Kematian Penyerbuk Terakhir

 

Setiap pagi Marto selalu mencuci kuasnya lebih dahulu daripada membasuh wajah. Ia mengambil air dari pancuran bambu di belakang rumah, merendam bulu-bulu kuas yang mulai mengembang dan patah dimakan usia, lalu mengibaskannya perlahan hingga butir-butir air jatuh ke tanah yang masih basah oleh embun. Setelah itu, kuas diselipkan ke saku baju lusuhnya, berdampingan dengan sebilah pisau lipat yang gagangnya telah mengilap karena terlalu lama digenggam oleh jemarinya. Barulah ia membasuh muka, menyisir rambut yang mulai memutih seluruhnya dengan jari-jari tangan, kemudian berjalan kaki menuju kebun apel di lereng bukit.

Kuas kecil itu pernah menjadi milik Rara, anak perempuannya. Bertahun-tahun silam, ketika usianya belum genap sepuluh tahun, anak itu gemar menghabiskan sore dengan melukis apa pun yang ditemuinya di halaman rumah. Bunga-bunga liar selalu dibuat lebih besar daripada ukuran aslinya, kupu-kupu diberinya sapuan warna biru terang, dan matahari tak pernah lupa diletakkan di sudut kiri kertas gambar. Cat-cat air di dalam kotaknya telah lama mengeras menjadi bongkahan kecil yang tak lagi dapat dipakai. Hanya kuas itu yang bertahan, menjalani takdir kehidupan kedua yang tak pernah dibayangkan oleh pemilik pertamanya.

Jalan menuju kebun melintasi pematang sawah, rumpun bambu yang lebat, dan sebuah jembatan kayu sempit yang membelah saluran irigasi. Marto mengenal setiap lekuk batu di sepanjang jalan itu. Dulu, pedati-pedati kayu pengangkut apel memenuhi jalur tersebut setiap kali musim panen raya tiba. Kini, roda-roda besi truk ekspedisi lebih sering meninggalkan jejak parit dalam di tanah, membawa pasokan pupuk sintetis, pestisida kimia, dan bibit tanaman unggul yang datang silih berganti. Jalan itu tetap sama, tetapi orang-orang yang melaluinya seakan sedang bergerak menuju dunia yang sama sekali berbeda.

Kabut tebal masih bergantung di lereng ketika Marto tiba di sela pepohonan. Dari kejauhan, hamparan pohon apel yang sedang berbunga tampak seperti awan putih pucat yang turun menyelimuti seluruh bukit. Kelopak-kelopak bunga itu begitu rapat hingga hampir menutupi daun-daun muda yang baru muncul dari balik ranting. Siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti akan langsung membayangkan sebuah masa panen yang melimpah beberapa bulan lagi.

Namun, Marto tidak lagi mudah percaya pada keindahan pemandangan mata. Ia telah terlalu lama hidup di dalam kebun untuk mengetahui sebuah kebenaran, bahwa bunga yang mekar banyak belum tentu bisa berubah wujud menjadi buah yang manis.

 

apple tree-pixabay/pezibear


Di bawah pohon pertama, ia meletakkan tas kain kanvas yang dibawanya sejak subuh. Dari dalam tas, keluar sebuah kotak kayu kecil berisi serbuk sari kuning yang dikumpulkannya dengan teliti sehari sebelumnya. Ia membuka tutup kotak itu dengan sangat hati-hati, lalu menyentuhkan ujung bulu kuas ke dalam serbuk. Gerak tangannya nyaris tidak terlihat ketika bulu kuas berpindah dari satu putik ke putik bunga berikutnya. Setiap sentuhan dilakukan dengan begitu ringan, seolah-olah bunga-bunga apel yang rapuh itu bisa terluka hanya oleh embusan napas yang ditarik terlalu dekat.

Pekerjaan manual itu telah diulangnya setiap musim berbunga selama beberapa tahun terakhir. Mula-mula, jemarinya yang kaku masih sering keliru memilih mana bunga yang sudah siap untuk diserbuk. Lama-kelamaan, otot tangannya belajar sendiri tanpa perlu diperintah. Kini, ia tidak lagi berpikir saat bekerja. Tubuhnya mengenali urutan anyaman pekerjaan itu sebagaimana seorang penabuh gamelan mengenali letak bilah perunggu tanpa harus menundukkan kepala untuk melihatnya.

Matahari mulai merayap melewati pucuk-pucuk pohon pinus liar di seberang bukit. Cahaya fajar jatuh tipis di sela ranting, membuat kelopak apel memantulkan warna putih yang hampir tembus pandang. Sesekali, angin pegunungan turun dari lereng dan menggoyangkan dahan-dahan muda. Marto akan menghentikan gerakan tangannya setiap kali ranting bergerak. Ia menunggu sampai bunga kembali diam membatu sebelum kuas kecilnya kembali menyentuh putik berikutnya. Kesabaran adalah satu-satunya benteng agar pekerjaan halus itu tidak berubah menjadi sebuah ketergesaan yang merusak.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki berat mendekat dari arah jalur setapak bawah. Wardi muncul sambil memanggul keranjang anyaman bambu yang sudah berwarna kusam di bagian pegangannya akibat gesekan keringat. Wajahnya tampak jauh lebih tirus dan lelah daripada musim lalu.

"Sudah mulai, To?" tanyanya sembari menurunkan keranjang.

Marto hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Wardi membuka keranjang bambunya, mengambil sebilah kuas berukuran hampir sama, lalu berjalan kaki menuju deretan pohon di sisi utara kebun. Dari kejauhan, di antara kabut lereng, mereka tampak seperti dua orang bayangan yang sedang merawat sesuatu yang amat ringkih. Keduanya bergerak sangat perlahan dari satu pohon ke pohon lain, tenggelam sepenuhnya dalam pekerjaan yang nyaris tak mengeluarkan suara.

Pagi terus bertambah terang menembus celah daun. Yang terdengar di udara hanyalah desau angin bukit, sesekali suara kicau burung dari hutan atas, dan gesekan halus kering dari bulu kuas pada permukaan putik bunga. Bunyi gesekan tipis itu selalu membuat pikiran Marto bernostalgia pada musim-musim buah yang telah lama berlalu dari tanah ini.

Dulu, ketika bunga apel bermekaran serempak, seluruh kebun selalu dipenuhi oleh dengung ribuan ekor lebah madu. Bunyi dengung yang bising itu mengambang pekat di udara sejak matahari terbit hingga sore menjelang. Orang-orang harus berbicara sedikit lebih keras ketika berada di dalam kebun, bukan karena jarak mereka yang saling berjauhan, melainkan karena suara kesibukan lebah yang bekerja tanpa henti di antara ranting-ranting berbunga. Tak seorang pun warga desa yang menganggap suara dengung itu sebagai sesuatu yang istimewa. Kebisingan itu diterima sewajarnya, sebagaimana embun pagi yang membasahi rumput atau kabut tebal yang turun dari punggung bukit. Baru setelah seluruh suara dengung lebah itu lenyap total dari pulau, mereka menyadari bahwa waktu pagi ternyata dapat terasa begitu sunyi dan menekan batin.

Ingatan itu mendadak terputus ketika Wardi memanggil namanya dari arah baris pohon seberang.

"Marto!"

"Apa, Di?"

"Persediaan serbuk sarimu di dalam kotak masih banyak?"

"Mungkin hanya cukup untuk bertahan sampai tengah hari nanti."

Wardi mengangguk, tetapi tidak melanjutkan percakapan mereka. Keduanya kembali mengunci diri ke dalam ritme gerakan masing-masing. Matahari terus naik melintasi cakrawala, sementara bayangan pohon bergeser perlahan mengikuti waktu yang bergulir. Satu demi satu mahkota bunga disentuh oleh bulu kuas, lalu ditinggalkan begitu saja menuju bunga berikutnya, dalam sebuah gerakan berulang tanpa ada keluhan kata.

pixabay/congerdesign

Menjelang tengah hari, Rara datang berjalan kaki membawa rantang seng bertingkat yang dibungkus kain batik pudar. Anak perempuan itu tidak langsung memanggil ayahnya. Dari bawah naungan pohon randu, ia memandangi Marto yang masih sibuk memindahkan serbuk sari dengan ketelitian yang sama sejak subuh tadi. Kuas kecil bekas mainannya dahulu kini bergerak lumat di antara ribuan bunga yang mekar, seolah sedang menebus paksa pekerjaan makhluk-makhluk bersayap yang dahulu datang tanpa pernah diminta dan pergi tanpa sempat mengucapkan pamit.

Rara menggelar selembar tikar mendong di bawah pohon yang paling rindang di sudut kebun. Ia membuka tutup rantang perlahan-lahan agar uap nasi hangat tidak lekas hilang tertiup angin bukit yang kering. Marto baru menghampiri tempat itu setelah berhasil menyelesaikan satu baris pohon penuh. Bulu kuas itu dibersihkannya lebih dulu dengan selembar kain kering, lalu diselipkannya kembali ke dalam saku baju.

"Makan siang dulu, Yah," kata Rara, menyodorkan sepiring nasi.

Marto mengangguk pelan. Ia mencuci tangan di sebuah pancuran kecil yang dibuat dari potongan bambu, kemudian duduk bersila di atas tikar. Untuk beberapa saat, mereka makan tanpa banyak mengeluarkan obrolan. Dari tempat mereka duduk, kebun apel itu tampak sangat tenang dan asri. Bunga-bunga putih masih memenuhi setiap jengkal dahan, tetapi ketenangan itu terasa ganjil, seperti sebuah harmoni lagu yang telah kehilangan alat musik utamanya.

"Tangan Ayah terasa pegal?" tanya Rara membuka suara.

"Cuma pegal sedikit di bagian bahu."

"Besok apa masih harus lanjut menyisir pohon yang atas?"

"Kalau barisannya belum selesai semua, ya harus tetap dilanjutkan, Nang."

Rara menundukkan kepalanya, menatap nasi di piringnya. Sejak beberapa tahun terakhir, jawaban ayahnya selalu sama. Musim berbunga di desa mereka bukan lagi menjadi sebuah musim perayaan yang ditunggu dengan riang, melainkan telah bergeser menjadi sebuah musim pekerjaan berat yang kejar-tayang dengan waktu.

"Ayah masih ingat kawanan lebah madu yang dulu bersarang di pohon randu dekat pagar kita?" tanya Rara lirih.

Marto menghentikan kunyahannya sejenak. "Ayah masih ingat."

"Kenapa sekarang tidak pernah ada lagi satu pun yang datang ke kebun kita, Yah?"

Marto tidak segera memberikan jawaban langsung atas pertanyaan anaknya. Tatapan sepasang mata tuanya justru mengarah lurus ke lereng sebelah timur bukit, tempat hamparan kebun sayur komersial milik korporasi membentang luas sampai ke kaki lembah. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar raung mesin penyemprot otomatis, disusul oleh embusan angin sore yang membawa samar aroma asam menyengat dari cairan pestisida kimia.

"Dulu," kata Marto dengan suara rendah, "orang-orang di kampung hanya menyemprot racun seperlunya saat hama benar-benar merusak daun. Sekarang, sebutir ulat kecil saja yang muncul di tanah sudah dianggap sebagai musuh besar yang harus dihabisi dengan racun kimia."

"Apa lebah-lebah itu ikut mati karena racun semprotan?"

"Bukan cuma lebah yang mati kelaparan, Rara. Segala makhluk yang merayap dan terbang di bukit ini ikut habis bersama mereka."

Kalimat penjelasan itu berhenti di situ. Marto tidak ingin menambahkan duka lagi pada benak anaknya. Ia tahu ada beberapa jenis pertanyaan di dunia ini yang tidak akan pernah bisa selesai hanya dengan sebaris jawaban logis.

Sesudah menyelesaikan makan siang, mereka kembali bangkit menuju pepohonan. Matahari mulai bergeser ke arah barat, memancarkan cahaya berwarna amber yang lebih hangat, membuat kelopak-kelopak bunga apel tampak kekuningan di ujungnya. Dari arah jalan setapak luar, terdengar suara mesin sepeda motor berhenti di tepi pembatas kebun. Seorang lelaki turun dari boncengan sambil membawa sebuah tangki semprot plastik besar di punggungnya.

"Apakah itu petugas dari koperasi desa, Yah?" bisik Rara yang ikut membantu memegang kotak serbuk sari.

"Bukan," gumam Marto pendek.

Lelaki dengan rompi kerja itu menghampiri posisi Wardi lebih dahulu di barisan utara. Mereka tampak membicarakan sesuatu secara serius dengan suara rendah. Marto tidak dapat mendengar isi dari percakapan mereka secara utuh dari jaraknya, tetapi dari gerakan tangan Wardi yang menyentak kaku, ia tahu pembicaraan di seberang sana membawa kabar buruk.

Tak lama kemudian, Wardi berjalan lunglai menghampiri barisan pohon Marto. Langkah kakinya terasa berat di atas tanah kering.

"Marto," panggil Wardi, wajahnya muram.

"Ada apa, Di? Kenapa mukamu seperti itu?"

"Manajemen koperasi wilayah memutuskan untuk melakukan penyemprotan pestisida serentak awal minggu depan. Mereka akan menutup seluruh sektor bukat ini."

Marto mengangkat wajahnya dari kuntum bunga, matanya menatap tajam. "Masih mau disemprot cairan kimia juga? Padahal proses penyerbukan bunga kita belum selesai setengahnya."

"Katanya laporan dari lembah bawah menunjukkan hama ulat daun mulai menyebar luas ke atas."

"Tapi kelopak bunganya belum ada yang rontok, Wardi. Kalau racun itu disemprotkan Senin esok, putik bunga yang terbuka akan hangus terbakar kimia. Semua kerja keras kita dari subuh akan sia-sia."

Wardi menghela napas panjang, melemparkan pandangannya ke tanah. "Para tengkulak di kota ketakutan setengah mati menghadapi risiko gagal panen total, To. Mereka tidak peduli pada kuas-kuas kecil kita ini. Mereka hanya peduli pada jadwal truk pengangkut."

 

kebun apel-pixabay/analogius

Marto memilih untuk tidak mengeluarkan kata bantahan lagi. Ia hanya menatap diam ke arah kuas lukis kecil di dalam genggaman tangan kanannya yang mulai kapalan. Beberapa tahun lalu, ketika alam masih memegang kendali atas jam biologis bukit ini, silsilah kehidupan berjalan mengikuti hukumnya sendiri yang adil. Kini, kalender musim sepenuhnya diatur oleh kecemasan para pedagang di pusat kota.

Ia mengulurkan jemarinya yang kasar, menyentuh lembut salah satu kelopak bunga apel yang mekar sempurna di depannya. Ia tahu dengan pasti, begitu kabut racun kimia disemprotkan dari tangki mesin pada Senin pagi, seluruh organ reproduksi tanaman yang sedang mekar ini akan mati steril, menolak menghasilkan buah. Awan putih dari kelopak bunga akan digantikan oleh kepulan asap putih dari racun industri, meninggalkan kebun dalam kemandulan yang kaku.

"Jadi... apa kita harus berhenti menyisir barisan pohon ini sekarang, Yah?" tanya Rara dari balik punggungnya, kedua tangannya memeluk erat wadah rantang kosong.

Beberapa tahun lalu, ketika koloni lebah mulai jarang terlihat melintas di atas kelopak, orang-orang di kampung hanya mengatakan bahwa keadaan akan pulih dengan sendirinya seiring pergantian musim. Setahun kemudian, saat gagal panen pertama mencekik tabungan, pihak koperasi mulai membeli puluhan kotak koloni lebah madu dari luar daerah. Sebagian besar serangga impor itu mati lemas sebelum musim berbunga selesai, tak kuat menghidup herbisida yang mengendap di pori-pori kelopak. Tahun berikutnya mereka mencoba metode yang sama dengan dosis vitamin yang lebih mahal. Hasilnya tidak jauh berbeda. Akhirnya, para petani di lereng bukit dipaksa belajar menggunakan kuas.

Mula-mula hanya beberapa orang tua yang mempraktikkannya di pekarangan. Lalu, dalam hitungan bulan, hampir semua kepala keluarga membawa botol serbuk sari ke ladang. Kini, seluruh pekerjaan biologis yang dahulu diselesaikan oleh jutaan lebah tanpa biaya, berpindah sepenuhnya ke atas pundak manusia. Namun, sepasang tangan manusia ternyata tidak pernah benar-benar mampu menggantikan ketepatan insting alam. Mereka hanya sedang menunda sebuah akibat kejatuhan yang tak terelakkan.

Sore mulai turun ketika warna langit di atas pucuk pinus berubah menjadi keemasan yang pekat. Marto menyelesaikan sapuan kuasnya pada pohon terakhir hari itu. Ia berdiri tegak sejenak, menekan pinggang belakangnya yang terasa kaku dan pegal akibat membungkuk berjam-jam. Dari titik ketinggian tempatnya berpijak, ia dapat menyaksikan hampir seluruh bentang lereng bukit dipenuhi oleh awan bunga apel yang sedang mekar serempak.

Pemandangan itu terlihat cantik. Bahkan hampir terasa terlalu cantik untuk sebuah wilayah yang sedang sekarat. Keindahan visual yang berlebihan itu justru membuat batin Marto semakin dirayapi kegelisahan yang dingin.

Ia memejamkan sepasang matanya yang lelah, berusaha memanggil kembali bagaimana bunyi frekuensi kebun ini puluhan tahun silam. Mula-mula, gema itu hanya muncul samar-samar di balik gendang telinganya. Lalu perlahan, muncul kembali dengung pekat ribuan lebah yang dahulu memenuhi udara setiap fajar. Suara bising yang hidup itu seakan datang mengetuk dari sisa labirin ingatannya sendiri, bukan berasal dari bentang kebun nyata yang sedang berdiri diam di hadapannya sekarang. Ia seolah melihat kembali bagaimana serangga-serangga kecil itu beterbangan aktif di antara mahkota bunga, saling bersilang jalur tanpa pernah sekali pun bertabrakan. Cahaya matahari pagi menyentuh sayap-sayap tipis mereka hingga berkilau keperakan seperti serpihan kaca yang beterbangan.

Ketika Marto kembali membuka kelopak matanya, seluruh ilusi visual dan pendengaran itu lenyap seketika. Yang tersisa di udara terbuka hanyalah desau angin bukit yang kering, ditimpali suara gesekan langkah kaki Rara yang sedang sibuk melipat tikar mendong bekas makan siang mereka.

Dalam perjalanan kaki pulang menuju rumah, langkah mereka melewati sebatang pohon randu tua yang berdiri kaku di tepi jalan setapak kebun. Batang purbanya masih berukuran besar, tetapi salah satu cabang dahan utamanya telah patah membusuk diterpa angin barat musim lalu. Marto menghentikan langkah kakinya tepat di bawah naungan pohon tersebut.

"Ayah kenapa berhenti di sini?" tanya Rara, membetulkan letak kain pengikat rantangnya.

"Dulu ada sebuah sarang madu yang teramat besar menggelantung di cabang itu, Nang," kata Marto pelan.

Rara mengikuti arah telunjuk ayahnya yang bergetar. Yang terlihat oleh sepasang matanya kini hanyalah sebuah rongga hitam yang menganga kaku pada guratan batang tua yang mulai keropos. "Aku sama sekali tidak pernah melihat ada sarang burung atau lebah di sana, Yah."

"Tentu saja kamu tidak pernah menyaksikannya."

"Kenapa?"

"Karena pada waktu kamu mulai tumbuh cukup besar untuk bisa mengingat bentuk isi dunia, kawanan mereka sudah hampir habis diracun dari bukit ini."

Rara menatap rongga hitam pada batang randu itu dalam waktu yang cukup lama. Kosong dan dingin. Tidak ada lagi seekor lebah pun yang keluar atau masuk membawa nektar. Hanya embusan angin sore yang sesekali meniup dedaunan randu hingga saling bergesekan, melahirkan suara lirih yang menyerupai bisikan duka.

Marto kembali melangkahkan kakinya menuruni lereng tanpa menoleh lagi ke belakang. Tiba-tiba saja, ia merasa rongga gelap pada batang pohon randu tua itu jauh lebih menyerupai sebuah lubang makam ketimbang bekas rumah serangga. Bukan karena di dalam ceruknya tersimpan tumpukan bangkai makhluk-makhluk kecil yang telah lama hilang ditelan waktu, melainkan karena di situlah koordinat terakhir di mana kenangan tentang sebuah musim yang ramah pernah hidup utuh—sebelum perlahan-lahan hilang terhapus dari dunia tanpa ada upacara pelepasan, dan tanpa pernah ada satu pun manusia di kota yang benar-benar menyadari kapan tepatnya kematian itu bermula.


Banjarnegara, Juli 2026


PENULIS

Dwi Scativana Isnaeni, asal Banjarnegara.
Tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi.
Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku.
Salah satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik".
Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan.







Post a Comment

0 Comments