Puisi-puisi Pariyem

 Bungkaman

 

Aku menginjak semut

ibunya marah

kakeknya menendang tumitku

bibinya memaki habis

saudara-saudaranya mengolok, menggunjingku separoh mati

 

Kuselangkangi daun-daun jati

dahannya berawal tegang

batangnya meringsuk

akarnya berlarian

buah bunganya tak sudi mengembang

 

Kuinjak-injak para kecoa yang mengerumuni sisa berakku

aku digerayangi

disodomi sendiri

tapi tak ada satu manusia peduli

aku tergeletak mati sendiri

masih saja manusia enggan menanyai

 

bagaimana jika semua manusia tidak perlu saling peduli, lagi?

Bambu-bambu kering

 

Aku menyesap setiap hari

potongan bambu dan ranting muda

dan aku tinggal di dipan-dipan bersekat

ranting tinggal sepahan ampas

bambu segar menguning kerontang

Gelap jadi terang

Terang berasap

 

Aku memilin daun-daun setiap hari

memamah dan menelan pelan

dan aku tinggal diantara kawat-kawat bertegangan tinggi

di mana ada barisan besi-besi, gembok, dan kunci

awalnya mahoni, jati, lalu sawit

tinggi menuju rendah, gelap lalu terang

terang berasap

 

Aku membuang kotoran setiap pagi

pada sekubang lumpur atau jamban kecil

dan aku jatuh hati pada jamban

lalu terperosok dan mengejang

aku ditusuk, dibalut, dibopong, lalu dipasung

 

PNGEgg


Laki-laki Baru…?

 

Perempuan muda menegurku

berulang dengan wajah merah padam

menyuding-nyudingku

jari tengah tak lupa ia sampaikan

anjing, jangkrik, dan bajing ia lemparkan pula

salah apa binatang-binatang itu?

 

Seorang lelaki paruh baya mendatangiku

berbisik lirih di telinga kiri

“Lacur…”

lalu pergi

tangannya menyenggol bokongku

 

Satu jam berlalu

terik matahari menyentuh kulit ari

butir-butir keringat mapan di kening dan ketiakku

sepasang mata memata-matai

makin lekat menyingkapkan sekat

 

Ia pakaikan tudung

membalut lengan

menyembunyikan tubuhku dalam balut kemeja biru

 

“Kau jangan kepanasan,”

lalu hening

ia lenyap sekelebat mata dari pandangan

 

15 Januari

#GerakBersama #JanganTundaLagi #SahkanRUUPKS


Penulis

Post a Comment

0 Comments