Mau Cari Apa?

Koesno dan Seseduh Toleransi

“Kau harus membaca banyak buku, Koes. Sebelum membungkam mulut dan tidak memberi pertanggungjawaban apapun. Kau mestinya paham, bahwa agamaku tidak sepenuhnya bisa memberi pemahaman, bagaimana aku harus bersikap. Semua yang kupelajari hanya tafsir-tafsir manusia yang tidak bisa mengesampingkan subjektivitasnya.”

***
Koesno meraih pulpen biru dari saku kemeja. Membubuhkan beberapa tanda tangan di halaman kedua sampul buku miliknya. Benar katamu, Koes. Menjadi sholeh tidak harus sering ke masjid atau memakai baju koko kemana-mana. Cukup membuat satu buku berisi tuntunan dan kiat-kiat beragama, maka kau akan dianggap yang paling beradab.

Belum genap 30 buku yang ia tandatangani, seorang perempuan dengan rambut terurai datang tepat di hadapannya, menggeser beberapa orang yang sedari satu jam lalu antre, meminta tinta biru Koesno. Di tangan kiri perempuan itu membawa kerudung persegi empat, sedang tangan kanan membawa buku Koesno dengan sampul lusuh.

Para pewarta tiba-tiba memuji Koesno. Dilanjutkan oleh para penggemar dan pemilik kedai kopi. Dengan senyum sumringah, puji-pujian itu ditanggapi sepersekian detik. Orang-orang yang bergumul dengan sinar matahari siang itu, tampak girang mendapati ada perempuan yang ingin dipakaikan penutup kepala oleh Koesno. Semua bersorak sorai seperti baru mendapatkan jatah raskin dari pemerintah.

“Seharusnya sejak dulu mbak ini taubat.” Seru salah seorang ibu muda di sudut kedai.

"Untung ada mas Koes. Jadi lebih damai sekarang…”

“Meskipun tadi mbaknya ndak sopan, tak maklumi aja. Emang buru-buru pengen tobat.”

Koesno Sulung berdiri. Masih dengan senyum sumringah dan pulpen biru di tangan. Ia menghampiri perempuan yang ditaksir oleh para pewarta seusia dengan si pemuda. Belum sejangkah maju, perempuan itu menarik tangan Koesno dan lenyap di trotoar jalan. Sementara para pembaca kebingungan, pemilik kedai sekaligus penggagas acara siang itu mengajak para tamu menikmati hidangan, sembari menunggu Koesno kembali.

“Koes, kau tau apa yang diceritakan Emily kepada Wallis?” Derap langkahnya terlalu cepat, hampir-hampir Koesno tak mampu menyamai lajunya. Tanpa memedulikan karibnya, ia melanjutkan bicara, “The Various Flavors of Coffee, halaman 472, Emily mengaku bahwa Arthur, suaminya, menghendaki kebungkaman, keteraturan, dan penerimaan. Kau tau kenapa aku begitu marahnya denganmu? Jawab, Koes!”

Hampir 10 menit berjalan. Langkah kaki keduanya berhenti. Koesno melepaskan pergelangan tangannya dari terkaman si perempuan. Ia menatap punggung perempuan di depannya dengan datar, sesekali menghela napas dan mengatur frekuensi bicaranya, seperti biasa.

Belum sempat mulut itu berucap, perempuan itu membalikkan badannya dan menunjuk kea rah Koesno, “Cukup bersandiwara. Aku adalah karibmu ketika hitam dan putih. Tapi jangan sekali-kali berbicara denganku layaknya manusia suci.”

“Ruk, dengar… Jika kau sudah membaca keseluruhan buku itu, harusnya kau paham, bahwa aku hanya ingin menjadi apa yang publik inginkan. Aku kehilangan kedirianku. Publik ingin aku membenarkan apa-apa yang mereka yakini, bukan kebenaran yang aku ketahui.”

“Kau tau aku begitu malunya berkarib denganmu, Koes. Aku seperti anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, tak punya harga sebagai manusia. Koes, biar aku perempuan, aku tetap manusia. Aku punya Tuhan dan kau tak punya hak, secuil pun, menjadikan keperempuananku dan Tuhanku sebagai objekmu.” Isak itu justru menandai ingatan Koesno tentang kematian Emily dan perjuangan gerakan perempuan yang meminta hak suara parlemen di London.

***
Belum genap satu jam dan kedai itu mulai gerah, sesak dengan keluh tak berkesudahan. Para tamu undangan telah kehabisan waktu menunggu Koesno kembali dari tarikan perempuan tak dikenal. Mereka meminta pemilik kedai mengembalikan Koesno dalam forum dan menyelesaikan apa yang mereka inginkan.

“Bisakah menyediakan seluruh menu kopi yang ada di kedai ini untuk para tamu?” Suara lembut Koesno menyudahi kegelisahan para tamu dan mereka kembali bermuka dua, tenang dan sinis.

Sepersekian menit bergeliat cepat. 10 jenis bubuk kopi, masing-masing 10 cangkir pun telah usai diseduh dan dihidangkan di meja panjang. Koesno mempersilakan para tamu mengambil  sesuka hati. Pun jika ada yang mengambil dua sampai tiga cangkir untuk satu orang.

“Maafkan saya membuat Anda sekalian lelah menunggu. Tapi ada cerita menarik dari kepergian tadi. Dan sebagaimana keinginan saudara-saudara, saya akan memberikan beberapa pesan hari ini.”

Para pewarta telah lebih dulu mempersiapkan perlengkapan untuk merekam apa-apa yang disampaikan oleh Koesno. Sementara beberapa tamu undangan sibuk mengeluarkan alat tulis, termasuk gadget untuk mengabadikan momen yang mereka tunggu-tunggu. Koesno sendiri dengan lamat mengeja ulang, perkataan Rukmini tentang buku yang ditulisnya, tentang keinginan mayoritas, dan ketidakmampuan Koesno mempertahankan kedirian atas karyanya.

Laki-laki berkacamata itu mulai bercerita panjang lebar soal buku yang pernah dilahapnya bersama Rukmini. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan agama, tapi sangat menyinggung mayoritas yang ingin mendapat pengakuan dan tempat lebih banyak. Akan sensitif ketika didengar para penjual keseragaman, para pemegang kuasa, para investor, dan suami-suami yang ingin istrinya menjadi ‘shalehah’ ala hasrat purbanya.

Sesungguhnya Koesno hanya menceritakan ulang isi buku itu dengan nada tegas seolah ingin para tamunya memahami maksud dan tujuan kehadirannya kembali di forum itu. Namun, sepertinya hanya beberapa orang saja yang kemudian tertunduk, kesal lantas pergi begitu saja, dan beberapa masih memasang wajah sinis.

“Kita baru saja menyeduh kopi dari berbagai wilayah, memiliki beragam jenis, dengan beragam rasa, dan cara menyeruput yang berbeda. Tapi tidak ada yang protes atau menyela. Tidak ada yang menyinggung salah satu jenis karena memiliki cita rasa yang berbeda dari lainnya. Anda sekalian juga tidak memungkiri bahwa betapapun beragam jenis kopi, pahit tetap menjadi keniscayaannya. Saya rasa perlakuan kita terhadap kopi dengan perlakuan kita kepada sesama manusia, harusnya tak jauh beda."

Sejenak Koesno menarik napas, kembali bercerita kisah Wallis melakukan perjalanan dengan cita rasa kopi dari London hingga Abyssinia –Sekarang Ethiopia. Benar katamu, Ruk. Manusia tak harus ndakik-ndakik dengan segala macam teori dan kajian yang melulu dipelajarinya, agar dapat meyakinkan orang betapa pentingnya sesuatu.

Cukup seperti yang pernah dikatakan oleh Wallis di akhir perjalanannya, “… Bagiku sesuatu harus terasa sebagai apa adanya, dan bukan apa yang kau inginkan. Kekurangan kopi sama juga menjadi bagian dari sifatnya, seperti kebaikannya, dan aku tidak mau menutupinya. Hlm.  677.” []

Menggugat Kuasa

“Kau adalah jelmaan dari konstruksi kuasa, juga aku. Kuasa memang ambigu, ia menjalankan pengekangan sekaligus tawaran kebebasan.”  Kacamatamu agak turun menutupi hidung.


***
Kacamata itu masih setia menemani pergumulannmu dengan buku dan layar komputer. Secangkir kopi instan dan beberapa gorengan semakin sering menjadi hidanganmu. Dari sebuah ruangan berpendingin yang baru saja selesai proses pengerjaannya, kau dilahirkan ke dunia yang fana ini dengan cerita berdarah-darah.
Setiap detik, menit menuju jam, kemudian hari menuju bulan di tahun ini, akan banyak hal yang kau lalui dalam sebuah ruang berukuran 5x6 m, bersama para bakal calon peneliti muda yang lain. Kau akan mencari, menemukan, mengambil sampel, menentukan hipotesa, dan hal-hal lain yang harus kau kerjakan dalam ruang berkarpet merah itu.
Malam ini kau maya dalam segala bias yang coba kau uraikan. Tidak ada kesan cintamu pada buku-buku yang tebalnya lebih dari 300 halaman itu. Pandanganmu kosong, posisi dudukmu hanya bersandar lemah tak bergairah. Jaket coklat yang kau gunakan, lusuh. Wajahmu kembali berminyak dengan kadar yang lebih pekat dari biasanya.

Ada apa denganmu?” Tapi kau diam saja, bahkan tidak melempar apapun padaku. Layar laptop di depanmu pun hanya diam, tidak kau ijinkan menyala dan menyela lamunanmu.

Kau masih belum beranjak. Sementara jam dinding tidak sudi mengabadikan layar imajimu. Tiba-tiba kau mengambil headset dari balik saku celana. Menghubungkannya dengan gadget dan memutar satu lagu yang kau gandrungi, Deep Purple ‘Soldier of Fortune’. Kau merasa lagu itu mewakili keadaanmu sekarang. But I feel I’m growing older, tak lagi punya asa yang cukup, bahkan sekedar mimpi menggenggam masa depan.

Kau tak banyak bicara, binar matamu, nyalanya pecah. Petualangan yang kau jalani seperti sudah hangus tapi tak pernah selesai. I guess I’ll always be a soldier of fortune, menjadi tunduk dan tak pernah punya kuasa atas kedirianmu. Sampai sepersekian menit berselang, kau menggapai secangkir robusta yang mulai dingin di sudut meja. Tinggal setengah cangkir dan seruputmu menggoyangkan lebih banyak ampas di dalamnya.

“Apa lidahmu tak kelu dengan pahit yang demikian kecut?”
“Bahkan sekiranya seluruh tubuhku kelu, aku tetap tidak bisa mengupas tuntas ketidakadilan yang terjadi. Kesewenangan itu… ah..”
“Come lay with me now… although you wandered without me, setidaknya aku tak memberi gubahan yang berarti.” Dan pelukan pertamamu memberhentikan pelik sejenak.

***
Kemelut itu, kau yang rasai sendiri. Bersama dengan beberapa staff lain memungut sejarah demi sejarah, data-data baru, temuan-temuan yang menggugat para pemangku sejarah lama. Hingga pada capaian selanjutnya, kau tidak hanya bergelut dengan hal-hal yang abstrak itu, tapi juga dengan para pemangku kebijakan di institusi yang sama-sama kita tempati.

Tapi tak semudah apa yang kunarasikan. Segalanya menjadi kian berdarah-darah. Perseteruan antar kubu menjadi jelas mengikatmu. Basis keilmuanmu menjadi ambigu. Secara tidak sadar kau mendaku diri, bersanding dengan kubu yang kau yakini punya komitmen lebih dalam pergolakan ilmu pengetahuan.

“Menjadi intelektual juga menuntutmu melacur?”
“Aku tidak punya pilihan.”
“Sejujurnya aku tidak tahu apa itu pilihan. May be you would say that everytime. Sebagai pembenar?”
“Itu akan jadi konsekuensinya.”

Aku tidak lagi mengenalmu, setelah itu. Kita berdua saja duduk seperti mendengar lantunan sajak Sapardi tempo hari, tanpa sepatah kata. Mungkin sesekali mendengar keresahanmu keresahanku tanpa suara. Dan aku benci harus jujur padamu tentang ketidakberdayaanku melarang, membujuk, atau sekedar mengingatkanmu untuk tak melacur demi mereka. “Aku tetap merasa itu bukan pilihan.”

Lagi-lagi kau menepis. Perempuanmu demikian sama dan aku menjadi perempuan kedua yang tak layak mengajari apa-apa. Hanya ada dua pilihan, katamu. Menjadi intelektual atau tidak sama sekali. Tapi tidak ada kata melacur dalam dua putusan itu. Lagi-lagi kau bersikeras menyangkaliku.

“Sudah kubilang berulang kali. Kau adalah jelmaan dari konstruksi kuasa, juga aku. Kuasa memang ambigu, ia menjalankan pengekangan sekaligus tawaran kebebasan.”  Kacamatamu agak turun menutupi hidung.

“Tawaran mana lagi yang bisa membuatku bertahan dari penggusuran selain ini? Tidak ada yang lebih competable selain ia yang saat ini kupilih. Sudah begitu saja.”


Jatah bicaraku telah habis dalam derab siksamu. Mungkin kebodohan ini membuatku tak begitu terima dengan logika peran yang kau ambil. Tapi demi apapun, kau sadar menggugatnya. Meski terlanjur melacur bersama mereka, golongan yang kukisahkan sebagai para resi. []

Pageviews