Perbedaan Pemancing Borjuis Dan Proletar

 

Morfo Biru - Dunia memancing ikan sedang tidak baik-baik saja. Ada ketimpangan serius yang tidak disadari, atau memang sengaja diabaikan.

Lebih buruk lagi, semua pemancing menggunakan slogan sama seolah-olah mereka setara, salam satu joran, padahal, meminjam kata Ustaz Mark, mereka tengah memelihara kesadaran palsu.

Aih, jauh nian sampai ke kesadaran palsu. Jangan salah, perihal pemancing borjuis dan proletar ini erat kaitannya dengan kapitalisme.

Baik, sebelum mulai, mari sama-sama mengucap basmalah agar terhindar dari pikiran sesat dan menyesatkan.

Menurut keyakinan saya begini.

Memancing, seringkali dianggap hobi, ini tidak salah. Namun, tepat saat pemancing itu menyadari bahwa ia menjalani aktivitas memancing di Indonesia, secara tidak sadar tujuannya sudah bergeser. Semula sekadar hobi, berubah menjadi tempat pelarian lantaran diplekotho kebijakan.

Tetapi, kan, tidak semua pemancing menganggap memancing adalah pelarian? Anda benar, hanya saja ini tulisan saya. Jadi, biarkan saya menulis apa saja semua-muanya sampai selesai. Jika tidak berkenan, boleh lempar komentar atau tulisan lain biar elegan. Jangan menyela di tengah jalan!

Pemancing membutuhkan beberapa alat, kita umum mengenalnya sebagai piranti atau fishing tackle. Piranti tersebut dibagi menjadi dua kategori besar: Umum dan khusus.

Piranti umum jelas, termasuk di dalamnya joran, benang, dan kail.

Sedangkan piranti khusus merupakan pengejawantahan setiap satu darinya. Misalnya, di joran ada tegek, spinning, baitcasting, jigging, fly fishing, telescopic, pasiran/surf, tulang daun salak kering, bahkan ada joran bambu bekas alat ukur mayat.

Benang ada monofilament, fluorocarbon, braid/polyethylene (PE), sampai benang jahit emak. Dan, kail pun ada single hook, double hook, treble hook atau kail jangkar; yang akan dibagi-bagi lagi menjadi puluhan jenis yang berbeda.

Setiap fishing tackle memiliki fungsi universal yang disepakati oleh pemancing di dunia sebagaimana kita sepakat bahwa satu ditambah satu sama dengan dua: Mendapat ikan.

pixabay/openClipart-Vector

Masalah yang teramat halus muncul, menciptakan gap antara pemancing borjuis dan proletar. Tetapi, para pemancing borjuis tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sendiri yang membuka jurang pemisah itu. Saya akan coba ambil contoh paling sederhana, yaitu dalam dunia memancing ikan kecil (microfishing) adaptasi dari Jepang yang dikenal sebagai Tanago Fishing.

Microfishing menjadi begitu populer di Tanah Air lantaran tidak tersedianya ikan-ikan besar di sungai-sungai irigasi. Sulitnya mencari ikan besar bukti nyata kegagalan pemerintah dalam menegakkan regulasi illegal fishing. Hutan saja yang tampak dengan mata telanjang dibiarkan gundul, apalagi ikan-ikan di dalam air yang tidak kentara.

Balik lagi, pemancing borjuis memancing microfishing menggunakan joran yang, agaknya, tidak murah. Meski murah itu subjektif, apakah Anda akan tetap menganggapnya murah jika nilainya lebih dari UMK Malang?

Kebanyakan adalah joran-joran impor dari Jepang. Ambil beberapa contoh merek besar, seperti Shimano, Nissin, Rooster Gear Market (RGM), Huerco.

Ajaibnya, sihir akan berlaku saat itu. RGM Spec 3 di official websitenya seharga 15.950 JPY atau sekitar 1.701.890 IDR, setelah masuk Indonesia akan menjadi minimal dua kali lipat. Sihir yang ajaib itu adalah palak pajak.

Ini masih piranti joran saja. Belum benang, kail, rangkaian, kotak pancing, dan printilan lain. Microfishing memang begitu, soalnya punya nama tengah micro ribet fishing. Kalau tidak ribet bukan microfishing.

Kita harus puasa setidaknya tiga bulan dengan upah UMK Malang untuk mendapatkan semua piranti microfishing yang memenuhi standar borjuis.

Namun hasilnya sepadan, popularitas dan prestise setelah memotret hasil foto lengkap dengan piranti itu lalu mengunggahnya ke grup microfishing tiap daerah.

Setelah mengulang siklus itu beberapa kali; beli piranti mahal, foto, unggah. Rasanya seperti melihat kepala-kepala pemancing proletar yang hitam dan kusam dari atas awan. Siklus yang tidak disadari itu menawarkan kepuasan memabukkan dan bikin candu dengan cara yang aneh.

Sedangkan di sisi sebaliknya, pemancing proletar masih meyakini hal klenik bahwa joran bambu dari alat ukur mayat akan mendatangkan lebih banyak ikan. Ikan-ikan di negeri ini sudah pandai, Bung! Mereka tidak lihat umpan, tetapi pakai joran merek apa yang digunakan untuk memancingnya.

Satu set pancing itu juga mahal, hanya saja bukan dari segi harga. Joran bambu, benang jahit emak, pemberat batu, kail peniti baju, dan umpan sisa nasi yang mengeras hampir jadi karak. Kita akan menemukan orang memancing dengan alat yang demikian jika berhasil mengembalikan waktu ke 1990-an.

pixabay/Clker-Free-Vector-Images

Di zaman sekarang, semiskin apa pun pemancing, masih tetap memiliki joran pabrikan. Tujuannya jelas timpang, pemancing proletar memancing untuk mendapatkan ikan. Sedangkan pemancing borjuis, memancing untuk… entahlah apa itu.

Kemudian Anda menyanggah. Oh, saya tidak semiskin itu, saya memiliki uang untuk membeli joran super mahal, namun ini bukan soal mampu beli atau tidak. Ini soal mau pakai joran apa saja! Terserah kalian, ini tulisan saya.

Saya pernah menjadi keduanya. Saat memancing pakai joran tegek murah dari Oregon, rasanya seperti teralienasi. Lain cerita saat saya pakai joran tegek Shimano, sekali unggah ke media sosial menjadi pusat perhatian.

Begini, semoga ini menumbuhkan kesadaran kita meski pahit, bahwa jika orientasi kita memancing adalah mendapatkan perhatian di media sosial. Tidak ada bedanya dengan buzzer yang dibayar 500 rupiah per komentar untuk membenarkan ketololan.

Kita sudah berhasil menodai sekaralan memancing. Di mana tingkat sakralnya nyaris setara dengan menikah yang disaksikan malaikat. Sungguh disayangkan.

Bayangkan, niat Anda yang sebenarnya tulus dan putih hanya untuk memancing. Ternyata juga turut menyumbang pendapatan negara dari pajak. Turut mengecilkan nyali pemancing yang tujuannya murni mencari ikan. Turut pula menormalisasi status quo bahwa memancing harus begini dan begitu.

Barangkali sekarang saya perlu mengakhiri omong kosong dalam tulisan ini. Tiba-tiba hujan turun, hujan yang aneh seperti kemarin-kemarin. Saya harus segera beranjak dari pinggir kali ini. Tiga jam berlalu di sini, saya sedang memancing bersama manusia yang masih menggunakan joran dari bambu.

Ia sudah berkemas untuk pulang mengangkat jemuran, saya ikut juga, berkemas untuk mencari warung kopi terdekat dan mengunggah hasil mancing di media sosial.

Aduh, saya ingin melihat pemancing lain sebagai sebenarnya pemancing ikan. Bukan melihatnya dari joran apa yang ia gunakan. Jadi di akhir tulisan ini, saya harus segera bertaubat sebelum dihantam azab kesombongan.[]


PENULIS

Romafi WK
Sekadar manusia biasa yang di waktu luang memancing ikan
di waktu yang lebih luang menulis cerita | Bisa ditemui di filosofish.id


Post a Comment

0 Comments