Aku malu dengan aku Sebatas aku tak bisa apa-apa Di balik layar hanya menunduk kepala Buta  Bisu Tuli Betapa malu Jika saja...

Wiji Thukul; Puisi Bukan Sebatas Kata

Aku malu dengan aku
Sebatas aku tak bisa apa-apa
Di balik layar hanya menunduk kepala
Buta 
Bisu
Tuli

Betapa malu
Jika sajak sebatas kata
Tidak menjadikan sebutir keadilan menjelma
Betapa buruk
Kata sebatas kata
Tidak membuat perut  buncit penguasa sirna
Betapa jijik
Puisi sebatas kata
Tidak bisa mengupaya manusia menjadi manusia
Tidak bisa menyeru keadaban
Sebatas diam menyaksi kemalangan berderai tindas

Aku malu dengan aku
Tak bisa sebagai ia yang gelisah tidur dirundung pilu
Ketakutan kalau-kalau mati dihunus peluru
Atau tak bisa lagi
Menyaksi angin, langit, laut, dan bising tangis

Aku malu dengan aku
Tak lagi punya seteguk bebas
Ruang menyela
Berpikir
Bahkan bicara
Buta
Bisu
Tuli.



Ingat Wiji Thukul?
Sastrawan (baca: aktivis pergerakan) yang jadi buronan.
Akibat sajak-sajak yang dianggap mengancam kelanggengan penguasa. 
Tahu kau ia dimana?
Tenggelam bersama sejarah penuh kemelut.
Jika ia ada, ia pasti bicara
Tentang kita yang mapan dibungkam
Kita yang rentan mengorbankan idealitas
Atau ia akan menyelesaikan urusan kita
Lewat puisi-puisi yang bukan sekadar kata-kata.

Istirahatlah Kata-kata adalah film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Diperankan oleh Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul, dan Marissa Anita sebagai Sipon, film ini berhasil menyedot perhatian berbagai kalangan. 
Film yang digarap pada tahun 2016 ini memang sudah tayang sejak Oktober 2017 yang lalu. Meski begitu, meski sudah beberapa kali melihatnya, belum pernah kurasai bosan atasnya.
Jika dulur-dulur ingin lebih lanjut menikmati film ini, bisa download di: https://xx1.me/movie/lk21-istirahatlah-kata-kata-2016-8r3y/play



0 komentar:

Dikehendaki atau tidak, perkembangan teknologi telah membawa Mobile Legend (ML) masuk di tengah-tengah pasar. Mungkin tidak hanya ML, ...

Game dan Quality Time yang Muspro


Dikehendaki atau tidak, perkembangan teknologi telah membawa Mobile Legend (ML) masuk di tengah-tengah pasar. Mungkin tidak hanya ML, sebelumnya ada Clash of Clans (COC), Garena AOV, Clash Royale, dan Crisis Action, yang benar-benar telah berhasil menggeser permainan konvensional dari lingkungannya.

Game online dan angkringan atau warung kopi, kini ibarat dua pasangan baru yang lengket. Keduanya sedang menjelma jamur di musim hujan, tumbuh subur. Setiap angkringan dan warung kopi yang kusinggahi, tidak ada yang tidak menawarkan wifi gratis. Tak khayal, banyak orang sepertiku yang tanpa diminta sudah berkerumun di setiap warkop, demi menikmati fasilitasnya, terutama untuk bermain game.

Pernah suatu malam, bersama dengan ketiga teman, kami ngopi di salah satu warkop. Tempatnya nyaman, bergaya klasik, ramah perempuan, dan tentunya layak untuk harga mahasiswa. Kami memilih kursi di salah satu sudut ruangan agar bisa menikmati segala sisi kedai yang saat itu, hampir penuh.

Sepuluh menit setelah kedatangan kami, menu yang kami pesan sampai. Dua nasi goreng spesial, dua mie goreng jumbo, dua es cappuccino, dan dua jeruk panas. Kami lantas melahapnya selagi cacing-cacing di perut kami belum meronta-ronta.

Makan malam yang berkesan, karena kami bisa menikmati seluruh hidangan dengan biaya ala kantong mahasiswa, 15 ribu per orang. Setelah acara penggemukan malam itu rampung, piring-piring dibawa pergi oleh pelayan, yang tidak terlalu mampu menawakan jasanya dengan senyuman.

Kami pun mengobrol, ngalor ngidul tidak jelas dan memenuhi seisi ruangan dengan gelak tawa tak berkesudahan. Pertemuan kami malam itu memang terkesan berbeda, mengingat kami tidak pernah bertemu selama hampir setahun karena kesibukan masing-masing.

Kami menganggap pertemuan malam itu adalah quality time yang harus benar-benar dimanfaatkan. Prinsip kami, mengambil peribahasa perancis, “L'heure, c'est l'heure; avant l'heure, c'est pas l'heure; apr├Ęs l'heure, c'est plus l'heure.” Sederhananya berarti waktu yang kami miliki adalah saat ini, bukan sebelum, apalagi sesudah.
Nah... tapi agaknya prinsip kami sudah mulai usang, tidak sama dengan prinsip orang-orang yang ada di sekeliling kami. Apa buktinya? Setelah dua jam di angkringan itu, kami mulai mengamati pergerakan orang-orang yang lalu lalang.

Ada sepasang muda-mudi datang kemudian memesan beberapa menu. Mereka duduk tepat di samping meja kami. 15 menit, sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka asyik mengobrol, seakan dunia milik mereka berdua. Seperti mereka tidak mengizinkan orang-orang lain tinggal di planet yang sama dengan mereka.

Kami merasa iri, mengingat kami berempat waktu itu menyandang status yang sama, jomblo. Duhh... Jelas kami tidak kebagian tempat, untuk sekedar mampir di sela-sela mereka.

Ketika pesanan sudah diantar, mereka melahapnya segera, suap-suapan, laiknya pengantin baru di singgahsana raja dan ratu semalam. Tidak ketinggalan, mereka mengabadikan momen mereka di Vlog, dengan iringan lagu dari Iwan Fals, “kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Kemesran ini, ingi kukenang selalu. Hatiku damai jiwaku tenang di sampingmu…” yaa… dengan berat hati kami sama-sama mendoakan, semoga langgeng.

Tapi yang membuat kami heran, setelah mereka menghabiskan makan malamnya, tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Masing-masing sibuk mantengin gadgednya. Si cowok sibuk nge-game, dan si cewek sibuk bales chat di Line.

Tidak main-main, 20 menit berjalan, mereka tidak saling menegur. Si cewek yang sudah lebih dulu merasa kehilangan momen kebersamaannya, hanya memandang si cowok dengan malas. “Lagi ngapain sih?”
“Bentar, dikit lagi War.”
“ML lagi?”
“Iyaa, bentar ya sayaaang... Nanggung ini.”

Lima menit, tik tok tik tok... Sepuluh menit... Sampai akhirnya kami berempat memutuskan untuk memesan beberapa snack ringan dan kopi hitam cangkir.

“Sayaang... Kita jarang ketemu loh.”
“Iyaa beb, ada apa? Kan ini udah ketemu.”
“Iyaa masak kamu tinggal maen game, kan ntar di rumah masih bisa.”
“Bentar dong sayaang, nanggung ini kalo nggak diselesaiin. Bentar yaa bentar.”
Sampai snack kami, si jamur crispy yang tiga piring habis, ludes tertelan, permainan itu belum juga ia selesaikan. Sedang si cewek sudah mulai bosan dengan pertemuan mereka malam itu.

Di meja yang lain, kami melihat beberapa orang sibuk mantengin gadgetnya, sesekali bercakap, hanya bertanya, “Sampai level berapa?”

Kami merasa ada banyak hal yang bergeser tentang hakikat warung kopi, pertemuan, dan ngopi itu sendiri. Kami yang sangat sibuk mengatur waktu untuk bisa bertemu, benar-benar menjadikan setiap waktu menjadi berkualitas, tidak peduli berapa lama, bahkan meski hanya satu menit.

Sedang mereka disini, ngopi dan pertemuan itu justru hilang esensi ketika hanya menghasilkan war. Contohnya si mbak ini, kami menerka-menerka, mereka adalah pasangan LDR, jelas jarang ketemu, eh sekali ketemu, ditinggal nge-game.

Bayangkan dong gaees, gimana perasaannya. Pertemuan mereka seperti tidak berguna sama sekali. Quality time yang diharapkan si cewek muspro. bayangkan kalau setiap quality time kalian juga muspro laik yang mereka alami?

Game tidak pernah salah. Kehadirannya adalah salah satu bukti bahwa kita punya peradaban yang terus melesat. Tapi orang yang nge-game tanpa melihat, memperhatikan, dan menyadari, situasi wa kondisi di sekitarnya, mereka benar-benar bermasalah.


Jadi pesanku sama temen-temen, jangan bikin quality time kalian sama keluarga, temen, sahabat, pacar, dan lain-lain muspro cuma gara-gara game. Ingat, waktu kita adalah hari ini, bukan kemarin, apalagi besok.[]

0 komentar:

November Rain   menjadi lagu yang amat menyayat jika diingat.  Lagu itu hadir menenggelamkan diri pada kenangan yang enggan pergi l...

November Rain, Jangan Takut Kehilangan!





November Rain menjadi lagu yang amat menyayat jika diingat.  Lagu itu hadir menenggelamkan diri pada kenangan yang enggan pergi lamat-lamat dari ingatan. Seperti judul lagu itu, aku mengenangnya tepat di bulan November. Satu November dan ia lahir di bulan yang riuh dengan kemelut rindu pada hujan.

0 komentar:

Foto ini diambil ketika hari raya idul fitri 1435 H. Pada saat itu, kami sekeluarga sedang berkunjung ke kediaman saudara di daerah Du...


Foto ini diambil ketika hari raya idul fitri 1435 H. Pada saat itu, kami sekeluarga sedang berkunjung ke kediaman saudara di daerah Durenan, Trenggalek. Kebiasaan masyarakat Trenggalek pada hari raya ke delapan adalah mengadakan kupatan.



Dua foto ini diambil ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata IAIN Tulungagung di desa Panggungkalak kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung.
Sungguh kenangan yang tidak dapat dengan mudah dilupakan.

0 komentar:

Kenalin_

My photo
Gadis yang Ingin Mati Muda. Sedang Menempuh Pendidikan S2 di UIN Sunan Kalijaga. Konsentrasi Islam dan Kajian Gender.