"Meludah"

siang bilang ia menghilang,
lalu ia membayang dan sekejap datang,
katanya ia sudah lupa kota asal,
sudah punya rumah di daerah aspal,
tapi masih pakai baju lusuh,
kumuh, tak terurus.
Siang kata ia tiada,
lalu ia balik membawa bekal tas dan makanan sisa,
katanya ia suka berhuru hara,
berfoya-foya sesuka hati,
ia menghambur uang seperti daun jatuh di musim gugur.


Siang kata apalah itu tentang ia,
lalu malam tak sudi jadi tumpuan ia mengadu,
sore bahkan pagi juga tak sudi lagi,
tidak tahulah siapa teman ia di rumah kardus,
rumah yang lantainya tandus,
ditambah wajah ia pula makin tirus.
Kalau aku tanya pada siang,
ia tak sampai hati keluar rupiah untuk infaq,
masjid ia singgahi jadi tempat cuci kaki,
tak mau ia disalahkan karena tiada pernah mendo'a,
katanya ia tak mau kenal lagi dengan Tuhan.
Sudah,
langit sudah bisa marah,
siang bilang ia sudah mau meludah,
ia sumpahkan untuk tak mengambil ludah,
ia kata meludahnya tiada bakal mendatangkan karma,
padahal tuan kata meludah juga bisa jadi tuah,
ini hanya masalah meludah,
belum saat ia jadi tukang di rumah gedongan,
makin tak kelihatan ia singgah ke rusun kota,
pun saat uangnya jadi daun lagi,
ia mungkin makin tak sudi,
pilih ngemis di jembatan pinggir kali,
asal ia kelihatan,
meskipun tak sampai tampil depan tv.
ia meludahkan lagi ludahnya,
hanya sekejab ia tak kelihatan lagi meludah,
lalu siang kata pada malam,
katanya ia tinggal di rumah berlantai tanah,
sayang di kata ia tak lagi sanggup meludah,
hatinya sudah tak mampu lagi tergugah,
dan akhir kata ia harus pasrah,
tanpa ludah.
TA, 29 Mei 2015, 20:40
‪#‎Morfo_Biru‬

Post a Comment

0 Comments