Puisi-puisi Romafi WK - Bagian 1

 

2525

Melihat wajah Ibu Pertiwi yang dikoyak
perut besar tanpa kemaluan, kepala kecil tanpa otak
lembar demi lembar ditandatangani
halaman demi halaman ditabrak kayu gelondongan
yang katanya dengan penuh ketololan
"Kayu-kayu ini datang dari surga untuk Indonesia"
yang lain berkata
"Kayu-kayu ini turun dari neraka untuk kita"
yang lebih licik datang silih berganti
ada yang pakai perisai baja di lokasi banjir
ada yang memanggul karung beras kosong
ada pula yang ikut makan bersama para korbannya
lantas berjanji akan segera menemukan pelakunya
mencari dirinya sendiri entah ke mana

Orangutan yang kehilangan rumah meneteskan air mata
makluk yang masih punya nurani di negeri ini
gajah dan harimau di persembunyian kumuh
mempertanyakan negara sebesar Indonesia
bagaimana mungkin memiliki pemimpin yang demikian
begitu membutakan menulikan mata kupingnya sendiri
betapa berjalan angkuh pakai sepatu karet
perut karet yang tidak pernah kenyang
menggelantung seperti tetek wewe gombel
menyusui sesamanya dengan air mata penderitaan
yang diperas habis dari semua-muanya
"Kami akan menemukan pelakunya"
ucapnya berkali-kali di podium lebih besar

Mengusap pipi hancur lebur Ibu Pertiwi di persembunyian
dipikir sejarah akan dilupa
rakyat jugalah manusia yang nalarnya masih terjaga
akan dikenang lintas dunia
akan dituntut lintas akhirat
ada dua kepemimpinan bobrok luar dalam
satu dekade yang sudah lewat
lukanya masih menganga belum sembuh
satu lainnya masih berjalan
taman kanak-kanak kelas negara
menari ria seperti bocah dikasih permen orang asing
belum sampai juga itu palugada Izrail

Wahai kaum lelembut sehutan sedunia, bersatulah!
tinggali pohon-pohon
dan tanah-tanah di pedalaman yang perawan
naiki ranting-ranting
menyanyilah pada malam-malam yang terakhir
usir raksasa kuning
raung cakar dan gergaji mesin
jangan beri ampun!
rasuki setiap penanda tangan
hantui dalam mimpi penanggung jawab

Membasuh ingus di hidung Ibu Pertiwi pada setengah hari
ibu mengatakan kepada kami
bahwa mereka sebaiknya tidak usah beranak
itu hukuman paling ringan
sebelum ribuan, jutaan, miliaran tinju
dari ribuan korban jiwa
dan tak terhingga hati kecewa
menghujani tiap senti wajah mereka
entah kelak di mana
Ibu Pertiwi yang nyaris mati mengusap kening anaknya
memastikan itu akan terjadi
suatu saat nanti.

 (29 Desember 2025 16:51)

forest - pixabay/felix-mittermeire

Dunia abu-abu yang mendung dan angin kencang

Hidup seseorang terkini
tidak menentukan masa tuanya
bisa jadi mati
sebelum benar-benar jadi tua

Hidup seseorang terkini
yang abu-abu belaka
bukan berarti tidak bisa menjadi
lebih buruk menyapa

Hidup seseorang terkini
yang kelihatannya bahagia
mungkin akan jadi lebih bahagia
atau keburu gila

Hidup seseorang terkini
tuli-buta telinga-matanya
mengharap dengan sederhana
secercah saja kepada Tuhan yang Maha Kuasa

(14 Mei 2026 12:23)


Begitu rupa edan

Begitu rupa edan kehidupan
satu langkah ke cahaya
seribu rintangan merajalela
sepuluh langkah ke lubang
mulus tanpa kendala

Saya telah dipermainkan
oleh hantu-hantu tersesat
ajak-ajak
mencak-mencak
nggandoli tangan dan kaki
kelimpungan diri

Segelas seloki
kubang kenang
merah jambu
merah hati
hati-hati
pergi lagi

Buku teronggok berbaring kesepian
di atas wajah penuh kelelahan
sengkarut biru, tulisan rancu
berpilin seremoni melepas sepi

Tercium aroma keringat,
belum mandi
magrib datang entah kapan
empat hari yang lalu udara masih dingin
di dalam celana masih pesing

Cerita kematian orang begitu menarik
perhatian saya
ada yang ketiban kura-kura dari langit
ada yang dihajar sepi tanpa menjerit
ada yang kesakitan, ada yang kedinginan
bara api di ujung jari
membakar sengkarut sembelit

Perut sakit,
mental sakit,
pantat silit,
otak pelit,
geser sedikit.

Deru orang baju hitam
berbondong semangatnya
menyala di kobaran api
kemelaratan, edan-edanan
tuding-menuding, adu jotos
sepi-sunyi saya lumat sendiri
edan ini,
enak sekali

Lampu kuning di warung kopi
terpencil di Tulungagung
jadilah puisi
berbentuk pedang panjang
yang kembar
satu di tangan kanan,
lainnya di dada kiri
tembus ulu hati

Oh... Gusti...
ampun, Gusti...
jangan Engkau benci
pun Engkau maki
orang edan, kan
bisa dimaklumi?

(05 Juni 2026 17:55)


PENULIS

Romafi WK -  Sekadar manusia biasa yang di waktu luang memancing ikan, dan di waktu yang lebih luang menulis cerita.


Post a Comment

0 Comments