Pagi ini aku lupa menyeruput kopi. Bangun tidur langsung membuka laptop tanpa ingat kamar mandi. Aku hanya ingat harus menuntaskan satu pekerjaan baru yang tidak penting. Lalu memulangkan semangat kepada si empunya, baru kemudian bergegas menuju pemondokan tercinta. Hal terakhir adalah menjadi pengiring mahasiswa yang baru saja menuntaskan pergumulannya dengan skripsi, di meja persidangan (dan mungkin hanya ini agendaku yang penting).

Pukul 15.00 akhirnya kuupayakan membuka sebentar facebook dan beberapa akun media sosial lain. "apa yang Anda pikirkan?" tanya om Zuck. Lagi-lagi aku mengabaikannya dan menutup kembali akun itu. Memilih gelisah dan mengurung diri di goa (bukan goa Hira'). Yaa.. Akhirnya aku harus ke pokok kegelisahanku juga, terkait berita yang sampai hari ini membuat geli.

Ini tentang puisi Ibu Indonesia yang sempat dibacakan oleh bunda Sukma. Dengar-dengar puisi ini mengundang kontroversi dari berbagai pihak? Benarkah? Yaa anggap saja aku belum tahu apa-apa soal ini. Tapi karena kecintaanku pada puisi dan ibu bumi, maka mau tidak mau, hari ini aku harus menjadi laden untuk pikiran dan hati yang terus dibuat gelisah oleh pemberitaan puisi kontroversi tersebut. 

Bunda Sukma memberi judul puisi yang dikarangnya dengan Ibu Indonesia.  Menurutku judul ini sangat biasa, mainstream, dan tidak memperlihatkan kekalutan yang berarti. Terdiri dari kata Ibu dan Indonesia, dua nomina yang dihormati, dijunjung tinggi, berharga, menggambarkan perempuan dan sifat keperempuanan, tentunya. Terdiri dari 10 bait dengan jumlah baris 2, 3, 4, 3, 3, 2, 4, 3, 3, 2. Tentu ini salah satu jenis puisi populer, bukan?

Aku tak tahu syariat Islam
yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Bait pertama yang ditulis oleh bunda Sukma mengindikasikan kejujuran yang mendalam. Ia katakan tidak tahu (tidak memahami) syariat Islam (secara mendalam). Meskipun style yang digunakan oleh bunda tidak mencirikan seorang penyair kawakan, namun kejujuran yang diungkapnya menjadi poin penting tersendiri. Pada bait pertama ini, bunda Sukma seperti ingin mengungkapkan bahwa ia merasa terkesan, terpesona oleh keindahan Indonesia lewat sari konde yang digunakannya. Ini juga menandakan adanya keterbukaan, sebagaimana konde yang bebas digunakan dan dilihat oleh masyarakat.

 Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Sementara lewat bait kedua ini, bunda Sukma membandingkan antara konde dengan cadar. Sebagaimana yang kita tahu bahwa cadar adalah penutup. Kalau harus merujuk pada kamus, berarti kita maknai cadar dengan kerudung atau selubung (Tesaurus,  2008, 90). Dari tiga baris itu, penekanannya adalah pada sifat terbuka dan tertutup. Bunda memilih menjadi pribadi yang terbuka, fleksibel, apa adanya ketimbang menjadi pribadi yang sebaliknya. Dengan kata lain kain pembungkus ujudmu itu bukan satu-satunya yang suci, dan tidak ada orang yang bisa menilai orang lain hanya dari cover atau pakaiannya. Lebih dari itu, konteks bait ini menunjukkan bagaimana seharusnya Indonesia, bukan perseorangan.

Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Bunda mengenal Indonesia sebagai negara yang bhineka.  Keberagaman itu dapat bersanding dengan hutan yang lebat, dan laut yang luas. Bait ketiga ini menunjukkan bahwa Indonesia sesungguhnya adalah (masih) negara yang kaya. Hal yang ingin disampaikan seperti romantisme Indonesia sebelum semua kekayaannya dijarah atau diambil paksa dan sekarang sisanya dimiliki para pemodal. Romantisme tersebut semakin kentara ketika bait keempat dan kelima  dilagukan:

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi ibu Indonesia
Meskipun rima dan irama yang digunakan tidak menunjukkan adanya musikalitas, sama sekali. Tapi baris kedua bait keempat tersebut mengungkapkan dengan jujur bahwa usia Indonesia sudah senja, penglihatannya sudah  kabur, tidak setajam dulu. Sehingga masa lalu dihadirkan sebagai subjek yang kemungkinan masih memberi keyakinan. Bahwa bangsa ini masih bisa bangkit seperti yang diharapkan pada baris kedua bait kelima.

Aku tak tahu syariat Islam
yang kutahu suara kidung  ibu Indonesia sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Bait ini pun hampir sama dengan bait pertama dan kedua. Bunda seakan ingin mengungkapkan bahwa yang menjadi khas di Indonesia adalah keberagaman budaya, bukan dominasi salah satu agama. Bukan ingin mengolok, menodai, dan lain sebagainya. Mengingat itu hanya sebagai pembanding, maka sah-sah saja menggunakan kata azan sebagai pembanding kidung. Jika kemudian bait ini dimaknai dengan satire atau sindiran halus bunda Sukma kepada sekelompok orang atau golongan, itupun tidak menjadi masalah yang serius, mengingat ini adalah puisi, yang sesiapapun bebas berekspresi, bebas menafsiri.

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi

Pandanglah ibu Indonesia
Saat pandangmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan
hormat kepada Ibu Indonesia dan kaumnya
Tiga bait terakhir puisi ini menggambarkan masyarakat Indonesia yang identik dengan kain tenun, perkebunan damar, canting untuk membatik, yang cukup mewakili beragam ikon yang dimiliki negara ini. Bunda Sukma seperti sedang rindu berat dengan keadaan bangsa yang damai. Ketentraman yang tentu juga dirindukan oleh banyak orang. Hal lain yang diulang adalah bahwa Indonesia sudah renta, maka penglihatannya memudar.

Ada semacam drama kehilangan yang ditampilkan bunda pada bait terakhir puisinya. Penegasan tersebut justru nampak seperti sikap putus asa atas apa-apa yang tak lagi bisa diraih. Seakan bangsa ini sudah tidak punya rasa hormat pada bumi yang dipijaknya. Cintanya hambar, palsu, tidak nyata, seperti janji yang kemudian diingkari oleh generasi penerusnya. Seperti pemanis yang terus menerus ditambahkan untuk membuat secangir ekspresso terasa manis, tapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya, puisi yang biasa ini bisa menjadi pukulan telak bagi mereka yang memiliki kuasa, tapi melangkah sekenanya. Menjadi satire yang bisa ditujukan kepada semua orang, termasuk aku yang tidak bisa mencintai negeriku secinta bunda kepada Ibu Indonesia.

Nah, tapi karena banyak yang terkena pukulan telak itulah, akhirnya justru bunda Sukma yang diserang. Padahal itu sebatas curahan hati yang patut mendapat apresiasi, bukan justru jadi biang kontroversi. Yahh... bunda, beginilah Indonesia. Karena ini Indonesia, bund... Maka wajar saja jika kemudian jenengan menjadi Ahok yang kedua.