Birrul Walidain

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam Islam, kita telah diajarkan untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, mengingat begitu besar jasa yang telah orang tua kita berikan kepada kita. Ayah yang selalu bekerja keras demi untuk menghidupi ibu dan kita, sementara ibu yang rela tidak tidur dan tidak makan, hanya agar kita bisa tidur pulas dan makan secara lahap. Namun seiring bertambahnya usia, terkadang kita justru sangat tidak adil terhadap ayah dan ibu, entah dalam hal kecil seperti berbohong, maupun dalam skala yang besar, bahkan banyak dari kita yang justru mendurhakai kedua orang tua.
Dalam makalah ini, kami mencoba menguraikan lebih mendalam  tentang pengertian berbakti kepada orangtua (Birul Walidain), cara untuk berbakti kepada orang tua dan hadits-hadits yang mendukung uraian kami, dengan tujuan agar kita tidak melalaikan dari menghormati mereka. Selain itu, kami juga membahas sedikit mengenai pengertian dari mendurhakai orang tua (‘Uququl Walidain), permasalahan-permasalahan yang sering terjadi antara anak dan orang tua, serta hadits-hadits yang turut menjadi pendukung argumen kami.

B.       RumusanMasalah
1.        Apakah yang dimaksud dengan Birul Walidain?
2.        Bagaimana cara berbakti kepada orang tua?
3.        Apakah pengertian dari ‘Uququl Walidain?

C.      Tujuan
1.        Menjelaskan pengertian dari Birul Walidain.
2.        Menguraikan cara berbakti kepada orang tua.
3.        Menjelaskan pengertian dari ‘Uququl Walidain.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Birrul Walidain
Ditinjau dari segi etimologi, kata Al-Birr berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti kebaikan, baiknya akhlak, atau berbuat baik.[1] Secara terminologi, Birrul Walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua (baik ayah maupun ibu). Maksud dari berbuat baik kepada kedua orang tua di sini dapat diartikan juga dengan mentaati keduanya dalam segala hal yang mereka perintahkan dan inginkan, selama hal itu tidak menjerumuskan kepada maksiat dan tidak menjauhkan dari Allah.[2]
Sebagian besar jumhur ulama’ telah sepakat bahwa berbakti kepada kedua orang tua termasuk suatu kewajiban. Hukum wajib yang mereka sepakati ini salah satunya berpegang pada Firman Allah QS. an-Nisa: 36. Birul Walidain juga adalah sebuah keutamaan. Ada beberapa keutamaan yang bisa diperoleh seseorang tatkala berbuat baik kepada orang tuanya, antara lain yaitu:

1.        Amalan Paling Mulia dan Utama.
Seperti yang pernah diceritakan dalam suatu riwayat, Rasulullah telah menyampaikan bahwa salah satu amalan yang paling utama dan dicintai oleh Allah adalah berbakti kepada orang tua.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ الْمَسْعُودِيِّ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ الْعَيْزَارِ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِمِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ مَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ سَكَتَ عَنِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.
“Ahmad bin Muhammad menceritakan kepada kami, Abdullah bin al-Mubarak mengabarkan kepada kami, dari al-Mas’udi, dari al-Walid bin al-‘Aizar, dari Abu Amr asy-Syaibani, dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?”, beliau menjawab, “Shalat pada waktunya”. Aku berkata, “Kemudian apa ya Rasulullah?”, beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Aku berkata, Kemudian apa ya Rasulullah?”, beliau menjawab, Jihad di jalan Allah”. Rasulullah kemudian mendiamkan aku. Seandainya aku menambahkan pertanyaan kepadanya, niscaya beliau akan memberikan jawaban tambahan kepadaku. (Muttafaq alaih).[3]

            Dalam beberapa riwayat lain dijelaskan pula tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, meskipun dengan susunan lafadz yang berbeda. Ada yang mendahulukan lafadz Jihad fii Sabilillaah, ada pula yang mendahulukan Birrul Walidain sebelum menyebutkan Shalat di awal waktu.
Perbedaan susunan lafadz tersebut tidak lain adalah jawaban Nabi SAW yang memang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi saat ditanya tentang pertanyaan yang sama. Terlepas dari perbedaan susunan lafadz dalam hadits-hadits tersebut, tetap jelaslah bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu keniscayaan yang utama dan dicintai oleh Allah SWT.

2.        Mendapatkan Ridha Allah
Keutamaan dan kewajiban seorang anak dalam berbakti kepada kedua orang tuanya memang tidak bisa disangsikan lagi. Allah sendiri telah meletakkan keridhaan-Nya atas seorang hamba, tergantung dari keridhaan orang tua terhadap anaknya. Ketika sudah demikian, maka jika ada seorang ayah atau ibu yang tidak meridhai anaknya dalam melakukan sesuatu, Allah pun tidak akan ridha atasnya. Seperti bunyi hadits berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Abu Hafsh Umar bin Ali menceritakan kepada kami, Khalid bin Al Harits menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Ya'la bin Atha, dari bapaknya, dari Abdullah bin Amru bahwa Nabi SAW bersabda, Ridha Allah dalam (tergantung) ridha kedua orang tua, dan murka Allah itu dalam murka kedua orang tua. (Ash-Shahihain: 515)[4]

3.        Sebab Masuk ke Surga.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua. Ketika ridha Allah telah didapat, maka hal itu pada akhirnya juga akan membawa seseorang dengan mudah menggapai jalan menuju Surga. Ada sebuah riwayat yang berkenaan dengan hal tersebut:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ
Dari Abu Darda', (ia berkata), "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Orang tua adalah penengah pintu-pintu surga. Maka hilangkan pintu itu, atau jagalah ia![5]

            Dari hadits tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa jika seseorang ingin memperoleh surganya Allah, maka ia harus dengan sepenuh hati menjaga kedua orang tuanya. Ketika seseorang itu enggan atau bahkan tidak sudi menjaga dan merawat kedua orang tuanya, apalagi ketika sudah memasuki usia senja, sehingga membuat orang tuanya tidak ridha, maka pintu-pintu surga itu akan dihilangkan oleh Allah SWT.

B.       Cara Berbakti Kepada Orang tua
Dalam tata kehidupan bermasyarakat, tentu sudah tidak asing lagi jika membahas cara-cara yang bisa dilakukan sebagai wujud dari kebaktian seorang anak terhadap kedua orang tuanya. Di sekolah misalnya, seorang guru selalu mengajarkan kepada muridnya untuk senantiasa menghormati kedua orang tua ketika di rumah terutama ibu, karena kedudukan ibu tiga kali lebih mulia. Hal itu senada dengan sebuah hadits yang pernah diriwayatkan oleh shahabat:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ .قَالَ أُمَّكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ
“Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa'id mengabarkan kepada kami, Bahz bin Hakim mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari kakekku, ia berkata, "Aku berkata, “Ya Rasulullah, sipakah yang lebih (berhak) mendapat bakti(ku)?" Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Aku berkata, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Aku berkata, “Kemudian siapa?”, Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Aku berkata, “Kemudian siapa?”, Rasululah menjawab, “Kemudian bapakmu, lalu orang yang lebih dekat dan yang lebih dekat”. (al-Misykah)[6]

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يكَرِبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثَلَاثًا إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ
Dari Miqdam bin Ma'dikarib, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian untuk berbakti kepada ibu-ibu kalian (beliau mengucapkannya tiga kali). Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian untuk berbakti kepada bapak-bapak kalian. Sesungguhnya Allah mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian, (lalu kepada kerabat) yang lebih dekat. (Ash-Shahihah: 1666)

Dari kedua hadits yag dipaparkan di atas, peran ibu memang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Allah sendiri meletakkan kedudukan ibu tiga kali lebih mulia dari ayah. Kedudukan ibu yang lebih dimuliakan itu tidak lain karena perjuangan ibu sangat besar, mulai dari megandung selama sembilan bulan, kemudian memberikan asupan makanan ketika tengah mngandung, dalam melahirkan, meyusui, dan membesarkan seorang anak dalam buaiannya.
Meskipun dua hadits di atas lebih diprioritaskan untuk berbakti kepada ibu, tapi secara umum, ada beberapa cara untuk dapat berbakti kepada kedua orang tua, yaitu:

1.        Berkata lembut kepada kedua orang tua
Dari Thaisalah bin Mayyas, dia berkata:[7]
كُنْتُ مَعَ النَّجَدَاتِ، فَاَصَبْتُ ذُنُوْبًا لاَ أَرَاهَا اِلاَّ مِنَ الْكَبَائِرِ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لاِبْنِ عُمَرَ قَالَ: مَا هِيَ؟ قُلْتُ: كَذَا وَكَذَا؟ قَالَ: لَيْسَتْ هَذِهِ مِنَ الْكَبَائِرِ، هُنَّ تِسْعٌ : اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ نَسْمَةٍ، وَالْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَاِلْحَادُ فِي الْمَسْجِدِ، وَالَّذِي يَسْتَسْخِرُ، وَبُكَاءُ الْوَالِدَيْنِ مِنَ الْعُقُوْقِ قَالَ لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتُفِرَّقُ مِنَ النَّارِ وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: أَىْ وَاللهِ! قَالَ: أَحَىُّ وَالِدُاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِي أُمِّى، قَالَ: فَوَاللهِ! لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ  
Aku bersama orang-orang keturunan Najdah bin Amir Al Khariji, yang membuat aku banyak melakukan dosa-dosa besar. Kemudian aku melaporkannya kepada Ibnu Umar, seraya bertanya, Apa dosa-dosa itu?”, Aku menjawab, Ini dan itu”. Ibnu Umar berkata, Itu tidak termasuk dosa-dosa besar. Dosa-dosa besar itu, ada sembilan, yaitu menyekutukan Allah, membunuh orang, lari dari peperangan, menuduh zina kepada wanita mukmin, memakan harta riba, mengambil harta anak yatim, melenceng di masjid, orang yang suka menghina (mengejek), dan (menyebabkan) orang tua menangis karena durhaka (kepada keduanya). Ibnu Umar berkata, kepadaku, Apakah engkau takut dari neraka dan ingin masuk surga? Saya berkata, Apa benar, demi Allah?”. Ibnu Umar berkata, Apakah orang tuamu masih hidup? Saya menjawab, Ibu saya masih hidup”. Ibnu Umar berkata, Demi Allah! sekiranya engkau berbicara lemah lembut kepadanya dan memberi makan kepadanya, maka niscaya engkau benar-benar akan masuk surga selama dosa-dosa besar itu dijauhi.

Lewat paparan hadits tersebut, dijelaskan bahwa ketika seseorang ingin masuk ke dalam surganya Allah, dan ia benar-benar takut akan siksa daripada nerakanya Allah, maka salah satu cara yang mampu ia lakukan selain menjauhi perkara-perkara yang mendatangkan dosa, adalah dengan merawat kedua orang tua, atau salah satu diantara keduanya.

2.        Membalas kebaikan kedua orang tua.
Selama kedua orang tua masih hidup, maka tugas anak adalah merawat dan memberikan apa yang menjadi hak keduanya. Meskipun anak tidak akan pernah bisa membalas seluruh jasa yang telah sang ayah dan ibunya berikan dan lakukan, tapi setidaknya ada usaha dari seorang anak untuk membahagiakan kedua orang tuanya atau setidaknya untuk berbakti kepada mereka. Seperti yang pernah dikisahkan oleh Abu Hurairah, ia berkata:
  قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عّلَيْهِ وَسّلَّمَ : لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدًهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ  
Dari Nabi SAW berkata, Seseorang tidak dikatakan berbakti kepada orang tuanya, kecuali bila orang tuanya menjadi budak, lalu ia membelinya dan memerdekakanya.[8]

3.        Mendahulukan kepentingan untuk orang tua dari berjihad
Ibaratnya jika seorang anak adalah ladang bagi kedua orang tua untuk berinvestasi amal, maka untuk seorang anak, orang tua adalah ladang menuai pahala yang paling mudah. Dengan ikhlas merawat orang tua saja, seorang anak sudah mampu mendapatkan ridha Allah. Bahkan dalam sebuah riwayat, keutamaan berbakti kepada orang tua lebih di dahulukan dari berjihad.
عن عَبْد اللَّهِ بْن عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنْ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ قَالَ نَعَمْ بَلْ كِلَاهُمَا قَالَ فَتَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنْ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا
“Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra. dia berkata, “Pada suatu hari ada seorang laki-laki menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, saya berbai'at kepada engkau untuk berhijrah dan berjihad agar saya memperoleh pahala dari Allah”. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah salah seorang dari dua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab, “Ya dan bahkan keduanya masih hidup.” Lalu Rasulullah bertanya lagi kepadanya, “Apakah kamu menginginkan pahala dari Allah Azza wa Jalla?” Laki-laki tersebut menjawab, “Ya.” Rasulullah pun akhirnya berkata, “Kalau begitu, pulanglah kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya!”. (Muslim)[9]

Selain yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai tanda berbakti kepada kedua orang tua. Beberapa cara itu yakni, dengan tidak berbohong kepada orang tua, meminta izin kepada salah satu diantara keduanya apabila ingin memenuhi sebuah urusan, merendahkan diri di hadapan keduanya, menyediakan makanan, dan lain sebagainya.[10]

C.      Pengertian Uququl Walidain
Berkata Imam Al Qurtubi: “Termasuk ‘Uquq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi atau menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah...”.[11] Secara etimologi ‘Uquq berasal dari kata Aqqa yang berarti memutus. Secara Terminologi kata ‘Uququl Walidain berarti memutus atau mendurhakai kedua orang tua. Mendurhakai kedua orang tua, tidak sekedar meninggalkan dan tidak mau merawat, akan tetapi lebih luas meliputi beberapa hal yang membuat sakit hati salah satu diantara mereka bahkan keduanya.
Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah: Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir, “Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali”.[12] Dari riwayat ini dapat dipahami bahwa Allah sangat tidak menyukai orang-orang yang melukai hati, mencela, melaknat, dan durhaka terhadap kedua orang tua. Selain itu, menjadikan nama orang tua sebagai bahan untuk mengejek orang lain, ternyata secara tidak langsung juga termasuk kategori mencela, meskipun niatnya bukan untuk mencela kedua orang tua. Seperti yang pernah diriwayatkan oleh seorang shahabat:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ayahnya dari Humaid bin Abdurrahman dari Abdullah bin 'Amru radliallahu 'anhuma dia berkata: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk dari dosa besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya sendiri,” beliau ditanya, “Kenapa hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Seseorang mencela (melaknat) ayah orang lain, kemudian orang tersebut membalas mencela ayah dan ibu orang yang pertama.”[13]

Ternyata tidak hanya Birrul Walidain yang memiliki beragam cara untuk dilakukan, ‘Uququl Walidain pun juga memiliki banyak bentuk dan beragam jenisnya. Dalam masa sekarang ini, tentu akan lebih mudah ditemukan di lingkungan masyarakat para remaja yang lebih dekat dengan teman mainnya daripada dengan orang tuanya sendiri. Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah merubah arah pemikiran anak-anak yang tadinya sangat menurut, saat ini mereka justru berani melawan orang tuanya, bahkan sampai berani mengatakan bahwa orang tua “ketinggalan zaman”.
Kesalahan dalam proses pembelajaran dan pengawasan juga telah ikut andil dalam membuat anak memiliki sikap yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, dan cenderung mengecewakan. Sikap-sikap tersebut yang pada akhirnya membuat seorang anak menjadi durhaka terhadap orang tuanya. Beberapa sikap yang termasuk dalam  ‘Uququl Walidain antara lain:[14]
1.        Membuat kedua orang tua sedih bahkan menangis, baik dengan perbuatan ataupun ucapan.
2.        Menghardik ayah atau ibu dengan menggunakan kata-kata yang keras dan kasar, termasuk berkata “ah” dan berkeluh kesah saat diperintah keduanya, seperti Firman Allah dalam QS. Al-Isra : 23
3.        Bermuka masam atau terus menerus cemberut di hadapan orang tua.
4.        Memandang dengan pandangan marah dan merendahkan, memalingkan muka, memotong pembicaraan, mendustai serta membantah ketika mereka berbicara.
5.        Tidak membantu pekerjaan rumah orangtua, bahkan memerintah mereka seperti layaknya pembantu.
6.        Mengkritik makanan buatan ibu.
7.        Tidak menganggap dan tidak menghargai pendapat mereka.
8.        Tidak minta izin saat masuk menemui mereka.
9.        Memancing masalah di depan mereka dan menjatuhkannya dalam lubang kesulitan.

Dari Abdullah bin Amru bin Al 'Ash, dia berkata,
  مِنَ الْكَبَائِرْ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَسْتَسَبَّ الرَّجُلُ لِوَالِدِهِ  
Termasuk dosa-dosa besar di sisi Allah SWT, adalah seseorang menjadi caci makian bagi kedua orang tuanya.
Hadits terakhir ini tidak hanya mengingatkan tentang betapa besarnya dosa seseorang yang mendurhakai orang tuanya, akan tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa Allah sangat membenci orang-orang yang dengan sengaja membuat malu kedua orang tua.








BAB III
PENUTUP
Berbuat baik kepada kedua orang tua dapat diartikan dengan mentaati keduanya dalam segala hal yang mereka perintahkan dan inginkan, selama hal itu tidak menjerumuskan kepada maksiat dan tidak menjauhkan dari Allah. Birul Walidain memiliki beberapa keutamaan, yakni menjadi sebab mendapat ridha Allah, termasuk amalan yang paling utama, dan menjadi sebab seseorang dapat masuk ke Surga.
Ada beberapa cara untuk berbakti kepada kedua orang tua yaitu bertutur lembut kepada kedua orang tua, membalas kebaikan orang tua, mendahulukan kepentingan orang tua, tidak berbohong kepada orang tua, meminta izin kepada salah satu diantara keduanya apabila ingin memenuhi sebuah urusan, merendahkan diri di hadapan keduanya, menyediakan makanan, dan lain sebagainya.
‘Uququl Walidain berarti memutus atau mendurhakai kedua orang tua. Mendurhakai kedua orang tua, tidak sekedar meninggalkan dan tidak mau merawat, akan tetapi lebih luas meliputi beberapa hal yang membuat sakit hati salah satu diantara mereka bahkan keduanya, membuat kedua orang tua sedih bahkan menangis, baik dengan perbuatan ataupun ucapan, menghardik ayah atau ibu dengan menggunakan kata-kata yang keras dan kasar, bermuka masam, memandang dengan pandangan marah dan merendahkan, tidak membantu pekerjaan rumah orangtua, mengkritik makanan buatan ibu, tidak menganggap dan tidak menghargai pendapat mereka, tidak minta izin saat masuk menemui mereka, dan memancing masalah di depan kedua orang tua.








DAFTAR PUSTAKA

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2009. Terjemah Shahih Sunan Ibnu Majah
Kitab Adab Berbakti Kepada Orang Tua. Kampungsunnah.org.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2009. Terjemah Mukhtashar Shahih Muslim
Kitab Perbuatan Baik, Meninggalkan jihad demi Berbakti dan Merawat
Orang Tua. Kampungsunnah.org.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2009. Terjemahan Shahih Sunan Tirmidzi
Kitab Berbakti dan Silaturrahmi. Kampungsunnah.org.
As-Sidokare, Abu Ahmad. 2009. Kompilasi Kitab Shahih Bukhari Bab Adab.
Kampungsunnah.org.
Nada, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid. 2009. Birrul Walidain (Berbakti kepada
Kedua Orang Tua). Islamhouse.com.
Terjemahan Shahih Adabul Mufrad-Imam Bukhari. 2008. Kampungsunnah.org.
almanhaj.or.id.Durhaka-Kepada-Orang-Tua.html/01/11/15




[1] ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Birrul Walidain (Berbakti kepada Kedua Orang Tua), (Islamhouse.com, 2009), hlm. 3
[2] Ibid.,
[3] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Terjemahan Shahih Sunan Tirmidzi Kitab Berbakti dan Silaturrahmi, (Kampungsunnah.org, 2009), hlm. 2
[4] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Terjemahan Shahih Sunan Tirmidzi Kitab Keutamaan Ridha Kedua Orang Tua, (Kampungsunnah.org, 2009), hlm. 3
[5] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Terjemah Shahih Sunan Ibnu Majah Kitab Adab Berbakti Kepada Orang Tua, (Kampungsunnah.org, 2009).
[6] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Terjemahan Shahih Sunan Tirmidzi Kitab Berbakti dan Silaturrahmi,.
[7] Terjemahan Shahih Adabul Mufrad-Imam Bukhari, (Kampungsunnah.org, 2008), hlm. 4
[8] Ibid,... hlm. 5
[9] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Terjemah Mukhtashar Shahih Muslim Kitab Perbuatan Baik, Meninggalkan jihad demi Berbakti dan Merawat Orang Tua, (Kampungsunnah.org, 2009)
[10]  ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, Birrul Walidain... hlm. 10
[11] Ibid,... hlm. 3
[12] Ibid.,
[13] Abu Ahmad as-Sidokare, Kompilasi Kitab Shahih Bukhari Bab Adab, (Kampungsunnah.org, 2009), bg. 4
[14] almanhaj.or.id.Durhaka-Kepada-Orang-Tua.html/01/11/15


Post a Comment

0 Comments