bisa ikut berjuang menghentikan sekawanan kita melakukan hal yang sama-sama tergolong melecehkan, dalam bentuk apapun. Demi keadilan yang musti tegak, demi manusia yang setara dan demi kemanusiaan yang terus kita upayakan. 

#stoppelecehanseksual
#Kampanye16hariantikekerasanterhadapperempuan








Tanah Warisan


Mata sang raja memerah. Ia kalungkan celurit ke arah pinggulnya. Kemudian berjalan ke arah timur, menuju lahan gambut di pematang. Matanya masih sembab, kemudian selangkah kakinya menapak, air mata tak terkira jatuh membasahi kaos oblongnya yang penuh lumpur.
Raja yang dikata arif kini bergelut dengan hatinya. Saudara tertua ingin mengambil alih tanah kekuasaan yang telah dibagi rata. Tapi ketika ditanya oleh bungsu, raja yang merupakan anak ke-4 dari ratu penguasa tanah kidul itu mengelak. "Bukan, nak. Kakakku tidak ingin mengambil alih, hanya saja tanah gambut warisan itu harus kami jual. Bukan kerajaan ini sudah tak punya kendali, tapi ini demi..."
Sang anak tidak terpuaskan dengan jawaban raja sepuh itu. Ia berbalik dan mencari ibu, permaisuri, kemudian berbisik, bertanya, "Duhai ibu... Gejolak apakah yang tengah di hadapi keluarga ini? Akan diapakan pula tanah warisan nenek itu?"
Ibu kemudian menyuruh si bungsu untuk membuatkan secangkir kopi. Bagi ibu yang kini sudah memiliki 6 cucu dari ketiga anaknya ini, menyeruput kopi masih hal sakral untuk memulai suatu pembicaraan penting. 
"Duduklah nak...!" pinta lembut sang ibu pada bungsu.
"Hal apa yang ingin kau dengar dari mulut ibumu yang renta ini?"
Mereka berdua (ibu dan anak), berbincang serius dengan dua cangkir menemani isak bungsu. cangkir-cangkir itu gemetar, turut menyaksikan penggal demi penggal cerita yang disampaikan ibu.
Tanah peninggalan ratu. Tidak luas. Dibagi rata sesuai jumlah anggota keluarga, 6 bersaudara. Namun sulung tak pernah merasa puas, selalu merasa pembagian ratu tidaklah adil. Raja yang arif menjadi tertuduh mendapat bagian paling banyak.
Tapi raja, sebagaimana bijaknya. Bersama dengan saudaranya yang lain melakukan musyawarah. Mencari jalan tengah agar tidak terjadi pertikaian antar saudara. Ia akan lebih merasa sakit dan malu jika harus berdebat hanya karena tahta dan warisan. Akhirnya raja dan saudara-saudaranya bersedia untuk menjual keseluruhan tanah warisan peninggalan sang ratu.
Sang raja pulang dari pematang dengan wajah merah. Matanya tambah sembab. Lesu dan lusuh. Tidak ada yang bisa sang raja lakukan kecuali menuruti keinginan kakaknya. Keutuhan keluarga besar itu terlalu penting baginya raja yang arif.
Tanah ratu terjual. Logam-logam emas telah dipegang masing-masing anggota keluarga. Termasuk sang raja. Tapi tak kuasa ia memandang logam-logam itu. Logam emas yang telah menggantikan tanah gambut warisan ratu, terlalu kecil. Tak seluas tanah tempat sang raja kecil bermain berlarian bersama kakak dan adiknya.
Warisan itu telah memecah rasa cinta antar saudara. Mengambil kenangan sang raja bersama mendiang ibunda. Mengubah indahnya saling memberi menjadi iri dengki. Oh dewa.

Bandung Tulungagung, 20 Nov 2016, 1:18

Senja dan Perempuan


Sen mengira kau akan pergi lebih muda. Tapi tidak, nyatanya kau masih hidup setahun lebih lambat. Sen tidak menahu perihal tatanan hidupmu yang kini penuh sesunggukan. Sen hanya utusan peri gigi yang menaruh iba padamu sampai hilang dini.

Kuperkenalkan Sen padamu tahun lalu, saat kau masuk ruang pesakitan. Ia dan kau cepat akrab, tanpa sekatapun sudi merambati lesung bibir masing-masing. Sen sudah sangat lelah dan memintaku mengantarnya pulang, baru esoknya ia kembali menjengukmu. "Nii, ajak aku bertemu Ruk esok hari. Dia tidak akan punya teman sepertiku." Bisik Sen padaku setelah keluar dari pintu ruang pesakitan itu.

Keesokan hari, benar saja, Sen merengek minta menemuimu. Bajuku yang sudah sangat lusuh jadi tambah lusuh, tak keruan lagi karena tarikan tangan Sen. "Baik-baik, sebentar Sen... Biarkan aku menyelesaikan bebersih kamar." Dan dia terus mengawasiku dari jarak 3 meter.

Dua jam kemudian aku dan Sen sampai di depan kamar berjeruji, tempatmu sembahyang. Tapi baik aku, Sen, juga dua penjaga kamarmu tak mendapati jasadmu di sudut manapun. Tampak wajah Senku merah padam, kemudian ia teriak, "Mana Rukmi, mana Nyii, mana sahabat baruku?" Saat itu juga semua orang di rumah tahanan, tempat anak-anak seusiamu diisolasi, panik bukan main, kalang kabut mencarimu. Di bawah meja, di dalam almari, di atas almari, di kamar mandi, gudang, dapur, di segala sudut rutan, dan tidak ada yang berhasil menemukanmu.

Aku hanya bertanya dalam batin, "Kemana kau ini, Ruk? Tau kau semua disini sekonyong-konyong sayangi kau." Ketika senja mulai menggembala awan-awan merah muda, datanglah tukang pos membawa kabar keberadaanmu. Ia kata kau tengah terdampar di bukit ujung selatan kota kelahiranmu. Kubayangkan kapan kau bisa sampai ke kampungmu, sementara jarak Ibukota dengan kadipaten Ngrawa sangatlah jauh. Tak mungkin jarak itu kau tempuh sedemikian cepat, kurang dari setengah hari.

Sen terdiam, lalu duduklah ia pada kursi panjang, bersandar. Ia teringat sesuatu tentangmu. Yaa, Ruk... Senku sempat memimpikanmu di malam setelah pertemuanmu dengannya. "Nyii, kuimpikan Rukmi pulang kampung esok hari."

***

"Sen, Aku pulang tanpa pamit pada sesiapa. Perempuan sepertiku tak bisa melulu jadi akrab denganmu atau laki-laki lain. Aku perempuan berpendidikan sekenanya, tak bisa melakukan pekerjaan domestik apalagi berkarir sebagaimana perempuan muda di luaran sana. Aku pamit, Sen. Kita akan berteman lewat angin-angin dan hujan, lewat kekolotan dan kecongkakan, lewat kabar burung soal tindas-menindas, sehingga kita bisa saling sesenggukan di bawah langit mega. menyerupaimu, dan namamu, Senja."

Sen habis mendongak, melangkah pulang tanpa menoleh. Di trotoar jalan ia melihat papan reklame besar bertuliskan namamu, Ruk. Memegang kendali atas kedirianmu. Dan ini masih hari yang sama, belum genap 12 jam berlalu, belum genap sebagaimana masa itu, ketika ia meninggalkanmu. Tapi kau sudah lebih dewasa, menjadi tak layak berakrab dengan Senku. Perempuan bujang dengan gincu merah, bernapas dengan bau eslen, asap nikotin, dan bekas peluru di tungkai kakimu. []



Desember 2017

Kematian Kesekian (M-E-R-O-K-O-K M-E-M-B-U-N-U-H-M-U)



Aku diberitahu semburat
Batang-batang kecil itu tak akan bisa buatku sekarat
Lebih-lebih yang sekarang
Hanya serupa permen mentol rasa buah gampang hilang
Bikin melarat

Lewat depan rumahmu senja lalu
Tiga anak mengeja huruf-huruf balok
Di tembok bangunan lawas
'M-E-R-O-K-O-K M-E-M-B-U-N-U-H-M-U'
Diulang tak sampai jeda lima putaran
Lalu para pria kecil mendebat pelafalan
Mencari maksud dan aku dengar

Sayang aku jadi pemikir kematian, ngger
Sebelum dua kata itu dilafalkan banyak manusia
Bertubi-tubi kematian telah lebih dulu menjelma
Lewat lampu-lampu kehabisan daya
Laju roda yang berhenti kehabisan bensin

Termasuk kau
Yang mendadak kehilangan ruang cengkrama
Kehilangan jarak dan rindu
Kehabisan peluh

Termasuk aku
Yang memilih kehilangan sepi
Menoleh ke jalanan bising dan pengar
Kehilangan putusan-putusan penting lain
Kehilangan adab berontak, ketaksukaan

Sampai aku dan kau menemui akhirnya
Lupa bahwa kita pernah mati berkali-kali
Sebelum melafal dua kata yang jadi mengendap di gendangmu
Sebelum menyenggamai batang-batang berasap mentol
Sebelum mengenalmu dan berbotol Iceland

Sebelum menua
Kita telah bolak balik mati muda...

24 Oktober 2018

Nota-nota Kelinci



Nota Kelinci

Nota-nota itu berbaris menunggu dibaca orang-orang penting negeri dongeng
Banyak yang mengaku telah membaca tapi lupa apa-apa yang terbaca atau sengaja scroll ke bawah tanpa iba

Seperti cerita seekor anak kelinci, melompat dari satu cerita menuju cerita yang lainTapi? tak ada yang peduli pada apa yang ia lakukan
Semua memandangnya dengan tanpa pertimbangan, tanpa pertanyaan, tanpa rasa penasaran

Anak kelinci tidak mengerti
Manusia membangun karakter buruk baik kepadanya, tanpa ada perumusan yang dalam
Hanya sukur membuat si anak kelinci nampak tidak punya daya utuk mencari definisi atas dirinya, lelakunya

Cerita ini menjadi sama tak berarti
Ketika menemui kedangkalan pengarang dalam mengaspirasi karakter tokoh dalam ceritanya

Cerita semacam ini akan jadi jemu
Tidak menarik karena tidak ada rasa ingin tahu pembaca terhadap kisah si anak kelinci

Yang ternyata ia hidup dalam sangkar
Tidak punya sanak, bahkan orangtua
Sendiri dalam pencarian dan ketakseimbangan diri
Nasibnya dipertaruhkan 

Kepada pengarang nakal yang tak punya rumusan sopan
Mereka tak punya dalih lain, selain pencair keuntungan atau laba suapan
Tak ada lagi peduli, iba, bahkan rasa memiliki.

Tulungagung, 18 Desember 2017

Nota Pertama
Kebanyakan nota kubuat samar
Biar laporan pertanggungjawaban tidak terwujud
Biar mereka dibuat pusing
Dan aku menang atas ketiadaberdayaan mereka

Aku tidak suka cinta
Rasanya pahit dengan campuran lemon yang asam
Bahkan serbuk kopi pun akan hanyut olehnya
Aku cinta yang tidak ingin suka kepada cinta

Lalu nota-nota kubuat tanpa cinta
Baladanya terkotak-kotak epik
Alurnya tidak sesuai penanggalan masehi atau bulan
Dan cerita kita sampai akhir
Meski tidak pernah dimulai.

Tulungagung, 15 Februari 2017, 06;20


Nota Ketiga
Manusia yang mendengungkan kebebasan tengah bersua
Dihadapan secangkir expresso, dan aceh gano
Sedang lain larut bersama butir-butir es batu
Disiram cairan coklat memabukkan
Es cappuccino, katanya.
Dini hari,
Para manusia itu melingkar
Menempati liang-liang baru dengan gugusan tim yang beda
Puluhan dan ratusan kali mereka bertemu
Tapi jiwa mereka, pikiran mereka, adalah baru.
Tulungagung, 18 Februari 2017, 02;39
#Morfo_Biru

Rindu...?


Rindu...?

Cinta dan politik praktis sama-sama keji, Koes
Mengambil celah, kuasa
Menyayat banyak hati
Memeri sedikit, kecuali luka

Kau juga, Koes
Rindu masih tunduk pada apa-apa, gugatanmu
Peran menguntungkan
Sedang kita jadi makin asing, beda alasan
Sampai titikmu nurani bukan tujuan

Jadi kita jelas, Koes
Tak perlu saling temu
Sebab ketidakmampuan menafsiri r-i-n-d-u
Biar kau dengan kekasih-kekasihmu
Sedang aku kukuti lakon sang dalang
Menguliti kebinatangan.

Tulungagung, 2018

Mengukut


Hujan tidak bisa bising.
Riaknya lebih hening ketimbang sepi.
Gelagarnya lebih manis ketimbang gulali.
Ia tidak menyalahi manusia atau mengancam keberadaannya.
Seperti rumusan Sapardi, ia lebih bijak ketimbang hakimnya manusia.

Ia membawaku pada kebercandaan.
Kilat-kilat yang turut datang bertandang, mengupaya diri mengalami takut akut pada malam.
Padahal, yaa, Tuhan memang sedang suwung dan memilih bercanda dengan hamba-Nya.
Di tengah riuh redam perang batin perselisihan, pergolakan tiada habis, Ia pilih satu dua makhluknya mengukut diri, sembunyi.

Seperti semut-semut yang berlarian menepi ketika mendengar pasukan Sulaiman datang.
Ia beri tanda pada koloni itu tunggang langgang balik ke sarang, menyelamatkan diri.
Jika tak sayang, tak mungkin Ia beri satu koloni itu pendengaran tajam atas ketentuan nasib baik buruknya.

Tapi, Ia malas menyayang pada pecandu bising.
Bumi cipta-Nya jadi bising, ramai permusuhan, pertarungan tak adil, pelecehan, perebutan kuasa, dan itu-itu saja perdebatannya.
Sudah habis lagi sayangNya, lebih-lebih pada mereka yang membuat hujan seperti bencana, bukan rahmat apalagi pengantar nikmat.

Sulit menemui hujan yang meringkuk damai.
Sesulit mendengar-Nya mematikan saklar kehidupan untuk kemudian mengantar lelap di pangkuan.
Ini bukti terlalu riuh sesak nuansamu, nuansaku, di tengah-tengah kita.

Tak ada tempat buat mencari suaka, mencari hening, mencari hujan yang tak bising.
Hingga sisanya tidak lebih hanya rengek jeda rengek meronta, menyumpahi hujan untuk segera reda.
“Riuh nyatanya tak bisa diredam!” sekali itu seperti bising yang tak bisa dibungkam.

Keinginan kembali adalah sebuah upaya jadi kesia-siaan.
Riuh tak bisa mengukutkan diri meski diminta pergi.

Sebab manusia menjejali heningnya dengan suapan-suapan emosi, tiada henti.[]

Jadilah Perempuan yang Cantik



Cantik adalah salah satu kosa kata yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari dalam kamus seorang perempuan. Tidak peduli bagaimana definisi cantik yang sebenarnya, akan tetapi pada diri perempuan selalu terdapat keinginan untuk menjadi cantik dan diperhatikan oleh banyak orang. Hal ini tidak hanya terjadi pada perempuan-perempuan di wilayah perkotaan, tapi hampir di seluruh wilayah, konstruk pikiran tersebut sama saja. Menjadi cantik seakan sudah fitrah yang terus menerus diupayakan oleh semua perempuan.

Memang benar definisi cantik berbeda-beda setiap orang, ada yang mengatakan cantik selalu berhubungan dengan kulit putih, hidung mancung, rambut lurus hitam, alis tebal dan bibir merona. Ada juga yang mengatakan bahwa cantik selalu identik dengan kurus atau langsing sementara perempuan atau gadis yang gemuk dikatakan tidak cantik. Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa cantik itu ketika perempuan manut, pendiam, tidak banyak tingkah, kalem, dan lain-lain. Pada akhirnya cantik menjadi tidak bisa dipisahkan dari bentuk fisik dan sifat perempuan. Padahal dengan menjadikan definisi cantik sedemikian rupa, justru sangat mempersempit makna cantik itu sendiri.

Setiap perempuan seharusnya sudah menyadari sejak awal, bahwa mereka terlahir ke dunia sudah dalam keadaan cantik, baik cacat maupun tidak. Karena Tuhan telah memberikan nikmat melihat dunia yang sebenarnya fana ini kepada mereka. Jadi sebenarnya perempuan sudah cantik sejak dalam fitrahnya. Tidak ada perempuan jelek karena cantik dan jelek hanyalah sebutan sifat yang sangat relatif, tergantung siapa yang menyebutkannya. Membandingkan diri sendiri dengan perempuan lain mungkin tidak ada salahnya. Tapi jika sudah ingin menjadi cantik seperti seseorang, hanya karena dia lebih putih bersih, dengan tubuh yang ramping, dan lain sebagainya, tentu berarti kita juga tidak bisa menghargai apa yang telah Tuhan berikan.

Sebenarnya perempuan tidak perlu iri dengan apa yang dimiliki perempuan lain, karena setiap perempuan memiliki kelebihannya masing-masing. Meskipun berkulit sawo matang atau gelap, pasti ada sisi manis yang membuat setiap orang memerhatikan Anda. Begitu juga meski rambut Anda tidak lurus, justru itu menjadi ciri khas Anda sebagai perempuan dari marga Anda sendiri. Menjadi cantik seharusnya tidak dengan memperbaiki ciri fisik dan sifat, akan tetapi memperbaiki sikap dan karakter Anda sebagai perempuan yang kuat, bijak, bertanggungjawab, mandiri, dermawan. Sehingga cantik yang timbul adalah cantik tidak hanya dari sisi luarnya, tapi juga dari jiwa terdalam.

Perempuan memang sudah seharusnya menjadi cantik sejak dalam pikiran. Karena selain harus menjadi diri sendiri, Anda juga akan menjadi sosok ibu yang dicontoh oleh anak-anak Anda. Anda akan menjadi istri yang mengurus segala keperluan rumah tangga dan menjadi pengimbang kekurangan suami. Maka sudah semestinya seorang perempuan menjadi cantik dengan definisi yang lebih luas. Tidak hanya terbatas pada unsur-unsur make up dan baju bagus, tidak sekedar kurus atau gemuk, dan tidak sekedar kalem atau cengengesan. Definisi cantik yang sempit itu harus mulai Anda buang jauh-jauh dan mulai Anda gantikan dengan cantik yang sesungguhnya. Cantik yang dapat membuat kekuatan jiwa Anda terpancar dan mampu memberikan kemanfaatan kepada sesama untuk bisa menjadi cantik dari dalam.


Jadi, tetaplah berkeinginan menjadi perempuan cantik. Tapi tinggalkan saja pikiran menjadi cantik yang penuh dengan kepura-puraan, atau cantik yang penuh dengan topeng. Karena sesungguhnya cantik itu berasal dari kejujuran seorang perempuan, dari tindak tutur perempuan yang mampu memotivasi sesamanya dan mengangkat derajat sesamanya. Maka tetap jadilah perempuan yang cantik itu. 

Koesno dan Seseduh Toleransi

“Kau harus membaca banyak buku, Koes. Sebelum membungkam mulut dan tidak memberi pertanggungjawaban apapun. Kau mestinya paham, bahwa agamaku tidak sepenuhnya bisa memberi pemahaman, bagaimana aku harus bersikap. Semua yang kupelajari hanya tafsir-tafsir manusia yang tidak bisa mengesampingkan subjektivitasnya.”

***
Koesno meraih pulpen biru dari saku kemeja. Membubuhkan beberapa tanda tangan di halaman kedua sampul buku miliknya. Benar katamu, Koes. Menjadi sholeh tidak harus sering ke masjid atau memakai baju koko kemana-mana. Cukup membuat satu buku berisi tuntunan dan kiat-kiat beragama, maka kau akan dianggap yang paling beradab.

Belum genap 30 buku yang ia tandatangani, seorang perempuan dengan rambut terurai datang tepat di hadapannya, menggeser beberapa orang yang sedari satu jam lalu antre, meminta tinta biru Koesno. Di tangan kiri perempuan itu membawa kerudung persegi empat, sedang tangan kanan membawa buku Koesno dengan sampul lusuh.

Para pewarta tiba-tiba memuji Koesno. Dilanjutkan oleh para penggemar dan pemilik kedai kopi. Dengan senyum sumringah, puji-pujian itu ditanggapi sepersekian detik. Orang-orang yang bergumul dengan sinar matahari siang itu, tampak girang mendapati ada perempuan yang ingin dipakaikan penutup kepala oleh Koesno. Semua bersorak sorai seperti baru mendapatkan jatah raskin dari pemerintah.

“Seharusnya sejak dulu mbak ini taubat.” Seru salah seorang ibu muda di sudut kedai.

"Untung ada mas Koes. Jadi lebih damai sekarang…”

“Meskipun tadi mbaknya ndak sopan, tak maklumi aja. Emang buru-buru pengen tobat.”

Koesno Sulung berdiri. Masih dengan senyum sumringah dan pulpen biru di tangan. Ia menghampiri perempuan yang ditaksir oleh para pewarta seusia dengan si pemuda. Belum sejangkah maju, perempuan itu menarik tangan Koesno dan lenyap di trotoar jalan. Sementara para pembaca kebingungan, pemilik kedai sekaligus penggagas acara siang itu mengajak para tamu menikmati hidangan, sembari menunggu Koesno kembali.

“Koes, kau tau apa yang diceritakan Emily kepada Wallis?” Derap langkahnya terlalu cepat, hampir-hampir Koesno tak mampu menyamai lajunya. Tanpa memedulikan karibnya, ia melanjutkan bicara, “The Various Flavors of Coffee, halaman 472, Emily mengaku bahwa Arthur, suaminya, menghendaki kebungkaman, keteraturan, dan penerimaan. Kau tau kenapa aku begitu marahnya denganmu? Jawab, Koes!”

Hampir 10 menit berjalan. Langkah kaki keduanya berhenti. Koesno melepaskan pergelangan tangannya dari terkaman si perempuan. Ia menatap punggung perempuan di depannya dengan datar, sesekali menghela napas dan mengatur frekuensi bicaranya, seperti biasa.

Belum sempat mulut itu berucap, perempuan itu membalikkan badannya dan menunjuk kea rah Koesno, “Cukup bersandiwara. Aku adalah karibmu ketika hitam dan putih. Tapi jangan sekali-kali berbicara denganku layaknya manusia suci.”

“Ruk, dengar… Jika kau sudah membaca keseluruhan buku itu, harusnya kau paham, bahwa aku hanya ingin menjadi apa yang publik inginkan. Aku kehilangan kedirianku. Publik ingin aku membenarkan apa-apa yang mereka yakini, bukan kebenaran yang aku ketahui.”

“Kau tau aku begitu malunya berkarib denganmu, Koes. Aku seperti anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, tak punya harga sebagai manusia. Koes, biar aku perempuan, aku tetap manusia. Aku punya Tuhan dan kau tak punya hak, secuil pun, menjadikan keperempuananku dan Tuhanku sebagai objekmu.” Isak itu justru menandai ingatan Koesno tentang kematian Emily dan perjuangan gerakan perempuan yang meminta hak suara parlemen di London.

***
Belum genap satu jam dan kedai itu mulai gerah, sesak dengan keluh tak berkesudahan. Para tamu undangan telah kehabisan waktu menunggu Koesno kembali dari tarikan perempuan tak dikenal. Mereka meminta pemilik kedai mengembalikan Koesno dalam forum dan menyelesaikan apa yang mereka inginkan.

“Bisakah menyediakan seluruh menu kopi yang ada di kedai ini untuk para tamu?” Suara lembut Koesno menyudahi kegelisahan para tamu dan mereka kembali bermuka dua, tenang dan sinis.

Sepersekian menit bergeliat cepat. 10 jenis bubuk kopi, masing-masing 10 cangkir pun telah usai diseduh dan dihidangkan di meja panjang. Koesno mempersilakan para tamu mengambil  sesuka hati. Pun jika ada yang mengambil dua sampai tiga cangkir untuk satu orang.

“Maafkan saya membuat Anda sekalian lelah menunggu. Tapi ada cerita menarik dari kepergian tadi. Dan sebagaimana keinginan saudara-saudara, saya akan memberikan beberapa pesan hari ini.”

Para pewarta telah lebih dulu mempersiapkan perlengkapan untuk merekam apa-apa yang disampaikan oleh Koesno. Sementara beberapa tamu undangan sibuk mengeluarkan alat tulis, termasuk gadget untuk mengabadikan momen yang mereka tunggu-tunggu. Koesno sendiri dengan lamat mengeja ulang, perkataan Rukmini tentang buku yang ditulisnya, tentang keinginan mayoritas, dan ketidakmampuan Koesno mempertahankan kedirian atas karyanya.

Laki-laki berkacamata itu mulai bercerita panjang lebar soal buku yang pernah dilahapnya bersama Rukmini. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan agama, tapi sangat menyinggung mayoritas yang ingin mendapat pengakuan dan tempat lebih banyak. Akan sensitif ketika didengar para penjual keseragaman, para pemegang kuasa, para investor, dan suami-suami yang ingin istrinya menjadi ‘shalehah’ ala hasrat purbanya.

Sesungguhnya Koesno hanya menceritakan ulang isi buku itu dengan nada tegas seolah ingin para tamunya memahami maksud dan tujuan kehadirannya kembali di forum itu. Namun, sepertinya hanya beberapa orang saja yang kemudian tertunduk, kesal lantas pergi begitu saja, dan beberapa masih memasang wajah sinis.

“Kita baru saja menyeduh kopi dari berbagai wilayah, memiliki beragam jenis, dengan beragam rasa, dan cara menyeruput yang berbeda. Tapi tidak ada yang protes atau menyela. Tidak ada yang menyinggung salah satu jenis karena memiliki cita rasa yang berbeda dari lainnya. Anda sekalian juga tidak memungkiri bahwa betapapun beragam jenis kopi, pahit tetap menjadi keniscayaannya. Saya rasa perlakuan kita terhadap kopi dengan perlakuan kita kepada sesama manusia, harusnya tak jauh beda."

Sejenak Koesno menarik napas, kembali bercerita kisah Wallis melakukan perjalanan dengan cita rasa kopi dari London hingga Abyssinia –Sekarang Ethiopia. Benar katamu, Ruk. Manusia tak harus ndakik-ndakik dengan segala macam teori dan kajian yang melulu dipelajarinya, agar dapat meyakinkan orang betapa pentingnya sesuatu.

Cukup seperti yang pernah dikatakan oleh Wallis di akhir perjalanannya, “… Bagiku sesuatu harus terasa sebagai apa adanya, dan bukan apa yang kau inginkan. Kekurangan kopi sama juga menjadi bagian dari sifatnya, seperti kebaikannya, dan aku tidak mau menutupinya. Hlm.  677.” []

Pageviews