Memilih Menjadi Mahasiswa Kupu-kupu atau Kura-kura? Tidak Semua!


Sebetulnya topik seperti ini selalu menjadi pembahasan yang sepertinya, akan terus diulang-ulang setiap tahunnya. Apalagi ketika masa penerimaan mahasiswa baru dimulai. Seluruh organisasi kampus baik itu eksternal atau internal akan berbondong-bondong mengiklankan dirinya masing-masing. Slogan yang dibawa tetaplah sama yakni, jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu, berproseslah di organisasi agar nantinya siap, ketika memasuki dunia pekerjaan. Lantas bagaimana dengan mahasiswa yang langsung nyambi kerja?

Saya rasa tidak semua mahasiswa baru itu polos dan bisa dengan mudah termakan iklan tersebut. Banyak mahasiswa baru yang tingkat literasinya tinggi, mungkin akan merasa sedikit jijik ketika mendengar itu. Sekarang banyak sekali kegiatan yang dapat kita ikuti jika ingin mengembangkan minat, skill, menambah pengalaman, dan sebagainya. Bukan berarti organisasi kampus tidak penting, ya. Semua tetaplah penting dan bagus, namun yang ingin saya garis bawahi, bukan hanya organisasi kampus yang menjadi satu-satunya tempat untuk mengembangkan diri.

kupu-kupu atau kura-kura - morfobiru.com
 

Organisasi memanglah tempat yang pas untuk menjadi kawah candradimuka atau tempat menggodok diri, seperti berlatih publik speaking, manajemen acara, berdiskusi, dan lain-lain. Semua hal tersebut bisa kita dapatkan di organisasi. Hanya saja terkadang, ada hal yang sering kali membuat kita malas seperti lingkungan yang toxic atau malah waktu terbuang sia-sia. Bagaimana tidak, jam kumpul rapat yang seharusnya ontime malah molor bahkan berjam-jam. Mungkin bagi orang yang menghargai waktu akan berkata “enggak banget deh.

 Baca juga: Hari Santri dan Kekerasan Seksual di Pesantren

Istilah mahasiswa kura-kura sering kali dilekatkan kepada mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampus. Kura-kura memiliki arti kuliah rapat kuliah rapat. Hal ini biasanya membawa dampak baik bagi mahasiswa itu sendiri, karena akan memiliki pengalaman berorganisasi, publik speaking, dan manajemen acara yang baik. Tapi yang harus diingat, jangan sampai kegiatan organisais tersebut menjadikan kita meninggalkan aktivitas perkuliahan. Tidak apa-apa kita aktif tapi tugas-tugas kelompok tetap dikerjakan. Jangan jadikan kesibukan di organisasi sebagai salah satu alasan untuk lepas tanggung jawab atas beban tugas perkuliahan. Ini alasan basi.


Di sisi lain, mahasiswa kupu-kupu dapat menjadi pilihan yang tepat jika dilakukan dengan tepat, dan sebaliknya. Mahasiswa kupu-kupu memiliki arti kuliah pulang kuliah kuliah pulang. Entah pulang ke rumah, kontrakan atau kos-kosan. Tidak masalah jika setelah kuliah langsung pulang, siapa tahu memang ada projek yang sedang ia garap, diam-diam bekerja, atau membantu orang tua di rumah. Hal ini baik, tetapi menjadi tidak baik ketika kita kuliah setelah itu langsung pulang untuk menikmati masa nganggur dengan tidak mengembangkan diri. Ini yang membunuh kita secara perlahan.

 jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu, berproseslah di organisasi agar nantinya siap, ketika memasuki dunia pekerjaan.

Pertarungan antara stigma mahasiswa kura-kura atau mahasiswa yang aktif organisasi itu lebih baik daripada mahasiswa yang biasa saja atau kupu-kupu memang dapat menjadi tontonan yang mempunyai nilai keseruan tersendiri di kampus. Apalagi melihat sebagian mahasiswa yang seringkali bertengkar, saling nilai menilai perihal perbedaan lambang organisasi. Akibat dari keramaian tersebut mungkin tidak sedikit mahasiswa yang nyeletuk,weslah dadi mahasiswa kupu kupu ae,” ini ada benarnya.  

 

Sebenarnya hal yang penting bagi kita, selaku mahasiswa adalah dengan menjalankan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian masyarakat. Jadi saya rasa tidak perlu kita bertarung label mana yang baik, mana yang buruk, organisasi mana yang baik, mana buruk. Semua sama baiknya tergantung kecocokan diri kita dan bagaimana kita menyikapi. Jangan-jangan kita sampai lupa akan pesan-pesan, rintihan, dan aspirasi masyarakat karena terlalu fokus mengurusi keributan di dalam kampus sendiri? Waduh jangan sampai. 

 

Masa perkuliahan memanglah cukup singkat, sekitar empat tahun. Jangan sampai masa-masa emas ini kita gunakan untuk mengurusi hal-hal sepele, seperti perihal mahasiswa kupu-kupulah, mahasiswa kura-kuralah, atau malah mahasiswa kumbang sekalian (kuliah tumbang). Pilihan untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura berada di tangan kita. Semua hal tersebut adalah baik jika kita lakukan dengan sebaik mungkin. Tentunya risiko dan tantangan akan selalu kita hadapi karena itu merupakan keniscayaan dari sebuah perjuangan, untuk menjadikan diri semakin berkembang dan menjadi lebih baik lagi.  

 

Selain itu, kita juga dapat mengikuti seperti halnya magang, kegiatan volunteer, atau freelance bagi mahasiswa yang mungkin tidak terlalu minat dalam dunia organisasi kampus. Namun sekali lagi, pilihan sekarang ada di tangan kita. Apapun langkah yang kita ambil, berarti kita juga telah mengambil segala tantangan yang di kemudian hari kemungkinan akan kita hadapi.[]


 

Mohammad Akip Imam M. Mahasiswa IAIN Kediri. Bisa disapa via IG: @mhmdakib_ / e-mail: akipimam21@gmail.com

Post a Comment

0 Comments