Mau Cari Apa?

Perihal yang Serius

Satu gelas kopi sachet dengan sedikit tambahan gula sudah rampung diseduh. Di kamar nomor 25 beberapa kali suara masih terdengar. Sesekali cekikikan lalu mendesah pelan, takut didengar oleh penghuni kamar lain. Padma hampir lupa, ini sudah lewat tengah malam. Tapi tak seperti biasanya, kali ini pemilik kos abai saja dengan tamu laki-laki yang menginap.



Ia masih ditemani secangkir kopi instan dan setoples opak gambir untuk menuntaskan novel yang menang sayembara tahun lalu. Meski sudah khatam, buktinya sisa iri dengki masih menyelimuti gadis 24 tahun itu. Sementara suara desah di kamar sebelah makin tinggi intensitasnya. Padma bergegas turun dari ranjang, ganti pakaian, membereskan sedikit rambutnya, lalu keluar. Suhu kota yang bisa nyaris 40 derajat kala siang, benar-benar turun drastis di jam-jam tertentu. Seperti pagi ini, memasuki jam 03.00, kurang dari 20 derajat.

Padma masih berjalan tanpa tujuan. Sekira 10 menit kemudian, ia berpikir kembali dan mengambil kunci motor. Ia buka gerbang agak lebar, menggiring Revalina –motor bebek yang menemaninya singgah di beberapa kota dalam 5 tahun terakhir– ke depan gang, lalu menyalakannya. Ia putuskan untuk pergi ke barat, ke kawasan Tugu yang sudah lebih dulu lengang.

Sampai di perempatan ke dua, dari arah kiri ia mendengar teriakan seorang bapak. Sepintas melambaikan dua tangan ke arah Padma. Belum sempat ia menoleh sempurna, motor dari arah selatan sudah lebih dulu menyambar. Padma terpelanting lebih dari sembilan meter. Ia sempat membayangkan itu adalah salah satu adegan slowmotion yang diminta sutradara teater. Bedanya, ia tak lagi menginjak panggung pertunjukan.

“Mbak, hei dia tidak menjawab…”

“Ambil tasnya, ambil tasnya, amankan.”

“Nduk… sek enom lo.

“Jangan dipegang-pegang, Pak… belum ada polisi ini.”

“Jam segini mana mau polisi datang. Angkat.”

“Bantu tolong ini, heh mas…”

“Tasnya ambil. Biar diamankan nanti identitasnya.”

Samar-samar Padma bisa mendengar banyak suara, mengerumuninya. Tapi dalam benak tak peduli. Ia hanya ingin tahu nasib pengendara motor yang membuatnya oleng. Bagaimana keadaannya? Tak ada yang menyebut nama atau menyeru untuk melakukan pertolongan pertama. Atau sebenarnya ia tak benar-benar disambar? Masih samar-samar dan Padma kehilangan kendali atas tubuhnya.

Grid.id

Lima bulan sebelumnya Padma mendadak kejang. Itu adalah kali pertama ia mengalami kejang pada seluruh bagian tubuh. Bukan mengejang sebab klimaks atau menuju orgasme. Gejala yang ia alami cukup serius. Setelah kejang, ia tidak ingat apa yang terjadi. Kesadarannya menurun dan perilakunya sempat berubah. Padma gagal mendapat diagnosis dokter, karena tidak sempat melakoni uji sampel darah.

“Kamu harus periksa. Ini sudah lebih dari 10 kali.”

Ibu membawakan beberapa jenis obat sesuai resep dokter. Sejak kejang kali ke-tiga, dosisnya ditambah. Padma tidak pernah bertanya fungsi masing-masing pil yang ia masukkan ke dalam tubuh, selain sebagai anti-kejang atau menstabilkan kondisinya. Ibu Padma juga tidak pernah bertanya pada dokter, sebab ia percaya bahwa medis pasti lebih paham soal yang dialami anak semata wayangnya.

“Minggu depan kita akan ke Merapi. Bukan ke puncak, mungkin hanya di bawah, menikmati pemandangan saja. Kau ikut?” Ajak Agus ketika menyambangi Padma di kediaman karibnya itu.

“Aku ke belakang dulu, bicaralah dengan ibuk. Siapa tau aku boleh ikut denganmu.”

Belum sempat sampai ke kamar mandi, Padma mengeluh penglihatannya kabur lalu sebentar kemudian ia sudah tergeletak di lantai ubin dekat ruang tamu. Agus dan ibu yang tengah bicara perihal serius tentang kondisi yang dialami Padma, bergegas masuk. Beberapa menit kemudian ia sudah bangun dengan perilaku dan perkataan yang aneh.

“Kenapa Agus melambaikan tangan tadi, bu?”

“Kapan aku melambai-lambai, Ma…?” Tanya Agus sembari menyerahkan segelas air untuk Padma.

“Aku ingin bicara hal yang serius dengan Ibu, Gus.. Kau mau mendengarkan di sini atau pulang?”

“Maksutnya?”

“Kita ndak bisa memberi jarak pada maut, bu. Bahkan ketika bapak tidak bersalah atas apapun, ia disiram air keras bercampur racun. Sebelumnya diserempet motor tiga kali di hari yang sama. Dan keberuntungan tidak akan selalu datang. Sekali dua waktu maut memang berwajah manusia, bu.”

Bapak Padma meninggal awal 2019 lalu, setelah air keras bercampur racun masuk lewat mata sebelah kiri dan hidungnya. Sempat dilarikan ke rumah sakit namun penanganan yang sarat administratif membuat tubuh yang sudah sakaratul maut itu tak sempat ditangani.

Hasil autopsi juga tak pernah sampai pada pencarian tersangka penyiraman. Ibu dan Padma pasrah melihat mendiang bapak kesakitan setelah tubuhnya dicabik-cabik. Tambah sakit sebab tak bisa diungkap dalang dari serangkaian teror berujung pembunuhan itu.

“Dua bulan setelah kematian bapak, Padma mulai sering kejang tanpa sebab. Mau diperiksaken, ndak mau. Jadi cuma obat jalan.”

“Padma kan tidak apa-apa buk. Besok sudah balik ke kos lagi. Senin kuliah perdana.” Tegasnya.

“Nanti biar Agus yang ngawasin Padma, bulek… Kan kos kita juga lumayan dekat.”

“Aku bukan perempuan yang berkalang lelaki lo ya, Gus… haha. Iyaa, buk. Nanti kalau aku butuh apa-apa kan bisa bilang sama Agus. Jadi ndak perlu khawatir.”

dreamer.id

Perihal yang paling serius dari sikap khawatir ibu Padma sudah bisa ditebak. Ia tak yakin anaknya mau menyusahkan orang lain selama di tempat asing –bukan rumahnya. Ia pun membawakan beberapa jimat sebagai pegangan Padma agar terhindar dari bahaya. Ibu percaya doa-doa yang terkumpul dalam jimat itu akan melindungi putrinya dari maut yang dibawa oleh manusia, yang pernah tidak menyukai bapaknya. Termasuk untuk menenangkan emosi Padma yang cepat berubah.

Pesan yang diingat, ia tidak boleh keluar malam sama sekali, pun jika Agus yang menemani. Padma juga tidak punya niat melanggar nasihat ibu. Tapi malam itu ia benar-benar tak bisa tidur. Karena sudah jam 03.00, tidak tahan mendengar lenguhan yang semakin tidak tahu tempat, Padma memutuskan menghirup udara di luar. Ia pergi ke Tugu Jogja, sekira 15 menit dari tempat kosnya.

Di sepanjang jalan ia mengingat kembali perihal paling serius yang ibu dan Agus sempat bicarakan di teras rumah. Dengan suara lirih nyaris luput, ibu bilang bahwa Padma mengalami gangguan jiwa pascatrauma. Kata dokter, bisa jadi itu sebab dari teror-teror yang dialamatkan pada bapaknya beberapa tahun terakhir yang ia saksikan sendiri. Termasuk ketika tiga sepeda motor dalam kurun sehari, hampir menyambar tubuh bapaknya.

Kalimat itu coba ia pahami, sembari bertanya berulang kali pada dirinya sendiri. Sampai di perempatan kedua sebelum Tugu, Padma berhenti. Mulai berpikir, mungkin selama ini ia tidak benar-benar kejang? Obat yang diminumnya adalah anti depresan? Dan beberapa pertanyaan lain tiba-tiba datang menggelayut, mengawang-awang, datang dan pergi lalu kembali lagi bersarang di pikirannya. Sampai teriakan bapak-bapak melenyapkan satu persatu pertanyaan itu.
 
Pigsels
Ia melirik ke arah kiri dan gagal menemukan sosok yang meneriakinya. Belum sempat memastikan, motor bebek yang dikendarainya seperti disambar motor lain dari arah selatan, dan tubuhnya terasa lebih ringan beberapa bentar. Padma terlempar dan tersenyum. Di saat tak punya kuasa menggerakkan tubuhnya, ia lamat-lamat ingat pernah mengucapkan sesuatu pada sang ibu.


“Tidak ada sesuatu yang paling serius kecuali kematian, bu. Perihal maut yang sering kita tinggal lari menjauh, tak akan bisa benar-benar pergi. Bukankah ia sedekat nadi? Sia-sia kita sembunyi.” []

Tubuh-tubuh yang (Dipaksa) Sakit

Pengunjung masih beriringan datang. Raut-raut wajah pasien, keluarga pasien, teman, masing-masing was-was, lelah, payah, musam, dan kesan-kesan lain yang menandakan sebenarnya enggan menginjakkan kaki di sini. Kecuali bocah-bocah itu.

Mereka datang sumringah, seperti melihat area bermain maha luas, tapi penuh sesak dengan manusia. Satu bocah tampak asik bermain di kursi tunggu, ia nyanyi saja, tak peduli suaranya nyaring, sumbang, atau apa saja. Bocah itu terus nyanyi di kursi tunggunya tanpa takut dimarahi, tak ada rona sesal, seperti tak takut pada kematian.


Di lantai dua, ada dua ruangan yang bisa langsung terbaca bersamaan dengan habisnya anak tangga. Pertama, ruang kelas dan satunya lagi bertuliskan 'Soenarjo Sadikin'. Di ruang Soenarjo Sadikin, ada tembusan ke ruang studio rumahsakit dan ruang lain yang pintunya ada di sudut studio sebelah kiri.

Dalam ruang studio, tak ada kesan muram sebagaimana lantai satu. Semua melepas topeng iba topeng luka dan topeng-topeng pura-pura. Sampai seorang laki-laki berseragam masuk lewat pintu sebelah kiri diikuti beberapa pengawal.

Ia menyalami direktur rumahsakit yang tengah duduk berbincang dengan dua orang ghost writer. Mereka sengaja dipanggil untuk menulis biografi hidup sang direktur.  Biografi yang nantinya akan menjadi sejarah. Mengingatkan orang-orang pada jasa besar sang direktur, yang dianggap telah mampu menumbangkan tingginya tingkat penderitaan orang-orang desa dan kota yang dianggap berpenyakit.

"Bos besar sudah datang... Mari saya perkenalkan dengan dua penulis. Mereka nanti yang membantu bikin buku saya."

"Saya juga akan segera daftar dibuatkan."

Lalu sedikit tawa receh dari penulis bayaran, perbincangan dua orang penting di kabupaten pesisir itu menjadi lebih intim, serius dan mulai mengabaikan keberadaan para pengawal dan ghost writer yang sudah lebih dulu punya jadwal bertemu dengan direktur rumahsakit.

"Posisi itu sudah pasti jatuh di jenengan. Tak bisa tidak."

"Dia salah meletakkan kaki. Kalau kita sedikit saja lupa jarak, tak ada yang selamat."

"Siapa lagi yang diseret?"

"Untungnya beliau berhenti bicara. Tapi tetap ambil jarak. Kita harus main aman."

"Kalau jenengan butuh sesuatu, seperti biasa saja."

Lalu dengan beberapa kode, calon bupati itu melangkah pergi lewat pintu yang sama. Studio sebelah kiri, diikuti oleh para pengawal dan derap sepatu yang melangkah dengan hati-hati.

Rekaman sudah di masing-masing android. Hanya beberapa menit wawancara itu berlangsung. Direktur mencukupkan bicaranya, mengundang bagian humas dan meminta dua penulis bayaran untuk melanjutkan perbincangan.

"Jangan sampai memuat hal-hal yang beresiko."

"Maksutnya, pak?"

"Tanya sama bosmu. Kerangkanya sudah dibuatkan. Kalian tulis sesuai kerangka saja."

Direktur mempercepat nada bicaranya dan meninggalkan pikiran-pikiran yang dibuat penuh tanya. Desas desus yang terdengar membuat semua semakin ambigu.

Dua penulis itu mulai menyadari, mereka tengah berada pada posisi sulit. Mereka sedang membuat perjanjian dengan musuh sekaligus dokter bagi masyarakat di kota kecil itu. Mereka sedang melayani pembunuh berdarah dingin yang mengobati sekaligus memaksa tubuh-tubuh masyarakat miskin semakin sakit. 

okvaa.wordpress.com

Bulan kedua mereka kembali menemui direktur rumahsakit. Pertemuan setiap Senin pertama di awal bulan itu akan berlangsung kurang lebih empat bulan lamanya. Bulan ini mereka punya waktu lebih banyak bercakap dengan laki-laki yang berusia hampir separuh abad itu. Secangkir teh dan dua cangkir kopi menemani perbincangan kaku yang perlahan mulai mencair dengan kejujuran demi kejujuran dilontarkan oleh pak Dir.

“Saya mungkin salah satu orang paling tidak disukai di pemerintahan.”

“Bagaimana mungkin, pak? Anda dekat sekali dengan wakil bupati dan birokrasi.”

“Mereka sahabat, tentu lebih mengenal siapa saya. Yang saya maksud adalah orang-orang pusat.”

“Anda ingin ceritakan detailnya, pak? Jika berkenan.”

“Beberapa tahun lalu, saya pernah menolak kerjasama pengadaan obat dengan salah satu merk ternama. Saya pikir, masyarakat di kabupaten ini tidak butuh itu. Harganya mahal dan bisa diganti dengan alternatif lain. Tidak harus obat jenis itu.”

“Apa respon mereka?”

“Tentu saja, mereka marah. Saya dianggap kolot dan merugikan mereka. Tapi apa peduli saya? Daripada tetangga dan anak-anak yang rugi?”

Dua orang penulis itu menyandarkan punggung ke belakang. Menarik napas panjang dan berat. Berpikir sejenak untuk mencerna cerita yang baru saja mereka dengarkan. Bersamaan mengangkat cangkir masing-masing dan menyeruputnya.

“Suatu saat nyawa saya hampir-hampir dibuat lenyap. Saya tidak tahu sudah berapa banyak yang menganggap saya musuh. Saya pernah disekap sehari semalam, waktu di bandara.”

“Anda tidak mengusutnya? Bagaimana Anda bisa lepas? Ceritanya bagaimana, pak?”

“Mereka mengancam akan membunuh saya jika saya menolak kerjasama dengan salah satu perusahaan penyedia obat.”

“Masih dengan perusahaan yang sama?”

“Beda lagi. Kali ini lebih besar. Jika saya ambil, tentu saya akan dapat keuntungan lebih banyak dari gaji sebagai dokter atau direktur.”

“Bagaimana Anda bebas?”

“Mereka lupa bahwa saya juga bagian dari orang pusat. Jika mereka membunuh saya pun, mereka tidak akan mendapat tempat layak di Indonesia. Akhirnya saya dilepaskan dengan ancaman yang bertubi-tubi, sampai hari ini.”

“Apa yang membuat Anda berbuat seperti itu, pak?”

“Saya pernah jadi orang biasa. Saat itu ibu saya sakit dan terpaksa harus dirujuk ke rumahsakit besar. Uang darimana? Saya masih kuliah, uang beasiswa pas-pasan. Tapi ibu saya dipaksa harus membeli obat-obat kimia yang mahal itu. Mereka mencekik. Taruhannya hidup atau mati. Dari situ saya bertekad tidak akan berbuat hal yang sama. Tidak ada tubuh yang ingin menelan pil-pil mahal. Kecuali dipaksa untuk benar-benar seperti sakit parah.”

Anggapan awal mereka tentang orang di depannya mulai bergeser. Dua penulis itu sama sekali tidak mengenal siapa orang yang akan mereka tulis kisah hidupnya. Sebelum sempat berpikir lebih lanjut, direktur itu berdiri, mengajak keduanya keluar dari studio, turun ke selasar. Mereka bertiga berkeliling dari paviliun Graha menuju instalasi gawat darurat, melihat sistem baru yang dibuat pihak rumahsakit.

surabaya.bisnis.com

Di gedung IGD itu ada tiga jenis pelayanan untuk pasien kritis. Ruang pertama dengan simbol warna hijau diperuntukan bagi orang-orang non-kritis, termasuk pasien kecelakaan dengan luka ringan. Ruang kedua disimbolkan dengan warna kuning untuk pasien semi kritis. Lalu simbol merah untuk pasien kritis dan butuh penanganan cepat.

“Anggap saja mereka semua adalah keluarga dekat. Tidak mungkin kita memperlakukan keluarga dekat seperti orang asing, bukan?”

“Anda benar, pak. Anda sudah melakukan sesuatu yang besar di sini.”

“Ini belum cukup. Perjuangan kita belum selesai. Sebab di luar sana masih banyak tubuh-tubuh yang dipaksa sakit, lalu membeli obat mahal. Kita harus menjadi besar, bukan untuk menguasai, tapi memutus mata rantai penyiksaan yang dilakukan para penguasa.”

Perjalanan menyusuri selasar itu berakhir di depan ruang jenazah. Dua penulis bayaran kini dibuat kebingungan melihat puluhan anak-anak bermain riang, tertawa lepas dan berlarian tanpa beban. Sepersekian menit kemudian anak-anak itu tanpa jejak, selasar sudah kembali sepi. []



(Sebuah Catatan Pribadi, Maret-Mei 2019)

Sakralitas Penampihan; Tak Sekedar Lawatan ke Cagar Budaya Indonesia


Keberadaan cagar budaya tidak bisa lepas dari legenda atau mitos yang berkembang di masyarakat, mengenai latar belakang kemunculannya. Hal tersebut juga berlaku pada salah satu cagar budaya yang ada di Kabupaten Tulungagung, yakni Candi Penampihan. Candi yang dibuat sekitar tahun 898 Masehi ini ternyata memiliki banyak keistimewaan dan sejarah panjang yang melingkupinya.

Candi Penampihan berdiri kokoh di area lereng Wilis, dengan ketinggian sekitar 815 mdpl. Bentuk candi ini unik karena berdiri di atas punden berundak yang memiliki tiga teras. Jika Anda berkeliling ke komplek candi, ada beberapa arca dan prasasti yang masih bisa dijumpai, seperti Arca Dwarapala, Arca Dewa Siwa dan Prasasti Tinulat. Selain itu, di area sekitar candi juga ada rimbun perkebunan teh yang masih dimanfaatkan oleh warga sebagai sumber perekonomian.

Cerita Di Balik Nama
Satu dari sekian versi mengenai penamaan Penampihan berasal dari kisah penolakan yang dialami oleh seorang penguasa Ponorogo. Saat itu ia tengah memendam rasa dan ingin menikahi Dewi Kilisuci yang berasal dari Kediri. Akan tetapi sebelum sempat sampai ke Kediri, utusan yang ia kirim lebih dulu kembali menyampaikan berita penolakan dari sang Dewi.

Meski tak menyimpan dendam, pembesar tersebut enggan kembali ke Ponorogo dan memilih tinggal di kawasan lereng Wilis. Kemudian ia mendirikan bangunan suci –yang sekarang kita kenal dengan candi– dan menghabiskan sisa usianya bersama para prajurit di area tersebut. Lamaran yang ditampik atau ditolak itulah yang kemudian menjadi asal mula penamaan penampikan dan sekarang lebih populer dengan penampihan.

Mengenai sejarah panjangnya, Candi Penampihan seakan menjadi saksi dari kejayaan beberapa kerajaan di masa lampau seperti Kediri, Singasari, sampai beralih ke kerajaan Majapahit. Tak heran jika candi ini menjadi sangat sakral bagi masyarakat. Selain dipercaya sebagai tempat bertemunya para penguasa Jawa dan tempat berinteraksi dengan Sang Hyang, masyarakat hingga saat ini juga percaya bahwa sakralitas Penampihan yang dipertahankan, akan membawa kebaikan, baik di area sekitar candi maupun bagi masyarakat Tulungagung pada umumnya.



Sakralitas adalah Penyelamat
Adanya cagar budaya dan tradisi masyarakat menjadi dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Dalam rangka melestarikan dan merawat cagar budaya, masyarakat desa Geger kecamatan Sendang kabupaten Tulungagung rutin mengadakan Grebeg Suro dengan puncak ritual berada di area situs Candi Penampihan. Acara yang digelar tersebut juga selalu dihadiri oleh pemerintah kabupaten dan segenap masyarakat dari berbagai daerah. Tidak hanya dari kawasan kaki Gunung Wilis, bahkan warga dari kabupaten lain datang demi menyaksikan perayaan Grebeg Suro dan menikmati pagelaran kesenian, seperti jaranan, reog kendang dan beberapa tari-tarian daerah.

Sakralitas merupakan hal yang krusial dalam perayaan ini. Di mana para sesepuh desa tidak pernah lupa mengingatkan warga untuk menata niat sebelum prosesi Grebeg Suro dilaksanakan. Hal ini untuk menghormati para leluhur yang telah menjaga alam Sendang selama beratus-ratus tahun. Selain itu kesakralan dalam tiap-tiap prosesi juga diniatkan sebagai bentuk syukur dari apa yang telah Sang Hyang atau Tuhan berikan kepada masyarakat selama ini, sehingga mereka jauh dari kekurangan.

Sakralitas kawasan Penampihan yang terus menerus dijaga oleh masyarakat ternyata juga dapat menjadikan kawasan ini selamat dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Menjadikan suatu kawasan sebagai tempat yang disucikan, sakral, keramat, dan lain sebagainya secara tidak langsung telah membuka kesadaran warga masyarakat akan pentingnya melindungi kawasan cagar budaya tersebut. Sehingga apabila ada oknum yang memiliki niat buruk pada area Penampihan, mereka akan lebih dulu mendapat penolakan dari leluhur yang menjaga lereng Wilis –setidaknya hal tersebut yang menjadi kepercayaan masyarakat Sendang, Tulungagung.

Tak Boleh Sekedar Lawatan
Lalu apa yang bisa kita berikan untuk Candi Penampihan sebagai salah satu cagar budaya Indonesia? Sebagai generasi penerus, tentu ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misal dengan terus mendukung kerja kebudayaan dan pelestarian. Tak sekedar lawatan atau mengunjungi komplek cagar budaya, main-main lantas selfie, akan tetapi langsung terjun ke masyarakat dan ikut serta dalam menyelenggarakan acara-acara kebudayaan yang bertempat di area situs atau cagar budaya tersebut.

Setidaknya dari apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Tulungagung di atas, ada beberapa aksi nyata yang bisa ditiru guna merawat cagar budaya yang ada di daerah lain di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

  1. Mengenalkan cagar budaya pada generasi muda.
  2. Mengikutsertakan pemuda dan masyarakat dalam segala bentuk pelestarian.
  3. Aktif mengadakan kegiatan di area situs cagar budaya.
  4. Melindungi aset dan menindak tegas pencurian benda-benda bersejarah.

Dengan begitu, kita tidak akan gagap terhadap sejarah dan alur atau prosesi yang ada pada setiap tradisi. Upaya pemeliharaan terhadap cagar budaya pun bisa kita lakukan sekali jalan dengan menyelenggaraan tradisi tersebut.

Jika Anda memiliki cerita lain mengenai pelestarian cagar budaya di tempat Anda, sangat dianjurkan ikut berkontribusi dan menuliskannya dalam lomba blog Cagar budaya Indonesia; Rawat atau Musnah! Adapun untuk info lengkapnya bisa kunjungi alamat https://indscriptcreative.com/kompetisi-blog-cagar-budaya-indonesia-rawat-atau-musnah/


Ngadem Paling Seru di Ranu Gumbolo


Ranu Gumbolo / wisata pinggiran waduk yang bisa masuk salah satu tempat terbaik Anda untuk mengisi waktu di akhir pekan //

Sering disebut mirip ranu kumbolo di kaki gunung Semeru / ranu gumbolo yang ada di desa Wonorejo / Pagerwojo Tulungagung ini  / punya panorama yang ciamik // wisata yang dekat dengan waduk wonorejo sekitar 3 km ini ada di ketinggian 182 mdpl / tidak heran kalau kondisi udaranya selalu sejuk // pemandangan danau juga lebih hijau karena dikelilingi hutan pinus dan jati hasil reeboisasi //

Kalau anda mampir ke wisata ranu gumbolo / ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan / seperti selfie di beberapa spot foto / memancing / menikmati pemandangan di atas rumah pohon / bersantai di bale sampai camping // selain itu anda juga bisa menikmati banyak kuliner yang ada disepanjang objek wisata ranu gumbolo //


Di hari libur / wisata buatan ini selalu ramai pengunjung / tidak cuma dari lokal Tulungagung / masyarakat dari luar kota juga sudah banyak yang berkunjung  ke objek wisata ini // selain karena harga tiket masuk yang terjangkau / para pengunjung mengaku penasaran dengan wana wisata yang mirip ranu kumbolo ini //


Bagi Anda yang mau berkunjung / dari arah kediri ambil saja jalan ke arah ngadiluwih // lewat jalan raya ngadiluwih - jalan raya kras kediri sampaii ke ngantru // lewati jembatan ngujang ke jayeng kusuma sampai ketemu lampu merah pertama belok kanan ke jalan trunojoyo sampai ketemu lampu lalu lintas / belok kiri dan terus sampai jalan raya sembon ke jalan raya bungur kemudian jalan raya jatimulyo baru ke jalan kelud // dari jalan kelud Anda belok kanan ke jalan wilis lurus ke arah barat sampai ketemu pertigaan jalan waduk wonorejo / anda belok kiri sampai ke pertigaan SDN 2 Mulyosari / lalu belok kanan sampai ke ranu gumbolo //


Kalau anda ingin suasana liburan yang tidak banyak orang / bisa datang ke ranu gumbolo selain hari libur / pagi atau menjelang sore hari // ada spot-spot  menarik untuk relaksasi // Tapi kalau Anda ingin mengajak keluarga atau pasangan menikmati liburan / ranu gumbolo juga bisa jadi wana wisata keluarga yang ramah dan istimewa //

Saya Rizka Umami ///

 

Wisata Lingkungan Ala Argo Patok Candi Dadi

Tulungagung ternyata menyimpan banyak wisata alam buatan yang luar biasa // Salah satunya wisata Argo Patok Candi Dadi atau APC // Wisata bukit ini ada di dusun kedungjalin / desa junjung kecamatan sumbergempol kabupaten Tulungagung // 

Selain ada sumber mata air melimpah dari pegunungan di bawah candi dadi / di Argo patok juga punya banyak peninggalan sejarah seperti gua kodok dan candi bubrah // kesenian budaya seperti Aksi reog kendang dan jedoran juga sering ditampilkan di APC / untuk menyambut hari-hari besar // sekarang di APC sudah di bangun beberapa gazebo dan kamar mandi untuk kenyamanan para pengunjung //  tidak heran kalau sudah banyak wisatawan lokal maupun luar yang berkunjung ke wisata Argo Patok Candi dadi ini //


Mengutip jatim times.com / Bagi Anda pecinta motor trail / bisa mengajak komunitas trail ke wisata murah meriah ini // akan ada joki handal yang bisa mengantar pengunjung menaiki bukit APC sampai ke candi dadi yang ada di atas puncak bukit // jangan khawatir karena biaya sewa cukup terjangkau // Selain itu di bulan-bulan tertentu juga rutin diadakan tanam pohon oleh para pemuda desa atau gabungan dari komunitas-komunitas luar desa bahkan lintas kabupaten //

Kalau Anda ingin ke lokasi APC / Dari arah kota Tulungagung/ perempatan Jepun ke selatan sekitar 6 km / sampai perempatan tong di desa Wajak Anda tinggal ambil arah kiri kurang lebih 1 km // Tidak perlu membawa banyak uang karena setiap pengunjung tidak dikenai biaya retribusi // Anda cukup membayar jasa parkir dan sudah bisa menikmati pesona wisata Argo Patok Candi Dadi //


Kesadaran masyarakat Kedungjalin untuk bekerjasama mengembangkan wisata daerah rasanya perlu diteladani // sekarang kita sudah bisa melihat hasil dari semangat pantang menyerah itu lewat pesona Argo Patok Candi Dadi //

Saya Rizka Umami ///

Berendam Puas di Coban Kromo

Masyarakat Tulungagung harus berbangga karena punya banyak destinasi wisata yang unik // tidak cuma wisata gunung dan pantai / ada lagi wisata alam yang bisa Anda jadikan alternatif liburan dan melepas penat pas lagi di Tulungagung //


Anda pasti pernah dengar soal Coban Kromo // salah satu wisata air terjun yang ada di dusun Jambu / desa Pelem kecamatan CampurDarat Tulungagung // wisata ini sudah cukup lama diperkenalkan Dinas kebudayaan dan pariwisata / makanya pengunjung coban kromo juga sudah banyak //

Di wisata ini pengunjung tidak cuma disuguhi panorama alam yang hijau subur / tapi juga beberapa spot menarik seperti air terjun kaliso / yang di bawahnya ada kolam dan bisa jadi tempat Anda berendam sepuasnya // meskipun air terjun kaliso tidak terlalu tinggi / tapi Anda yang berendam di bawahnya bisa menikmati sensasi seperti dipijat air terjun // sembari berendam / Anda juga bakal melihat luasnya hutan dan sawah di Tulungagung dari ketinggian //


Setelah dari air terjun Kaliso / Anda bisa melanjutkan perjalanan ke objek wisata selanjutnya // ada air terjun Tumpuk dan Luweng / masih satu lokasi di wisata coban kromo // kalau Anda hobi berenang / Luweng bisa jadi spot paling menarik karena Anda bisa terjun dari bebatuan ke Luweng untuk mandi dan berenang dengan bebas // Nah / karena cukup dalam / Luweng ini khusus buat Anda yang sudah bisa berenang saja  Kawan //

Kalau Anda ingin menikmati derasnya air terjun / pastikan datang waktu musim hujan saja / karena selain musim hujan / debit air terjun kaliso dan tumpuk bisa sangat kecil / bahkan bisa saja tidak mengalir //


Nah kalau ingin ke wisata Coban Kromo / aksesnya cukup gampang kawan / sekitar 12 km dari kota / Anda ambil arah ke campur darat tepatnya desa pelem dusun Jambu // setelah sampai cukup tanya warga sekitar karena tempatnya melewati pemukiman warga // untuk parkir kendaraan Anda jangan khawatir / warga dusun Jambu bakal menawarkan jasa parkir untuk Anda baik yang bawa motor atau mobil dengan harga yang terjangkau / dan bisa dipastikan aman //

Sejak dibuka sampai sekarang / wisata coban kromo ini sudah bisa ikut memberikan pemasukan ke warga sekitar dan menjadi destinasi unggulan desa pelem // Anda tertarik? Kalau ke tulungagung / pastikan menyisihkan waktu mengunjungi wisata ini ya kawan //


Saya / Rizka Umami ///

Jurang Senggani; Wisata Keluarga Di Kaki Wilis

Kalau Anda berkunjung ke Tulungagung / ada satu tempat wisata yang tidak boleh dilewatkan / bumi perkemahan jurang senggani //

https://putri-zna.blogspot.com
Tempat wisata keluarga ini ada di kawasan kaki gunung wilis // Letaknya di desa Nglurup / kecamatan Sendang / sekitar 30 kilometer dari pusat kota Tulungagung // Selain menyajikan hutan pinus yang tinggi menjulang dan gardu pandang / Buat Anda yang suka selfie / ada banyak spot foto menarik yang bisa dicoba di wisata alam seluas 6,2 hektar ini // seperti di bawah ratusan payung dan bola warna warni / rumah pohon / ayunan / jembatan / atau di gazebo //

Selain itu pengunjung yang suka tantangan juga bisa menguji adrenalinnya dengan bermain di jaring laba-laba dan flying fox / meluncur dari ketingian 7 meter yang punya panjang lintasan sampai 100 meter // sedangkan untuk anak-anak / bumi perkemahan jurang senggani juga menyediakan playground yang dijamin aman//

Tidak cuma itu saja kawan/ di jurang senggani juga ada wisata lain seperti air terjun jurang senggani / yang bisa Anda tempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dari bumi perkemahan // baik weekday maupun weekend harga tiket masuk ke air terjun jurang senggani sangat terjangkau //


Sejak dibuka awal 2017 lalu / bumi perkemahan jurang senggani sudah dikunjungi banyak wisatawan / yang terus meningkat // paling tidak dalam sehari ada sekitar 200 sampai 400 pengunjung yang datang ke wisata ini // belum lagi saat liburan / pengunjung yang datang bisa dua sampai 3 kali lipatnya // selain sebagai tempat berkemah dan wisata / banyak juga komunitas yang sering mengadakan kegiatan di bumi perkemahan jurang senggani ini/ mulai dari komunitas musik sampai pecinta alam //

Kalau Anda dari arah blitar sampai perempatan jepun Anda bisa ambil arah ke kanan sampai ke pertigaan ngantru dan tinggal mengikuti jalur / termasuk Anda yang dari arah Kediri / dari pertigaan ngantru tinggal ambil kanan sampai perempatan sembon / ke kiri sampai pertigaan karangrejo kemudian ambil arah kanan ke jalur karangrejo – sendang sampai menemukan jalan beton atau plakat wisata jurang senggani //


Tarni / Ketua pokdarwis jurang senggani bilang / kedepan di jurang senggani bakal dibangun beberapa fasilitas untuk pengunjung / seperti spot foto dan taman bermain anak // bakal ada taman kelinci juga kawan // selain itu pelebaran jalan / dan perbaikan selokan juga bakal dilakukan dalam waktu dekat //

Bagi Anda yang berkesempatan liburan ke Tulungagung / bisa mengunjungi wisata yang buka mulai jam 7 pagi sampai 5 sore ini kawan // wisata jurang senggani bisa jadi alternatif wisata Anda dan keluarga //

saya rizka umami ///

Wisata Baru Sendang; Kedung Minten



Kecamatan sendang kabupaten Tulungagung ternyata tak cuma punya banyak wisata alam buatan / tapi juga masih menyimpan wisata sungai yang jernih // sekarang giliran kedung minten /  wisata baru yang mulai jadi idola //

Kedung minten letaknya masih di kawasan kaki gunung wilis / ada di desa nglurup kecamata sendang / kabupaten tulungagung // sejak di buka awal januari 2019 / kedung minten sudah dikunjungi banyak wisatawan / tidak cuma lokal tapi juga dari luar kota // selain punya aliran sungai jernih / sekarang kedung minten juga sudah di bangun pagar aneka warna / gazebo / dan kamar mandi umum buat para pengunjung //

Di wisata kedung minten juga ada beberapa warung punya warga yang buka setiap hari mulai pagi sampai sore // Anda bisa mencicipi rujak / gorengan / atau jajanan lain sembari berwisata di sungai // buat anda yang hobi berenang / kedung minten bisa jadi sarana yang pas untuk menyalurkan hobi // selain itu / di wisata kedung minten / anak-anak / juga bisa  menikmati sensasi arung jeram cuma pakai ban atau bermain air sepuasnya // tapi / ingat kawan /harus tetap diawasi orang tua //

Di sepanjang wisata kedung minten / Anda juga bakal dimanjakan rimbun pohon bambu yang menambah sejuk suasana // kalau kurang puas / Anda bisa berjalan naik buat menikmati derasnya aliran sungai dari dataran yang lebih tinggi / sekalian minum langsung dari air sungai yang ada di sana // dan karena tempatnya di lereng gunung wilis / air sungai kedung minten tidak cuma jernih / tapi juga dingin menyegarkan //

Kata Badi / ketua kelompok masyarakat pengelola kedung minten / wisata yang umurnya masih dua bulan itu awalnya memang inisiatif Badi bersama pemuda desa / yang mau mengembangkan potensi kedung jadi wanawisata yang ramah anak //

Anda punya rencana ke kedung minten ? lokasinya gampang ditemukan karena dekat bumi perkemahan jurang senggani // cukup ikuti petunjuk arah / dan Anda bakal bertemu gapura bertuliskan Wisata Kedung Minten //

Saya rizka umami ///

Menikmati Air Terjun Lawean


Kawan / Suka wisata air terjun ? di kecamatan Sendang Tulungagung / Anda bisa menikmati ragam wisata air terjun yang luar biasa // salah satunya air terjun lawean / yang ada di Dusun Turi / Desa Geger/ Kecamatan Sedang /  kabupaten Tulungagung //

air terjun lawean ada di ketinggian 1200 m di atas permukaan laut / dan masih bagian dari lereng gunung wilis // Untuk ke lokasi air terjun / Anda bakal melewati hijaunya perbukitan yang terbentang luas //  tapi / untuk sampai ke sana / Anda harus rela jalan kaki sekitar 3 Km // selama perjalanan Anda juga bakal 9 kali menyeberangi sungai // tapi tenang kawan / capek Anda bakal lenyap seketika / pas sampai di bawah air terjun / karena Anda bisa langsung mandi sembari menikmati segarnya air yang mengalir deras dari ketinggian 100 meter //


Kalau Anda suka mitos / Menurut warga setempat / barang siapa mandi di Air Terjun Lawean yang berteras dan bercabang / diyakini bakal langsung sembuh dari penyakit // masyarakat juga percaya kalau di lawean ada penguasa air terjun / seperti mitos soal Mbok Roro / Dewa Gangga / Cemethi / Endang Sampur / dan Mbok Roro Wilis //

Sebenarnya Tidak jauh dari air terjun Lawean /  ada juga air terjun lain yang tak kalah mempesona untuk dikunjungi /  yaitu air terjun Panda Wangi dan wisata sungai kedung minten // sebelum Anda ke Lawean / Anda juga bakal melewati area Candi Penampehan yang juga punya banyaks sejarah // Semua lokasi di sekitar air terjun lawean sangat layak untuk dikunjungi // Jadi kalau Anda punya banyak waktu luang / tidak ada salahnya menyempatkan berkunjung ke masing-masing wana wisata di kawasan Sendang

Ziarah Kaum Pramis


Bumi tempat manusia tinggal punya borok luka
Sudah sakaratul maut dengan selangkang menganga
Kaffan hitam di pematang langit mulai merakit duka
Melayat mendongak kepala lantas berdo’a

Mereka, kaum pramis dipecah zaman
Ditinggalkan kuasa jadi sedu panjang
Ini bagaimana?
Sementara kecamuk alam tak bisa dibendung dari malang

Kami melihat gelagat tidak baik pemangku kebijakan
Menjadikan kami kaum proletar sibuk mengais sampai lupa makan
Kami sibuk mengolok orang merapikan diri melanggengkan justifikasi
Sementara mereka sibuk merogoh saku-saku kaum kromo bumiputera

Mereka, kini kaum pramis diperbudak zaman
Dilapisi bijih kedzaliman, penta’dziman palsu
Ini bagaimana?
Sementara siasat penundukan tak bisa dibendung terus kaum pramis dipecah bagai batu

Mereka, kaum pramis punya borok bernanah sekarang
Nafasnya tersengal oleh korporasi
Beragam jadi seragam, hitam putih harus jadi putih
Ini bagaimana?

Kami melihat puing-puing perpecahan di antara kaum pramis muda
Kehilangan orientasi merdeka dan berdaulat atas nama bangsa
Mari bung.. Mari ziarahi kaum pramis muda
Biar nafas tersengal jadi kematian tanpa sumbang nada


Tulungagung, 2017

Mangkir

https://satelitpost.com

Satu kesaksian menunggu dilayangkan
56 kursi lipat tanpa meja
Berdiri di tengah seperti pesakitan
Siap diadili di muka para opziener

Wajah kusut seperti sajak-sajak bumiputera
Mengantar ia duduk tertunduk
Sebagaimana rasa bersalah yang jatuh lalu hilang
Ruangan itu melayang-layang menghakimi
Dua wajah memata-matai

justitie jadi menakutkan
Simpan gurauan di akhir pembebasan
Tapi tidak! Kebebasan bukan untuk sepasang pembual
Bukan dipakai menghapus meredam timpang

Tak ada orang bisa lolos dari cengkeram
25 kali kita memagut rasa di tengah tepuk sorai
Kau diam, tertunduk lagi… salah siapa kau mangkir ribuan kali
Pilih kabur menikung di gang pecinan

Ini batas ruang yang olehmu kau lupakan
Sebab mengalir di sela api dan asap
Menggantung di pembatas antara benar salah
Tapi kau pilih pulang, mangkir






Tulungagung, 06 Mei 2017

Pageviews