Semua seperti rangkaian drama anak muda yang sudah sering diputar ulang di layar televisi, monoton dan membosankan. Membuatmu hafal plot...

Tunggu Aku Bosan


Semua seperti rangkaian drama anak muda yang sudah sering diputar ulang di layar televisi, monoton dan membosankan. Membuatmu hafal plot dan ekspresi yang bakal ditampilkan masing-masing tokoh. Cerita yang disuguhkan, jika bukan perkara omong kosong, mungkin sekedar imajinasi-imajinasi yang penuh dengan hasrat keutuhan, jauh dari menjangkau keterasingan manusia dari semestanya.


Siapa yang membuat naskah-naskah konyol itu? Gerutumu setiap melihat beberapa acara yang tersaji menjelang sarapan, sekaligus menemanimu menghabiskan sepiring penuh karbohidrat ditemani susu coklat panas. Andai isi televisi sesuai dengan apa yang ada dipikiranmu, mungkin kau tak perlu ke mana-mana lagi. Sayangnya, kartun-kartun kesayanganmu juga mulai dibabat habis dan digantikan obrolan dan info-info seputaran menggunjing privasi orang.

Para kreatif itu akan mulai mencari nama-nama baru, aktor, aktris atau selebriti yang punya daya gunjing tinggi. Mengupas kehidupan pribadi dengan sangat detail, tanpa mau peduli mereka punya kualitas dan prestasi apa, tak peduli mereka punya andil apa, abai saja asal rating terus naik dan media mereka tetap ditonton manusia-manusia konsumtif yang rela kehilangan waktu produktif mereka, hanya untuk ikut menyusuri kabar kabur yang sesungguhnya tidak membantu apa-apa, tidak berkontribusi apapun pada hidup mereka yang semakin tanpa tujuan.

Kalau ndak suka yaa jangan dilihat. Dari tadi ngomel terus.

Bu, mereka itu nggak jelas. Edukatif darimananya kalau kayak gini.

Makanya, lihat itu yang dagelan aja. Biar kamu ndak spaneng.

Perempuan itu mengambil alat makanmu dan membawa semua cucian kotor ke dapur. Kau bergegas mengekornya, sebab tak ingin ia buang-buang tenaga berteriak hanya untuk memanggil dan menyuruhmu melakukannya.

Yaa, ini adalah rutinitas pagimu. Membuka semua jendela rumah, merapikan beberapa bantal dan selimut yang kau gunakan untuk tidur di depan televisi, lalu pergi ke dapur untuk menunaikan hajat sebagai anak terakhir, membantu pekerjaan ibu. Jika menu sarapan pagi telah dibawa oleh perempuan itu ke meja makan, kau akan menunda beberapa pekerjaan dan mengambil beberapa enthong nasi lengkap dengan lauk dan sayur bersantan.

Sembari menyantap menu pagi yang hanya akan berubah dua atau tiga hari sekali, kau dan ibumu menghidupkan televisi dan melihat ada kabar terbaru apa yang bisa kalian berdua konsumsi. Tapi selalu sia-sia untukmu karena apa-apa yang kau butuhkan tak pernah bisa kau dapat dalam layar kotak persegi itu. Berbeda dengan perempuan di sebelahmu yang akan terlihat snagat menikmati setiap berita yang sampai pada telinga dan matanya.

***
Aku suka berlama-lama di depan layar bersamanya. Menikmati sisa siang menuju sore menuju malam dan tidur. Lalu mematikan layar persegi itu tepat setelah ia benar-benar telah lelap dan mulai mendengkur. Paginya, kita akan memasak dan membersihkan rumah bersama, sarapan dan kembali menyalakan layar televisi peninggalan bapak dan mendengarnya mendongeng kesal karena melihat berita-berita dengan topik itu-itu saja.

Hampir tak ada perbincangan lain, selain mengomentari isi media demi media. Meski begitu, aku dan dia tak pernah beranjak dan berjarak jauh dari rumah. Ini adalah surga kecil yang sengaja kubangun untuknya dan untukku sendiri. Tidak akan kubiarkan dia jauh dariku, seharipun. Maka dengan sisa tabungan yang ada, kubangunkan ia toko yang memakan hampir seluruh halaman rumah. ia boleh mengisinya dengan apapun, sesuai kesenangannya. Kuharap dengan itu, ia bisa betah di rumah, menemaniku.

Yaa, tapi beberapa tahun terakhir kami mulai kehilangan topik untuk dibicarakan. Ia lebih murung dan pilih mendekam di depan meja kasir dengan beberapa tumpuk buku. Aku memahami kejenuhannya. Anak seusia itu seharusnya masih punya waktu untuk sekadar ngopi atau bermain dengan teman sebayanya. Apalagi dia anak laki-laki. Belum cukup pula usianya untuk menikah. Sedang aku, tidak ingin ditinggalkan oleh buah hati yang mulai menginjak 19 tahun ini.

Ia pernah bersesumbar untuk tidak menikah dan berjanji akan menjagaku sebagaimana aku mengasuh dan menjaganya selama ini. Tapi aku tidak yakin beberapa baris kalimat itu bisa ia pegang sampai aku mendekat dengan maut. Aku tidak bisa merenggut haknya lebih banyak. Bagaimanapun, ia adalah manusia yang punya otoritas atas dirinya sendiri. Aku sering menyesali keputusan dan mengatakan penyesalanku. Tapi di sisi lain aku tidak ingin ia menjadi berjarak dengan orang yang mati-matian melahirkannya. Meski sebenarnya kami telah lama saling mengambil jarak.

Sampai peringatan seribu harian meninggalnya bapak, aku katakan padanya untuk keluar dari sarangku. Kubebaskan ia memilih akan menuju kemana dan akan melakukan apa. Aku tak memaksanya tinggal lebih lama, hanya jika ia berkenan untuk menengok atau pulang sebentar, akan sangat menggembirakan. Tapi lagi-lagi ia menolak. Ia bilang sudah terlalu lama kami saling memunggungi tanpa pernah bertanya, apa yang masing-masing rasai.

Tunggu aku bosan, bu.

Tapi hidup harus berjalan, ngger. Aku tidak mau membatasi ruang gerakmu. Aku tidak mau menjadi bapak yang mengambilku dari orangtua dan menahanku di sini.

Aku merasa hidup, bu. Aku bebas membaca apapun yang kusuka, mendengar apapun yang alam ceritakan, aku belum bosan dengan itu.

Tapi aku bosan, ngger. Aku bosan mengunci diriku sendiri di sangkar yang dibangun bapakmu. Kukira aku bisa bebas setelah itu, tapi aku lupa, aku menikah bukan hanya dengan bapakmu, tapi juga keluarganya, adatnya, sistem kepercayaannya.

Kalimat yang terakhir itu tak pernah aku ucapkan padanya. []

0 komentar:

Kau mulai berkemas. Melipat tiga kemeja, dua kaos warna biru, tiga celana dan beberapa pakaian dalam, satu novel yang belum khatam dan b...

Melawat Sebingkai Ibu (bagian satu)


Kau mulai berkemas. Melipat tiga kemeja, dua kaos warna biru, tiga celana dan beberapa pakaian dalam, satu novel yang belum khatam dan buku catatan, lalu memasukkannya ke ransel hitam merk kenamaan, kesukaanmu. Beberapa jam lagi perjalananmu akan kembali dimulai. Kali ini hanya untuk singgah ke dua atau tiga kota. Bertemu dengan klien, karib lama dan seorang perempuan yang belum ingin kau kenalkan pada ibu.

Seperti pagi yang nyala redup dari sinar matahari belum menguning sempurna, kubuatkan secangkir teh melati tanpa gula. Agak lama, setelah lulus SMA kau pernah bilang untuk tidak mencampurkan gula pada tiap-tiap minuman pagimu, entah teh atau kopi. Aku setuju sebab mungkin akan baik untuk proses pencernaan, maka aku juga mengikutinya dengan takaran bubuk kopi yang lebih sedikit dari takaran di cangkirmu.

dakwatuna

Mau sarapan dulu?

Tidak, bawakan bekal saja.

Beberapa apel, sekotak nasi dendeng dan termos berisi kopi kupastikan siap kau bawa dalam sepersekian menit. Ritual pagi yang dingin dan singkat, menandai kesepian yang semakin akut. Tapi aku tak bisa memintamu berlama-lama tinggal seperti masa-masa yang sudah kau hafal rentetan ceritanya. Tahun-tahun kekanakmu mungkin sudah kau anggap habis. Permainan-permainan jerami, sawah, lumpur, sungai dan ikan-ikan sudah tak kau butuhkan. Tinggal perkara-perkara serius, menantang dan capaian-capaian yang ingin kau tuju.

Mungkin, rumah sekedar tempat memangkas lelah atau sembunyi sejenak dari kalut yang kau hadapi di luar sana. Setelah merasa lebih baik, kau tidak akan membutuhkannya lagi. Mungkin, rumah juga tak lebih dari tempat singgah mirip kos, tapi kau tak perlu bayar sebab selalu terbuka menunggu langkah kakimu  menjejak ubin-ubin tuanya. Tugasku hanya memastikan tubuh ini ada untuk menyambut kepulanganmu yang entah, semakin tak ada yang pasti.

Tapi aku sudah terbiasa menghadapi apa-apa yang tidak pasti. Pernikahanku dan kelahiranmu, kematian demi kematian yang selalu meleset dari prediksi, kepergian bapakmu yang juga, entah. Aku memang takut kalau sewaktu-waktu kau juga pilih tak kembali sebab merasai keadaan yang tidak sesuai dengan zamanmu, di rumah ini. Sedang aku tak bisa berbuat apa. Oleh sebab itu aku tak pernah bisa memintamu tinggal lebih lama. Meski bagiku kau tetap kekanak yang ceroboh dan perlu dikhawatirkan.

Aku tidak percaya kisah Malin Kundang sebab kau adalah orang terpelajar dan aku tidak pernah membiarkan perut kita dihujani rasa lapar. Semenjak lulus strata satu dua tahun lalu, kau pilih bekerja dan urung melanjutkan. Aku ingin, tapi katamu nanti dulu.

Mari kita bagi tugas, bu.

Aku masih sanggup jika kau ingin melanjutkan lagi.

Setidaknya biarkan aku merasai bagaimana menjadi buruh, pekerja. Aku tidak ingin menjadi terpelajar tapi gagap realita. Bu, kau pasti mengerti ini.

Ngger, kita tidak akan pernah bisa lepas dari jeratnya. Setiap jengkal langkah dan saku-saku kita, tidak bisa keluar dari lingkaran itu.

Setidaknya biarkan aku merasainya, bu. Tidak lama…

Percakapan itu membuatku makin sadar, kau bukan lagi kekanak yang merengek minta diijinkan bermain atau ikut persami di lapangan sekolah. Kau lebih terpelajar dariku, melahap buku-buku di perpustakaan ibu lebih dini. Mungkin, mengijinkanmu berpetualang dengan dirimu sendiri adalah kewajibanku sebagai ibu. Meskipun aku akan kehilangan waktu mengelus kepalamu dan mendengar cerita-cerita heroik yang kau alami di masa-masa belajarmu setiap hari itu. Tapi aku memang harus, kehilangan. Apakah setiap ibu harus mencecap kehilangan demi kehilangan dalam hidup –ketubuhannya, kesempatannya dan jabang yang keluar dari rahimnya?

***
“Malang,
Tujuan terakhir.
Selamat bertemu, perempuanku.” – Yogyakarta, 2012

Kututup buku harian pemberian ibu di ulangtahunku yang ke-23. Setelah ini Malang, akan ada perempuan menyebalkan yang mengundang rindu itu di sana. Aku tidak bisa menghubunginya lebih dulu. Kami selalu membuat kesepakatan yang konyol dan tidak biasa. Tapi, aku menyukainya. Ia adalah karib yang mengajariku banyak hal soal menghormati perempuan dan hak-haknya sebagai sesama manusia. Meskipun aku sudah banyak belajar itu dari ibu, tapi aku menghargai penyampaiannya yang selalu penuh hal baru, tidak menggurui.

Aku ingin segera memperkenalkannya dengan ibu. Aku membayangkan kami bertiga bisa minum teh tiap pagi dengan perdebatan yang lebih hangat. Tidak seperti beberapa waktu terakhir, ibu murung dan aku kehilangan banyak konten untuk kubicarakan dengannya. Mungkin dengan kehadiran perempuan menyebalkan itu, ibu bisa punya teman bicara beberapa waktu. Rumah tidak akan sedingin hari terakhir sebelum kutinggalkan.

Kami memang tidak pernah punya relasi khusus selain karib. Ia tidak ingin menjalin hubungan yang terlembaga. Tapi keterbukaannya membuatku lebih bisa menerima semua keputusan yang ia sampaikan dengan lapang. Ia akademisi seperti ibu tapi sangat jauh menyebalkan dan aku harus mengulang kata itu berpuluh-puluh kali dalam buku harian selepas bertemu dengannya. Aku ingin mengajaknya bertemu ibu, niatku sudah bulat. Aku harus meredakan kemurungan itu segera. Sebab tak ada yang lebih membuat kalut selain dinginnya sikap ibu.

Kau jadi ajak aku pulang, Koes? Ingat, tidak ada pembicaraan pernikahan.

Sans, aku hanya minta tolong satu itu saja, tidak lebih.

Lagipula, aku orang asing. Kau tentu yang lebih paham ibumu daripada orang lain.

Benar, tapi aku gagal mengatasi kemurungan itu. Aku takut bertanya. Kuakui, kemurungannya justru membuatku mengambil jarak.

Jam berapa kita berangkat dan sampai di rumahmu?

Tidak lama, sekira empat jam. Aku meninggalkan motorku di penitipan kendaraan di stasiun.

Janji kelingking. Tidak menyoal relasi, atau aku akan pulang detik itu juga.

Seperti biasa, hanya jari kelingking kami yang bisa saling berpagutan, tanda kesepakatan telah kami buat, semacam amanah yang harus dipegang masing-masing. Kami percaya, kesepakatan jika terjadi dalam relasi lain–bukan seperti yang kami jalani–hanya jadi mitos dan sesuatu yang utopis. Maka persahabatan ini setidaknya jadi ruang paling egaliter, tempatku menjalin kesepakatan demi kesepakatan dengannya.

suar.id

***
Hari ini aku akan bertemu dengan seorang perempuan seusia ibuku, mungkin. Tapi hebatnya, ia adalah akademisi yang juga punya fokus pada masalah-masalah perempuan. Kata Koesno, anaknya sekaligus sahabatku, ibunya pernah beberapa kali menangani kasus perempuan tenaga kerja yang mengalami kekerasan oleh suami dan kehilangan hak asuh atas anak semata wayang. Ibunya juga sempat tergabung dalam tim advokasi dan menangani persoalan-persoalan perempuan di Indonesia yang kompleks dan jarang mendapat perhatian serius.

Aku memang kagum hanya karena mendengar dari Koesno tentang ibunya. Aku membayangkan bisa bercakap banyak hal tentang fenomena-fenomena terkini. Terlebih kata Koesno, ibunya punya banyak koleksi buku yang membuatnya dulu sangat betah berlama-lama di ruang baca pribadi keluarga. Aku benar-benar tertarik dan akhirnya mengiyakan ajakan Koesno menemui ibunya. Aku yakin saja bisa lekas akrab, karena sangat mungkin kami satu frekuensi.

Menurutmu apa hal yang paling mungkin membuat ibumu murung?

Setelah ia pensiun, aku tidak pernah tau apa yang ia alami di rumah. kukira hal yang membuatnya dulu sering murung adalah pekerjaan kantor.

Tapi ternyata bukan? Baiklah, kita akan cari tau, bocah. Tidak usah memasang wajah ikut murung begitu.

Kami sampai di rumah Koesno jam dua siang, setelah sempat berputar-putar membeli beberapa oleh-oleh untuk ibunya.  Halaman rumah tampak lengang, hanya ada beberapa daun mangga yang jatuh tertiup angin. Pintu depan tertutup sedang pintu samping terbuka lebar seperti sengaja menunggu seseorang memasukinya. Aku diajak Koesno menuju ke pintu samping, sehingga bisa melihat bayangan tubuh sepuh di depan mesin jahit bersama beberapa kain batik coklat di pangkuannya.

Sadar dengan kedatangan kami, ia buru-buru menghentikan kegiatannya, menyambut Koesno dengan sangat erat. Aku hampir-hampir dibuat meleleh dengan adegan itu. Aku tidak ingat punya berapa teman laki-laki yang bisa sedekat ini dengan sosok ibu setelah berumur sekian.

Rokis ya? Anak sudah sering cerita kalau punya teman yang menyebalkan. Sambil sedikit terkekeh ia menyalamiku dan hangat. Aku hampir-hampir tidak melihat kemurungan seperti yang diceritakan Koesno sebelumnya. Ia sangat sehat dan baik-baik saja, menurutku.

Dia mau menemani ibu untuk beberapa hari.

Kau mau pergi lagi?

Dua hari lagi harus ke Surabaya, bu.

Baiklah. oh kalian duduk dan istirahat dulu, ibu buatkan teh.

Aku buru-buru pamit ke kamar mandi setelah menahan hampir tiga jam. Sekilas aku mengamati rumah tua dengan halaman depan dan belakang yang sama-sama luas. Halaman belakang menyekat dapur dengan kamar mandi sehingga butuh waktu untuk bisa langsung menjangkaunya.

Selepas 15 menit kuhabiskan di rumah orang hanya untuk buang hajat, kusempatkan berkeliling halaman belakang. Aku melihat tumpukan bingkai foto di pojok halaman yang sedikit cekung, seperti sengaja disediakan untuk tempat membakar sampah. Rasa penasaran menyuruhku mendekati tumpukan bingkai itu. Anehnya, ada bercak darah di setiap bingkai yang jumlahnya lebih dari lima buah itu. Sementara foto-foto di dalamnya kosong dan satu bingkai kacanya pecah tak beraturan.

Ro, mari ikut makan…

0 komentar:

“Problem ini sudah dibahas Harari kan? Ia bilang telah dimulai sejak revolusi agrikultur sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu.” Rokis ke...

Cerita dari Vallis


“Problem ini sudah dibahas Harari kan? Ia bilang telah dimulai sejak revolusi agrikultur sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu.” Rokis kembali berpikir, terlalu lama dan membuat percakapan itu hening beberapa bentar. Tapi segera setelah dering ponsel itu terangkat, mereka berdua beranjak. Menemui beberapa orang yang hampir selesai menyusun agenda pemutaran sebuah film terbaru.

Seperti malam-malam pasca rapat digelar, sajian di tengah lingkaran tak lain perjamuan sloki. Dua orang telah siap membeli beberapa botol, sementara yang lain menyiapkan makan malam dan beberapa camilan. Tak ada hal yang lebih bisa dikenang selain riuhnya ruang tamu tanpa meja dan kursi itu.

Besok kita juga ada tanam pohon, kalian bisa ikut?

sepertinya sudah ada janji.

pxhere

Meski tak benar-benar ada janji, selesai pesta sloki malam itu Vallis mengajak Rokis mengunjungi Maxima. Ia harus segera melepas rindu dan melihat anak-anak Nepenthes mulai mengatup, membentuk kantong-kantong kecil yang menggemaskan. Tapi Rokis meminta waktu untuk mengembalikan kewarasannya. Mereka akhirnya berangkat pagi, sekitar jam tujuh menuju Green House Wakade, tempat pembibitan Maxima dilakukan.

Beberapa putaran sloki berisi tiga jenis minuman –Vodka, red Wine dan sejenis liqueur– membuat Rokis tak bisa menguasai tubuhnya. Tapi ia masih diam, tetap berusaha lamat-lamat mendengar bualan-bualan karib-karibnya yang mendadak filsuf.

Mereka bersesumbar soal Foucault dan laku-laku destruktif yang semasa hidup ia geluti. Meloncat ke karya-karya Marquis de Sade dan merasa lebih total mengotak atik seksualitas dengan cara paling sadis. Beberapa lain mengutip Derrida tapi tertahan oleh sanggahan dan cekokan sloki-sloki yang belum sampai di tetes terakhir.

Malam mungkin jadi terlalu pendek, mulai beranjak dini hari dan menggoyahkan punggung-punggung yang sedari tadi ditopang oleh kaki-kaki yang bersila. Hal baik di malam itu, mereka tak sampai saling menumpahkan luka lama dan dendam masing-masing yang pilih ditumpuk dan coba diredam. Semua cerita tetap jadi kasak kusuk meski sudah hampir hilang kesadaran.

sobernation

***
Green House milik Wakade terlalu kaya bagi Vallis. Semua spesies yang ia lihat memiliki daya pikat yang berbeda satu dengan yang lain. Ia ingin memiliki seluruhnya, terobsesi dengan kecantikan semu yang lebih fana dari manusia. Tapi ia buru-buru sadar, tak semua jenis di tempat itu mampu bertahan lama di suhu kota yang ia tinggali. Maka ia tak jadi memintanya pada Wakade.

Pertemuan Vallis dan Wakade selalu istimewa. Mereka tak pernah kekurangan bahan perbincangan. Harus ada spesies baru yang ditemukan dari perjalanan hutan ke hutan –meski semua hutan hampir gagal bertahan. Setelah memeluk Vallis, Wakade membiarkan dua anak itu berkeliling dan menemui Maxima yang diletakkan khusus di sisi sebelah barat. Ia telah berkembang biak. 23 pot berisi Maxima kecil dan lima pot Maxima wavy memikat Vallis seketika. Hampir dua jam Vallis dan Rokis hanya memelototi tanaman berkantong itu, sesekali menyuapinya dengan nyamuk dan lalat.

aquascapeid

Sembari membawakan Wine hasil fermentasi pisang dan beras, Wakade mengajak murid kesayangannya itu menuju rumah singgah. Ia ingin menunjukkan sesuatu pada Vallis dan Rokis, hal baru yang ia kerjakan lima bulan terakhir. Di sana mereka diperlihatkan beberapa terrarium telah berjajar rapi, memesona.

Tapi Vallis dan Rokis menuju arah yang berbeda. Rokis langsung terpikat pada terrarium berisi Echeveria Minima, Sedum, Roseum dan beberapa jenis sukulen lain yang ditata apik oleh Wakade. Sementara Vallis langsung bisa mengenali isi terrarium yang ia tuju, yakni Maxima wavy. Wakade mulai tertarik membuat rumah-rumah istimewa untuk beberapa jenis tanaman yang ia anggap butuh perlakuan istimewa. Seperti yang kerap ia katakan pada murid-muridnya, “segala yang istimewa, haruslah diperlakukan dengan istimewa pula.”


Mengistimewakan tanaman-tanaman yang sulit hidup di dataran rendah dan membutuhkan perlakuan khusus membuat Wakade menghabiskan berlama-lama masa tuanya di green house. Ia hampir-hampir mengambil jarak dengan orang lain, kecuali mungkin murid-muridnya dan beberapa kawan guru yang ia percayai bisa menghargai makhluk hidup lain. Menurutnya, kesetiaan pada Nepenthes telah membuatnya bisa hidup lebih lama.

“Menurutmu mereka tidak merasa tersiksa di terrarium ini?” Rokis menyela lamunan karibnya.

“Tidak, Ro. Mereka tidak punya kesadaran itu.”

“Yaaa, tapi ku membayangkan mereka bisa merasa tak nyaman di tempat yang bukan habitatnya.”

“Bahkan mereka tidak tau kalau dirinya ada.”

“Menurutmu, mereka punya akses yang sama, untuk hidup?”

“Justru, mereka punya kesempatan lebih baik, dari segi kelangsungan generasi. Bandingkan dengan saudaranya di habitat.”

Rokis tak menimpali lagi. Ia ikut asyik menyelami kemandirian anak-anak Maxima wavy yang lebih mungil daripada berada di pot-pot Green House. Sembari menikmati sloki berisi Wine, Rokis mulai mengingat hal yang dikatakan Vallis sebelum mereka menikmati perjamuan sloki. Beberapa hal sempat mereka perdebatkan tentang keongasan manusia dan ambisi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya keuntungan dari penjualan tanaman-tanaman istimewa ini.

maulanasaysgreen3

“Ro, mereka tak punya cukup waktu untuk beradaptasi selain atas pertolongan manusia.”

“Pertolongan katamu? Bukankah sebagian besar hanya ingin untung? Peduli apa mereka dengan kelangsungan hidup?”

“Dengan adanya ekspansi petambangan, pemukiman atau perkebunan itu, habitat tidak selalu jadi tempat yang aman, Ro. Pembukaan lahan di hutam Amazon? Ah jangan jauh-jauh, di Kalimantan itu, kritis kan sekarang? Siapa yang menjamin habitat mereka tidak tergerus korporasi yang rakus?”

Rokis sadar diri, ia tak mungkin tahu lebih banyak dari apa-apa yang telah nyata dilakukan oleh Wakade dan kelompok konservasinya atau Vallis dengan kelompok yang lebih kecil mencoba memberi naungan pada Nepenthes untuk bisa hidup lebih layak.

Mereka punya cara-cara untuk menyelamatkan yang masih tersisa, meski tak bisa dipungkiri yang lain tetap mengambil lebih banyak untuk dijadikan komoditas, mengambil nilai kapital yang lebih menjanjikan dari sekedar merawat dan mencintai.

Kita tak bisa menolak yang serakah hadir di antara yang tulus, Ro. Sebab masing-masing dari mereka tetap punya kontribusi membesarkan dan menghidupkan. Toh Nabi, manusia yang tulus juga tetap berdagang agar jasmaninya tak mengalami kerusakan. []



0 komentar:

Koesno sampai di halaman ke-200 ketika menyadari hujan belum selesai mengantar rindu-rindu masuk ke perkampungan para penyair, di gang-g...

Kita yang Gagal Saling Peduli


Koesno sampai di halaman ke-200 ketika menyadari hujan belum selesai mengantar rindu-rindu masuk ke perkampungan para penyair, di gang-gang kota yang istimewa. Seperti biasa hujan di kota ini terasa lebih sendu, meski membawa uap panas dan menggiring manusia-manusia urban membeli lebih banyak alat pendingin ruangan. Dan mungkin ia juga akan segera melakukannya, jika tak tahan dengan suhu yang selalu di atas 25°C, bahkan mencapai 33°C di siang hari.

Tapi ia urung melakukannya, lebih menikmati keringat deras mengucur setiap malam, terlebih setelah pulang dari kegiatan rutinnya bermain bulu tangkis bersama rekan kantor. Lalu menikmati waktu-waktu terbaik dengan dirinya sendiri di loteng kontrakan yang ia tinggali hampir dua tahun lamanya. Tak ada agenda rutin lain, kecuali jika beberapa karib dari kota asalnya mampir berkunjung dan mengajaknya menyusuri kawasan kota yang jauh dari kata lengang. Selebihnya, akan banyak waktu di depan layar komputer, baik di kantor atau di ruang kerja pribadinya, kamar berukuran 5x6 m².

waspada,id

Tapi malam ini ia membiarkan alat kerjanya beristirahat. Ia sedang tidak ingin bersinggungan dengan aktivitas mekanistik atau dengan klien-klien di luar pekerjaan tetapnya sebagai programmer. Ia sengaja kembali membuka-buka lemari baca dan menemukan beberapa novel yang belum sempat ia sentuh karena tertelan kesibukan. Ia ambil satu novel karya Albert Camus–yang telah diterjemahkan oleh N.H. Dini–dan mulai membaca. Kali ini ia sedikit serius memandangi kata perkata, mencoba memahami apa yang filsuf itu ingin sampaikan.

Tiga hari lalu, Koesno sempat membaca beberapa portal yang menjadikan novel Sampar karya Camus sebagai bahan refleksi dan permenungan, atas fenomena yang tengah menimpa masyarakat Wuhan, Cina. Beberapa tulisan di portal yang berbeda itu membuatnya ingin segera menyapa novel pemberian karibnya setengah tahun lalu. Ia sedikit menyesal, terlambat membacanya. Tapi ia ingin tahu detail yang dituliskan Camus dalam Sampar-nya.

Tidak pernah aku lihat kamu baca, Koes.

Oh, penasaran saja.

Ah, soal epidemi itu?

Biasanya kita lihat novel yang difilmkan. Membacanya beberapa halaman membuatku benar-benar membayangkan apa yang terjadi di Wuhan sekarang.

Keputus-asaan? Kesia-siaan?

Lebih kompleks dari sekedar keputus-asaan yang dialami oleh masing-masing orang. Lebih mengerikan, sama-sama terisolasi dari dunia luar. Ah aku belum selesai membaca.

Dan kita masih bekerja seperti biasa, hanya beberapa waktu merasa sedikit iba lalu sebenarnya tak peduli.

Sebenarnya tak peduli. Kata-kata itu mengambang lalu berlarian di awang-awang. Ia berpikir lagi, mungkin benar. Ia hanya merasa iba sesekali, tak benar-benar peduli dengan apa yang media santer beritakan akhir-akhir ini. Mungkin akan sedikit berbeda jika sudah mulai mengancam sanak saudaranya atau karib-karibnya atau orang-orang yang sempat bertemu dengannya. Tapi banyak dari orang-orang itu juga tak lebih peduli, kecuali jika bersinggungan dengan pekerjaan yang mereka tekuni. Atas dasar profesionalitas, mereka akan sangat memerhatikan hal-hal yang berkaitan dengan keuntungan pribadi.

Kemudian ia menghitung, berapa sisi kemanusiaan yang bisa ia hadirkan untuk sekedar menjenguk teman yang sedang demam tinggi dan memutuskan tidak masuk kantor, kurun waktu 2x24 jam? Hanya ucapan lewat ponsel, video call? Mungkin untuk beberapa karib yang benar-benar dekat. Selebihnya pesan singkat ‘GWS’ atau ‘cepat sembuh’ setidaknya bisa menunjukkan kepedulian. Ia ingat-ingat lagi kata-kata terakhir kawan sebelah kamar, ia memang tidak sepenuhnya peduli.

***
hipwee

Ia berjalan di antara para relawan yang sedang membantu memberikan penanganan pada korban. Tapi ia tak melakukan apa yang semestinya. Ia hanya diam mematung. Menyaksikan serangkaian kematian terjadi di sepanjang selasar rumahsakit. Beberapa ibu menangis kehilangan anak-anak dan beberapa anak-anak menangis mengikuti orangtua yang menangisi kepergian sanak kerabatnya. Tangis demi tangis pecah tak berkesudahan dan ia masih mematung menyaksikan serangkaian hal itu terjadi di depan matanya.

Matanya beradu pandang dengan beberapa korban, tapi secepat mungkin berusaha menepis. Ia tak ingin hanyut oleh perasaan bersalah atau ikut kehilangan. Tapi kemudian ia seperti melihat bayangan beberapa orang yang tidak asing, saling terpisah beberapa jarak. Adik perempuan, ibu dan bapaknya bersama beberapa kerabat yang ia tak ingat satu persatu nama mereka, sebab hanya saat lebaran saling bertukar senyum dan bersalaman. Ia melihat mereka ada bersama dengan para korban. Ia membatin, ‘mereka juga ikut jadi relawan?’ tapi cepat-cepat ia merevisi sendiri kalimat itu, ‘keluargaku juga korban?’

Tak lama berselang ia kehilangan jejak, pandangannya kembali berselancar mencari keberadaan orang-orang dekatnya tapi hanya bisa menemukan perawakan yang mirip dengan bapak. Ia berlari, ikut masuk ke dalam ruangan yang menenggelamkan sosok bapak dalam pencariannya. Namun setelah ia masuk ke ruang bertanda kuning di Instalasi Gawat Darurat itu, sosok yang ia yakini sebagai bapak, ternyata sama sekali tak mirip dan itu bukan bapaknya. Hanya ada tiga puluhan orang yang terbaring lemas dan sisanya berdiri dengan memegang infus masing-masing.


Ia keluar lemas. Mulai berpikir bahwa semua yang dilihatnya hanya terkesan mirip dengan seluruh anggota keluarga. Tapi belum lagi pikiran itu ia yakini benar, ia melihat ibu dan adik perempuannya duduk di lantai berhadapan dengan pintu laboratorium. Segera ia menuju ke tempat yang hanya berjarak  kurang dari 10 meter dari tempatnya berdiri. Tapi lagi-lagi bukan adik dan ibunya.

lalu ia mendengar suara memanggil-manggilnya, agak jauh tapi ia bisa mengenali pemiliknya, sang adik. Ia menoleh ke samping kiri, kembali ke pintu masuk ruang IGD. Tapi tak ada seseorang yang dikenalnya. Ia merasa putus asa mencari sosok-sosok yang hanya terlihat seperti keluarganya. Manifestasi dari kekhawatiran yang berlebih, mungkin.

Koes…

Seseorang menepuk punggungnya, kali ini benar-benar nyata dirasakannya. Suaranya begitu dekat dan tidak asing. Ia menoleh dan menemukan adik, ibu dan bapak di belakangnya. Mereka berada di pintu keluar rumahsakit, saling melempar senyum dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Koesno yang sedari tadi tak beranjak dari tempat awal ia berdiri. Masih mematung dan melamunkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang-orang di sekelilingnya.

Saat sadar dan berupaya menyusul langkah kaki ketiga orang terdekatnya itu, hujan turun dan membuatnya langsung menengadah, memandang langit. Sepersekian detik kemudian ia kembali hendak menyusul langkah ketiganya, tapi mereka luput dari jarak pandang Koesno, mereka tak ada. Berganti dengan beberapa orang dewasa dan anak-anak, menatapnya tanpa semburat senyum, wajah-wajah pucat dan bibir-bibir kering yang berdarah mengatup sempurna, mata-mata yang menerawang jauh ke kedalamannya yang seakan tak pernah merasai kepedulian lalu ia jatuh dan kosong.

Koes… aku pinjam pemanas airmu. Hujan malam ini awet, benar-benar membawa berkah hawa dingin, bikin ngantuk.


Lamat-lamat ia membuka mata. Masih di kamar bersama dengan buku di samping tempat tidur, tergeletak dan terbuka, belum sempat selesai ia baca. []

0 komentar:

Aku tinggal menutup mata dan merasakan setiap bagian tubuhku mulai bergerak, lebih lentur dan jujur mengikuti suara orang di sebelah. Pe...

Yang Asing di Tubuhku


Aku tinggal menutup mata dan merasakan setiap bagian tubuhku mulai bergerak, lebih lentur dan jujur mengikuti suara orang di sebelah. Pelatih mudaku, Gendhis terus mengulang perintah yang sama dengan nada yang stabil dan suaranya yang berat.

Kau bisa rasai desir angin merambat dari ujung rambutmu, menyeka leher, kedua lengan, membelai punggungmu, memelukmu dari belakang, lalu masuk pada setiap potongan tubuhmu. Rasai itu, pelan, desirnya semakin pekat dan tenggelam.

lentera.co.id

Yaa, aku masih harus melakukan latihan rutin. Melenturkan setiap bagian tubuh dengan gerakan-gerakan sesuai instruksi pelatih. Beberapa hari lagi pertunjukan Padhang Lintang akan segera digelar, tepatnya kurang enam hari. Kali ini aku berkesempatan memerankan tokoh perempuan, tapi bukan diriku sendiri. Sosok itu akan membutuhkan banyak bahasa tubuh, gerak isyarat, sedikit dialog, tatapan kosong dan ilusi total. Peran sentral yang sangat kuharapkan, bahkan sejak pertama kali bergabung dengan komunitas Padhang Lintang.

Meski sudah kali ketiga aku ikut serta dalam pentas, tapi baru kali ini bertemu dan satu tim dengan Gendhis. Ia adalah pelatih olah rasa dan bahasa tubuh termuda. Usianya selisih dua tahun denganku. Sangat pendiam dan menguasai medan. Ia lekas jadi pelatih paling favorit di kelompok kami yang berjumlah 13 orang, 6 laki-laki dan 7 perempuan.

Cukup! Kamu ingin menjadi robot atau merasai desir angin?

Maksutnya?

Daritadi kamu memeragakan hal yang sama. Kamu mau main teater apa guru senam kesehatan jasmani?

Aku salah apa? Aku sudah menari mengikuti saranmu, Ndis.

Hari ini latihan cukup. Kamu punya waktu 3 hari untuk introspeksi, Ro. Kita butuh orang yang bisa berimajinasi, bukan sekedar penuh obsesi.

Aku tidak membalas kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Bagiku terlalu pedas dan memalukan karena semua anggota tim mendengar komentar itu. Lalu masing-masing dari kami beranjak, tanpa ada sesumbar atau basa-basi untuk nongkrong seperti biasa. Aku memutuskan pulang, benar-benar lebih awal dari sebelum-sebelumnya.

Di jalan, kucermati lagi kata-kata yang tidak terlalu panjang itu. Apa-apaan Gendhis, bisa-bisanya ia memberi komentar yang membuatku seolah tidak bisa apa-apa. Selama dua kali pentas hampir setiap orang memberi komentar bagus perihal ekpresi dan mimik wajah yang kutampilkan ketika di panggung pertunjukan. Semua bertepuk sorai memuji suaraku ketika melantunkan sajak Sapardi atau Rendra. Apa yang salah dengan bahasa tubuhku?

***
keepo.me

Gendhis menjadi orang terakhir yang pulang dari sanggar. Ia menuntaskan membaca beberapa proposal kerjasama yang masuk, baru kemudian memutuskan untuk menutup sanggar dan tidak jadi menginap. Ternyata di teras masih ada dua sejoli yang pilih menghabiskan waktu ngobrol. Gendhis menyapa keduanya, basa basi. Tapi pasangan itu sengaja tinggal lebih lama, untuk bisa bercakap dengan Gendhis.

Tak baik di sini berduaan, kalian.

Sanggar ini bebas, kak. Kita biasa di sini sampai pagi.

Tapi tak ada yang benar-benar bebas. Kita harus tau batas, sebab hidup di tengah masyarakat yang moralis.

Kau benar, kak… tapi sebenarnya kita berdua ingin bicara denganmu.

Oh, iya? Ada sesuatu?

Kita tidak pernah mendengar ada orang mengkritik pedas penampilan Rokis.

Mengkritik itu, bukan men-judge-nya kan? Bukankah kritik itu membangun?
Tak apa, banyak yang salah mendefinisikan kata itu.

Maksud kami…

Ia tak menanggapi apa yang ingin disampaikan oleh dua sejoli itu. Ia hanya mengingatkan agar mereka juga segera pulang. Lebih baik di rumah masing-masing menikmati secangkir kopi atau segelas susu daripada harus mendengar mulut tetangga di sekitar sanggar mulai nyinyir dan menuduh yang bukan-bukan.

Gendhis bukan tak percaya dua sejoli itu bisa menjaga tubuh dan pikiran masing-masing, dengan kata lain tidak akan melakukan hal-hal di luar aturan yang mereka sepakati bersama dalam komunitas, akan tetapi ia sendiri juga selalu diingatkan untuk mencegah dan menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang ceroboh atau yang secara langsung mengundang persepsi buruk masyarakat. Ia tidak ingin komunitas tempatnya bernaung, menemukan keluarga baru, belajar untuk hidup menjadi tercemar, hanya karena kecerobohan satu dua orang.

Sebenarnya ada rasa tak enak hati dengan Rokis. Tapi ia terlanjur–dengan sengaja–menyampaikan itu di depan semua tim, agar Rokis lekas belajar dan menyadari sesuatu. Ia dan pelatih lain sudah siap jika harus kehilangan Rokis sebagai pemeran utama. Tapi mereka juga yakin, bahwa gadis itu akan bisa lekas belajar meski semua tau ia tidak akan muncul beberapa hari, sembunyi sampai menemukan jawaban dari kesalahan yang ditimpakan padanya.

Dan itu benar. Dua hari pasca menerima cercaan Gendhis, ia tak datang ke sanggar. Tak ada yang bisa menemuinya di rumah. Rokis bahkan meninggalkan ponselnya dan pamit pergi entah kemana. Tak ada yang bisa detail menerima jawaban kepergian gadis itu. Kebiasaan yang mulai dinilai wajar oleh kedua orangtuanya, mungkin butuh waktu sendiri.

Gendhis juga telah memperhitungkan berapa lama anak asuhnya itu pergi. Ia yakinkan semua orang bahwa dalam waktu tiga hari Rokis akan bisa mulai berlatih dan memerankan sosok perempuan itu dengan lebih jujur.

Semoga obsesinya termanifestasi menjadi ilusi yang lebih utuh.

Yaa, dia butuh dirinya sendiri.

Semoga…

***
antaranews.com

Aku hanya pamit untuk pergi. Jangan tanya berapa lama dan kemana arah angin membawaku. Aku mulai benci dengan angin. Aku benci mereka semua. Hanya berdiri, mematung, mengarahkan semua mata ke tubuhku yang dikata robot. Tak ada yang membelaku. Mereka yang sering bertepuk tangan memberi puji-pujian? Kemana mereka semua? Aku benar-benar merasa tak bisa apa-apa. Akhirnya aku pergi, sendiri. Memutuskan benar-benar menghindar sejenak dari mereka yang entah, menjadi begitu menyebalkan.

Aku harus mencari apa yang salah? Kenapa tidak mereka saja yang memberitahu? Kuputuskan berjalan ke bibir pantai dengan gundukan pasir hitam sisa tambang itu, lagi. Pantai benar-benar sepi sehingga tak ada suara manusia di sekelilingku. Dua orang tukang parkir dan seorang ibu yang biasa menunggui warung bersama dua buah hatinya, hari ini juga tak terlihat berada di pos masing-masing.

Aku mulai berteriak. Sekali, dua, tiga, kulampiaskan semuanya pada tiap-tiap debur. Kekesalan itu dibalas oleh gulungan ombak yang makin tinggi. Dan seperti biasa aku mulai cengeng, menangis sampai tersedak oleh air liur sendiri. Bosan berteriak dan menangis, kuputuskan berlari dari ujung barat ke bibir pantai sebelah timur, kuulang beberapa kali. Sampai payah lalu naik ke bukit pasir, bersandar di bawah gazebo kecil. Aku merasai lelah, benar-benar lelah. Hanya bisa menatap laut setelahnya, menemukan bising suara-suara, maisng-masing lamat-lamat jadi dengung dan bisik.

Apa yang salah?
Kau tidak mengenal dirimu, itu yang salah.
Tubuh siapa yang kau paksa bergerak?
Tubuhmu? Kau kenakan tubuhmu? Kau mengenalnya?
Sudah berapa lama kau menjadi asing dengan tubuh yang kau pakai sekarang?
Kapan terakhir berterimakasih pada tubuhmu yang kau paksa melakoni setiap ambisi dan obsesi itu?
Sudah hilang batas palsu nyata maya dari apa-apa yang kau rayakan atas tubuhmu.
Lalu kau masih bertanya apa yang salah? Kau digerakkan apa? Siapa? Kau tau?
Kau bersalah dan melimpahkan semua pada apa-apa di luar dirimu.
Kau punya tubuhmu tapi obsesi-obsesi itu mengurung keleluasaanmu. Kami bertanya, kau hidup untuk apa?

Kau tak merasai asing itu, sebab terlalu sibuk dengan ambisi dan capaian demi capaian. Kau lupakan kami, bagian-bagianmu. 
Kau asing, dengan dirimu sendiri. []

0 komentar:

Kenalin_

My photo
Gadis yang Ingin Mati Muda. Sedang Menempuh Pendidikan S2 di UIN Sunan Kalijaga. Konsentrasi Islam dan Kajian Gender.