Gerimis Rindu

Dear Tuesday...
Pagi itu tersuguhkan dengan buai manja sang fajar. Alunan adzan pun perlahan selesai mengumandang. Kemudian kucuran air yang begitu dingin mulai dapat membelalakkan ragaku. Sejenak kutolehkan diri menuju jendela 219. Diluar sana, pagi mulai benar-benar terasa pagi. Dengan malu-malu mentari mulai meninggi. Semburat sinarnya menguning segar, sesegar kelopak mata yang tak pernah dapat kubayangkan nyata akan datang di depanku hari itu.

Beriring melodi para kenari, aku memulai hari. Aku mulai melangkahkan kaki keluar dari pintu penjara suci. Kutatap langit yang biru berawan putih kala itu, dan sungguh... Indah menawan tanpa guratan. Aku berkata pada sang langit, "Hay langit, kejutan apa yang akan kau berikan padaku hari ini?, langit cantik, semoga Tuhan merestuiku, Amiin." dan setelah memberikan senyum pada langit, aku lantas mengayunkan kaki dan melangkah pergi.
Tuesday...
Detik demi detik dalam masamu, seperti air yang terjun tanpa berkesudahan. Bila ku ingat lagi, hari itu bagaikan semilir angin yang menghangatkan diantara dingin yang mencengkeram kuat. Bila ku mengawang lagi, ada goresan tinta dalam lembar pertama di masamu, yang mana mengawali ceritaku dimasa ketika hari itu berlalu. Seakan ingin lebih ku hiperbolakan lagi kisah kala itu. Namun sadarku bahwa aku belumlah mampu.
Tuesday...
Hari itu, untuk kedua kalinya aku memasuki ruang kelas di kampus baru. Aku mulai belajar mengenali satu persatu dari mereka yang akan menjadi kerabat dekatku selama menjalani perkuliahan. Aku belajar sedikit demi sedikit menghafalkan nama, dan cara mereka berbicara. Dan hari itu, aku mengenal sosok baru. Sosok bermata sayu yang tampak sederhana. Sebegitu sederhananya hingga di hari itu pula, aku mampu mengahafalkan suara dan logat bicaranya.
"Langit... Inikah kejutan yang kau simpan untukku?"
Tuesday...
Seberapa seringkah kau datang di masaku, hingga kurasa begitu cepatnya waktu berlalu. Sebegitu seringnya kau mengunjungiku, hingga mampu kurasakan kekaguman singkat pada sesosok sayu. Ketika masamu berlalu tanpa mau aku menahu, aku hanya mampu mengenal sesosok sayu itu sebagai pujangga, tak lebih dari itu. Aku menahu ia pun mampu mengenang segalanya lewat bait-bait kata.
Benar, ibarat sang pujangga dengan segenap syair-syair melankolisnya. Akhirnya aku mampu mengenalnya, sebagai pemilik mata yang sayu pengagum riak-riak lembut. Sepertiku, aku lega mendengar kata gerimis dari sosok itu. Ia tak mengeluh ketika ku kabarkan bahwa gerimis itu romantis. Ia ibarat penyair mahir pengagum gerimis. Sosok yang pada akhirnya lebih sering kusebut sebagai tuan gerimis. Aku tak akan lupa bahwa di setiap gerimis menyapa, ia pasti datang membawa sebuah pesan.
Tuesday...
Apabila detik demi detik di masamu mungkin berlalu, aku ingin ia mengenangku sebagai sesosok ringkih yang tak mampu mengenalnya. Ketika gerimis tak lagi mampu menegur sapa, ku harapkan gerimis singgah di mimpi. Aku tak menginginkan gerimis sebagai candu. Aku mengharap gerimis mampu menghantar beribu pesan-pesan rindu. Hingga pada masa tertentu, ia akan pahami gerimisku sebagai gerimis rindu, bukan candu.

Post a Comment

0 Comments