Esai ini saya tulis berdasarkan kebosanan saya dalam menunggu kiriman esai Wasis Zagara, beberapa hari sejak kami memutuskan membuat challenge. Entah mengapa, tiga hari belakangan ini, semangat menulis saya sulit dibendung. Saya selalu saja ingin menulis dan menulis. Dan itu cukup untuk “menampar” sahabat saya tersebut.

walpaper abyss

Saya tidak tahu, apa yang Wasis Zagara lakukan di kediamannya. Satu hal yang saya ketahui: Ia merupakan seorang santri teladan. Berumah di pondok pesantren Nurul Akbar, tiap waktu ia mengaku menjalani rutinitas layaknya santri; mengaji kitab-kitab, tadarus Alquran, memimpin istigasah, serta sejumlah kegiatan lainnya. Namun, baru-baru ini ia mendaulatkan diri sebagai pengangguran.


Belum genap sebulan merasakan euforia gelar sarjana, Wasis Zagara disibukkan oleh ketakutan mencari kerja. Sebuah ketakutan yang umum, saya kira. Seseorang yang baru saja lulus pendidikan, ia mulai dicecar dengan sejumlah pertanyaan retoris. Pertanyaan-pertanyaan menohok tentang “mau menjadi apa?” Kemudian, dilanjutkan dengan pertanyaan “kapan menikah?” Rasa-rasanya, kita hidup dalam sebuah tanda tanya besar. Dan, Wasis Zagara sedang dalam tahap mencari jawabannya.


Ketakutan-ketakutan yang sahabat saya hadapi itu membuatnya sulit menulis. Beberapa waktu lalu, kami ngopi di kedai Lembayung. Kami berbicara banyak soal sastra dan sedikit tentang ketakutan. Dan, selang beberapa waktu kemudian, ia mengirim pesan singkat melalui WhatsApp, yang berisi permohonan, minta arahan terkait bagaimana melamar kerja. Saya hanya menjawab sekenanya: “Ayo kita ngopi lagi.” Ajakan saya agaknya tidak dihiraukan olehnya. Ia berdalih sedang dilanda kesibukan dan karenanya, ia tak sadar sedang memperpanjang ketakutan itu.


Alasan tidak dapat menulis, bagi saya, merupakan alasan konyol. Justru harusnya Wasis Zagara bisa lebih leluasa menulis di tengah ketakutan-ketakutan itu. Saya sering kali menulis ketika sejumlah kegelisahan berputar-putar dalam kepala. Misal, saya gelisah soal acara-acara TV yang membosankan. Tak lebih dari empat jam, lahir esai bertajuk “Acara-acara TV Kita kok Gitu?”—


Saya juga memiliki banyak contoh, di mana sebuah kegelisahan atau ketakutan dapat membuat girah menulis saya membuncah. Hanya saja, “tamparan” ini mungkin akan terasa berlebihan bagi Wasis Zagara yang sedang takut itu.


Pengakuan bahwa Wasis Zagara sedang sibuk pun, agaknya juga kurang tepat. Manusia dianugerahi waktu dua puluh empat jam dalam sehari. Dan selama itu, cukup mustahil apabila ia menjalani hari-hari tanpa menulis dan membaca. Tentu saja selain ia merupakan santri senior (biasanya santri senior lebih memiliki daya untuk menyuruh junior-juniornya melakukan tugas-tugas pondok), ia juga rival saya. Dan, sesama rival menulis, sudah seharusnya ia melakukan serangan yang brutal pada saya.


Ia bisa saja melakukan serangan itu kapan pun ia mau. Misalnya, diam-diam saya menjumpai esainya nangkring di Kompas, puisi-puisinya tayang di media online, atau artikelnya terbit di majalah sastra, tanpa saya duga. Akan tetapi, rasa-rasanya saya pesimistis akan hal itu. Tentu karena Wasis Zagara sedang disekap oleh segala macam rasa takut dan kesibukan dan ia sulit mencari jalan keluarnya.


Barangkali, saya mestilah menamparnya berkali-kali melalui tulisan. Bagi saya, strategi ini merupakan sebuah teknik yang tepat untuk mencaci maki dirinya. Tentu karena mencaci tidak harus dengan mengatakan bahwa “kau adalah sampah!”, atau menelanjangi seluruh aib-aibnya. Cukup dengan mengirimi tulisan ke Wasis Zagara secara bertubi-tubi. Dengan begitu, saya sangat yakin bahwa ia akan sadar, betapa ia adalah seseorang yang sangat buruk dalam menghadapi kesibukan dan ketakutan. Maka, cara ia membalasnya, tentu dengan melawan dua hal itu melalui tulisan. []


Madiun, 05 Juli 202
0.


Hendy Pratama
Seorang esais dan cerpenis asal Madiun.
Bergiat di komunitas sastra Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo
Bisa disapa via IG
: @hendyy_pratama dan Fb: Hendy Pratama