Kupas Tuntas Gramatika Media Digital, Mentor Promedia Beberkan Empat Kesalahan Penulis yang Kerap Terjadi


Morfo Biru - Promedia Teknologi Indonesia kembali membuka pelatihan bagi para content creator. Pelatihan kali ini diberikan pada 147 penulis yang berasal dari media mitra. Agil Santoso, salah satu mentor Promedia membuka sesi pertama (17/07) Pelatihan Batch ke-48 pada pukul 08:00 WIB.

Perlu diketahui Batch ke-48 terdiri dari empat sesi pelatihan yang digelar secara terpisah. Sesi pertama dan kedua diselenggarakan pada 17-18 Juli. Sementara sesi ketiga dan keempat dilaksanakan pada tanggal 20-21 Juli 2023.

Setelah membuka sesi, Agil memberi paparan singkat tentang teknis pelatihan. Selain itu Agil juga memberi gambaran mengenai jadwal masing-masing sesi sampai syarat lulus pelatihan.

Adapun jika peserta tidak mampu mengikuti batch ke-48, peserta masih bisa mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan di batch selanjutnya. Termasuk peserta yang tidak lolos karena tidak mengumpulkan tugas, masih bisa mendaftar ulang.

 

Promedia Teknologi Indonesia

Memahami Gramatika Media Digital

Setelah sesi pengenalan selesai, sesi dilanjutkan oleh Ayunda Lintang Pratiwi, yang didapuk menjadi narasumber memberikan paparan materi mengenai gramatika media digital.

Awalan, mentor membahas tentang masalah dan dampak dari rendahnya pemahaman penulis tentang gramatika. Menurut mentor, saat ini banyak produk teks Bahasa Indonesia yang mutunya di bawah standar.

Mentor juga menjelaskan perbedaan antara gramatika yang pernah dipelajari di bangku sekolah, dengan gramatika media digital. Umumnya, penulisan teks Bahasa Indonesia yang ada tidak sesuai dengan kaidah PUEBI.

Padahal, Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang cukup tinggi di jagad maya. Sesuai paparan Ayunda, kedudukan Bahasa Indonesia menempati posisi ke-6 setelah penggunaan Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Portugis.

Selain itu ada banyak aspek yang perlu diperhatikan, menyangkut gramatika media digital. Seperti pemilihan judul, citra media, sampai kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan penulis.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pemilihan judul berita atau artikel di media digital, meliputi pemilihan diksi, kesesuaian dengan portal media, dan tren yang berkembang.

Dalam konteks citra media, setidaknya ada tiga hal yang juga penting diperhatikan. Sebagaimana diketahui, bahasa berpengaruh terhadap citra sebuah media. Jadi perlu memerhatikan sikap dalam penggunaan bahasa, gaya selingkung, dan amplikasi lema baru.

 

Empat Kesalahan Penulis yang Sebaiknya Dihindari

Tidak mudah menjadi content creator di media digital. Selain harus update pengetahuan dan upgrade kapasitas, seorang content creator juga harus fokus pada hasil karya yang dibuatnya.

Seringkali penulis tidak fokus pada hasil karyanya dan langsung mengunggah tulisan di media digital. Alhasil, banyak kritikan datang dari para pembaca, terutama yang paham dengan kaidah PUEBI.

Sebenarnya tidak di dunia maya saja, urusan persuratan sekelas dinas pun kerap melakukan kesalahan dalam penulisan. Ada banyak salah ketik, pemakaian kata hubung dan tanda baca yang tidak sesuai, atau penggunaan kalimat yang terlalu panjang.

Ayunda menjelaskan bahwa penulis di media digital bahkan editor sekalipun, masih kerap melakukan kesalahan. Ada empat jenis kesalahan yang biasa dilakukan berulang oleh penulis, meliputi:

1.       Salah Ketik

Salah ketik atau typo ini menjadi kasus yang tidak pernah beres dalam dunia kepenulisan. Biasanya penulis tidak sadar dan tidak sabar, sehingga salah ketik masih terjadi dalam proses penulisan yang dilakukannya.

 

2.       Fonetik

Fonetik di sini meliputi ejaan dan tanda baca. Penulis di media digital juga kerap melakukan kesalahan dengan melupakan penggunaan tanda baca. Hal ini biasanya menjadi koreksi minor para editor.

 

3.       Morfologi

Setiap penulis pasti tahu istilah ini. Morfologi meliputi pemakaian diksi, imbuhan, istilah asing, dan kata majemuk. Seringkali penulis memakai diksi yang kurang tepat, sehingga mengganggu pembaca.

 

4.       Sintaksis

Sudah pernah belajar struktur kalimat? Pasti pernah belajar mengenai sintaksis. Jadi istilah ini meliputi pemahaman penulis terkait logika bahasa, struktur kalimat, dan juga struktur paragraf. Penulis kadang mengabaikan struktur kalimat, sehingga membuat pembaca kesulitan memahami.

Empat kesalahan tersebut umum dilakukan oleh penulis, baik pemula maupun senior. Adapun untuk menghindarinya, penulis perlu lebih jeli, fokus pada proses, dan upayakan untuk membaca ulang sebelum mengirim tulisan tersebut ke media.

Terakhir, Ayunda menutup sesi pertama pelatihan batch ke-48 dengan mengingatkan peserta untuk terus belajar. Bagi insan pers, membuka buku saku atau pedoman kepenulisan seperti KBBI, Tesaurus, dan pedoman lain adalah hal yang penting. []

Post a Comment

0 Comments