Ada
yang lebih menyakitkan daripada menangis, yaitu ketika kita ingin menangis,
tetapi tidak tahu lagi apa yang sebenarnya sedang kita tangisi. Apakah tentang
masa depan yang belum jelas arahnya, tentang harapan yang perlahan terasa jauh,
atau tentang seseorang yang dahulu menjadi alasan kita tersenyum, tetapi kini
justru menjadi alasan mengapa senyum terasa begitu sulit dipertahankan?
Aku
tidak tahu sejak kapan kebiasaan memendam semuanya tumbuh dalam diriku.
Barangkali sejak aku menyadari bahwa tidak semua hal bisa diceritakan, tidak
semua kesedihan akan dipahami, dan tidak semua orang yang bertanya, “kamu
kenapa?” benar-benar siap mendengarkan jawabannya.
Hai,
kenalin namaku M. Rizka Ali Nuralam, aku biasanya dipanggil Ali. Aku mau
sedikit cerita tentang kehidupanku saat ini. Kini aku menjalani kehidupan
sebagai mahasiswa semester satu di Universitas Sultan Maulana Hasanuddin
Banten, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam. Sebuah perjalanan yang dahulu mungkin kubayangkan sebagai
pintu menuju masa depan yang lebih baik.
Aku
datang membawa harapan, cita-cita, dan keinginan untuk menjadi seseorang yang
kelak dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Namun, ada satu hal yang tidak
pernah benar-benar diceritakan oleh siapa pun tentang memulai kehidupan baru: terkadang ketika kita sedang berusaha tumbuh, ada bagian dari diri kita yang justru
merasa tertinggal.
Aku mulai memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang duduk di ruang perkuliahan, mendengarkan penjelasan dosen, mencatat materi, lalu pulang dengan membawa tugas yang harus diselesaikan. Lebih dari itu, ada tanggung jawab yang perlahan tumbuh, ada harapan yang semakin besar, dan ada ketakutan-ketakutan kecil yang terkadang sulit diungkapkan. Aku harus belajar memahami banyak hal dalam waktu yang bersamaan, sementara diriku sendiri belum sepenuhnya memahami ke mana sebenarnya kehidupan ini akan membawaku.
Ada
kalanya aku duduk di ruang kelas, berusaha mencerna setiap penjelasan yang
disampaikan dosen. Aku mencoba fokus, mencatat hal-hal penting, dan meyakinkan
diri bahwa aku harus bersungguh-sungguh dengan pilihan yang telah kuambil.
Namun, entah mengapa, terkadang pikiranku justru melayang ke tempat lain. Ada
pertanyaan tentang masa depan yang tiba-tiba muncul, ada kekhawatiran tentang
kemampuan diri sendiri, dan ada perasaan yang seolah meminta perhatian di
tengah semua kesibukan itu.
Aku sering bertanya dalam hati, apakah aku benar-benar mampu menjalani semua ini? Apakah aku bisa menjadi mahasiswa yang membanggakan, memahami ilmu yang kupelajari, dan mewujudkan cita-cita yang selama ini kusimpan? Atau jangan-jangan, aku hanya sedang berjalan mengikuti waktu tanpa benar-benar tahu apakah langkahku sudah berada di arah yang tepat?
![]() |
| pixabay/nika_akin |
Pertanyaan
semacam itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seseorang yang sedang
berusaha membangun masa depannya, pertanyaan itu terkadang terasa begitu berat.
Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nilai di atas kertas, melainkan
juga keyakinan terhadap diri sendiri.
Aku memilih Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir bukan tanpa alasan. Ada keinginan untuk memahami kalam Allah lebih dalam, mempelajari makna di balik ayat-ayat-Nya, serta menjadikan ilmu tersebut sebagai bekal untuk menjalani kehidupan. Aku ingin menjadi seseorang yang tidak hanya mampu berbicara tentang kebaikan, tetapi juga belajar menghadirkan kebaikan itu dalam perilaku sehari-hari.
Namun,
semakin aku mengenal luasnya ilmu, semakin aku menyadari betapa banyak hal yang
belum kuketahui. Ada begitu banyak pemikiran yang harus dipelajari, begitu
banyak pengetahuan yang harus dipahami, dan begitu banyak kekurangan dalam
diriku yang harus diperbaiki. Terkadang, kesadaran itu membuatku bersemangat.
Akan tetapi, pada waktu yang lain, kesadaran yang sama justru membuatku merasa
begitu kecil di hadapan luasnya pengetahuan.
Aku
ingin berkembang, tetapi terkadang aku takut tertinggal. Aku ingin belajar
dengan sungguh-sungguh, tetapi ada hari-hari ketika pikiranku terasa terlalu
penuh untuk memahami apa pun dengan tenang. Aku ingin menjadi lebih baik,
tetapi terkadang aku sendiri tidak tahu harus memulai perbaikan dari bagian
mana.
Mungkin
inilah bagian dari proses yang tidak banyak terlihat oleh orang lain. Mereka
melihat kita sedang berkuliah, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangan yang
berlangsung di dalam pikiran. Mereka melihat kita menyelesaikan tugas, tetapi
tidak mengetahui berapa kali kita harus meyakinkan diri sendiri agar tidak
menyerah pada rasa malas dan lelah. Mereka melihat kita tertawa bersama
teman-teman, tetapi tidak tahu bahwa setelah semua tawa itu selesai, ada banyak
hal yang kembali memenuhi kepala.
Ternyata,
bukan hanya urusan intelektual yang membuatku sering kehilangan ketenangan. Ada
satu bagian lain dalam kehidupan yang terkadang jauh lebih sulit dipahami
daripada materi perkuliahan, perasaan. Sebab, jika suatu pelajaran belum
kupahami, aku masih bisa membuka buku, membaca kembali catatan, atau bertanya
kepada seseorang yang lebih mengerti. Namun, bagaimana jika yang tidak kupahami
adalah hatiku sendiri? Bagaimana jika ada perasaan yang tidak bisa diselesaikan
hanya dengan berpikir, ada kenangan yang tidak bisa dihapus hanya dengan
menyibukkan diri, dan ada seseorang yang namanya masih mampu menghadirkan
banyak pertanyaan meskipun kehadirannya tidak lagi sama seperti dahulu?
Aku
pernah berpikir bahwa urusan hati seharusnya menjadi perkara yang sederhana.
Jika bahagia, nikmati. Jika sedih, terima. Jika seseorang pergi, relakan.
Bukankah sesederhana itu? Setidaknya, begitulah nasihat yang sering terdengar
ketika seseorang sedang menghadapi persoalan asmara. “Namun, ternyata
memberikan nasihat jauh lebih mudah daripada menjalankannya sendiri.”
Ada
seseorang yang mungkin pernah menjadi bagian dari hari-hariku. Seseorang yang
kehadirannya membuat percakapan sederhana terasa menyenangkan, yang kabarnya
terkadang kutunggu tanpa kusadari, dan yang pernah membuatku merasa bahwa ada
hal-hal kecil dalam kehidupan yang layak disyukuri lebih lama.
Aku
tidak tahu apakah dia pernah memahami betapa berharganya hal-hal sederhana itu
bagiku. Aku juga tidak tahu apakah kenangan yang masih kusimpan mempunyai arti
yang sama baginya. Barangkali, baginya semua itu hanyalah bagian dari masa lalu
yang sudah selesai. Sementara bagiku, beberapa bagian darinya masih tertinggal
sebagai cerita yang belum sepenuhnya mampu kututup.
Bagiku, yang menyakitkan bukan selalu tentang seseorang yang pergi dengan pertengkaran atau meninggalkan luka melalui kata-kata. Terkadang, yang paling sulit diterima justru perubahan yang berlangsung perlahan. Tidak ada peristiwa besar yang bisa dijadikan alasan untuk membenci. Tidak ada satu kejadian yang benar-benar bisa kutunjuk sebagai awal dari semuanya. Hanya ada jarak yang semakin terasa, percakapan yang tidak lagi seperti dahulu, dan kesadaran bahwa sesuatu yang pernah dekat ternyata bisa berubah tanpa pernah benar-benar kita persiapkan.
![]() |
| pixabay/mahavirgadhavi |
Aku
pun mulai bertanya-tanya, sejak kapan semuanya terasa berbeda? Apakah aku yang
terlalu berharap? Apakah aku yang terlalu jauh mengartikan perhatian sederhana?
Ataukah memang ada hal-hal yang dahulu terasa begitu dekat, tetapi sebenarnya
tidak pernah menjanjikan untuk bertahan selamanya?
Pertanyaan-pertanyaan
itu tidak selalu membutuhkan jawaban, tetapi anehnya, justru itulah yang
membuatnya terus kembali. Aku bisa saja mencoba melupakan, tetapi terkadang
sebuah kenangan muncul dari hal yang tidak pernah kuduga. Sebuah lagu, sebuah
tempat, atau bahkan percakapan biasa dapat membuat pikiranku kembali pada
masa ketika semuanya terasa berbeda.
Di
saat seperti itu, aku sering merasa kesal kepada diriku sendiri. Mengapa
sesuatu yang telah berlalu masih bisa mengambil ruang begitu besar dalam
pikiran? Mengapa aku masih mengingat hal-hal yang mungkin sudah tidak pernah
dipikirkan oleh orang yang bersangkutan? Dan mengapa hati terkadang begitu
sulit menerima sesuatu yang sebenarnya sudah bisa dipahami oleh akal?
Aku
tahu kehidupan harus terus berjalan. Aku tahu ada cita-cita yang perlu
diperjuangkan, ada ilmu yang harus dipelajari, dan ada masa depan yang tidak
boleh kubiarkan terbengkalai hanya karena kenangan. Namun, mengetahui semua itu
tidak selalu membuatku langsung mampu melangkah dengan ringan.
Ada
hari-hari ketika aku ingin benar-benar melupakan semuanya dan memusatkan
perhatian pada diriku sendiri. Aku ingin membuka buku tanpa memikirkan masa
lalu. Aku ingin mengikuti perkuliahan tanpa membawa kegelisahan yang tidak ada
hubungannya dengan materi yang sedang dibahas. Aku ingin menjalani hari dengan
pikiran yang lebih tenang, tanpa harus terus-menerus berusaha meyakinkan diriku
bahwa aku baik-baik saja. Tetapi, semakin aku berusaha terlihat baik-baik saja,
semakin aku menyadari bahwa aku pun membutuhkan waktu untuk memahami apa yang
sebenarnya kurasakan.
Barangkali,
selama ini aku terlalu sibuk menuntut diriku agar kuat. Aku merasa harus mampu
menyelesaikan segala sesuatu sendiri, harus tetap berjalan meskipun sedang
lelah, dan harus selalu memiliki alasan untuk melanjutkan apa yang sudah
kumulai. Aku lupa bahwa menjadi kuat tidak berarti harus selalu menyembunyikan
kesedihan. Menjadi dewasa juga tidak berarti harus berpura-pura bahwa segala
sesuatu tidak pernah menyakitkan.
Aku
hanya manusia biasa. Aku bisa bersemangat hari ini dan kehilangan keyakinan
esok hari. Aku bisa tertawa bersama orang lain, lalu terdiam ketika kembali
sendirian. Aku bisa memahami banyak hal melalui buku, tetapi masih kesulitan
memahami mengapa hatiku sendiri terkadang terasa begitu rumit. Mungkin tidak ada yang salah dengan itu.
Aku sedang berada dalam sebuah perjalanan. Perjalanan untuk mengenal dunia yang
lebih luas, memahami ilmu yang kupilih, memperjuangkan cita-cita, dan menerima
bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kuinginkan.
Di
tengah perjalanan itu, aku juga sedang belajar menerima diriku sendiri,
termasuk bagian-bagian yang belum selesai, perasaan yang belum sepenuhnya
pulih, serta ketakutan yang masih sesekali muncul ketika memikirkan masa depan.
Terkadang aku ingin bertanya kepada seseorang, apakah menjadi dewasa memang
harus serumit ini? Mengapa semakin jauh kita melangkah, semakin banyak hal yang
harus dipikirkan? Mengapa ketika kita berusaha membangun masa depan, kita
justru harus belajar melepaskan beberapa bagian dari masa lalu?
Namun,
mungkin kehidupan memang tidak selalu menyediakan jawaban pada saat kita
membutuhkannya. Ada hal-hal yang baru akan kita pahami setelah melewatinya. Ada
perasaan yang baru menemukan tempatnya setelah kita berhenti memaksanya untuk
segera hilang. Dan ada kehilangan yang pada akhirnya mengajarkan kita bahwa
tidak semua yang berharga harus terus berada dalam genggaman.
Aku
tidak ingin menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Aku
tetap ingin belajar, tetap ingin bertumbuh, dan tetap ingin mewujudkan
cita-cita yang selama ini kusimpan. Aku ingin menjadi seseorang yang mampu
memahami ilmu dengan baik, menjaga nilai-nilai yang kupercaya, dan memberikan
manfaat bagi orang lain. Namun, aku juga ingin belajar untuk tidak terlalu
keras kepada diriku sendiri. Jika hari ini aku belum memahami suatu materi, aku
ingin memberi diriku kesempatan untuk belajar kembali. Jika hari ini aku masih
mengingat seseorang, aku ingin memberi diriku waktu untuk menerima bahwa kenangan
tidak selalu bisa hilang sesuai keinginan. Jika hari ini aku merasa takut
menghadapi masa depan, aku ingin mengingatkan diriku bahwa tidak mengetahui
semua jawaban bukan berarti aku tidak boleh melanjutkan perjalanan.
Sebab, barangkali yang kubutuhkan bukanlah kehidupan yang selalu mudah, melainkan hati yang lebih lapang untuk menerima bahwa ada hari-hari yang memang terasa berat. Ketika semua kegelisahan itu berkumpul, ketika pikiran tentang masa depan bercampur dengan kenangan tentang masa lalu, ketika tuntutan untuk menjadi lebih baik bertemu dengan keinginan sederhana untuk beristirahat, aku mulai memahami mengapa terkadang air mata itu tidak kunjung jatuh. Bukan karena aku tidak memiliki kesedihan, melainkan karena aku sendiri belum tahu bagaimana cara menjelaskannya.
![]() |
| pixabay/johnhain |
Mungkin
ada begitu banyak hal yang selama ini kusimpan sampai aku tidak lagi mampu
membedakan mana yang paling menyakitkan. Semuanya bercampur menjadi satu,
memenuhi pikiran, lalu diam-diam memengaruhi caraku menjalani hari. Namun, aku
tidak ingin selamanya terjebak di antara pertanyaan-pertanyaan itu. Aku ingin
suatu hari nanti mampu melihat kembali masa ini sebagai bagian dari perjalanan
yang telah membentuk diriku. Aku ingin memahami bahwa aku tidak harus menjadi
sempurna untuk layak berjuang, tidak harus selalu bahagia untuk tetap
bersyukur, dan tidak harus melupakan seluruh masa lalu untuk bisa melangkah
menuju masa depan.
Aku
masih M. Rizka Ali Nuralam, seorang mahasiswa semester satu yang sedang
berusaha menemukan pijakan di tengah kehidupan yang baru. Aku masih mempunyai
banyak hal untuk dipelajari, banyak kesalahan yang mungkin akan kulakukan, dan
banyak harapan yang ingin kuwujudkan. Aku belum mengetahui bagaimana seluruh
cerita ini akan berakhir, tetapi aku ingin tetap memberikan kesempatan kepada
diriku sendiri untuk bertumbuh. Sebab, pada akhirnya, mungkin kehidupan bukan
tentang seberapa cepat kita berhasil memahami semuanya. Mungkin kehidupan juga
tentang kesediaan untuk terus belajar, bahkan ketika ada hal-hal yang belum
bisa kita mengerti.
Dan
jika suatu hari nanti aku kembali membaca tulisan ini, aku ingin mengingat
bahwa aku pernah berada di titik ketika pikiran terasa penuh, hati terasa
sesak, dan air mata seolah menolak jatuh. Aku ingin mengingat bahwa di balik
segala keraguan itu, ada diriku yang tetap berusaha melangkah, meskipun belum
sepenuhnya tahu ke mana perjalanan ini akan membawanya. “Barangkali, itulah
makna dari air mata yang menolak jatuh.”
Bukan
tentang seseorang yang tidak pernah merasa sakit, melainkan tentang seseorang
yang masih belajar memahami rasa sakitnya. Bukan tentang hati yang tidak
memiliki air mata, melainkan tentang hati yang belum menemukan kata-kata untuk
menjelaskan segala sesuatu yang sedang dirasakannya. Dan untuk saat ini, aku
tidak perlu memaksa diriku menemukan seluruh jawabannya. Aku hanya perlu terus
berjalan, satu hari demi satu hari, sembari belajar bahwa tidak semua hal harus
selesai hari ini.
Sebab,
meskipun ada bagian dari diriku yang masih tertinggal di masa lalu, hidupku
masih memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Meskipun hari ini air mata
itu belum juga jatuh, aku berharap suatu saat nanti aku mampu tersenyum
kembali, bukan karena seluruh luka telah menghilang tanpa bekas, melainkan
karena aku telah belajar menerima bahwa aku pun berhak melanjutkan kehidupan.
Dengan segala harapan yang belum tercapai, dengan segala kenangan yang perlahan
menemukan tempatnya, dan dengan segala pertanyaan yang mungkin baru akan
terjawab seiring berjalannya waktu.
“Aku
masih di sini.”
Masih
belajar memahami ilmu, masih berusaha memahami kehidupan, dan masih mencoba
memahami diriku sendiri. Sementara air mata itu, entah sampai kapan, masih
memilih untuk tinggal di tempatnya.[]
PENULIS
M. Rizka Ali Nuralam
Mahasiswa IAT UIN SMH Banten

.png)



0 Comments