Kritik Matan Hadits



KAJIAN METODE KRITIK MATAN HADITS
Rizka Hidayatul Umami

ABSTRAK
Posisi hadits sebagai sumber hukum Islam yang ke dua setelah Al Qur’an menjadikan hadits sebagai sesuatu yang wajib dikaji. Kajian mengenai hadits sendiri tidak hanya menyangkut sejarahnya saja, akan tetapi yang lebih penting ialah justru pada masalah matan hadits tersebut. Namun Teks (matan) hadits yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits tidak semuanya shahih dan aman untuk dikonsumsi oleh umat Islam. Hadits sendiri dilihat dari aspek kualitas dan kuantitas pastilah memiliki kritik-kritik tertentu dari para ulama yang mengkajinya. Dengan demikian, para mujtahid dapat menentukan dan menetapkan bahwa martabat hadits adalah hasil dari ijtihad. Pada akhirnya memahami persoalan hadist dari segala sisinya menjadi penting untuk dilakukan. Kritik terhadap matan hadits sendiri bertujuan untuk mengecek sekaligus menguji kebenaran dan ke shahihan suatu hadits.

Kata kunci: hadits, kritik matan, metode kritik


PENDAHULUAN
Hadits bagi umat Islam adalah sumber hukum yang menempati urutan kedua setelah Al Qur’an. Selain memiliki keterkaitan dan keharusan mentaati Rasulullah SAW, hadits juga berfungsi sebagai bayan (penjelas) bagi ungkapan-ungkapan Al Qur’an.  Kebutuhan umat Islam akan hadits terpusat pada substansi doktrinal yang tersusun secara verbal dalam teks-teks (redaksi) matan hadits. Susunan kalimat pada matan hadits cenderung beragam tidak terkecuali hadits qauli. Materi-materi yang terdapat dalam matan suatu hadits  terbentuk dari elemen substansi ajaran yang mampu dipersepsikan oleh perawi dan selanjutnya diekspresikan kembali dengan elemen lafal (redaksi) hadits. Kadar akurasi susunan kalimat dalam matan hadits sangat dipengaruhi oleh faktor daya ingat, ketepatan persepsi, dan keterampilan para perawi dalam mengekspresikannya dengan bahasa  tutur masing-masing.[1]
Pelaksanaan kritik terhadap matan hadits pada tataran teori mudah mencapai persamaan pendapat, seperti halnya parameter guna menduga kepalsuan hadits. Namun dalam penerapannya, banyak sekali kejanggalan dan perbedaan dalam hasil penilaian suatu matan. Dari pengamatan yang dilakukan, dimensi kritik matan hadits sangat bervariasi, karena kadar akurasi penelitian tidak hanya ditentukan oleh tolok ukur yang dioperasionalkan, akan tetapi lebih pada ketepatan aplikasi metodologisnya. 

Latar Belakang Pentingnya Kritik Matan Hadits
Kritik matan hadits sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak masa Nabi Muhammad SAW sebenarnya kritik terhadap matan hadits sudah dilakukan meskipun dalam pengertian yang sangat sederhana.[2] Dari rangkaian langkah metodologis setiap unit matan hadits dapat diperoleh kategori doktrin yang berkaitan dengan dasar fundamental ajaran Islam atau hanya sekedar acuan teknis yang fleksibel dan praktis. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pembangkit kesadaran untuk melakukan kegiatan penelitian hadits, khususnya pada bagian penelitian matan hadits yaitu:[3]
1.     MotivasiAgama; terkait dengan posisi hadits yang menjadi sumber hukum kedua setelah Al Qur’an.
2.     Motivasi Kesejarahan (Historis); pendapat kesejarahan ini mencakup alasan bahwa kodifikasi bnayak yang dipalsukan, dan proses kodifikasi hadits terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama.
3.     Keterbatasan Hadits Mutawattir; sosialisasi hadits yang menempuh media dari mulut ke mulut ditekan oleh kebijakan pengetatan riwayat oleh Khulafaur Rasyidin, oleh karena itu tebaran hadits yang mutawatir menjadi sangat minim.
4.     Bias Penyaduran Ungkapan Hadits; kondisi keragaman ungkapan, sinonim, kata pembanding dan sebagainya tak terelakkan karena muncul atas inisiatif perorangan.
5.     Teknik Pengeditan Hadits; teknik pengeditan elemen non-hadits perlu diteliliti secara mendalam karena bisa jadi terdapat  pemrakarsa penyatuan elemen non-hadits dari orang-orang yang tidak termasuk tsiqoh.
6.     Kesahihan Sanad tidak Berkolerasi dengan Kesahihan Matan; penelitian ulang membuktikan bahwa hadits yang terlanjur dipercaya kesahihannya, ternyata dikemudian hari ditemukan turun derajatnya menjadi hadits yang dha’if.
7.     Sebaran Tema dan Perpaduan Konsep; referensi untuk mendukung sebuah tema keagamaan tidak akan cukup jika hanya diambil atau berasal dari hadits tunggal, maka butuh beberapa hadits yang memiliki pola dan tema yang sama.
8.     Upaya Penerapan Konsep Doktrinal Hadits; meskipun ungkapan hadits sudah banyak yang menawarkan matan yang jelas, namun masih ada saja yang abstrak, maka diperlukan pemahaman mulai dari pemaknaan lughawi, gramatikal, makna sintaksis, dan makna yang kontekstual.[4]

Tata Cara Kritik Matan Hadits
Menurut Syuhudi Ismail metodologi kritik matan hadits dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1.     Meneliti matan dengan melihat kualitas sanad; masalah shahih atau tidaknya suatu hadits sangat bergantung pada terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat kesahihan hadits tersebut.[5]
2.     Meneliti susunan matan yang semakna; meskipun terjadi perbedaan lafadz yang tidak mengakibatkan perubahan makna, asalkan sanadnya sama-sama shahih, maka tetap dapat ditolerir.
3.     Meneliti kandungan makna; apabila terdapat matan lain yang memiliki topik yang sama maka yang harus diteliti terlebih dahulu adalah sanad hadits tersebut. Apabila telah diketahui bahwa sanadnya adalah sanad yang shahih, barulah kegiatan meneliti kandungan makna pada matan hadits dilakukan.[6]

Asas Forma Metodologi Kritik Matan
Ketika memulai untuk melakukan kegiatan penelitian matan hadits, maka terdapat beberapa hal yang ternyata cukup fundamental dan penting untuk dikemukakan, yaitu:[7]
1.     Objek forma penelitian matan; adapun objek forma penelitian matan hadits mencakup tiga hal yaitu uji ketetapan nisbah (asosiasi) ungkapan matan, uji validitas komposisi dan struktur bahasa pengantar matan atau uji teks redaksi, serta uji taraf koherensi konsep ajaran yang terkandung dalam formula matan hadits. 
2.     Potensi bahasa pengantar matan; komposisi bahasa teks matan bisa terbentuk melalui teknik perekaman dan penguasaan inti konsep dan formula redaksi matan, yang mana kedua cara tersebut merupakan peran kreativitas para perawi hadits.
3.     Hipotesa dalam penelitian matan; dengan menggunakan dasar keragaman dalam memperlakukan hadits, dapat diambil persepsi bahwa dalan meneliti suatu matan hadits, tidak cukup jika hanya menggunakan mutu sanad.
4.     Status marfu’ dan ma’uqufnya hadits; dengan menggunakan beberapa indikator, maka dapat diambil hasil matan hadits yang bernuansa nubuah dan yang cenderung hasil dari ijtihad para mujtahid.

PENUTUP
Kritik hadits sejak awal memang telah dilakukan untuk melindungi eksistensinya sebagai sumber hukum yang kedua setelah Al Qur’an.[8] Kritik teks matan hadits mengarah pada seleksi kualitas ungkapan yang dipandang representatif dan mempertahankan keshahihan makna dan keutuhan kehendak. Kritik matan hadits diberlakukan karena tidak ada jaminan bahwa kualitas yang baik pada sanad sanggup menentukan baiknya kualitas matan hadits tersebut. Pentingnya kritik matan hadits pada masa sekarang ini sebenarnya juga merupakan tuntutan hadits secara keseluruhan.[9]
Matan hadits yang telah terdokumentasi memang telah diwarnai oleh perbedaan redaksional, beda asosiasi dalam hak sumbernya, berbeda dalam format penyajiannya, dan lain sebagainya. Metode untuk menguji kebenaran teks matan hadits sendiri ditempuh dengan cara takhrij dan mengarah pada perbandingan antar teks dalam kitab-kitab yang berbeda. Kemudian yang terakhir ialah orientasi kritik matan hadits terpusat pada uji kebenaran informasi yang sesuai dengan hal-hal pendukung dan fakta-fakta sejarah mengenai hadits.

DAFTAR RUJUKAN
Abbas, Hasyim. 2004. Kritik Matan Hadis. Yogyakarta: TERAS.
Abdurrahman, M, Elan Sumarna. 2013. Metode Kritik Hadis. Bandung:
PT REMAJA ROSDAKARYA.
Sumbulah, Umi. 2010. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: UIN MALIKI
PRESS (Anggota IKAPI).



[1] Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Matan Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2004), cet. 1, hlm. 2
[2] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadits, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hlm. 187
[3] Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Matan Hadis ..., hlm. 17
[4] Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Matan Hadis ..., hlm. 21
[5] M. Abdurrahman, Elan Sumarna, Metode Kritik Hadits, (Bandung: PT. Remaja Rosdaria, 2013), cet. II, hlm. 99
[6] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadits ..., hlm. 188
[7] Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Matan Hadis ..., hlm. 57
[8] Umi Sumbulah, Kajian Kritis Ilmu Hadits ..., hlm. 195
[9] Ali Mustafa Ya’qub, Kritik Matan Hadis ..., hlm. 163

Post a Comment

0 Comments