Mau Cari Apa?

Mengupas Luka-luka yang Mengelupas



Bagaimana separoh waktu kami tergadai begitu
rupa meninggalkan celah di lenganmu
bekas-bekas tulang pipi
remuk, membiru

Telapak tangan dan mata merah
sorotnya menembus
kata-kata membungkam jawaban-jawaban yang lari
dari memar, membiru

Kami dipaksa kembali
dibacakan surat-surat dari lubang tempat sembunyi
sedikit lantang setengah mengintervensi
jasad-jasad koyak yang tubuhnya dibiarkan menggugat

loushevaon7

Tapi ditenggakkan racun dan dipaksa-paksa mengaku dosa
Maka kutukan-kutukan mengekor di belakang
cap-cap pengkhianat ditinggal sanak kadang
seperti tato-tato di sekujur seperti kolam jlantah dan tenggelam

Aku memimpikan hutan
Rimba nir-manusia dan pohon-pohon Ara yang sakral
mengada tanpa takut digagahi kuasa
Aku merindukan sengkarut binatang dan rasi resi
dan mereka melolong ribut dengan sekawanan

Tapi bagaimana separuh waktu tinggal
menanggal retak-retak sejarah kami para bengal
hasrat-hasrat purba tempat kembali mengupas luka-luka
dan cap-cap yang kekal menggerogoti kami

Bisa kita kembali
ke hulu membuka sisa ingatan sebentar yang hampir
mengelupas dan rebah membagikan koyak pada arus
dan suara-suara yang menolak bungkam itu?

Tapi bagaimana separoh pendosa dan masa hidupnya
kami ditodong, rebah lagi
Mengupasi luka-luka manusia
yang kemanusiaannya dipaksa kemarau, gugur mengelupas? []

Kahuripan dan Sesempal Catatan



Stasiun lengang. Derit Kahuripan yang akan membawamu beranjak dari kota tempat mimpi-mimpi itu berjejal, terasa lamban. Meski ritme dan wanginya sama saja, stagnan dan bau khas kereta ekonomi. Tapi semua mafhum, beberapa waktu ini seonggok bayangan bisa mendadak asing, termasuk dua mata yang mengantarmu melewati pemeriksaan petugas stasiun. Jemari yang membawa perangai hangat, membuatmu ingin menetap lebih lama sekaligus pergi dengan segera. Tidak ada kata perpisahan yang muluk, ini bukan lagi masa bermain di pentas melo-drama.


Lagipula masih terlalu pagi sebelum beberapa lahan kosong menyeringai di pelupuk matamu. Di Ngawi, tanah-tanah susah payah diremajakan. Kau bisa lihat dari arah kedatanganmu, di sisi kanan kepala-kepala bukannya tak ada. Mereka merunduk, menyemai benih padi dan mungkin sembari menyiangi rumput. Di bawah langit secerah ini, beberapa mulai berlindung dari sengat matahari. Sementara membiarkan cangkul, mesin-mesin bajak mengambil jatah panas lebih banyak. Beberapa terlihat bersantap menu yang sudah disiapkan dari rumah, lengkap dengan sebotol kopi atau teh. Di pematang, motor-motor dan sepeda berderet rapi, ada yang sengaja sembunyi di balik tingginya rumput gajah.

Apa kita akan segera tidur karena menyaksikan pemandangan setenang ini?

Mungkin belum, tapi segera.

Di Magetan, aku melihat warung-warung sepi. Mungkin karena terlalu terik? Aku tidak yakin. Stasiun jadi lebih sepi lagi ternyata. Di sepanjang Magetan, para petani juga tengah sibuk dengan padi yang baru tanam, beberapa menunggu ketersediaan tempat. Yaa, air tampaknya melimpah meski aku tidak tau darimana berasal. Setidaknya lahan-lahan ini tidak kerontang. Burung-burung Blekok juga terlihat bahagia, mereka terbang rendah bersama kawanannya, di antara lahan-lahan sawah yang hampir menyerupai kolam. Awan-awan juga bergelantungan rendah, seperti kapas yang bergerombol, bertingkat, sedikit melingkar dan sisanya lebih tipis menyebar diterbangkan angin.

Ada satu pemancing di sungai yang kau lewati antara Magetan dan Madiun, sebelum sampai di stasiun Madiun yang penuh bunga warna warni. Di situ kau mendengar kembali alunan gending jawa, samar-samar jadi keroncong dan suara anak kecil yang akhirnya lebih berisik dari kemelut di dalam otakmu. Kita berhenti agak lama, saling mengamati dari luar dan dalam dan dari sisi yang entah terjangkau atau tidak sama sekali. Tapi tiba-tiba kita telah sampai di Caruban, yang terpampang pada setiap sudutnya ladang tebu dan persawahan. Ini memang musim tandur yang meriah, sekaligus mengerikan sebab di tengah pandemi.

Tapi hari ini kita memeringati Hari Bumi, kan? di Rabu yang baik dan cuaca yang sangat cerah. Kau bisa saksikan bagaimana hijau, biru dan putihnya awan menjadi komposisi yang sehat. Gundukan bebatuan mirip bukit kapur –meski tampak marginal, seperti menunggu lengah untuk dijarah. Jati-jati kusut, menua. Tapi masih menyediakan diri untuk tidak menggugurkan daun sebelum tiba masanya. Melihat ujung yang hijau tapi nanar itu membuatku sedikit lupa, kita tengah disekap wabah dan bahwa rasa kemanusiaan juga makin mahal.

Bukankah nilainya bisa setingkat dengan lambungan harga masker, vitamin C dan handsanitizer?

Bisa saja begitu.

Tapi lagi-lagi di dalam gerbong ini, aku merasa aman. Merasa hidup dan rungkut. Aliran darah dan napasku lebih damai. Tapi entah apa yang kemudian bisa lebih banyak disyukuri. Mungkin ini cara Tuhan mendekap dalam kesepian yang sentosa.

Kau dan sedikit gerutu, tanda ketidakteraturan menggeliat dalam ruang setengah sadarmu. Tapi masing-masing memberi napas pembebasan. Di kota angin ini, kau tiba-tiba saja teringat bagaimana pemerintah pada akhirnya memberlakukan Kartu Pra-Kerja, menganggap itu akan jadi solusi atas banyaknya PHK di tengah pandemi, melumpuhkan pondasi-pondasi. Tapi toh kau sempat ingin mendaftarkan diri pada ketidakjelasan-ketidakjelasan itu. Lalu ingat bahwa tidak pernah ada solusi, itu hanya ilusi yang dibangun sebagai benteng dari sekian ketidakbecusan.

Bukankah pemiskinan akan selalu terstruktur?

Kau pasti masih ingat bagaimana rakyat ditumbalkan.

Baiklah, sepertinya kita memang sering salah prediksi. Menganggap yang ilusi bisa jadi solusi. Kertosono kemudian membangunkanmu dari lamunan panjang, mengingatkan bahwa hari ini tidak akan turun hujan, mengingatkan bahwa yang mereka sebut solusi adalah kata lain dari ketidakjelasan. Kediri menegaskannya. Ia mengantarkanmu bertemu dengan suhu yang lebih panas lagi. Matahari mungkin sudah condong ke barat, membuat semburat yang menyentuh kaca Kahuripan menyerupai lempeng besi yang baru dipanaskan.
Dan jangan sekali-kali menyentuhnya, atau kulitmu akan melepuh, mungkin juga sedikit mengelupas.

Yaa, apapun yang kau mimpikan sepanjang perjalanan pulang, semoga tidak lantas membuatmu beringsut. Hari itu ibu bumi memberimu pundi-pundi napas yang sehat dan begitu panjang. Lalu kau turun dengan doa yang mungkin terdengar lebih panjang lagi. Singkatnya, lewat yang Agung kau tak ingin membawa apa-apa, tak ingin menyebarkan segala apa, kecuali kebahagiaan dan cinta.

Apa aku telah meninggalkan sebagian cinta di tempat sebelumnya? []



Kahuripan: Eko-5/17E
Yogyakarta-Tulungagung, 22 April 2020

Bukan Poster Lintas Zaman

Estella Zeehandelaar, juru tulis di Departemen Post and Telegraph Amsterdam itu akhirnya mulai berkomunikasi dengan Kartini, lewat korespondensi. Mereka lekas akrab, sebab memiliki pikiran yang sama terbuka. Stella pada gilirannya membuat Kartini berpikir untuk melangkah dari sistem Jawa yang bertingkat-tingkat itu. Ia ceritakan bagaimana superior dan inferior bekerja dalam kehidupannya sehari-hari dan betapa tidak pernah sederajat. Kartini, merasa bebas menceritakan hal apa saja kepada Stella, karibnya yang jauh, yang seorang feminis Belanda.


Kartini mulai dikenal publik Belanda setelah menerbitkan artikel dan disiarkan oleh surat kabar berbahasa Belanda. Lewat artiket tersebut Kartini menjadi perempuan pertama bumiputera yang berani berbicara kepada pemerintah kolonial Belanda, -itu yang terlampir pada pamflet 1903, Educate the Javanese. Dengan itu, Kartini mendapat pujian bertubi atas upaya yang dilakukannya. Kartini dianggap perempuan pribumi yang serius mempertanyakan pendidikan perempuan dan emansipasi. Ia tidak sekadar membangun identitas kelasnya, tapi juga lantang memperjuangkan sebab-sebab murungnya pendidikan bagi perempuan, tidak hanya dalam batas kolonial Belanda, tapi juga aturan-aturan adat Jawa.

Gagasan yang dibawanya memang kuat. Kartini tidak menuntut digilai rasa hormat. Ia menganggap posisi sebagai priyayi, harus bisa meningkatkan nasib kaum yang tidak seberuntung dirinya, kaum tani Jawa, dsb. Caranya, menggunakan instrumen pendidikan a la Barat. Jika semua perempuan di kalangannya bisa mengakses pendidikan tersebut, maka akan banyak perubahan ke arah yang positif, perempuan-perempuan bisa tercerahkan. Tapi tidak memungkiri geraknya terbatas untuk mendebat, selain lewat surat-suratnya. Hal yang dianggap istimewa, meski Kartini terjebak pada ruang domestik, poligami dan pembatasan tradisional sebagai seorang perempuan priyayi, sehingga sulit mengakses kehidupan di luar kabupaten, ia tidak egois. Kartini loyal pada kelas bangsawan, tapi perjuangannya yang fokus pada penyetaraan posisi perempuan, melampaui batas-batas egoisme kelas tersebut. 

Selain getol memperjuangkan perempuan di hadapan sistem yang feodal, Kartini juga tidak segan mengkritik pemerintahan Belanda, bahkan skeptis pada upaya-upaya yang dilakukan pemerintahan tersebut, meski dalam rangka meringankan kondisi orang Jawa, yang miskin, serba kekurangan akses, baik di bidang kesehatan, pendidikan, dll. Kartini mengalami itu, ia sadar bahwa kediriannya tidak lain berasal dari ketidaksetaraan dalam keluarganya, ayah yang seorang aristokrasi Jawa dan ibu rakyat biasa ditambah tradisi pengasingan dan aturan-aturan yang menghambat kemajuannya. Oleh sebab itu ia tidak segan melempar kritik. Misalnya saat ada laporan penurunan kesejahteraan, Kartini menilai kebijakan yang diambil oleh pemerintah sesungguhnya tidak pernah meringankan kondisi orang Jawa. Kebijakan itu justru memperburuk dan melembagakan praktik pemiskinan rakyat. Kartini meyakini, skema kesejahteraan yang dielu-elukan Politik Etis tidak akan pernah membantu orang Jawa menghadapi dunia baru, kecuali benar-benar dibuat mampu menghadapinya.

Pengalaman korespondensi yang luar biasa, ditambah dengan bacaan-bacaan progessif dan kritik yang blak-blakan, kemudian dilihat oleh publik sebagai catatan penting yang tidak boleh lenyap begitu saja. 1911 Abendanon menerbitkan kumpulan 2/3 dari surat-surat Kartini. Agnes Louise menerjemahkannya dalam bahasa Inggris pada 1920 dengan versi surat yang lebih lengkap. Sebelum itu, Van Deventer, tokoh Politik Etis, berhasil melambungkan nama Kartini sebagai sosok perempuan yang memiliki cita-cita kemajuan yang sama dengannya, mengangkat bangsa pribumi. Sehingga di kemudian hari Kartini dianggap sebagai ikon keberhasilan Politik Etis yang dijalankan Belanda. Sejak 1949 Di Belanda, nama Kartini juga terus bergaung lewat Kartini Fonds, Kartini Vereeniging, dan seabrek promosi yang lain.

Jean Gelman Taylor memandang Kartini sebagai konduktor yang berhasil mengadvokasi unsur-unsur budaya Barat yang dibutuhkan -mungkin juga diinginkan- untuk kemajuan perempuan. Meski yang lain menganggap kontribusi tersebut tidak lebih dari propaganda yang digunakan Belanda untuk mengonfirmasi bahwa Politik Etis yang mereka jalankan telah berhasil membawa kemajuan pada cara berpikir pribumi. Perkembangan historiografi pasca '45 lebih jauh lagi membawa andil dalam menginterpretasi peristiwa di masa lalu, termasuk soal Kartini. 

Kartini dianggap sebagai kontributor awal, melampaui deskripsi tentang perempuan sebagai korban penaklukan yang pasif. Ia tidak hanya mencari kebebasan untuk dirinya sendiri tapi sekaligus menyadarkan orang Jawa yang terlanjur nyaman dengan posisinya berkongsi dengan kolonial. Tapi Kartini juga tak bisa lepas dari simbol pengkhianatan bagi mereka yang memandang segala di luar tradisi adalah asing. Hingga hari ini pandangan dan anggapan-anggapan itu seperti kekal. Kartini tak ubahnya seperti poster lintas zaman yang keberadaannya bebas dilegitimasi oleh rezim yang tengah berkuasa. 

Era Soekarno dalam sejarah Indonesia memang mengambil alih narasi Belanda soal Kartini dan mencatatnya sebagai satu dari sekian nama pahlawan nasional Indonesia. Soekarno memobilisasi ingatan rakyat Indonesia terhadap Kartini sebagai ibu bangsa, representasi keberadaan perempuan di negara yang baru berdiri. Kartini dipilih karena dianggap memiliki komitmen pada calon negara (Indonesia) dan memiliki ketegasan terhadap apa-apa yang dialami oleh perempuan. Gelar pahlawan yang kemudian juga tidak bisa dilepaskan dari asumsi-asumsi, bahwa Soekarno dan Kartini sama-sama Jawa yang sepenanggungan menjadi korban penindasan kolonial Belanda. Kartini  pada akhirnya menjadi legitimasi keberadaan Indonesia sebagai negara bangsa, bukan lagi subjek kolonialisme. Narasi yang kemudian juga berubah pada masa Orde Baru, di mana Kartini akan menjadi representasi perempuan yang berbakti, seorang perempuan sekaligus ibu yang sadar kodrat, bisa berperan ganda, istri yang mendukung kepentingan negara.

Kartini mengingatkan saya dengan apa yang sempat dikatakan Gayatri Spivak, mengenai Subaltern. Di manapun, ia akan selalu dikompromikan oleh mereka yang berkepentingan, untuk bicara atas namanya. Tapi apakah Kartini diam? Kartini menunjukkan diri, ia tidak diam dalam narasi-narasi tersebut. Ia tidak tunduk pada posisi inferiornya dan tidak sepenuhnya berbicara lewat filter Barat. Tapi di kemudian hari, masing-masing dari kita yang berbicara, menginterpretasikan Kartini dan citra dirinya. Seperti yang dilakukan Maria Walanda Maramis, seorang pahlawan nasional sebagaimana Kartini. Ia bahkan lebih tua dari Kartini, tapi ia mengakui semakin terdorong mendukung hak asasi perempuan karena melihat pesan-pesan Kartini dalam suratnya.

Apa kita hanya akan menjadikan perempuan yang mati muda itu sebatas poster lintas zaman? Tentu tidak. Ia adalah sosok perempuan yang hebat di eranya, bersama perempuan-perempuan yang berasal dari daerah lain, seperti yang sering dijadikan bahan pembahasan, sampai hari ini. Dewi Candraningrum, dalam sebuah kesempatan kuliah pernah bercerita, masing-masing perempuan memiliki pengalaman perjuangan yang berbeda, sebab mereka punya horizon dan konteks perjuangan yang berbeda, ruang yang bisa mereka akses untuk berjuang, pun berbeda. Kimberly menegaskan itu, bahwa penting untuk melihat faktor luar dari diri perempuan untuk menganalisisnya. Maka apa yang dialami Kartini adalah sempalan perjuangan dari sekian banyak perjuangan perempuan yang sesungguhnya masih bisa kita lacak dan telusuri. 

Tidak sulit melepaskan diri dari perdebatan kenapa harus Kartini yang menjadi tokoh emansipasi, dan lain sebagainya. Jika kita sudi melacak sejarah, kita akan bisa lebih bijak memahami, sebab bukan hanya Kartini yang mendapat gelar sebagai tokoh hak asasi perempuan. Nama-nama itu sudah kita ketahui dan masing-masing lantang disuarakan dan dirayakan. Jika sulit berkelit, akan jauh lebih bijak manakala sejenak menyelesaikan perdebatan itu, kembali ke realita dan melihat betapa cita-cita Kartini dan tokoh perempuan di masa lalu masih membutuhkan rentang perjuangan yang panjang. Persoalan yang dihadapi oleh perempuan, yang beririsan dengan pemiskinan, kematian-kematian sebab kekerasan, ketidakadilan, diskriminasi, politisasi tubuh sampai perbudakan yang diafirmasi begitu saja, masih membayangi setiap jengkal napas kita. Kompleksitas persoalan yang masih kasat mata itu, bukankah lebih mengerikan dari sekadar berdebat mengucapkan selamat Hari Kartini?

Bacaan:

Hamilton, Robert & Jessica Richard. "No-one's Poster Girl: an Alternative View of Raden Ajeng Kartini and Changing Female Agency in the Late Colonial Netherlands East Indies."

Taylor, Jean Gelman. "Kartini in Her Historical Context." dalam KITLV Journal (1989)

Woodward, Amber. "Historical Perspectives on a National Heroin: R.A. Kartini and the Politics of Memory." dalam SIT Graduate Institute - Study Abroad, (2015)

https://www.qureta.com/post/mengapa-perlu-memperingati-hari-kartini

https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/tarik-menarik-kartini-dalam-sejarah

Pekuburan

Selusin mayat ngomel
Diterkanya wajah-wajah lesu dibalik masker
rangkap tiga

Tak ada pilihan
Pemandian langka

Selusin mayat baru
Menunggu sedikit lama
Diangkut trem-trem ke pinggiran kota

tribunnews.com

Malaikat-malaikat penjaga sigap menunggu
Mayat-mayat masih lapang bercengkrama
Saling lempar diri ke liang

Selusin mayat baru di Rabu siang
Diminta keluarga dibawa pulang
Tapi malaikat jadi muram lesu kurang senang

Diantarkannya mereka sampai ke liang-liang
jadi mayat-mayat baru
Di sepertiga hari berselang

Tapi pekuburan jadi penuh
Sisa liang jadi kamar bertingkat
Selusin jadi dua lusin jadi gundukan mayat baru

Naik trem-trem menuju pinggiran kota
Ditunggui malaikat-malaikat pembawa api
dan loyang-loyang penuh abu pembakaran. []


Membaca Tanda

Ayolah, kita bisa pergi hari ini.

Tunggu, jangan gegabah. Kita harus dapat tandanya.

Tanda-tanda-tanda lagi. Selalu itu. Kita sudah di era yang beruntung, Ro. Ikuti saja info cuaca.

Berapa kali info cuaca mengecoh kita?

Koesno menggebrak pintu, tanda marah seperti biasa. Akhir-akhir ini ia sering membaca sikap Rokis yang semakin kolot. Kekhawatiran dan ketakutan tanpa alasan, termasuk teriakan dan kekosongan yang tiba-tiba. Rokis menerima perlakuan karibnya, anggapan-anggapan dan apapun yang Koesno pikirkan tentangnya.

Rokis semakin sering menganggap dirinya bersalah, sehingga tak bisa lagi membaca setiap tanda. Ia tak bisa sekadar mengira-ngira apakah hari ini akan turun hujan, seperti yang diprediksi BMKG, atau alam memberi isyarat lain untuk memanipulasi prediksi-prediksi yang diupayakan teknologi.

Tidak ada ucapan salam, sampai besok, aku pergi atau ucapan-ucapan lain yang mengakhiri pertemuan mereka. Sekali lagi hanya bantingan pintu. Koesno akhirnya pergi sendiri, setelah berhasil menemukan tempat persembunyian jas hujan. Ia membawa serta jas itu, berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu info cuaca tak bisa lagi dipercaya.



Wallpaper Abyss

Dua bulan, lebih tepatnya dua bulan 14 hari Rokis memutuskan tidak keluar dari rumahnya. Hanya berkebun di pekarangan belakang yang masing-masing sisinya dikelilingi anyaman bambu setinggi dua meter. Ia tidak mungkin keluar, sebelum benar-benar kembali bisa membaca isyarat dari daun-daun, remahan tanah atau yang paling keras dari bisik-bisik serangga.

Kita tidak bisa ke mana-mana.

Tanda apa lagi sekarang?

Aku tidak bisa mendengar apapun, Koes.

Baiklah, pola apa yang berusaha kamu baca?

Tahun-tahun genap, kematian, janji-janji. Koes, kita tidak boleh pergi.

Kamu tidak sedang membaca primbon-primbon itu lagi, kan?

Koes, alam selalu menyediakan tanda-tanda, isyarat. Kita harus bisa membacanya.

Ah… Kenapa tidak kita percayakan pada teknologi saja, Ro. Tolong hentikan ketidakjelasanmu.

Perempuan itu membalik badan, berusaha menyangkal apa yang baru saja keluar dari mulut karibnya. Ia hanya meyakini prediksi-prediksi tidak pernah tepat, sebab hanya sekadar prediksi.

Sedang ia tak bisa berdamai dengan teknologi yang lambat laun semakin sering dijalankan secara asal, hanya menggugurkan kewajiban para petugas untuk membagikan informasi terkini pada orang-orang seperti dirinya.

Tapi lagi-lagi dua manusia itu punya kiblat yang berbeda. Koesno adalah orang yang begitu erat dengan kebaruan. Ia mengagumi kecanggihan teknologi sebagai dewa baru, mengamininya dan pilih abai pada kenyataan-kenyataan kuasa yang dijalankan di baliknya.

Aku tidak akan pergi.

Jika terus begini, kita harus selesai, Ro.

Lagi-lagi Koesno mengulang pola kepergiannya, menggebrak pintu ruang tengah, menutup dengan kasar pintu depan sebelum akhirnya sirine ambulance semakin dekat dan membuat tubuh yang belum siap menyingkir itu terpental beberapa meter.

Rokis terhenyak. Keringatnya lebih dingin. Mata yang baru terbuka itu membelalak, menyapa sekitar dengan kebingungan. Ia mencari keberadaan Koesno, tapi tak ada manusia lain di pekarangan belakang rumah, selain ia sendiri.

Ia terduduk lagi. Bulir air matanya hangat. Sekarang ia bisa mengingat kematian karibnya, setelah perdebatan sengit perihal yang tidak terlalu penting, membaca tanda. []

Mengenal Virginia Woolf














Mengenal Rahmah el-Yunusiyah











Titik Kulminasi

Aku memutuskan untuk tidak menyelesaikan apapun. Pertanyaan sederhana seorang Leonard kepada istrinya, masih terbaca dan terdengar jelas. “kenapa seseorang harus mati?” sementara aku harus memutar ulang film itu untuk bisa ingat bagaimana Virginia menjawab. Kurasa ini bukan sekedar obsesi atas kematian atau pertempuran melawan kesia-siaan. Seperti yang disampaikan Camus, ini adalah perenungan yang panjang.

tibunnews.com

Sekarang kita tengah berada di penghujung Maret, masa-masa sulit. Semua berperang melawan virus yang menjadi pandemi saat ini. Aku enggan menyebutnya. Ia sama mengerikannya seperti ‘Ia yang tak bisa disebut’ dalam serial Harry Potter, meski aku lebih berani mengatai Voldemort sebagai makhluk aneh yang muncul memecah keharmonisan dan mimpi indahmu. Setidaknya ia mewujud dan lebih nyata terlihat. Tidak seperti virus mungil yang entah kapan bisa masuk dan tiba-tiba sudah memenuhi rongga paru-parumu.

Sejauh ini kurva masih naik dan memaksa kita melihat kematian demi kematian berlipat setiap hari. Aku tidak suka mendengar berita itu. Bukan berarti aku membenci kematian. Aku hanya menyesali sebabnya. Manusia-manusia ceroboh dan kolot yang tidak mau mendengar seruan kemanusiaan. Bukan terhadap mereka yang sudah jelas-jelas tidak bisa berdiam diri di rumah atau terpaksa memungut rupiah demi bisa hidup di hari berikutnya. Tapi pada mereka yang tidak tahu dan enggan mencari tahu sebab merasa ini adalah hal yang remeh temeh.

Takdir yang Tuhan tetapkan atas masing-masing manusia memang tak bisa diganggu gugat. Kehidupan dan kematian memang bukan tugas kita mencampurinya. Tapi setidaknya kita bisa meminta Tuhan merubah jam dan tanggal kematian kita sesuai upaya-upaya yang kita lakukan –orang menyebutnya Ikhtiar. Aku tidak memahami bahasa itu. Tapi aku sering melihat penundaan kematian yang serta merta Tuhan lakukan. Atas keberpenerimaan manusia dan upaya yang telah dilakoninya, Tuhan bisa mendiskon waktu atau menambal beberapa jengkal napas manusia.

“Lalu bagaimana dengan narasi, jangan takut! Toh kematian di tangan Tuhan?”

“Apakah kita takut pada kematian? Kurasa tidak. Maut ada di nadi kita. Mengalir bersama darah dan bisa sewaktu-waktu membekukannya.”

“Lalu?”

“Tuhan memberi manusia keberdayaan untuk mengupayakan sesuatu terjadi. Berserah bukan berarti pasrah. Tuhan ingin tau sebesar apa upaya makhluknya.”

“Jadi apa yang mesti kita lakukan?”

“Jangan berhenti percaya. Jika masa sulit ini menyeru kita untuk menahan temu, maka patuhilah. Kita tentu tidak ingin melihat jasad orang yang kita cintai terbungkus plastik tanpa bisa kita cium untuk terakhir kali, bukan?”

Setelah minggu ini berakhir, kurva akan meningkat tajam. Perhitungan demi perhitungan bakal dilakukan sembari mencari tahu, kapan ia akan landai. Tapi jangan harap berita kematian bisa secepat itu enyah dari mata dan telingamu. Sebab kita tidak sedang bicara tokoh dalam novel atau film. Kita tidak sedang bicara satu manusia dan takdirnya dalam cerita yang kita buat, atau menentukan siapa yang akan kita akhiri hidupnya secara serampangan karena akting yang buruk.

msn.com

***
Aku ingat bagaimana Virginia menjawab pertanyaan Leonard, “seseorang harus mati agar yang tersisa hidup di antara kita bisa menghargai kehidupan. Itu adalah hal yang kontras.” Begitu ia mempertahankan tokoh pahlawannya dan mengakhiri perjalanan tokoh pujangga dalam novelnya.

Betapa melihat kematian demi kematian harusnya membuatku bisa mencintai apa-apa yang kumiliki sekarang. Mungkin aku bisa, tapi tidak setiap orang bisa mendapati dirinya selamat dari keterasingan. Sama seperti mereka yang bertugas di garda depan sebagai tim medis, tak ada yang menjamin mereka selamat dari maut selama pandemi. Tapi bukankah menjalani ritus yang kita geluti sekarang adalah buah dari perenungan yang panjang?

Kita tahu konsekuensi apa yang paling buruk. Siapa orang-orang yang harus dengan rela melepaskan, dilepaskan dan ditinggalkan. Kita mesti siap dengan upacara pemakaman paling sederhana, tanpa pelayat atau bahkan tanpa liang. Sepertinya tidak ada analogi yang tepat menggambarkan keberpasrahan kita pada maut masing-masing.

Virginia benar, kematian harusnya mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan setelah lebih dulu merasai kehilangan, perpisahan. Meski begitu, tiap-tiap manusia akan mencari pembenar atas pilihannya, dan jika ia telah berani memilih, menghargai atau kalut dan tenggelam. Aku memilih tidak menyelesaikan apapun dan tenggelam dalam kalut yang tak berujung, menunggu kematian. Di luar sana, seorang perawat memilih bunuh diri ketika tahu ia terjangkit virus, demi tidak menulari yang lain. Sedang Virginia sendiri, memilih menenggelamkan dirinya di sungai, sebab telah merasai cukup, bergelut dengan waktu.


Mungkin di sini aku setuju dengan Camus, titik kulminasi kematian bukan soal hidup itu berharga atau tidak, bukan soal layak atau tidak layak, atau karena kita lemah dan memilih segera tiada. Bahwa masing-masing dari kita telah melewati perenungan panjang sebelum siap bersapa dengan maut, bagaimanapun jenis dan perantaranya. Perenungan yang telah menghasilkan gagasan dan alasan logis –dan mungkin juga agar manusia lain bisa menghargai sisa usia mereka. []

Yogyakarta, 28 Maret 2020

Ikan dari Masa Lalu

Ia mengunci pintu kamar dan beranjak tidur. Seperti biasa, ada beberapa ritual ganjil genap yang harus ia rapalkan lebih dulu, kemudian mencuci tangan dan kaki, memohon kepada Tuhan agar diberikan mimpi yang sama, mati muda atau bertemu beberapa orang di masa lalu.

Apa aku perlu matikan lampunya?

Oh iya, tentu. Tolong ambilkan air putih juga dan kunci pintunya dari luar. terimakasih.

Baik. Nanti kuletakkan di meja. Kau tidurlah segera.

youngorold

Beberapa menit kemudian perawat itu datang dengan segelas air putih dengan tutup khas dari logam lama. Ia letakkan dengan hati-hati, sebab perempuan di ranjang yang mulai beruban itu lelap lebih cepat. Ia sempatkan merapikan selimut dan bergegas mengunci pintu dari luar, sebagaimana permintaan si empunya kamar.

Malam ke-28 di bulan April setelah lewat berpuluh-puluh purnama, tahun-tahun berganti dan kini perempuan itu hidup hampir seorang diri. Hanya ditemani satu perawat yang merangkap sebagai asisten rumah tangga, ia anggap sebagai anak yang setiap saat bisa menemaninya berkebun, melakoni rutinitas sebagai orang sepuh dan merawatnya sampai di masa-masa akhir.

Apa aku akan menjadi tua yang menyebalkan?

Siapa bilang, bu? Bahkan kau tak pernah terlihat demikian.

Aku selalu iri dengan mereka yang gagal dan mati muda. Kukira waktu itu perjuanganku dan mereka sama saja.

Ada hal lain yang diperhitungkan Tuhan, bu. Dengan begitu sekarang aku punya ibu dan bisa merawatmu.

Sebelumnya, sepuluh tahun lalu ia membangun kolam ikan di pekarangan belakang. Menelanjangi kembali halaman depan yang telah lebih dulu rapi dengan paving. Ia ambil beberapa hewan sebagai periharaan, sebagai kawan. Ia tanami halaman seluas 8x10 m² itu dengan sayur dan buah.

Ia sempatkan melakoni beberapa kursus perikanan, kursus menanam, belajar tabulampot bersama beberapa rekannya, dan berhenti bekerja di perusahaan yang selama ini telah menyokong perekonomian keluarganya. Ia lebih memilih kembali hidup sebagaimana cara hidup yang diterapkan kedua orangtuanya dulu, sebelum musim wabah meruntuhkan pondasi perekonomian mereka dan membuat beberapa orang kehilangan anggota keluarga dan para pencari nafkah.

Semua terjadi hanya dalam kurun waktu setengah tahun. Sedang dampaknya membunuh secara bertahap hingga di awal tahun berikutnya. Tak banyak yang bisa selamat dari musim wabah yang tanpa diduga sampai di tengah-tengah mereka.

Pikbest

***
Ia berjalan di antara pot-pot sawi dan tomat. Halamannya tampak lebih sempit memanjang, menyerupai lorong dengan pot-pot berisi sayur di sisi kanan dan kiri. Tapi kemudian lorong itu makin panjang, membentuk labirin dengan sekat tak beraturan. Ia menduga bukan lagi labirin, melainkan hutan yang semakin lebat sampai sinar matahari tak bisa menembus kedalamannya. Ia masih berjalan dan beberapa bentar kemudian sampai di kolam ikan pertama, peninggalan bapak dan ibunya.

Kenapa jadi luas begini?

Ini telaga, Ro. Suara asing yang terlampau kecil, terdengar samar-samar.

Kau bicara denganku, cupang?

Tentu. Bukankah kita sering mengulang ini sampai larut malam?

Tolong jelaskan semua ini, aku tidak mengerti.

Naiklah dulu, nanti sambil jalan aku jelaskan, Ro. Kita masih punya banyak waktu bercerita.

Perempuan 53 tahun itu naik ke perahu kecil yang sudah sedia di samping tubuhnya yang bungkuk. Ia dayung ke tengah telaga mengikuti ekor ikan yang sesekali mengepak memecah hening. Cupang biru itu mengajaknya ke ujung lain telaga, berhenti di depan pintu rumah kontrakan yang ia tinggali semasa muda, semasa musim wabah.

pinterest

Ikan itu membantunya mengingat kembali, bagaimana pemilik kontrakan jatuh sakit dan tiba-tiba bunuh diri karena dinyatakan positif terkena wabah. Pilihan hidup setelah perenungan, tak ingin menyusahkan dua anak gadis yang juga tengah dalam kesulitan. Lalu disusul para tetangga dan orang-orang penghuni kontrakan. Semua gejala yang hampir sama, kejang dan sesak napas hingga akhirnya tak bisa lagi mengambil napas sebelum sampai di rumah sakit.

Bulan ketiga kau dan beberapa orang terpaksa meninggalkan kontrakan ini, Ro.

Aku ingat dibawa oleh tenaga medis ke rumah sakit rujukan.

Selama masa isolasi ia mendengar kabar kematian beruntun dari para penghuni kontrakan. Satu persatu mati lemas dan hanya empat yang sanggup bertahan sampai akhir, dari total 16 orang, termasuk dua anak pemilik yang masih harus menjalani karantina mandiri.

Ia berpikir akan segera menyusul karib-karibnya, sebab mengira kondisinya semakin memburuk. Tapi di tengah kekalutan itu, ia ingat ikan cupang yang ia pelihara di kontrakan. Ia tinggalkan begitu saja sebelum sempat memberinya makan atau mengganti air di aquarium.

Kau masih hidup setelah sekian lama?

Tak ada yang memberi makan ikan cupang biru itu selama beberapa minggu. Terlebih setelah ia dinyatakan harus tinggal lebih lama di rumahsakit karena berbagai alasan dan pertimbangan.

Ia pasrah. Tidak mengapa baginya jika masa-masa itu adalah waktu terbaik bagi Tuhan mengabulkan cita-cita mati mudanya. Ia sendiri telah berkabar pada keluarga, bapak ibunya perihal segala ketidakmungkinan dan kesangsian pada perawatan yang ia dapat dan jalani.

elsetget.cat

***
Sementara total kematian makin tidak masuk akal, setiap hari bertambah hingga hampir 500 angka kematian. Ruang isolasi yang awalnya ditempati maksimal hanya 2 orang, menjadi 6 smapai 10 orang seklaigus, membuat penyebaran virus makin tak terkendali. Ia sendiri hampir-hampir mengalami semua gejala dan tingkat kesembuhan hanya berkisar  5-10%.

Ini adalah waktu yang cukup lama dan kemungkinan bertahan yang sangat mustahil. Sampai di awal bulan berikutnya, ia mulai menerima suntikan vaksin, ujicoba pada pasien yang sanggup bertahan lebih dari tiga minggu masa isolasi. Beberapa menunjukkan resistensi, tapi tidak tubuhnya. Di malam kedua panasnya jadi makin tinggi, membuatnya kesulitan bernapas, tersengal-sengal.

Tapi paginya, ia merasai tubuhnya lebih ringan, napasnya lebih teratur meski belum sepenuhnya. Hari berganti hari dan akhirnya ia sanggup memulihkan diri. Ia pulih total setelah dua kali vaksin disuntikkan pada tubuhnya. Tapi tak banyak yang seberuntung nasibnya waktu itu.

Sekembaliku ke kontrakan, aku tak mendapatimu atau aquarium kecilku.

Mungkin seseorang membuangnya. Tiga hari setelah kepergianmu aku kelaparan hebat. Aku lihat tubuhku mulai membusuk. Mungkin itu yang membuat seseorang membuang serta aquariummu.

Kau mati? Lalu ada di mana kita sekarang?

Perawat itu akhirnya menemukan ia lelap tampak lelap di samping kolam ikan, setelah mencari hampir di seluruh sudut rumah. Ia hampir menghubungi pihak berwajib, melaporkan kehilangan, tapi buru-buru mengurungkan niat lalu pergi ke pekarangan belakang.

Setelah beberapa kali mengerahkan upaya membangunkan dengan sangat hati-hati, perempuan itu akhirnya terduduk lesu. Melihat sekitar dan mengingat-ingat bagaimana ia bisa sampai di kolam belakang.

Apa aku mengigau lagi?

Maaf aku lupa mengunci pintu dari luar…! []

Pageviews